
"Wah, luas sekali!" seru Andita saat ia menginjakkan kakinya masuk kedalam kamar villa pribadi milik suaminya.
Matanya berkeliling mengamati setiap sudut ruangan kamar tersebut. Tampak rapi dan bersih.
Kemewahan yang ada villa pribadi Zidan tak kalah dari kediaman yang mereka tempati di ibukota.
Zidan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat sang istri yang nampak antusias membuka setiap ruangan yang ada dikamar itu.
"Ini belum seberapa sayang! Aku akan menunjukan hal lainnya padamu."
"Sungguh?!"
"Tentu! Tapi sebelum itu kemarilah dulu!" Zidan yang sudah bersandar dibahu ranjang menepuk-nepukan sisinya agar Andita duduk disampingnya.
Dengan senang hati, Andita berjalan menghampiri suaminya itu. Ia merangkak naik keatas ranjang dan langsung memeluk erat tubuh Zidan.
"Kau bahagia sayang?!" tanya Zidan sambil membalas pelukan Andita dan mencium rambut lurus hitamnya.
"Kapan kau tidak pernah membuatku bahagia sayang? Aku selalu bahagia saat bersamamu."
"Benarkah?!"
"Hu'um."
"Tapi aku rasa kebahagiaan kita akan lebih lengkap jika ada makhluk kecil ditengah-tengah kita." kini tangan Zidan beralih pada perut Andita yang masih rata.
Andita yang paham akan keinginan suaminya menggenggam tangan Zidan diatas perutnya. Ia langsung teringat ucapan Stella yang menyarankannya untuk melakukan program kehamilan.
Dengan ragu Andita mengutarakan hal itu pada Zidan. Tentu saja Zidan sangat setuju. Sejujurnya dia sudah sangat tidak sabar untuk menjadi seorang Ayah.
Hati Andita menghangat saat melihat pancaran kebahagiaan dimata suaminya itu ketika mereka membahas tentang anak. Sepertinya ia harus segera mewujudkan keinginan suaminya.
"Sayang." panggil Andita.
"Hem?"
"Seandainya aku diberi kesempatan untuk hamil, kau ingin memiliki anak berapa?"
Mendengar pertanyaan istrinya sejenak Zidan nampak berpikir.
"Mungkin dua atau tiga sudah cukup. Asal jangan satu!"
"Memangnya kenapa jika hanya satu?!"
"Kau tahu kan aku anak tunggal? Terkadang aku merasa kesepian karena tak memiliki saudara kandung. Aku hanya tidak mau anakku merasa kesepian nantinya."
Untuk sesaat Andita terdiam. Pikirannya langsung melayang jauh entah kemana. Pikiran negatifnya langsung bermunculan.
Bagaimana jika ia hanya diberi kesempatan satu kali melahirkan? Atau lebih parahnya, bagaimana jika dia tidak bisa memberi keturunan pada Zidan? Apa lelaki itu akan meninggalkannya?
Melhat sang istri yang tidak menunjukan reaksi apapun. Zidan mengernyitkan keningnya. Ia berpikir jika Andita pasti takut jika harus melahirkan lebih dari satu kali.
Untuk memastikan Zidan pun sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah istrinya itu.
"Sayang, apa yang kau pikirkan?"
Seketika Andita terkesiap. Ia langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak ada!"
"Jangan bohong! Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu." cecar Zidan.
"Katakan apa yang kau pikirkan?! Apa kau takut jika harus melahirkan lebih dari satu kali?" tebaknya.
Andita langsung mendongakan wajahnya pada Zidan, hingga tatapan matanya bertemu dengan manik mata sang suami. Pandangan mereka saling mengunci.
"Bukan itu yang aku takutkan sayang."
"Lalu?!"
Sebelum berkata Andita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Sayang, bagaimana jika aku hanya bisa melahirkan satu orang anak? Apa kau akan marah?"
Deg
Jadi itu yang dia takutkan?
Zidan tersenyum hangat lalu mencium pucuk kepala Andita.
"Kenapa aku harus marah, hm? Aku harusnya berterimakasih padamu karena kau sudah bersedia mengandung dan melahirkan darah dagingku, walaupun itu hanya satu."
"Tapi tadi kau bilang.."
"Kau kan tadi bertanya berapa anak yang kuinginkan, dan aku menjawabnya apa yang ada dipikiranku saja. Jika Tuhan menghendaki kita hanya memiliki seorang anak, lalu kita bisa apa? Apa aku harus marah pada Tuhan?! Tentu tidak kan?!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika aku tidak bisa memberikanmu keturunan? Apa kau akan meninggalkanku?"
Tenggorokan Andita serasa tercekat saat melontarkan pertanyaan itu. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia bisa melihat keterkejutan dimata suaminya.
Dengan segera Andita menundukkan pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa hatinya berdesir perih jika sampai hal itu terjadi.
Tanpa disadari air matanya pun sudah jatuh membasahi pipi.
Mendengar pertanyaan Andita, Zidan menelan kasar salivanya. Ia memang sangat menginginkan seorang anak. Tapi baginya, rasa cintanya pada Andita jauh lebih besar.
Mana mungkin ia mengorbankan perasaannya hanya karena ego semata.
Zidan pun membawa tubuh Andita lebih merapat padanya. Ia memeluknya dengan begitu erat. Hingga tangis Andita pun pecah dipelukan Zidan.
"Huh! Pertanyaan macam apa itu?! Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Apa bagimu itu hanya sebuah kata-kata tanpa makna?"
"A-aku ha-nya takut."
"Ssstt! Sudah diam! Aku pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu bukan? Dan laki-laki sejati tidak akan mengingkari janjinya."
"Tapi bagaimana jika nanti aku tidak bisa memberimu keturunan?! Kau pasti akan kecewa padaku!" Andita mengulangi pertanyaannya sambil sesenggukan.
"Apa yang kau katakan, hm?! Mana mungkin aku kecewa padamu hanya karena hal itu. Tidak masalah jika pahitnya kau tidak bisa memberiku keturunan, yang penting kau selalu ada disampingku!"
"Benarkah? Apa kau tidak akan mencari wanita lain?" lirih Andita dengan bibir bergetar.
Bukankah hal itulah yang sering terjadi pada setiap wanita yang tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya?
Menjadikan kekurangan sang istri sebagai alasan agar bisa berhubungan dengan wanita lain?
Apalagi jika memiliki suami yang tampan dan kaya. Sudah pasti banyak wanita diluar sana yang mengincarnya.
Zidan terkekeh mendengar pertanyaan Andita. Ia tidak menyangka jika ketakutan istrinya sampai sejauh itu.
"Kenapa kau harus takut sayang? Mana keberanianmu kemarin yang akan mencincangku jika aku sampai mengkhianatimu, hm?! Apa itu hanya gertakan saja?!" goda Zidan.
Andita yang tidak terima langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zidan. Ia menatap wajah suaminya itu lekat-lekat seraya mengusap kasar airmatanya.
"Tentu tidak! Aku benar-benar akan melakukannya jika sampai kau berani mengkhianatiku!" ucapnya dengan nada sungguh-sungguh.
Zidan menyunggingkan sudut bibirnya sambil menangkup wajah sembab istrinya itu.
"Lakukanlah jika hal itu sampai terjadi! Aku rela mati ditanganmu sayang!"
Saat itu juga tubuh Andita membeku ditempat. Sampai akhirnya Zidan mendapat kesempatan untuk mencium bibirnya.
******
Lelaki itu datang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan berdiri diambang pintu seperti hantu disiang bolong.
"Astaga! Ken! Kau mengagetkanku!" teriak Stella. Ia memelototkan matanya pada kekasihnya itu. Sedangkan Ken hanya tersenyum tipis.
"Kau bisa kaget juga ternyata."
"Ck! Tentu saja! Memang kau pikir aku tidak memiliki jantung!" ketus Stella.
"Apa itu yang kau buat?" tanya Ken datar.
"Teh! Kenapa?! Kau mau?! Kalau mau akan kubuatkan!" tawar Stella.
"Tidak perlu! Aku mau punyamu saja!" ucap Ken sambil berjalan kearah Stella dan mengambil teh itu dari tangannya.
"Haish! Itu punyaku Ken!"
Ken menatap tajam kearah Stella.
"Kenapa?! Tidak boleh!"
"Tentu saja tidak! Karena.."
"Apa?!"
"Karena itu bekas bibirku!" jawabnya dengan malu-malu.
"Dimana bekas bibirmu?"
"Hah?!" Stella malah tercengang dengan pertanyaan Ken.
"Aku tanya dimana bekas bibirmu?!"
"Di-disitu!" jawab Stella ragu sambil menunjuk bagian gelas yang terdapat bekas lipstiknya.
"Oh." hanya dua huruf itu yang keluar dari bibir Ken. Kemudian ia menyeruput teh itu dibagian bekas bibir kekasihnya.
Astaga!! Apa secara tidak langsung kita sedang bertukar bibir?!
__ADS_1
"Hey! Apa yang kau lakukan?!" teriak Stella.
"Hm, manis juga!"
Blushh
Seketika wajah Stella merona.
Hah?! Dia bilang apa?? Manis?! Bekas bibirku manis?! Apa segitu sukanya dia dengan bekas bibirku itu?!
Tanpa sadar Stella mengusap-usap bibirnya sendiri. Hingga membuat pandangan Ken teralihkan kearahnya.
"Kau kenapa?!"
Stella yang terkesiap langsung menurunkan tangannya.
"Ti-tidak! Aku hanya heran, kenapa kau lebih menyukai bekas bibirku daripada menciumku langsung?!" tanya Stella dengan tidak tahu malunya, sampai membuat Ken tertawa terbahak-bahak.
"Kau pikir aku menyukai bekas bibirmu?!"
"Tentu! Tadi kau meminum teh dibagian bekas bibirku! Bahkan kau memuji bekas bibirku itu manis. Apa kau mau mengelak?!"
Ken kembali tertawa. Setelah sekian purnama, sepertinya baru kali ini lelaki itu bisa kembali tertawa begitu lepas.
Stella yang melihat Ken tidak berhenti tertawa mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kau tertawa?! Memang ada yang lucu?!"
"Haha, tentu saja! Kau itu terlalu percaya diri!"
"Maksudmu?!"
"Aku bukan memuji bekas bibirmu yang manis! Tapi memang rasa teh ini begitu manis! Lain kali buang pikiran mesummu itu nona!"
Cletakk
Ken menyentil kening Stella hingga dokter cantik itu meringis. Kemudian Ken pun berlalu dari dapur sambil membawa teh buatan kekasihnya tersebut.
"Awhh..hish sakit! Dasar lelaki es!" teriak Stella sambil mengusap-usap keningnya.
"Awas saja kau! Akan kubalas nanti!"
******
Disisi lain, Andrew mengajak Zoya untuk duduk dan berbicara berdua ditaman yang dikelilingi pemandangan gunung-gunung nan indah.
Selama beberapa hari tidak bertemu pasca pertengkaran mereka malam itu, Andrew menghabiskan waktunya untuk merenung.
Ia menyadari kesalahannya pada Zoya. Seharusnya dia tidak egois dengan mengesampingkan keinginan kekasihnya itu yang menginginkan sebuah pernikahan dengannya.
Akhirnya setelah cukup lama berperang melawan egonya, Andrew pun berpikir untuk segera melamar Zoya dan menjadikan wanita itu sebagai istrinya yang sah.
Dan disinilah ia akan mengutarakan niatnya.
Awalnya Andrew akan melamar Zoya ketika mereka pulang dari liburan. Ia akan membuatkan pesta untuk kekasihnya itu.
Tapi melihat sikap Zoya yang masih dingin padanya , Andrew memutuskan untuk melamarnya hari ini juga.
Zoya yang sedari tadi melihat Andrew tak kunjung bicara menjadi sedikit kesal.
Dalam hatinya menerka-nerka. Apa Andrew sudah menyetujui permintaannya beberapa hari lalu yang menginginkan sebuah perpisahan?
Jika itu benar, maka jalannya untuk mendekati Zidan menjadi mudah. Sebab ia bukan lagi kekasih orang lain.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?! Kenapa hanya diam?! Apa kau sudah setuju jika kita berpisah?!" tanya Zoya dingin.
Mendengar itu Andrew menggelengkan pelan kepalanya seraya tersenyum simpul. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberaniannya.
Kemudian tanpa diduga Andrew pun berlutut dihadapan Zoya. Sontak membuat Zoya membelalakan matanya.
"Andrew! Apa yang kau lakukan?!"
"Sampai kapanpun aku tidak ingin berpisah denganmu Zoya! Justru sebaliknya aku ingin melamarmu! Bukankah itu yang kau mau?!"
Andrew segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sana.
Tanpa menunggu lama Andrew membuka kotak tersebut hingga menampilkan sebuah cincin berlian yang begitu cantik dan menyilaukan mata.
Seketika Zoya terkejut dengan pemandangan tak diduga didepan matanya itu.
"Will you marry me, honey?!"
Deg.
.
__ADS_1
.
Bersambung...