
Hari sudah sore. Andita dan Stella tengah sibuk berkutat didapur. Mereka berniat memasak makan malam untuk Zidan dan yang lainnya.
Awalnya Andita yang ingin berjalan-jalan mengelilingi villa terpaksa menundanya, karena tadi siang ia tertidur begitu pulas hingga bangun menjelang petang.
Andita sempat kesal pada Zidan yang tidak membangunkannya. Namun Zidan berjanji akan mengajaknya berkeliling besok pagi.
Dan akhirnya Andita pun memilih memasak didapur bersama Stella.
Dua wanita cantik itu hanya masak berdua tanpa bantuan para pelayan yang bekerja di villa milik Zidan.
Sebab para pelayan divilla itu hanya akan bekerja dari pukul 3 pagi hingga pukul 6 pagi saja jika tuan mereka tengah menginap disana. Setelah tuan mereka kembali ke ibukota, para pelayan tersebut akan bekerja seperti biasa.
Andita dan Stella membagi tugas mereka, agar pekerjaan mereka selesai tepat waktu. Disaat Stella sedang mencuci sayuran tiba-tiba ia teringat Zoya.
Terakhir dia bertemu Zoya, ketika siang tadi wanita itu meminta maaf padanya. Lalu dimana dia sekarang?
"Andita!" panggil Stella.
"Ya Stell?"
"Kemana sahabat wanita suamimu itu? Sejak tadi aku tidak melihatnya!" tanya Stella.
"Siapa yang kau maksud? Bicaralah yang jelas! Karena kau juga sahabat wanita suamiku." jawab Andita lugas. Tangannya sibuk mengaduk sup kepiting asparagus yang ia buat.
"Ck! Kau ini! Siapa lagi jika bukan Zoya!" ucap Stella sedikit kesal.
"Terakhir aku melihatnya tadi siang, sampai sekarang aku belum melihatnya lagi." lanjutnya.
"Hm, mungkin Zoya sedang berjalan-jalan mengelilingi villa dengan Andrew. Biarkan saja! Lagipula tujuan kita kemari memang untuk bersenang-senang bukan?!" jawab Andita.
"Sepertinya ada yang merindukanku disini!" tiba-tiba wanita yang tengah menjadi bahan obrolan muncul dengan santainya.
Seketika itu juga Stella dan Andita terkesiap dan langsung menoleh keasal suara. Zoya yang baru masuk kedapur berjalan menghampiri Andita.
"Zoya?! Kau darimana?" tanya Andita.
"Aku baru saja berkeliling villa Andita. Meskipun siang hari, tapi udara disini sangat sejuk! Membuatku nyaman." jawab Zoya sambil menautkan jemari dan merenggangkan otot tangannya.
"Oh begitu."
Tentu saja Zoya berbohong, karena faktanya dia baru saja bertemu dengan Andrew.
"Apa barusan ada yang mencariku?!" tanya Zoya kemudian. Sekilas netranya melirik kearah Stella.
"Barusan Stella menanyakanmu." jawab Andita jujur.
Mendengar jawaban Andita, Stella langsung membelalakan matanya. Ia tidak ingin Zoya merasa ke ge'eran karena dia menanyakannya.
Ck! Andita! Kenapa dia harus bicara jujur sih?!
__ADS_1
"Ya, aku memang menanyakanmu Zoya. Kebetulan kita akan masak banyak untuk makan malam nanti dan sepertinya kita kekurangan tenaga, maka dari itu aku menanyakanmu pada Andita!" dusta Stella.
Padahal sebenarnya Stella hanya ingin tahu saja kemana perginya Zoya.
"Hem begitu rupanya! Tentu saja dengan senang hati aku akan membantu kalian memasak!" Zoya segera mengambil satu apron yang menggantung disudut dapur kemudian memakainya.
"Kau sedang memasak apa Andita?" tanya Zoya ketika melihat Andita masih sibuk mengaduk sup diatas kompor.
"Aku sedang membuat sup kepiting Zoya." jawab Andita.
"Sup kepiting?!" Zoya mendelik.
"Ya."
"Tapi Zidan alergi seafood Andita! Apa kau tidak tahu itu?!"
Pernyataan Zoya barusan menarik perhatian Stella yang tengah merajang bawang dibelakang mereka.
Ia pun mencoba menyimak apa yang kedua wanita itu bicarakan.
"Tentu saja aku tahu Zoya! Tapi entah kenapa aku ingin sekali membuat sup kepiting ketika melihat bahan-bahannya didalam kulkas. Sedangkan untuk Zidan, aku akan membuatkan steak daging untuknya." jawab Andita seraya menunjuk daging mentah didalam wadah yang tengah di marinasi.
"Oh begitu. Aku pikir kau tidak tahu jika Zidan alergi seafood!" ucap Zoya meremehkan.
Andita tersenyum simpul mendengar ucapan sahabat suaminya itu.
"Sebagai istri yang baik, bukankah aku harus tahu apa yang disukai dan tidak disukai suamiku sendiri Zoya!" jawab Andita.
Zoya tersenyum kecut menanggapi pernyataan rivalnya. Sementara dibelakang Zoya dan Andita, Stella tersenyum smirk.
******
Jam makan malam telah tiba. Semua orang sudah berkumpul dimeja makan.
Dengan telaten Andita menyiapkan makanan untuk Zidan. Begitupun dengan Stella yang menyiapkan makanan untuk Ken.
Kedua pasangan itu terlihat begitu harmonis. Namun tidak dengan pasangan Andrew dan Zoya. Mereka bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal.
Andrew terus menatap Zoya dengan tajam. Kata-kata Zoya yang menginginkan berpisah darinya terus berputar dikepala Andrew bagaikan kaset kusut.
Dia masih tidak menyangka jika Zoya akan meminta hal itu padanya.
Padahal Andrew sudah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Hanya demi Zoya. Tapi wanita itu...
Argghh, rasanya Andrew tidak bisa menerima ini. Ia meremas pisau dan garpu yang berada ditangannya.
Sementara Zoya yang tidak sadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh Andrew malah memperhatikan Zidan dan Andita yang tengah bersenda gurau.
Hatinya memanas sehingga membuat perubahan pada ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Dan itu semua tak lepas dari pengawasan mata Andrew. Andrew yang duduk bersebrangan dengan kekasihnya tersebut, terus mengikuti arah tatapan Zoya. Batinnya kembali bertanya-tanya.
Kenapa Zoya terlihat begitu marah saat melihat kemesraan Andita dan Zidan?
Atau jangan-jangan ia cemburu pada Andita?! Tapi kenapa?!
Apa mungkin lelaki yang disukai Zoya adalah Zidan?!
Tidak. Itu tidak mungkin!
Andrew segera menepis pikiran buruk itu dari kepalanya.
Dia berpikir, ekspresi Zoya yang terlihat marah saat ini, karena keinginannya yang belum terwujud untuk membangun sebuah rumah tangga. Sehingga ia marah pada dirinya sendiri.
Andai saja Andrew tahu jika dugaan awalnya itu benar. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin selama bertahun-tahun lamanya.
Disisi lain Andita yang melihat Zoya tidak mengambil sup buatannya pun bertanya.
"Zoya, kau tidak memakan sup kepitingnya?" tanya Andita.
Zoya yang tengah sibuk memperhatikan pasangan itu seketika terkesiap mendengar pertanyaan Andita. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh, emh, ti-tidak Andita! Aku kurang menyukai kepiting!" jawab Zoya gugup.
Tentu saja ucapan Zoya membuat Zidan dan Andrew terkejut. Mereka berdua mengalihkan pandangannya kearah Zoya. Yang mereka tahu Zoya sangat menyukai makanan laut itu.
"Sejak kapan kau kurang menyukai kepiting Zoya?!" tiba-tiba Andrew bertanya penuh selidik.
"Bukankah sejak dulu kau sangat menyukainya sama sepertiku?!" lanjutnya.
Seketika wajah Zoya menegang. Ia bisa melihat tatapan curiga dimata Andrew.
"Ya, dulu aku sangat menyukainya Andrew! Tapi sekarang aku sedang mengurangi makanan itu. Aku tidak mau tubuhku dipenuhi lemak!" dusta Zoya.
Sebenarnya saat ini Zoya hanya ingin memakan apa yang dimakan oleh Zidan.
Dengan hanya melakukan hal kecil itu saja sudah cukup membuatnya merasa dekat dengan lelaki itu.
Sama seperti yang ia lakukan dulu pada saat pendekatan dengan Andrew.
Dia akan menyukai apa yang Andrew suka. Dan tidak akan menyukai apa yang tidak disukai Andrew.
Jawaban Zoya pun disetujui oleh Andita. Menurutnya seorang wanita karir seperti Zoya memang harus menjaga bentuk tubuhnya supaya tetap terlihat ideal.
Tanpa Andita tahu bahwa Zoya memiliki maksud lain.
.
.
__ADS_1
Bersambung..