MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Alasan Tak Masuk Akal


__ADS_3

Andita menghentikan langkahnya dikoridor saat akan menuju ruangan Stella. Ia melihat Stella yang berjalan dari arah berlawanan bersama dengan seorang pria yang juga mengenakan pakaian dokter.


Mungkin itu rekan sejawat sekaligus kekasihnya, pikir Andita. Karena Andita melihat dokter pria itu merangkul bahu Stella. Mereka berdua tertawa bersama dan nampak begitu akrab.


Tapi yang membuat Andita menghentikan langkahnya bukan karena Stella melainkan sosok pria yang tengah berdiri kokoh dihadapannya saat ini.


Pria itu membelakangi Andita dengan kedua tangan mengepal. Seolah tengah menahan amarah.


Andita seperti tidak asing dengan perawakan pria tersebut.


Ken?!


Disaat Andita sedang mengamati postur tubuh pria itu, Ken berbalik. Ia terlonjak kaget ketika melihat Andita dihadapannya.


"Nona?! Sedang apa anda disini?! Bukankah anda sedang menemani Tuan Muda?!" Tanya Ken. Ia segera mengendurkan kepalan tangannya hingga terlepas sempurna.


"Aku akan menemui dokter Stella untuk menanyakan kondisi Zidan dan kapan dia boleh pulang. Kau sendiri sedang apa disini Ken?!" Andita balik bertanya.


Ken berusaha menutupi kegugupannya dan memutar otak mencari alasan. Ia tidak ingin membuat istri majikannya itu curiga dan banyak bertanya.


"Saya baru saja akan kembali kekantor Nona. Berhubung Tuan Muda sudah sadar saya harus mempersiapkan semuanya." Jawab Ken datar.


"Oh begitu." Andita mengangguk lalu kembali bertanya. "Apa pekerjaan dikantor begitu banyak hingga membuatmu tidak fokus Ken?"


"Maksud anda?"


"Pintu keluar rumah sakit ada disebelah sana! Bukan sebelah sini." Jari Andita menunjuk jalan didepannya lalu beralih kebelakangnya.


Ken menelan saliva mendengar ucapan Andita.


Sial! Kenapa aku jadi seperti orang bodoh begini!


Lelaki itu pun kembali mencari alasan lain yang lebih masuk akal.


"Kebetulan saya akan kembali menemui Tuan Muda, Nona. Ada hal yang harus saya bicarakan!"


"Tapi Zidan sedang ada tamu."


"Tamu? Tamu siapa Nona?"


"Zoya. Sahabat Zidan yang hadir dipernikahan kami waktu itu."


"Nona Zoya?!"


"Ya."

__ADS_1


Sejenak mereka berdua terdiam. Tidak lama terdengar suara nyaring dari arah belakang Ken yang menyapa Andita.


"Andita!" Panggil Stella.


Netra Andita pun kini beralih pada Stella yang berdiri tidak jauh dari mereka. Andita melambaikan tangannya seraya tersenyum. Sementara Ken hanya memejamkan mata tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.


"Baiklah Ken. Aku akan menemui Stella dulu! Jika kau ingin menemui Zidan, temuilah!"


Andita pun berlalu melewati Ken.


******


Wajah Zidan nampak begitu antusias saat mengetahui jika dirinya hari ini sudah diperbolehkan pulang.


Padahal seminggu lalu Stella mengatakan pada Andita jika kondisi Zidan belum pulih total. Zidan masih membutuhkan perawatan dibagian kepalanya dan baru diizinkan pulang dua minggu kemudian.


Akan tetapi pria itu memaksa dengan mengatakan jika kondisinya baik-baik saja.


Dan itu membuat Andita sedikit kesal dan was-was. Ia takut jika nantinya Zidan akan menemui gangguan pada kesehatannya.


Walaupun Stella berjanji akan sering mengunjungi kediaman Zidan untuk memeriksa keadaannya. Namun tetap saja hal itu membuat Andita tidak merasa tenang.


Sepanjang perjalanan pulang ekspresi wajah Zidan dan Andita berbanding terbalik. Jika Zidan nampak bahagia, Andita malah sebaliknya. Sedari tadi ia mendiamkan Zidan.


Ia tidak mengerti kenapa suaminya itu sangat keras kepala sekali.


Sementara Andita sendiri sibuk memainkan ponselnya. Ia ingin mengalihkan kekesalannya dari Zidan.


Merasa ucapannya tidak direspon, Zidan menoleh pada Andita. Ia mengambil paksa ponsel dari tangan istrinya itu.


"Kau sedang apa?!"


"Kembalikan ponselku!"


"Jangan bermain ponsel jika sedang bersamaku! Aku tidak menyukainya!"


Zidan menyimpan ponsel Andita. Andita mendengus kesal. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Kau kenapa terlihat kesal?! Apa karena aku mengambil ponselmu?! Atau karena kau tidak suka jika aku pulang kerumah?!" Tanya Zidan yang mulai terpancing melihat raut wajah Andita yang muram.


Ken yang menyupiri sepasang suami istri itu, sekilas melihat perdebatan mereka dari kaca spion. Ia mencoba mengabaikannya.


Mendengar nada suara Zidan yang mulai tidak bersahabat, Andita menatap tajam kearah suaminya.


"Ya, aku memang kesal! Aku kesal, karena kau begitu keras kepala! Kau masih membutuhkan perawatan, tapi kau bersikeras untuk pulang! Bagaimana jika sesuatu terjadi pada kesehatanmu?! Itulah yang sejak tadi kupikirkan!" Jawab Andita dengan emosi.

__ADS_1


Zidan menghela nafas panjang. Ia tahu apa yang dikhawatirkan istrinya itu. Zidan menarik tangan Andita lalu membawanya kedalam dekapannya.


"Bukankah sudah ku katakan jika aku baik-baik saja?! Aku tidak suka berlama-lama dirumah sakit. Kau tahu kenapa?"


"Apa?!"


"Karena disana banyak perawat cantik! Aku tidak suka jika mereka merawatku! Aku hanya ingin kau yang melakukan itu!"


"Apa karena aku jelek, jadi kau ingin aku merawatmu?!" Ketus Andita.


"Siapa bilang kau jelek?! Kau lebih cantik dari wanita manapun. Hatimu, wajahmu. Aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang menyentuhku selain dirimu." Ucap Zidan sembari mengelus pucuk kepala Andita.


"Tapi dokter Stella juga wanita. Dan dia selalu menyentuhmu jika dia sedang memeriksamu."


"Tentu saja itu berbeda! Stella sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter!"


Andita berdecak mendengar alasan Zidan yang tak masuk akal.


"Bukankah para perawat cantik itu juga hanya menjalankan tugasnya untuk memeriksamu?!"


"Haishh..kau ini cerewet sekali! Intinya aku bosan berada di rumah sakit. Aku ingin cepat pulang dan menghabiskan waktuku denganmu dirumah! Aku juga sudah tidak sabar ingin membayar semua hutangku padamu selama aku koma."


"Hutang?! Hutang apa?!" Andita mendongakan wajahnya pada wajah Zidan.


"Hutang karena sebulan tidak menidurimu diranjang."


Andita terkesiap mendengar ucapan Zidan. Seketika wajahnya bersemu merah. Sepertinya dia tahu apa yang dimaksud suaminya itu.


Sementara dikursi depan terdengar deheman dari Ken berkali-kali.


"Tenggorokanmu sakit Ken?" Tanya Zidan.


"Tidak Tuan! Hanya sedikit gatal."


"Mintalah obat pada Stella. Dia memiliki banyak obat pereda gatal!"


"Baik Tuan!"


Andita terperangah mendengar ucapan Zidan yang menyebut nama Stella , ia lalu menyikut dada bidang suaminya itu.


Pasalnya Andita sudah menceritakan apa yang dilihatnya antara Stella dan Ken pada Zidan. Sementara Zidan hanya tergelak kecil menerima sikutan Andita.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2