MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Patah Hati


__ADS_3

Saat ini, Zidan tengah berada disebuah club malam yang terletak di pusat kota. Ini pertama kalinya Zidan menginjakkan kakinya kembali kesebuah tempat yang seharusnya tidak pernah ia datangi lagi.


Dulu dia pernah datang kemari sesekali bersama Andrew hanya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Namun setelah tahu Andrew menjalin hubungan dengan Zoya, Zidan pun memilih menyibukkan diri dan menjaga jarak dalam segala hal dengannya.


Malam ini Zidan benar-benar merasa frustasi. Penolakan Andita membuat pikirannya tak bisa berpikir jernih.


Bagaimana bisa dia menolakku?


Zidan tersenyum getir. Beberapa gelas alkohol sudah tandas hanya dalam sekali tegukkan. Zidan hanya ingin melupakan rasa sakit dihatinya.


Netranya menatap nanar para pengunjung yang tengah menari-nari dibawah sana, dengan diiringi musik yang diputar oleh DJ. Saat ini dirinya sedang berada dilantai dua.


Ken yang duduk disofa samping bersebrangan dengan Zidan, hanya bisa mengamati tuannya yang sedang patah hati itu. Ia tidak ikut minum alkohol, dan lebih memilih memesan minuman yang lain.


Ken mengerti pasti saat ini tuannya butuh pelampiasan untuk menenangkan pikirannya.


Beruntung aku tidak memiliki kekasih. Jika tidak, aku juga pasti akan merasakan yang namanya galau seperti Tuan Zidan! Batin Ken.


Sudah beberapa wanita penghibur datang menghampiri Zidan. Berharap lelaki tampan yang nyaris mabuk itu mau ditemani olehnya. Namun Zidan tak bergeming.


Setiap ada wanita yang akan duduk disampingnya, Zidan selalu memberikan sorot mata tajam dan tidak suka.


Tiba-tiba Zidan teringat sesuatu. Dirga! Apa yang sudah laki-laki brengsek itu katakan pada Andita hingga Andita menganggap dirinya serendah itu saat dia menciumnya?!


Pasti lelaki brengsek itu sudah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Andita.


"Ken."


"Ya, Tuan?"


"Aku ingin kau melakukan sesuatu pada Dirga!"


Ken mengernyit bingung tidak mengerti.


"Maksud anda Tuan?"


"Bukankah perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan anak cabang Tuan Reyhan yang dipimpin Dirga?"


"Ya, benar Tuan."


"Aku ingin kau menarik semua sahamku dari perusahaan anak cabang yang dipimpin lelaki brengsek itu! Aku ingin memberinya pelajaran karena sudah berani main-main denganku!"


Ken terkejut mendengar perintah Zidan.


"Tapi bagaimana dengan Tuan Besar? Dia pasti akan menanyakan hal ini dan bisa saja beliau akan sangat marah Tuan!"


"Aku tidak peduli! Lagipula itu adalah saham perusahaanku bukan perusahaan Ayah! Mulai sekarang aku akan hancurkan siapa saja yang berani mengusik kehidupanku!" Tegas Zidan.


Ken hanya bisa menarik nafas mendengar ucapan Zidan.


Sepertinya perang akan dimulai. Pasti ini semua ada hubungannya dengan Nona Andita.


"Baik Tuan! Saya akan segera melakukannya, sesuai perintah anda!"


"Bagus!" Zidan tersenyum smirk. "Sepertinya malam ini cukup! Ayo kita pulang!"

__ADS_1


Zidan beranjak dari duduknya. Dia melangkahkan kakinya turun dan hendak keluar dari club itu.


Namun tak sengaja netranya melihat seorang gadis yang tidak asing baginya, tengah bercumbu dengan seorang lelaki.


Rachel?!


Zidan menatap tak percaya pada gadis itu. Begitupun dengan Ken. Ia langsung memalingkan wajahnya kesembarang arah saat melihat Rachel tengah berciuman panas dengan seorang lelaki.


"Cih! Adiknya menghina calon istriku! Tapi dia tidak sadar bahwa kakaknyalah yang seorang jal*ng!"


"Ambil fotonya Ken!" Titah Zidan.


Ken segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, lalu membidik foto Rachel berkali-kali dengan pria tak dikenal itu, saat mereka tengah berciuman panas.


Kita lihat saja apa yang akan aku lakukan, setelah kau dan adikmu membuat kekacauan dalam hidupku dan Andita!


Zidan tersenyum puas. Dia pun melanjutkan langkahnya keluar dari club diikuti oleh Ken.


******


Andita tengah memandangi langit malam, dari balik jendela kamarnya. Ia menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip diatas sana.


Dalam hati ia bertanya-tanya, kapan hidupnya akan berwarna seperti bintang-bintang itu?


Bayangan Zidan yang mengungkapkan perasaanya tadi siang membuat pikirannya tak karuan.


Apa benar dia jatuh cinta padaku?


Aku rasa Tuan Zidan hanya membual.


Tidak Andita! Kau lihat sorot matanya tadi?! Dia sedang tidak membual! Dia begitu sedih saat kau menolaknya!


Andita mengacak-acak rambut frustasi. Rasanya pusing sekali memikirkan hal itu. Dia hanya ingin tugasnya cepat selesai. Hingga dia tidak perlu lagi berlama-lama disamping Zidan.


Pria yang sudah tiga kali mencuri ciuman darinya. Pria yang selalu membuat hatinya bergetar. Pria yang membuat dirinya merasa nyaman ketika berada dalam pelukannya.


Namun ia sadar diri, ia tidak bisa memiliki Zidan seutuhnya. Terlalu tinggi tembok penghalang antara dirinya dan juga Zidan. Ya, meskipun Nyonya Liyana sudah menyetujui hubungan mereka, tapi tetap saja Andita tidak sepercaya diri itu.


Seandainya dia memiliki uang yang banyak, atau paling tidak ada seorang dermawan yang mau meminjamkan uang padanya secara cuma-cuma, ia pasti akan menerimanya. Agar dirinya terbebas dari kontrak perjanjiannya dengan Zidan.


"Kak! Kau belum tidur?" Tanya Nazwa yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar.


Andita membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara sang adik.


"Belum Naz! Kakak belum mengantuk! Masuklah!" Andita berjalan dan duduk dikursi.


"Kau sendiri kenapa belum tidur Naz?" Andita balik bertanya pada Nazwa.


"Aku tidak bisa tidur Kak!" Nazwa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.


"Hemm. Kalau kau mau tidurlah disini, temani Kakak!"


"Boleh!"


Nazwa tersenyum lalu segera ia membawa tubuhnya merangkak naik keatas kasur sang kakak. Nazwa mengambil satu bantal dan duduk bersila. Tangannya bertumpu pada bantal itu. Wajahnya menghadap Andita.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan Kakak dan Kak Zidan? Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Nazwa.


Andita terkekeh ketika Nazwa memanggil atasannya itu dengan sebutan kakak.


"Aihh, sejak kapan kau memanggil Tuan Zidan dengan sebutan Kakak?!" Andita menyipitkan matanya seraya menggoda Nazwa.


"Sejak saat ini! Karena aku akan menjadi adik iparnya! Kakak pun harus mengubah panggilan Kakak padanya! Masa iya, sudah mau menikah tapi masih memanggilnya Tuan! Sama sekali tidak romantis!" Balas Nazwa.


Andita semakin tergelak mendengar penuturan adiknya itu.


"Lalu aku harus memanggilnya dengan sebutan apa?! Kami kan menikah bukan karena dasar cinta!" Tukas Andita tak mau kalah.


"Hemm, benar juga! Tapi walau bagaimana pun, kalian kan akan tetap menikah! Apa kata orang-orang jika Kakak terus memanggilnya dengan sebutan Tuan!" Protes Nazwa.


"Bagaimana jika Kakak memanggilnya dengan sebutan sayang? Romantis bukan?!" Usul Nazwa.


Andita mendeliki adiknya itu.


"Hishh! Sayang kepalamu! Lagipula Tuan Zidan juga tidak akan keberatan jika Kakak terus memanggilnya dengan sebutan Tuan."


"Ya itu kan menurut Kakak. Siapa tahu Tuan Zidan akan lebih senang jika Kakak memanggilnya sayang!"


"Ah sudahlah! Kenapa kita jadi membahas sebutan untuknya! Biarkan saja aku memanggilnya Tuan!"


"Yasudah terserah Kakak sajalah!" Nazwa mengangkat bahunya acuh. Andita hanya mendesis.


"Jadi, bagaimana hubungan Kakak dengan Tuan, eh maksudku dengan Kak Zidan? Apa semua baik-baik saja?!"


Andita terdiam. Ia tidak tahu harus menceritakan kejadian yang ia alami hari ini pada Nazwa atau tidak.


Dari mulai pertemuannya dengan Dirga hingga Tuan Zidan yang menyatakan perasaan padanya.


"Kakak rasa tebakanmu malam itu benar Naz! Jika Kakak akan berada dalam masalah besar dengan menerima tawaran pernikahan dari Tuan Zidan. Belum juga menikah, tapi sudah banyak ujiannya."


"Maksud Kakak?"


"Seminggu yang lalu Rachel datang kekantor Tuan Zidan, dia mengamuk dan menuduh Kakak telah merebut Tuan Zidan darinya. Dan hari ini, adikknya, Dirga juga datang kekantor. Entah ada keperluan apa dia datang kesana. Yang jelas tadi siang dia dipukuli habis oleh Ferdy."


"Benarkah?! Apa yang lelaki brengsek itu lakukan hingga Kak Ferdy memukulinya?"


"Seperti yang Ibu dan Kakaknya lakukan pada Kakak, lelaki itu pun ikut menghina Kakak!"


"Haish, kurang ajar sekali lelaki itu!" Geram Nazwa.


"Tapi kau tenang saja! Lelaki brengsek itu sudah diberi pelajaran oleh Ferdy. Andai saja kau lihat wajahnya yang babak belur tadi siang, kau pasti tidak akan berhenti menertawakannya!" Kelakar Andita.


"Dia pasti terlihat menyedihkan!"


"Ya begitulah."


Mereka berdua tertawa bersama menertawakan Dirga. Tidak berapa lama ponsel Andita berbunyi. Ada satu pesan yang masuk. Pesan itu dari nomor fak dikenal. Andita langsung membukanya.


Seketika gadis itu melebarkan matanya saat membaca pesan tersebut.


Temui aku besok jam 10 pagi, di The Paquite Resto. Aku ingin berbicara denganmu!

__ADS_1


.


.


__ADS_2