
Stella segera menepis tangan Ken yang mencekal tangannya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Ucap Stella ketus. Hingga membuat Ken mendelik tak percaya.
Stella pun hendak kembali berlalu dari hadapan lelaki itu, namun Ken malah kembali mencekal tangannya lebih kuat dan langsung menyeret Stella dari pintu utama.
"Awwh! Lepas Ken!"
Ken baru melepaskan tangan Stella begitu mereka sampai ditaman samping rumah Zidan. Stella meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya.
"Kenapa?! Apa Sakit?!" Sinis Ken.
"Kau ?!!" Stella menatap kesal pada lelaki dihadapannya itu. Kemudian ia membuang nafas kasar.
"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu! Lagi pula tidak ada yang perlu kita bicarakan! Bukankah kalimat itu yang selalu kau katakan padaku, hah?!" Stella menyedekapkan kedua tangannya didepan dada.
"Ya, awalnya aku berpikir seperti itu! Tapi ternyata aku salah! Urusan diantara kita belum selesai!"
Stella tersenyum sinis.
"Urusan?! Urusan seperti apa maksudmu?!"
Sementara dari atas, dibalik jendela Andita yang hendak membuka gorden tidak sengaja melihat Ken dan Stella yang terlibat perdebatan dibawah sana.
Namun sayang Andita tidak bisa mendengarnya. Hingga sebuah tangan kokoh yang melingkar diperut Andita sukses membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Zidan! Kau mengagetkanku!"
"Ada apa hm? Kenapa pagi-pagi melamun?!" Zidan menciumi tengkuk Andita. Membuat gadis itu menggeliat geli.
"Hishh! Aku sedang tidak melamun! Lihatlah kebawah! Sepertinya Ken dan Stella tengah berdebat."
Sejenak Zidan menghentikan aktifitasnya. Ia menyingkap sedikit vitrase gorden yang menghalanginya dengan satu jari.
"Sepertinya Ken mulai menyukai seorang wanita!" Zidan kembali menutup vitrase gorden itu. Kemudian melanjutkan aktifitasnya menciumi leher Andita hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
"Hah?! Apa maksudmu Zidan?! Apa selama ini Ken tidak pernah menyukai wanita?!" Andita mendelik. Pikirannya sudah melalang buana.
"Entahlah! Tapi aku rasa begitu. Karena selama ini aku tidak pernah melihatnya berkencan dengan wanita manapun."
"Jadi maksudmu Stella wanita pertama yang didekati oleh Ken?!"
Zidan mengangkat bahunya acuh.
"Sudahlah kita tidak perlu memikirkan mereka. Itu tidak penting! Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan!"
"Apa?!"
"Membuat anak!"
Blush
Wajah Andita seketika merona.
"Anak?! Kau ingin memiliki anak dariku?!"
"Tentu saja! Aku ingin memiliki anak yang banyak darimu!"
Mendengar keiinginan Zidan, hati Andita tiba-tiba menghangat.
"Tapi sebentar lagi Stella akan memeriksamu Zidan!"
"Tenang saja! Kita akan bermain cepat. Lagipula perdebatan mereka sepertinya akan memakan waktu cukup lama. Kita bisa memanfaatkannya!"
__ADS_1
Andita tidak bisa menolak. Karena Zidan sudah membuka separuh kancing piyamanya. Dan sepertinya pagi ini mereka akan mandi keringat.
Sementara dibawah, Stella menatap sinis kearah Ken. Sedangkan Ken menatap dingin pada Stella.
"Sekarang cepat katakan! Urusan seperti apa yang kau maksud?!"
Ken maju selangkah lalu menatap manik mata gadis itu lekat-lekat.
"Hubungan kita!"
Seketika jantung Stella berdetak dua kali lebih cepat ketika wajahnya dan wajah Ken hanya berjarak satu jengkal. Apalagi saat lelaki itu mengatakan 'hubungan kita' , tentu hal itu membuat hati Stella bersorak sorai didalam sana.
Apa itu berarti Ken masih memiliki perasaan padaku?!
Namun sebisa mungkin Stella menormalkan ekspresi wajahnya dan bersikap biasa saja dihadapan Ken. Malah ia terkesan tidak peduli.
"Hubungan kita?! Hubungan yang mana?! Bukankah waktu itu kau mengatakan jika diantara kita sudah tidak memiliki hubungan apapun?!" Stella memasang wajah angkuh.
Ck, sepertinya dia ingin membalasku!
"Aku tahu Stella, kalau kau masih menyukaiku! Kau hanya menjadikan lelaki itu pelarian untuk membuatku cemburu bukan?!"
Kali ini Stella sungguh tidak mengerti maksud dari ucapan Ken.
Lelaki?! Pelarian?!
Stella memutar bola matanya seolah tengah berpikir.
Apa maksudnya Kak Sendy?! Ah, sepertinya aku sudah paham sekarang.
Stella tertawa nyaring.
"Apa lelaki yang kau maksud adalah Kak Sendy? Lelaki tampan yang baru saja mengantarku?"
Ken berdecak sebal mendengar pujian Stella untuk lelaki itu.
"Jika lelaki yang kau maksud adalah dia, kau salah besar jika menganggap aku hanya menjadikannya pelarian! Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaanku Ken!"
"Jadi maksudmu kau benar-benar berkencan dengannya?!"
"Jika ya kenapa?! Aku gadis lajang. Aku bebas melabuhkan hatiku pada lelaki manapun yang kuinginkan. Kau tidak perlu ikut campur karena kau bukan siapa-siapaku!" Ketus Stella.
"Tentu saja aku berhak ikut campur!" Ken mencengkram bahu gadis itu hingga membuatnya meringis.
"Oh ya?! Memang apa alasanmu hingga kau berhak ikut campur hah?!"
"Karena aku masih menyukaimu Stella!"
******
Setelah selesai memeriksa Zidan, sedari tadi Stella tidak berhenti mengulas senyum di wajahnya. Dan itu cukup menarik perhatian Andita.
Kedua wanita cantik itu kini tengah berbincang dihalaman belakang sembari menikmati secangkir teh hangat.
Sementara Zidan tengah berada diruang kerjanya. Semakin hari kondisi kesehatan Zidan semakin membaik. Hingga ia sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala.
Andita menatap Stella lekat-lekat.
"Sepertinya kau sedang bahagia Stell?!" Tanya Andita.
Stella semakin mengembangkan senyumannya.
"Ya Andita. Aku sangat bahagia! Akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia. Terimakasih banyak atas saranmu waktu itu! Sungguh idemu itu sangat manjur! Hahaha..." Jawab Stella senang yang menerima saran dari Andita untuk memanas-manasi Ken.
__ADS_1
"Maksudmu? Apa Ken sudah menyatakan perasaannya padamu?!"
"Hemm. Ternyata dia masih menyukaiku Andita!"
Andita tersenyum senang mendengarnya. Ia turut bahagia untuk Stella.
"Syukurlah! Aku harap kalian segera menyusulku dengan Zidan."
"Menyusul kemana?!"
"Tentu saja kepelaminan! Memangnya kau tidak ingin menikah?!"
Stella terkikik geli mendengar ucapan Andita.
"Aku belum memikirkan hal itu Andita! Aku dan Ken baru memulai hubungan kami kembali. Tapi jika dia tiba-tiba melamarku, tentu saja aku tidak akan menolak!"
"Ckk, kau ini! Memang apalagi yang kau tunggu! Usiamu sudah cukup matang untuk berumah tangga Stell. Kau harus meminta Ken untuk segera menikahimu. Aku dan Zidan saja sudah berencana untuk memiliki anak!"
Andita mengusap perutnya yang masih rata. Ia berharap segera tumbuh janin buah cintanya bersama Zidan didalam sana.
"Benarkah kalian berencana untuk memiliki anak?!" Tanya Stella tidak percaya.
"Heumm!" Andita mengangguk antusias.
******
Diruang kerja, Zidan tengah fokus pada layar laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Zidan meraihnya kemudian membuka layar ponselnya itu.
Terdapat beberapa pesan masuk. Zidan menghembuskan nafas kasar ketika melihat siapa pengirimnya.
Zoya.
[Zidan, bagaimana kondisimu?]
[Apa sudah membaik?]
[Oh iya, Kau sedang apa?]
[Apa kau sudah makan?]
[Aku selalu memikirkan keadaanmu Zidan.]
[Jangan terlalu lelah! Kau harus banyak beristirahat!]
Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, hampir setiap hari Zoya selalu mengiriminya pesan. Terkadang wanita itu juga mencoba menghubunginya. Namun Zidan selalu menolak panggilan dari Zoya.
Bukan tanpa sebab. Masalahnya menurut Zidan, Zoya terlalu berlebihan dalam memberikan perhatian. Dan hal itu membuat Zidan merasa risih.
Padahal dulu dia sangat senang saat Zoya memperhatikannya. Tapi sekarang berbeda. Ia tidak mau jika Andita sampai tahu hingga akhirnya berujung salah paham.
Begitupun dengan Andrew. Zidan hanya ingin menjaga hubungan persahabatannya. Akhirnya Zidan pun lebih memilih untuk mengabaikan pesan Zoya.
Sementara ditempat berbeda, Zoya nampak murung karena beberapa hari ini pesannya tidak dibalas oleh Zidan.
Entah kenapa semenjak melihat kemesraan Zidan bersama Andita di rumah sakit, Zoya terus memikirkan lelaki itu.
"Ada apa denganku?! Harusnya aku tidak seperti ini! Aku sudah memiliki Andrew. Dan Zidan adalah sahabatku bersama Andrew. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan Zidan?! Huft! Ini tidak benar."
Zoya menyandarkan kepalanya pada kursi kerja. Ia menatap langit-langit ruangannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Ojo lali like komen hadiah dan votenya gaes 😁