MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Chapter 8. Gelagat yang aneh


__ADS_3

***


Dara dan Robi terlonjak kaget melihat Arsen yang berbalik menghadap mereka.


" jadwal saya siang ini?! " tanyanya setengah membentak


" bapak kenapa? " tanya Dara


Robi yang melihat bos sekaligus temannya yang sedang emosi pun terlihat bingung.


" apa jadwal saya siang ini dara? " kali ini nadanya penuh penekanan


" siang ini ada acara makan bersama " jelas Dara


" makan bersama siapa? " tanya Arsen


" bunda, dan para mba nya pak Arsen " jawab Dara


" Hah?! kenapa?! " tanya Arsen kaget


" bunda Ratna minta langsung untuk mengatur makan siang bersama ini pak " jelas Dara


" kamu ga tanya saya dulu? " kesal Arsen


" kaya bunda Ratna ga usah " jawab Dara polos


" yang Gaji kamu siapa Dar? sebenarnya kamu kerja sama siapa sih hah?! " amuk Arsen


Dara terdiam ketika di bentak oleh Arsen, Robi yang melihatnya pun hanya ikut terdiam juga.


" jadi gimana? " tanya Dara pelan


" ya sudah mau gimana lagi, kamu ikut saya! " perintahnya sembari keluar ketika lift terbuka


" saya? maksud bapak saya ikut? " ucap Dara sambil terus mengikuti dari belakang


" iya " tegas Arsen lalu membanting pintu ruangannya dan membuat Robi dan Dara terperangah


" PMS kali yah pak? " tanya Dara ke Robi


Robi hanya mengangkat bahunya santai sambil duduk di bangkunya.


seperti hari biasa biasanya yang mengikuti meeting penting selalu Robi sedangkan Dara hanya mengatur laporan yang akan di tanda tangani oleh Arsen.


ketika Dara ingin menemui salah satu staff di Administrasi, Dara berpapasan bersama Asep yaitu cleaning servis di kantor ini.


mereka mengobrol dengan asik sambil sesekali tertawa. Arsen yang baru saja keluar dari ruangan meeting bersama Robi pun melihat itu semua.


Dara yang masih mengobrol merasakan ada yang memperhatikannya dan merasakan aura seram. Dara melihat kesekeliling dan disana Arsen berdiri dengan tegap menatap dia tajam.


Dara menelan ludah pahit melihat bawha bahaya akan menimpanya.


" sep kayanya gua pamit deh " ucap Dara buru buru


" loh mba kenapa? " tanya Asep yang melihat Dara aneh


" kalau gua ga pergi sekarang gua yakin dia bukan ngelempar tatapan tajam lagi tapi piso tajem. gua duluan yah " ucap Dara sambil menepuk bahu Asep pelan


Dara setengah berlari ke arah lift untuk menghindari Arsen yang semakin mendekat ke arahnya.


lift itu terbuka dan segerlah Dara masuk, Dara memencet tombol tutup di lift tapi sebelum pintu lift ketutup sebuah tangan menahannya. Dara mendongakan kepala dan melihat pemilik tangan itu Arsen.


" naik lift berikut nya. " perintah Arsen tidak tahu ke siapa


karena Dara merasa Arsen berbicara padanya karena tatapannya menatap dirinya pun hendak keluar dari lift. tetapi sebuah tangan menahan Dara mau tidak mau Dara diam di tempat dan pintu lift tertutup menyisakan mereka berdua.


Arsen masih menatapnya dengan tatapan tajam sedangkan Dara hanya menundukkan kepala.


" siapa? " tanya Arsen to the point


" siapa apanya pak? " tanya Dara masih menundukkan kepala

__ADS_1


" kalau ngomong tatap mata saya " perintah sambil menarik dagu dara agar mendongak kan kepalanya dan menatap Dia


Dara menatap mata Arsen begitu pula Arsen menatap Dara.


tanpa basa basi dan tidak tahu siapa yang memulai, bibir mereka bertemu hanya bertemu tidak ada pergerakan dari keduanya. hingga Arsen menjauhkan kepalanya dan menatap Dara yang terkaget di posisinya berdiri.


Pintu lift terbuka dan dengan cepat Dara melesat dari sana menghindari Arsen yang menatapnya bingung.


***


Akibat dari kejadian itu membuat Dara tidak fokus bahkan beberapa kali di panggil oleh Robi tetapi tidak menyahutnya.


" dara lu kenapa sih? " tanya Robi yang mulai ga tahan dengan kelakuan Dara


" ga tau pak robiiii " ucap Dara dengan nada merengek


" Dara boleh ijin pulang setengah hari ga? " tanya Dara


" loh kenapa? " tanya Robi bingung


" lu sakit ? " tanya nya lagi


Dara menggelengkan kepala lemas


" Robi " panggil Arsen tiba tiba yang nongol di pintu


gubrak..gubrak


Dara mencoba pura pura ngambil pulpen yang jatuh dengan cara ke kolong meja dengan rusuh. Dan sudah di pastikan tadi Kepala Dara beradu sama mejanya sendiri.


Robi kaget dan memandang Dara dengan aneh. Sedangkan Arsen tidak menanggapi nya buktinya dia langsung kembali masuk ke ruangannya.


Robi masuk ke dalam ruangan Arsen dengan sesekali melihat Dara yang masih sibuk di bawah meja.


" aduh kepala gua " keluh Dara ketika sudah melihat Robi masuk ke ruangan Arsen sambil mengusap kepalanya yang terkena meja tadi


" tenang Dara tenang " ucapnya ke diri sendiri


tetapi bukannya jantung Dara tenang malah makin berdegub kencang ketika bayangan ciuman di lift tadi terlintas begitu saja.


Dara bersembunyi di kamar mandi yang berada di lobby. niat dia, dia akan di kamar mandi sampai jam makan siang habis. biarlah hari ini dia tidak makan siang yang penting dia ga ketemu sama Arsen.


" loh Dara? " tanya Inay resepsionis di kantor ini


" iya mba, kenapa? " tanya Dara bingung


" di cariin pak Arsen loh " ucap Inay


" pak Arsennya masih di luar mba? x tanya Dara


" tadi sih udah berangkat sama pak Robi " ucapan Inay membuat Dara menghembuskan napas lega


* lu ngehindar dari pak Arsen? " tebak Inay


" enggak kok mba " ngelak Dara


" engga gimana? buktinya lu ngerem disini kan? sedangkan di luar pak Arsen nyariin lu " ucap Inay


" engga kok mba, tadi kebelet aja. masa Dara sekertaris pak Arsen ngehindar dari pak Arsen, kan mana bisa " bohong Dara


" suka suka lu deh, gua duluan yah " pamit Inay


setelah kepergian Inay, Dara pun mengendap ngendap keluar dari kamar mandi. dia celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, sekiranya sudah aman dia pun keluar dengan percaya diri.


ketika Berjalan tiba tiba langkahnya di hadang. Dia yang sedang menunduk kan kepala pun akhirnya mendongakan kepala. Arsen menatapnya dengan tatap kesal, tanpa ba-bi-bu Arsen menarik paksa Dara. Dara pasrah yang di tarik tanpa perlawanan.


***


duduk berdampingan dengan Arsen mungkin kemauan semua orang, kecuali Dara. seperti sekarang Dara merasa tidak bisa bergerak duduk di samping Arsen.


" Dara " panggil Arsen dengan nada dinginnya

__ADS_1


" iya pak? " jawab Dara gugup


" kamu menghindari saya? " tanya Arsen tanpa menoleh ke arah Dara


" eng..engga kok pak " ucap Dara tambah gugup


" terlihat jelas Dara " ucapnya ambigu


Dara menatap Arsen dan kali ini Arsen menatap balik ke Dara. akhirnya Dara pun buru buru menghindari tatapan Arsen dia tidak mau kejadian di lift terulang lagi, apalagi ini kan di dalam mobil dan ada Robi.


" karena ciuman tadi? " tanya Arsen tanpa di saring


mobil seketika ngerem mendadak, Robi menoleh ke arah mereka yang sedang sama sama shock karena rem mendadak itu.


" CIUMAN?! " Tanya Robi dengan nada yang tinggi


" berisik! lu kalau nyetir yang bener rob! " bentak Arsen


" kan gua shock sen denger kalian ciuman " jelas Robi


" emang ada salah? " tanya Arsen


" yah kalian ciuman... "


" STOPPPP!! " teriak Dara di tengah tengah perdebatan Robi dan Arsen


Robi dan Arsen langsung terdiam ketika mendengar teriakan Dara


" kenapa kalian mudah banget ngebahas kaya begituan?! sedangkan saya ada disini?! " ucap Dara dengan emosi dan muka yang merah menahan malu


" mendingan saya turun disini aja " ucap Dara ketika mau membuka pintu mobil dan ternyata di tahan sama Arsen


" maju rob " perintah Arsen dan Robi menurutinya


***


mobil berhenti di depan restoran, Dara langsung keluar mobil begitu saja tanpa menunggu Arsen.


Disaat Arsen memasuki restoran, Arsen sudah melihat Dara duduk bersama bunda dan mba mba nya.


Dara di sepanjang makan siang hanya terdiam tanpa suara. Dia hanya akan menjawab ketika di tanya saja.


" jadi gimana Dara? " pertanyaan Bunda Ratna membuat Dara berhenti makan dan menatap bunda Ratna


" gimana apanya yah bund? " tanya Dara


" kalian ada kemajuan? " tanya bunda


" bunda " tegur Arsen


" bunda, kita cuman partner bisnis. Dara sekertaris pak Arsen dan pak Arsen atasan Dara " jelas Dara


" tapi kan bisa lebih Ra " paksa Lana


" tapi kenyataan nya begitu mba " ucap Dara sambil tersenyum


" emang kamu udah punya pacar? " tanya Ayu


Dara terdiam dan semua tatapan menuju ke arah Dara begitu pula dengan tatapan Arsen.


" belum mba "


" terus ada yang kamu suka? "


" hmmm.... ada sihh... tapi... " jawaban dara terpotong ketika detingan sendok dan garpu beradu dengan piring


semua melihat ke arah Arsen ternyata pelakunya Arsen. dia menatap Dara dengan tatapan yang tidak bisa di baca.


suliitkah untuk menebak perasaan seseorang?


menebak perasaan diri sendiri aja sulit apalagi menebak perasaan orang lain.

__ADS_1


TBC


©nukeya


__ADS_2