
Hari mulai menggelap. Andita sudah pulang sejak sore tadi kekediamannya dengan diantar oleh supir pribadinya.
Sementara Andrew saat ini tengah mengambil hasil lab milik Zoya.
Didalam ruang ICU, tepatnya diatas brangkar, disaat tidak ada orang lain selain dirinya, Zoya kembali membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Tanpa terasa bulir bening keluar dari sudut matanya. Bahkan sekarang bibirnya bergetar menahan tangis.
Ya, siang tadi Zoya mendengar semua percakapan antara Andita dan Andrew dan itu membuat hati Zoya merasa tercubit.
Bagaimana tidak? Ternyata selama ia koma, dua orang yang telah ia sakiti dengan tulus malah menjaga dan merawatnya dengan baik.
Padahal selama ini ia sudah bersikap jahat kepada mereka berdua.
Zoya bahkan membuat Andita nyaris kehilangan nyawanya juga nyawa calon anaknya sekaligus.
Lalu disisi lain ada Andrew, yang ia sakiti juga perasaannya. Demi mewujudkan obsesinya memiliki Zidan, Zoya rela mengkhianati perasaan Andrew yang tulus mencintainya. Hingga membuat hubungan mereka akhirnya hancur berantakan.
Dan kini, Zoya sungguh menyesali perbuatannya itu. Kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya membuatnya sadar bahwa ia telah terlalu jauh melangkah.
Maafkan aku Andrew.
Maafkan aku Andita.
Aku telah banyak membuat kesalahan dan menyakiti hati kalian. Lirih Zoya dalam hati.
*****
Dikediaman Zidan.
"Jadi, Zoya sudah sadar dari komanya?!" tanya Zidan sambil memeluk tubuh Andita dan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut.
"Hu'um." jawab Andita. "Meskipun kesadarannya belum sepenuhnya kembali, tapi dia sudah bisa merespon keadaan disekitarnya." lanjutnya pada Zidan.
Saat ini mereka sedang menikmati waktu berdua didalam kamar sambil menyandarkan diri dibahu ranjang.
Seusai makan malam Zidan bertanya tentang kabar Andita juga calon anak mereka hari ini. Dan Andita mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Bahkan ada berita yang lebih menggembirakan bahwa Zoya sudah sadar dari komanya. Tentu kabar itu membuat Zidan terkejut sekaligus senang.
"Syukurlah kalau begitu. Aku harap dia bukan hanya sadar dari komanya saja, tapi juga sadar akan kesalahan yang dia lakukan pada kita semua." ucap Zidan.
"Ya, aku harap juga begitu." jawab Andita sambil mengelus dada bidang suaminya yang tertutup kaos putih polos.
Namun sejenak Andita nampak berpikir.
"Sayang." panggil Andita.
"Hemm."
"Apa menurutmu setelah sadar nanti Zoya akan kembali pada Andrew?!"
Untuk sesaat Zidan terdiam. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan Zoya dan Andrew kedepannya.
"Entahlah. Aku tidak bisa memastikan itu. Aku hanya bisa berharap, Tuhan memberikan yang terbaik untuk mereka berdua. Kenapa memangnya?" tanya Zidan.
"Tidak apa. Aku hanya takut jika Zoya masih mengejarmu. Jika itu terjadi..."
"Jika itu terjadi lagi, maka aku akan membawamu pergi dari negara ini. Kita akan pindah dan menetap dinegara lain dan hidup bahagia tanpa adanya pengganggu." jawab Zidan mantap seraya mengusap lembut perut Andita.
"Kenapa kita harus menetap dinegara lain? Itu terlalu jauh sayang! Aku tidak mau!" protes Andita.
__ADS_1
"Mau tidak mau, suka tidak suka kau akan tetap ikut denganku! Karena menurutku itu satu-satunya cara supaya tidak ada lagi yang berani mengganggu hubungan kita! Apa kau mau jika aku terus diganggu oleh wanita lain? Hm?"
"Tentu tidak!" jawab Andita cepat. "Tapi.."
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu. Lagi pula itu hanya rencana cadangan jika Zoya masih belum sadar juga akan kesalahannya!" ucap Zidan menenangkan.
"Daripada kita memikirkan hal lain lebih baik kita mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat." Zidan tersenyum nakal.
"Misalnya?!" Andita mendongakan wajahnya hingga tatapannya kini bertemu dengan tatapan Zidan.
"Misalnya seperti ini."
Cup
Zidan mengecup dan langsung me lu mat bibir merah muda itu dengan lembut.
Tangan kirinya mulai bekerja membuka kancing piyama Andita satu persatu, hingga seluruh kancing itu terlepas sempurna. Lalu dengan cepat Zidan membuang piyama itu kesembarang arah.
Belum puas sampai disitu, kini Zidan mulai membuka pengait bra dan melepas penutup pa yu dara itu dengan sedikit kasar tanpa melepas pagutan bibirnya.
Andita mende sah ketika ciuman Zidan mulai turun keleher dan meninggalkan jejak kepemilikan disana.
"Eughh.. sayang..aahh." de sahan Andita semakin menjadi saat Zidan meremas, memelintir, dan menghisap pu tingnya secara bergantian.
Gairah Zidan semakin meningkat ketika suara-suara laknat itu terus saja keluar dari bibir mungil Andita.
Saat netranya sudah berkabut dan bibirnya mulai turun dan nyaris menempel pada perut sang istri, tiba-tiba...
Kruukkk... Kruukkk...Kruukkk
Seketika Zidan menghentikan aktifitasnya. Ia sedikit mengangkat kepalanya menatap wajah sang istri.
Sementara yang ditatap sudah memalingkan wajah kesamping kanan sambil menggigit bibir bawahnya. Bahkan rona merah muncul dipipi Andita karena menahan malu.
"Mmm, aku rasa begitu." jawab Andita malu-malu.
"Hahaha." akhirnya Zidan tertawa lepas.
Zidan segera bangkit dari atas tubuh Andita. Lalu menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya yang sudah setengah polos karena ulahnya.
"Bukankah tadi kau sudah makan?! Bahkan kau sampai nambah tiga kali! Apa kau masih belum kenyang juga?!" tanya Zidan penasaran.
Karena ia perhatikan, semenjak usia kehamilan Andita memasuki tiga bulan, nafsu makan sang istri semakin meningkat.
"Ck! Apa kau lupa jika yang makan bukan hanya aku saja! Ada dua makhluk kecil didalam perutku yang juga harus diberi makan?!" cebik Andita.
Ya, karena memang faktanya Andita tengah mengandung anak kembar.
"Ya ya aku tidak lupa!" jawab Zidan terkekeh. Lalu mencubit dagu Andita. "Sekarang katakan, kau ingin makan apa? Hm?"
Sejenak Andita memutar bola matanya sambil berpikir.
"Hmm, aku ingin makan nasi goreng petai! Tapi harus kau yang membuatnya!" jawab Andita dengan senyum mautnya.
"What?! Nasi goreng petai?! Sejak kapan kau menyukai petai sayang?! Bahkan seumur-umur aku tidak pernah menyentuh petai karena aku tidak menyukai baunya!" ucap Zidan.
"Entahlah, aku tidak tahu! Mungkin karena bawaan bayi! Yang jelas aku ingin makan itu sayang!"
"Hmm, bagaimana kalau kita pesan saja nasi goreng petainya diluar?! Pasti rasanya jauh lebih enak!" usul Zidan mencari aman.
"No! Aku ingin makan nasi goreng petai buatanmu! Jika tidak, besok-besok aku tidak mau makan!" ancam Andita. Ia memalingkan wajahnya kesamping dengan memasang ekspresi cemberut.
__ADS_1
"Haishh! Kau ini?! Kenapa sekarang kau suka sekali mengancam?!" kesal Zidan seraya mengusap wajah kasar. "Baiklah, akan aku buatkan! Tapi ini pertama dan terakhir kalinya! Mengerti!"
Seketika netra Andita berbinar. Ia langsung menghadapkan wajahnya kembali kearah Zidan dan tersenyum senang.
"Siap Tuan! Saya mengerti!" jawab Andita seraya memberi hormat pada Zidan. "Ternyata kau memang suami yang baik! I love you sayang!" dengan manja Andita melingkarkan tangannya pada lengan kekar Zidan lalu menyandarkan kepalanya dibahu suaminya itu.
"Ck! Ini tidak gratis! Selesai makan kau harus membayarnya!" ketus Zidan.
"Tenang saja! Aku pasti akan membayarnya. Semenjak menikah denganmu kan uangku jadi banyak! Hihihi." Andita terkikik geli dengan ucapannya sendiri.
"Hah?! Siapa bilang kau harus membayar sepiring nasi goreng petai buatanku dengan uang?! Kau harus membayarnya dengan ini!" tunjuk Zidan pada tubuh Andita yang terbungkus selimut.
Seketika Andita langsung membeliakkan matanya. Ia segera merapatkan selimut ditubuhnya saat melihat senyum devil diwajah Zidan.
"Hish kutarik lagi kata-kataku yang menyebutmu baik!" ucap Andita kesal.
"Terserah!" jawab Zidan acuh seraya meninggalkan Andita dan siap bertempur didapur untuk membuat nasi goreng petai permintaan sang istri.
*****
Pagi mulai menyapa. Dirumah sakit, Andrew dengan setia masih menemani Zoya.
Ia tertidur disamping wanita itu dengan posisi duduk dan melipat kedua tangannya diatas brangkar lalu menjadikannya bantalan kepalanya.
Zoya yang sudah bangun lebih dulu, perlahan menggerakkan tangan kanannya dan mengusap kepala Andrew.
Ia melakukan itu berkali-kali, hingga airmatanya kembali jatuh.
Andrew yang merasakan sentuhan itu seketika terbangun. Ia mendongak dan kini netranya bersibobrok dengan netra Zoya.
"Zoya?! Kau sudah sadar?" pekik Andrew. Ia tersenyum senang dan segera bangkit dari duduknya. Lalu mengusap lembut kepala Zoya yang masih berbalut perban.
"Andrew." lirih Zoya.
"Ya sayang?! Aku disini. Katakan apa kau butuh sesuatu?!"
"Aku ingin minta maaf padamu atas semua kesalahan yang aku lakukan. Dan aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah merawat dan menjagaku selama aku koma." ucap Zoya dengan terbata.
"Tidak! Aku yang harusnya minta maaf padamu. Karena perbuatanku, kau harus tersakiti dan harus mengalami hal setragis ini. Maafkan aku Zoya, maafkan aku!" lirih Andrew. Ia menangis terisak disamping kepala Zoya.
Tangan Zoya terulur dan menggenggam tangan Andrew.
"Sudah Andrew, jangan menangis aku sudah memaafkanmu. Jadi maukah kau memaafkanku juga?" tanya Zoya dengan suara serak.
"Benarkah kau sudah memaafkanku?!" Andrew menjawab pertanyaan Zoya dengan pertanyaan.
Zoya mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum.
"Terimakasih sayang! Aku juga sudah memaafkanmu." jawab Andrew. Ia menatap manik mata Zoya dengan penuh cinta.
Sementara diluar ruang ICU, Zidan dan Andita yang berniat menjenguk Zoya merasa terharu dengan apa yang mereka lihat saat ini lewat kaca pintu ruangan itu.
Zidan merangkul bahu Andita, dan Andita melingkarkan tangannya pada pinggang Zidan.
"Aku rasa Zoya masih mencintai Andrew." ucap Andita.
"Ya, kau benar! Aku juga bisa melihat dari cara mereka bersitatap. Semoga saja hubungan mereka bisa kembali seperti semula."
Andita tersenyum dan mengamini ucapan Zidan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...