
"Kenapa begitu, Bibi?" tanya Daffa penasaran.
Karina hanya mengedikkan bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa David tidak menyukai gadis yang sudah menjadi teman kencannya.
"Nanti kamu tanya saja sendiri ke dia,"
Daffa menggelengkan kepalanya. "Lebih baik gue mati penasaran daripada harus bertanya langsung ke si David." ucap Daffa di dalam hati.
"Jadi? Bagaimana dengan tawaran Bibi yang tadi, Daffa? Apa kamu mau, jika Bibi kenakalan pada anak gadis dari teman Bibi?"
"Ehm, boleh deh, Bi. Pumpung Daffa juga lagi jomblo." ucap Daffa dengan senyuman lebar.
***
"Na, ponsel kamu berdering ini?" Teriak Venus
"Siapa yang telepon, Ve?" tanya Davina dari dapur. Sementara Venus sedang berada di ruang tamu sambil menonton drama korea.
"Gak tahu," sahut Venus.
Davina yang penasaran pun langsung bergegas menuju ke ruang tamu untuk menjawab panggilan teleponnya. Ia menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo.."
"Apa benar ini dengan Nonya Davina?"
"Iya, dengan saya sendiri."
"Saya dari rumah sakit, mau mengabarkan jika suami anda yang bernama Yohanes David Abraham mengalami kecelakaan mobil?"
"A-Apa? Kecelakaan? Suster sedang tidak bercanda, Kan? Lalu bagaimana keadaan suami saya sekarang?" tanya Davina dengan nada suara yang terdengar panik.
"Benar Nona. Kini keadaan suami anda sangat kritis. Saya harap Nona bisa secepatnya datang ke RS. NCT."
"Baik, saya akan langsung kesana. Terimakasih kasih infonya." Ucap Davina kemudian langsung menutup panggilan telepon tersebut.
Davina pun langsung menuju ke arah kamar tidurnya untuk mengganti pakaiannya. Saat mendengar suara dari petugas rumah sakit yang memberitahukan keadaan David kini membuat dirinya semakin takut dan khawatir.
"Kamu mau pergi kemana, Na?" tanya Venus yang merasa heran dengan sikap Davina yang terlihat sedang gelisah dan terburu-buru.
"Kerumah sakit." jawab Davina sambil memakai sepatunya.
"Memangnya siapa yang lagi sakit?"
"Bos kamu."
"Apa? Sakit? Bukankah tadi pagi dia sudah baik - baik saja?"
"Nanti aku bakalan jelasin ke kamu, Ve. Aku mau ke rumah sakit dulu. Karena sekarang David sedang dalam keadaan kritis."
"Kalau begitu aku ikut, Na."
"Ya udah, sekarang lo ganti baju dan gak pake lama ya, Ve. Soalnya aku khawatir banget sama keadaan David."
"Aku tau." ucap Venus kemudian langsung ke kamar Davina dan mengganti bajunya.
Setelah Venus selesai ganti baju Davina pun berpamitan pada ibunya dulu. Kemudian mereka keluar dari rumah untuk mencari taksi.
"Apa yang terjadi? Kenapa David bisa sampai kritis?" tanya Venus saat mereka sudah berada di dalam taksi.
"Tadi pihak rumah sakit telepon, katanya David sedang kritis karena mengalami kecelakaan mobil."
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu sangat khawatir begitu, Na? Bukannya kamu udah nggak peduli lagi ya sama si David?"
"Aku juga gak tau, Ve. Tiba-tiba aja perasaanku jadi panik dan takut aja." jawab Davina dengan jujur.
"Jangan - jangan kamu beneran sudah jatuh cinta sama si David?"
Davina memilih untuk tidak menjawab ucapan dari Venus, malahan Davina menyuruh agar supir taksi tersebut menjalankan taksinya supaya lebih cepat untuk sampai ke rumah sakit.
"Na, kamu itu harus tenang. Jangan langsung nyuruh pak supir untuk buru - buru sampai ke rumah sakit." tegur Venus.
"Aku nggak bisa, Ve. Aku sangat takut jika nantinya David akan meninggal? Mengingat kondisinya yang sedang kritis." ujar Davina menahan air matanya.
"Bukannya itu bagus ya. Jadi kan, kalau dia itu mati kamu bisa menjadi janda yang kaya raya." ucap Venus sambil tertawa.
"Venus! Jaga ucapan kamu!"
"Maaf, Na. Aku hanya bercanda."
***
Sedangkan di dalam rumah sakit kini Daffa dan Mami Karina sedang menunggu di depan ruangan David.
Mereka sudah berlatih untuk memasang wajah sedih dan takut kehilangan David di depan Davina nanti.
"Dengar ya, Bi. Bibi nanti harus beneran nangis loh, biar akting kita semakin meyakinkan di depan Davina."
"Iya, Bibi juga tahu kok. Kamu tenang saja Daffa karena Bibi juga sudah sering bermain drama seperti ini saat ada acara di kampus dulu."
Dari kejauhan, Karina dan Daffa pun sudah melihat kedatangan Davina dan Venus yang kini sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Bibi ingat, harus nangis juga." bisik Daffa
"Bibi tahu. Permainan drama di mulai, Daffa." balas Mami Karina sambil berbisik.
"Mi, Davina yakin pasti David bakalan baik - baik saja, kok." ucap Davina yang mencoba untuk menenangkan Ibu mertuanya itu.
"Ta-tapi tadi kata dokter harapan David untuk hidup sedikit, Na." ujar Karina sambil terisak.
"Bagaimana ceritanya David bisa kecelakaan seperti itu, Mi? Apa Mami sudah tahu?"
"Daffa, lebih baik kamu yang menceritakan semuanya pada Davina."
Untuk meyakinkan apa yang akan di ceritakan tentang kecelakaan David. Daffa pun membuka beberapa foto tentang kondisi mobil David yang sudah hampir hancur itu. Tidak hanya itu Daffa juga bercerita jika tadi pagi David terburu - buru untuk mengejar Davina.
Tiba-tiba pintu ruangan rawat David pun terbuka.
"Bagaimana dengan keadaan putra saya, dok?" tanya Karina sambil menangis tersedu-sedu saat melihat dokter yang telah memeriksa keadaan David keluar dari ruangan rawat David.
"Saya minta maaf. Tetapi, kesempatan putra anda untuk bertahan hidup kemungkinannya sangatlah kecil. Kita hanya bisa berharap datangnya keajaiban dari Tuhan."
"Oh ya, apakah di sini ada yang bernama Davina? Karena tadi pasien sempat memanggil - manggil nama tersebut sebelum kondisinya menjadi kritis seperti sekarang ini."
"Saya yang bernama Davina, Dok. Saya istrinya. Apa boleh saya masuk ke ruangan suami saya?" jawab Davina.
"Kalau begitu silahkan anda masuk."
Lalu Davina dan dokter yang menangani David pun masuk kedalam ruangan David secara bersamaan. Dokter pun kembali menjelaskan keadaan David yang kian memburuk.
"Semoga saja ada keajaiban Tuhan yang mungkin bisa menyadarkan suami anda untuk melewati masa kritisnya. Anda harus bersabar dan banyak berdoa, Nyonya."
Davina menganggukkan kepalanya sambil mengusap bulir air mata yang sudah menetes di wajahnya.
__ADS_1
"Kemungkinan berapa persen tingkat kesembuhan untuk suami saya, dok?"
"Seperti sudah saya bilang tadi, Nyonya. Harapan kesembuhan untuk suami anda sangat memprihatikan." ucap sang dokter. "Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." lanjutnya.
Setelah kepergian dari sang dokter kini Davina menarik kursi dan duduk di samping David sambil memegang tangannya.
"Cepat sadar, Kancil." lirih Davina sambil mengusap bulir air matanya yang sudah menetes.
"Kenapa kamu bisa ceroboh dan kecelakaan seperti ini?" tanya Davina. "Kamu bilang kamu mencintaiku dan mau memulainya dari awal.Tapi kenapa kamu malah berbaring di sini? Hiks...hiks..." lanjutnya sambil menangis terisak
"Kenapa kamu selalu berbohong dan menipuku, Hah?!"
Davina terus berucap dengan deraian air mata yang terus turun dari matanya.
Entah kenapa, kini dia mulai takut jika akan kehilangan sosok David. Ya, sosok yang selalu membuat Davina merasa kesal dan marah, sosok yang selalu menganggu dirinya dan sosok yang selalu merawat dirinya ketika sedang sakit.
Bahkan Davina pun masih mengingat saat David mengantarkan dirinya dan Ibunya pulang dari rumah sakit dan mengajak Ibunya makan. Dan David tidak pernah sekalipun memandang rendah ibunya dia sangat menghormati Ibunya.
"Hikss... Hikss..." Davina kini terus menangis sampai tenggorokannya terasa tercekat.
Karina, Daffa dan Venus yang baru saja masuk pun juga ikutan sedih saat mendengar ucapan Davina. Karina kemudian berjalan menghampiri Davina dan berdiri di sampingnya.
"Na, sebenarnya sebelum dia mengalami kecelakaan. David sempat bilang ke Mami kalau kamu sangat membenci dia karena dia sudah berbuat seenaknya sama kamu. Seandainya nanti David pergi untuk selamanya maukah kamu memaafkan segala kesalahan putra Mami?"
"Aku sudah memaafkannya, dan aku tidak lagi membenci putra Mami "
"Dia juga bilang, sebenarnya dia sangat takut seandainya kamu mengajukan surat perceraian?"
"Aku tidak mungkin mengajukan permintaan perceraian kepadanya, Mi."
"Kenapa? Bukannya kamu juga ingin lepas dari pernikahan ini?"
"Ya, mungkin dulu aku sangat ingin untuk mengakhiri pernikahanku dengan David. Tapi semalam aku mulai merasakan perasaan cemburu saat melihat wanita lain mendekatinya dan menyentuhnya. Sebenarnya aku merasa senang saat ia selalu ada untuk menjagaku, Mi."
"Mungkinkah kamu sudah mulai mencintai anak Mami."
"Ya, aku mencintai David."
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.