
"Aku ingin kau menikah denganku!"
Andita terhenyak mendengar kata-kata Zidan. Gadis itu membelalakan matanya. Apa atasannya ini sedang bercanda?
"A-apa Tuan? Me-menikah dengan anda?!"
"Ya. Aku akan membantu seluruh biaya operasi Ibumu juga biaya perawatannya pasca operasi sampai beliau benar-benar sembuh. Tapi dengan satu syarat, kau juga harus membantuku dengan cara menikah denganku!"
Zidan kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari menyilangkan kakinya. Zidan menatap Andita yang masih terkejut karena tawarannya. Sebenarnya hatinya tidak tega, tapi ini satu-satunya cara agar dirinya bisa memiliki Andita.
Andita berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mana mungkin dia menikah dengan atasannya sendiri? Apa yang akan dikatakan karyawan lain tentang dirinya? Lagipula Andita tidak mencintai Zidan, karena mereka belum lama saling mengenal. Ferdy yang sudah bertahun-tahun Andita kenal saja ia tolak. Apalagi Zidan? Lelaki yang sudah berani merampas ciuman darinya!
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menerima syarat yang anda ajukan! Jika anda tulus membantu saya, anda tidak akan memberikan syarat yang tidak wajar seperti itu!"
"Syarat tidak wajar?!"
"Ya. Syarat anda sangat tidak wajar! Saya bukan gadis rendahan yang harga dirinya bisa anda beli dengan uang!"
"Aku tidak sedang membeli harga dirimu, Andita! Aku hanya memintamu untuk membantuku!"
"Bantuan macam apa yang anda maksud Tuan?! Apa anda sadar, anda sedang merendahkan harga diri saya!"
"Merendahkan bagaimana maksudmu? Apa aku memintamu untuk menghangatkan ranjangku?! Tidak kan? Aku hanya meminta bantuanmu untuk menikah denganku. Apa itu merendahkanmu? Banyak wanita diluar sana yang kukenal rela mengantri demi mendapat kehormatan dengan menjadi pendampingku! Tapi kenapa kau malah menolakku?!"
"Kalau begitu, kenapa anda tidak nikahi saja salah satu dari gadis itu, yang rela mengantri untuk menjadi istri anda?! Maaf, saya tidak sudi, permisi!"
Apa dia bilang tidak sudi?!
Andita menghentakan kakinya lalu beranjak pergi dari hadapan Zidan. Namun sayang pintu ruangan itu terkunci otomatis. Siapa lagi yang bisa melakukan itu jika bukan Zidan.
Kenapa pintunya terkunci?!
Andita terus mencoba menarik handel pintu berkali-kali, namun nihil pintunya tidak mau terbuka.
Kemudian Andita berbalik menghadap Zidan, betapa terkejutnya dia saat Zidan sudah berdiri dihadapannya.
"Aku belum selesai bicara, kenapa kau ingin pergi?" Tatapan Zidan pada Andita kini berubah menjadi dingin. Ada perasaan takut yang menghinggapi diri Andita.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Tuan! Saya menolak tawaran anda!" Andita menekankan setiap kata-katanya.
__ADS_1
"Baik. Tidak masalah jika kau menolakku. Itu berarti kau tidak memikirkan Ibumu yang sedang terbaring lemah dirumah sakit. Seorang Ibu yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Bukankah disaat-saat seperti ini, seharusnya sebagai anak kau menolong Ibumu?"
Andita terdiam mendengar ucapan Zidan. Dia memang akan melakukan apapun demi kesehatan ibunya. Tapi bukan berarti dia harus menikah dengan Zidan.
"Dengar Andita, aku ingin menikahimu bukan karena cinta. Aku tahu kau juga tidak mencintaiku. Alasanku memintamu untuk menjadi istriku adalah karena aku tidak ingin dijodohkan dengan gadis pilihan Ayahku. Aku bisa menikahi gadis manapun yang aku mau, tapi ketika aku tahu kau sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Ibumu, maka hatiku tergerak untuk membantumu. Kita akan sama-sama diuntungkan dalam pernikahan ini."
"Aku akan memperlakukanmu selayaknya seorang istri. Memberimu nafkah dan memenuhi segala kebutuhan hidupmu dan juga keluargamu."
Andita berusaha mencerna setiap kata demi kata yang dilontarkan Zidan padanya. Dia sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Andita memalingkan wajahnya kesembarang arah. Zidan yang melihat ekspresi Andita merasa yakin, bahwa gadis itu sedang memikirkan kata-katanya barusan.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkanlah dulu. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Tidak akan ada yang bisa membantumu selain aku! Aku akan menunggu jawabanmu. Sekarang pergilah! Dan cepat bereskan laporanmu!" Zidan menekan tombol yang ada disamping pintu ruangan kerjanya. Kemudian pintu terbuka.
Sebelum keluar Andita melihat sekilas kearah Zidan dengan tatapan kesal. Sepeninggal Andita, raut wajah Zidan yang tadinya tegas berubah menjadi sendu.
Maaf jika aku menawarkan pilihan yang sulit. Tapi aku sangat ingin memilikimu, Andita. Aku berjanji setelah kau menjadi milikku, aku akan membahagiakanmu, dan membuatmu mencintaiku.
******
Dengan langkah berat, Andita menyeret kakinya keluar dari ruangan Zidan. Syarat macam apa yang dilemparkan Zidan padanya barusan? Andita mungkin percaya jika Zidan bisa membantunya untuk membiayai pengobatan sang Ibu. Tapi apa dia juga harus membantu Zidan dari masalahnya?
Apa yang akan orang lain katakan tentang dirinya, jika semua tahu bahwa dirinya menikah dengan atasannya itu hanya karena uang? Berkali-kali Andita membuat nafas berat. Kenapa ujian dihidupnya tidak pernah usai?
Rachel?
"Sedang apa kau disini?!" Tanya Rachel. Ia menggeram saat melihat Andita dihadapannya.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Sedang apa kau disini?" Balas Andita. Jika dulu dia memanggil Rachel dengan sebutan kakak untuk menghormatinya tapi tidak untuk sekarang dan seterusnya.
"Tentu saja aku ingin menemui calon suamiku!" Ucap Rachel sinis.
"Oh." Jawab Andita acuh.
Andita sama sekali belum tahu jika gadis yang dijodohkan ayah Zidan adalah Rachel. Ketika Zidan dan keluarga Tuan Reyhan sedang makan malam bersama direstoran saat itu, wajah Rachel dan keluarganya tidak terlihat oleh Andita karena posisi duduk mereka membelakangi Andita.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kau disini, gadis busuk?!" Rachel melirik papan nama yang terpampang didepan pintu ruangan Zidan. Ruangan Presdir.
"Lebih baik kau menjaga ucapanmu Rachel, sebelum aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Ibu dan juga adikmu! Kau pernah melihatku marah bukan?"
Seketika wajah Rachel berubah pias. Ia tidak ingin dirinya menjadi korban kegarangan Andita berikutnya, setelah Ibu dan adiknya.
__ADS_1
Andita tersenyum sinis melihat ketakutan dimata Rachel.
"Kenapa kau masih berdiri disitu? Bukankah kau ingin menemui calon suamimu? Apa perlu aku bantu? siapa nama calon suamimu? Biar kucarikan?!"
Mendengar ucapan Andita, Rachel kembali besar kepala.
"Haha,, sungguh kau ingin membantuku?"
Andita mengangguk pelan seraya tersenyum samar.
"Tapi aku rasa aku tidak butuh bantuanmu! Karena aku sudah menemukan dimana ruangan kerja calon suamiku!" Ucap Rachel, netranya kembali melirik pada ruangan Zidan.
Andita mengikuti ekor mata gadis itu. Ia terkejut ketika Rachel menunjuk ruangan Zidan dengan matanya.
A-apa maksudnya? Tuan Zidan calon suami Rachel?
"Apa kau terkejut?! Haha,, tentu saja kau pasti terkejut. Kau pasti tidak menyangka bukan kalau aku adalah calon istri dari Zidan Pratama Wijaya? Seorang pengusaha hebat dinegri ini?!"
Andita kembali menatap Rachel.
"Apa kau adalah gadis yang dijodohkan oleh Ayahnya Tuan Zidan?"
Kini gantian Rachel yang dibuat terkejut. Kenapa Andita bisa tahu jika dirinya dan Zidan dijodohkan.
"Darimana kau tahu jika aku dan Zidan dijodohkan?"
"Tentu saja aku tahu, karena beritanya sudah menyebar keseluruh penjuru negri. Kalian adalah orang terpandang bukan? Tentu sangat mudah bagi para paparazi untuk mencari informasi tentang kalian." Dusta Andita.
Rachel tersenyum smirk.
"Baguslah jika kau sudah tahu. Setidaknya kau akan berpikir dua kali untuk melakukan hal bodoh padaku. Oh ya, apa kau bekerja diperusahaan Zidan? Jika iya, berhati-hatilah. Karena setelah aku menjadi istri Zidan, nasibmu akan berubah. Aku akan membuat Zidan menendangmu dari perusahaan ini!"
Setelah mengatakan itu, dengan angkuhnya Rachel berjalan melewati Andita. Sementara Andita hanya menatap punggung Rachel dengan tatapan mengejek.
Daripada memikirkan diriku sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri, Rachel.
.
Bersambung..
__ADS_1