
"Gue juga nggak mau! Lagian gue juga bukan karyawan lo. Bokap gue aja punya perusahaan tapi gue lebih memilih pekerjaan yang santai dan lebih memilih pekerjaan yang gue sukain aja. Gue itu males kerja kantoran karena harus cek dokumen dan meeting kesana kemari."
"Habisnya lo itu nggak jelas, sih."
"Ya udah deh Bro, mending gue nggak usah bantuin lo lagi buat baikan sama Davina."
"Eh, jangan dong. Ya udah gue akan pergi meeting, tapi lo itu tetep harus temenin gue ya?" pinta David.
"Iya, tapi jangan lupa juga bayarin gue."
"Katanya lo kemarin mau bantuin gue ikhlas dan gratis. Kenapa sekarang ada bayarannya?"
Daffa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan. "Gue habis kalah taruhan sama anak club motor kemarin, jadi butuh duit deh sekarang."
"Astaga Daffa!" Geram David.
"Maaf Bro, tapi gue beneran lagi butuh duit banget." ucap Daffa
"Memangnya berapa banyak yang lo butuhin?" tanya David sambil membuka aplikasi bankingnya.
"Dikit aja. Cuma 50 juta rupiah." ujar Daffa dengan wajah yang tanpa dosa.
"A-Apa? Uang 50 juta kamu bilang sedikit? Emang beneran nggak waras lo, Daff!" Tukas David, sambil mengetikkan nominal transfer pada aplikasi banking di ponselnya.
"Berarti lo lagi ngomong sama orang yang nggak waras dong." ledek Daffa.
"Gue jadi nyesel tadi karena nggak cerita sejujurnya aja ke nyokap lo, pasalnya tadi nyokap lo itu udah nawarin gue uang 500 juta rupiah kalau gue mau cerita. Tapi gue tetep ngotot nggak kasih tahu ke nyokap lo itu, jadi ambyar sudah uang 500 jutanya." ucap Daffa dengan jujur.
Tadi, memang saat ia berbicara dengan Karina, ibunya David itu sempat menyogoknya dengan iming-iming uang yang sangat banyak. Ia sempat tergiur tapi takut, jika temanya itu akan semakin gila jadi ia terpaksa menolaknya.
...***...
"Na, nanti kamu pakai baju ini ya saat kita ke Cafe." ucap Venus sambil menyerahkan paper bag ke tangan Davina.
"Kenapa harus baju pakai ini, Ve?" tanya Davina memicingkan matanya dan menatap curiga ke arah Venus.
"Biar kembaran sama aku." jawab Venus sambil menunjukkan paper bag dan mengeluarkan isinya.
"Kamu baru beli tadi, Ve?"
"Iya. Aku beli online dan suruh kurir bawa kesini tadi." jawab Venus jujur.
Memang Venus yang membelinya tapi nanti semua biayanya akan ia claim ke bosnya itu. Karena bosnya yang sendiri yang memintanya untuk membelikan gaun yang cantik buat Davina. Jadi, ia sekalian membelikan buat dirinya juga, mumpung bosnya itu bisa di manfaatkan. Dan bosnya juga berpesan agar mereka pergi naik taksi saja.
"Tapi kenapa kita harus pakai gaun yang sama? Dan sepertinya harga gaun ini sangat mahal, Ve? Emang kamu ada uang?" Davina kembali memasang tatapan curiga ke arah Venus yang membuat Venus menjadi gugup.
"Di sana itu ada band favorit aku, Na? Gak mungkin aku itu pakai baju yang biasa karena aku mau ajak mereka foto dan aku ingin kita juga foto bersama dengan mereka." ujar Venus mengutarakan alasannya dan ia berharap agar Davina mau percaya.
"Lagian gaunnya itu murah kok." bohong Venus. Sebenarnya harga gaun yang ia beli itu harganya sama dengan gajinya selama satu bulan Venus bekerja.
__ADS_1
"Beneran? Jangan bohong kamu, Ve?"
"Ini gaunnya nggak asli, Davina sayang. Pakai aja. Uangku masih ada kok, nanti kita ke Cafe One Night naik Taksi aja ya. Hari ini aku yang traktir."
Sebenarnya Davina masih curiga dengan Venus. Tapi ia tidak mau ambil pusing
dan segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang di berikan oleh Venus tadi. Tepat pukul enam sore nanti mereka akan berangkat dari rumah menggunakan taksi online yang sudah di pesan oleh Venus.
...***...
"Bro, ganti baju lo sekarang!" Ujar Daffa yang memperhatikan David dari atas ke bawah.
"Kenapa emangnya?"
"Kan sudah lo pakai seharian tadi bajunya. Ganti kemeja putih sama celana slim fit hitam saja biar tambah keren."
"Gak mau! Karena gue sangat suka dengan outfit gue hari ini."
"Lo gak malu kalau ketemu istri lo pakai baju yang tadi pagi? Padahal Venus tadi baru bilang istri lo itu udah dadan cantik banget loh."
"Ya sudah. Gue mau mandi dan ganti baju dulu, ya."
"Dasar bucin! Giliran bawa nama pawangnya langsung menurut." cibir Daffa.
"Berisik lo, Daff."
"Iya gue diem."
...***...
"Maaf Pak Nathan, saya datang terlambat." ucap David sambil menjabat tangan kliennya.
Mereka berdua terlambat datang ke Cafe karena Daffa yang dari tadi terlalu sibuk menilai penampilannya yang kelihatan nggak oke dan dengan begonya, David menuruti ucapan Daffa.
"Apa ini sekretaris anda Pak David?" tanya Nathan sambil menunjuk ke arah Daffa.
"Iya, Pak."
Setelah sesi perkenalan itu, mereka membahas mengenai pekerjaannya. Tak sampai dua puluh menit, David menjelaskan apa yang tertuang dalam surat penawarannya. Pak Nathan sudah menyetujuinya dan meminta David untuk mengirimkan email surat kontrak kerja sama.
"Wah, saya sangat senang bertemu dan mengobrol dengan kalian berdua."
"Terima kasih, Pak. Kami juga senang karena bisa mengobrol dan bertemu dengan anda."
"Pak Leon pasti sangat bangga memiliki putra yang seperti anda."
"Terima kasih atas pujiannya, Pak?"
"Maaf, saya ingin bertanya. Apa Pak David ini sudah menikah? Jika belum, saya ingin sekali mengenalkan putri saya dengan Pak David."
__ADS_1
"Maaf Pak Nathan. Tapi bos saya ini sudah sold out." jawab Daffa
...***...
Saat Davina dan juga Venus sudah berada di dalam taksi, Venus sudah mengabari Daffa melalui pesan singkat.
Venus : Gue dan Davina sudah on the way sekarang.
Daffa : Oke, langsung ke meja nomor 10. Gue udah booking atas nama lo.
Venus : Siap.
Daffa : Kabarin ke gue kalau ada masalah. Gue lagi temenin bos meeting, jadi kalian nggak bisa lihat kami.
Venus : Ok, siap.
Venus kembali menyimpan ponselnya di dalam tas yang baru juga ia beli dari hasil merampok bosnya.
"Kita pergi ke Cafenya sebentar aja ya, Ve?" ujar Davina mengingatkan.
"Iya, Na. Habis band favorit aku selesai nyanyi kita langsung pulang kok."
Saat mobil taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di depan cafe one night, Venus langsung mengajak Davina untuk turun dari taksi. Semua lapangan parkir sudah di penuhi dengan mobil dan motor.
Venus sudah tidak sabar untuk masuk kedalam dan mendengarkan lagu band favoritnya yang akan menyanyikan lagu di cafe itu.
Bahkan saat mereka sudah sampai di depan pintu masuk cafe. Mereka dapat melihat kalau tempat duduk di dalam cafe itu sudah full, bahkan kalau ada tempat duduk yang kosong pun sudah ada kertas yang bertuliskan 'Telah di booking' di atas meja.
"Selamat Malam Mbak, apakah Mbak sudah membooking tempat?" tanya waiters cafe.
"Sudah mbak." jawab Venus sambil matanya sudah berkeliaran kemana - kemana.
"Nomor mejanya berapa, Mbak? Biar saya yang antar kesana?"
"Nomor 10."
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.