MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Aku Membencimu Zidan!


__ADS_3

...Warniiing!!! Mohon maaf ada adegan panasnya!!! Bagi yang menjalankan ibadah puasa bacanya malam aja biar aman ๐Ÿ™...


...Author juga updatenya malam soalnya ๐Ÿ˜...


Happy reading..


*****


"Aku benar-benar membencimu Zidan!" Hanya kalimat itu yang bisa Andita lontarkan.


Matanya sudah berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Andita langsung memalingkan wajahnya kesamping. Ia menengadahkan sedikit kepalanya keatas agar tangisnya tidak kembali luruh.


Andita tidak habis pikir, bagaimana bisa suaminya mengatakan hal seperti itu?


Jangankan membayangkannya, memikirkan kehilangan suaminya saja Andita tidak sanggup.


Sementara Zidan yang melihat perubahan raut wajah Andita tersenyum samar. Ia sengaja membuat Andita bersedih hanya untuk sekedar mengetes perasaannya.


"Benarkah kau membenciku Andita?"


Andita tidak meggubris pertanyaan suaminya. Bibirnya terkatup rapat. Airmatanya sudah menganak sungai.


Zidan yang masih bersandar pada bahu ranjang dengan tangan bersedekap menyenggol tubuh Andita dengan kakinya yang diluruskan.


"Hei, jawab pertanyaanku! Apa kau sengaja ingin membuatku marah lagi?!" Zidan terus saja mencolek pinggang Andita dengan kakinya. Membuat Andita merasa gusar.


Ia langsung menatap tajam kearah Zidan.


"YA! AKU MEMBENCIMU ZIDAN! SANGAT MEMBENCIMU! KAU ADALAH MANUSIA TERJAHAT YANG PERNAH KUKENAL!" Teriak Andita disela-sela isak tangisnya.


"Wah, hebat sekali! Hari masih pagi tapi kau sudah berani berteriak dan memakiku!"


"Apa kau benar-benar ingin aku meninggalkanmu Andita?" Tanya Zidan.


"Jika kau sudah tidak mencintaiku, tinggalkan saja! Lagi pula aku tidak punya hak untuk memintamu tetap disisiku! Bukankah aku hanya sebatas istri kontrakmu?!" Ketus Andita. Dengan kasar Andita mengusap airmatanya lalu beranjak dari duduknya ditepi ranjang.


Pagi ini Zidan membuat moodnya berantakan. Padahal sudah susah payah Andita mencoba untuk menghindari lelaki itu. Namun nyatanya sia-sia.


Melihat Andita yang hendak kembali meninggalkan dirinya, secepat kilat Zidan menarik tangan istrinya itu. Hingga tubuh Andita terjerembab diatas kasur.


Seketika Andita membulatkan matanya saat Zidan sudah mengungkung tubuhnya dari atas. Kini kedua mata mereka saling bertubrukan.


"Kau mau kemana, hmm?!" Tanya Zidan datar. Mata emeraldnya menyorot tajam netra Andita.


"Lepaskan aku!" Andita berusaha keras melepaskan diri dari Zidan.


"Tidak akan! Coba katakan sekali lagi jika kau membenciku! Aku ingin mendengarnya."


"Aku membencimu Zidan!" Ucap Andita lantang. Ia langsung memalingkan wajahnya kesembarang arah. Mencoba menghindari kontak mata dengan suaminya itu.


"Apa kau membenciku karena aku menyuruhmu menganggap hari ini adalah hari terakhir kita, hah?"


"Jika ya, berhentilah menghindariku! Maka aku tidak akan mengatakan hari ini adalah hari terakhir kita. Kita akan memulai semuanya dari awal."


Mendengar ucapan Zidan, Andita pun kembali menatap wajah suaminya itu lekat-lekat.


"Aku tidak mengerti maksudmu! Apa kau sedang merayuku?!"

__ADS_1


Zidan tergelak saat mendengar pertanyaan dari bibir mungil istrinya.


"Anggaplah seperti itu! Aku hanya tidak ingin kau terus membuang-buang air matamu dengan percuma." Zidan mengusap lembut pipi Andita dengan ibu jarinya.


"Kau yang membuatku menangis Zidan! Seandainya dari awal kau mengatakan padaku tentang perasaanmu pada Zo.."


"Sssttt!" Zidan menaruh telunjuknya di bibir Andita. Hingga gadis itu menghentikan ucapannya.


"Jangan membahas orang lain saat kita sedang berdua! Aku mempunyai alasan sendiri untuk hal itu. Tapi aku akui, aku memang bersalah padamu. Jadi maukah kau memaafkanku Andita?!" Tanya Zidan dengan suara parau. Nadanya terdengar tulus meminta maaf pada istrinya.


Andita hanya terdiam. Ia mencoba merenungkan ucapan Zidan. Memang sebaiknya ia tidak membahas masalah itu dulu. Mengingat semalam mereka bertengkar hebat. Ia tidak mau memancing kemarahan suaminya lagi. Yang akan berdampak pada kebebasannya.


"Baiklah aku akan memaafkanmu! Tapi lepaskan aku! Aku mau mandi!" Ketus Andita.


"Terimakasih! Tapi kau bisa mandi nanti."


Zidan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Andita. Hingga bibirnya menyentuh bibir ranum itu.


Andita yang paham keinginan Zidan berusaha memberontak.


Namun sayang tenaganya tidak cukup kuat untuk bisa melepaskan diri dari singa lapar. Zidan mencekal kedua tangan Andita dan menaruhnya diatas kepala.


Dengan sedikit memaksa, Zidan me lu mat rakus bibir Andita. Meneguk rasa manisnya benda kenyal itu.


Sebenarnya Zidan menginginkan haknya dari semalam. Hanya saja karena pertengakaran bodoh yang terjadi antara dirinya dan Andita, mau tidak mau Zidan menahan hasratnya. Dan pagi ini Zidan tidak akan membiarkan Andita lolos darinya.


Zidan mulai menciumi area sensitif Andita. Hingga membuat Andita melenguh menahan nikmat. Sementara tangannya meremas buah dada istrinya diluar pakaian.


Semakin lama gairahnya semakin bergejolak. Perlahan Zidan melepaskan satu persatu kancing piayama Andita. Sementara bibirnya terus memagut bibir manis itu dengan hasrat menggebu-gebu.


Kemudian lelaki itu kembali melakukan aktifitasnya. Zidan menenggelamkan wajahnya pada buah dada Andita. Tangannya meremas sekaligus memasukan benda kenyal itu kedalam mulutnya untuk dihisap.


Sementara tangan satunya lagi bermain diarea bawah milik istrinya. Jemari Zidan mengobrak-abrik milik Andita tanpa ampun. Hingga sang pemilik tubuh menggelinjang hebat saat Zidan dengan liar mempermainkan tubuhnya.


Andita hanya bisa pasrah sambil meremas pelan rambut Zidan yang tengah menyusu.


De sahan-de sahan kecil yang keluar dari bibir Andita membuat gairah Zidan semakin berkobar. Tidak lama kemudian Andita membusungkan dada ketika ia akan mendapat pelepasannya.


"Aahhh Zidaanhh.."


Zidan tersenyum puas saat melihat Andita tidak berdaya karena ulahnya. Zidan pun men ji lat cai ran cinta Andita yang berada dijari tengahnya dengan penuh kenikmatan.


Sekarang giliran Zidan yang memposisikan tubuhnya diatas tubuh Andita. Perlahan ia memasukkan miliknya pada milik istrinya itu. Meskipun Zidan sudah melakukannya berkali-kali namun milik Andita masih saja sempit hingga membuatnya sedikit kesulitan.


Andita yang melihat kesulitan suaminya, berinisiatif membantunya menuntun benda panjang itu masuk kedalam miliknya.


Setelah mendapat posisi yang pas, Zidan langsung menghujamkan miliknya dengan sekali hentakan.


"Akkhh!" Andita memekik saat Zidan memasukkannya dengan sedikit kasar.


"Pelan-pelan Zidanh!"


"Maaf sayang! Milikmu sangat sempit sekali!" Zidan mengecup pucuk kepala Andita, lalu kembali me lu mat bibirnya.


Kemudian Zidan mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Andita yang berada dibawah hanya bisa mengikuti gerakan tubuh suaminya.


Semakin lama Zidan semakin mempercepat gerakannya. Ia memacu tubuh Andita tanpa ampun. Hasrat dan gairahnya sudah berada diubun-ubun seolah minta segera dilepaskan.

__ADS_1


Suara erangan dan de sa han kedua pasangan itu memenuhi seluruh isi kamar. Keringat mulai bercucuran ditubuh keduanya.


Pagi yang dingin menurut sebagian orang lebih nikmat untuk bergelung dibawah selimut namun tidak bagi kedua sejoli yang tengah dilanda kabut gairah itu.


Pertengkaran hebat yang terjadi semalam, seolah tidak berarti apa-apa. Yang terjadi pagi ini diluar ekspektasi Andita. Niatnya ingin menghindari Zidan yang ada malah ia terkungkung dibawah tubuh suaminya.


Dan selang satu jam setelah Zidan memacu tubuh Andita, akhirnya ia mendapatkan pelepasannya juga.


"Ahh Anditaaa." Zidan menengadahkan kepalanya keatas. Ia menumpahkan cairan hangat yang cukup banyak didalam tubuh istrinya.


Setelah melepaskan hasratnya, Zidan menciumi wajah Andita yang sudah basah dengan keringat.


"Terimakasih sayang! Tidurlah sebentar agar kau tidak lelah, karena siang ini aku akan mengajakmu jalan-jalan."


Mendengar kata jalan-jalan, mata Andita yang semula terpejam karena kelelahan setelah digempur oleh Zidan langsung terbuka lebar.


"Jalan-jalan?!"


"Hemm."


*****


Waktu menunjukan pukul 11 siang.


Andita sudah berdandan dengan rapi dan cantik. Walaupun badannya sedikit pegal dan sakit akibat olahraga panas tadi pagi, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk pergi jalan-jalan bersama sang suami.


Begitupun dengan Zidan. Ia sudah tampil rapi dan gagah dengan pakaian santainya. Siang ini wajahnya terlihat lebih cerah dan berseri. Berbanding terbalik dengan ekspresinya semalam yang nampak mengerikan.


Hari ini Zidan tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk berkencan dengan Andita.


Mengingat selama menikah mereka belum sempat berbulan madu ataupun jalan bersama. Apalagi besok dirinya akan meninggalkan pujaan hatinya itu keluar kota.


Zidan hanya ingin meninggalkan kesan baik untuk istrinya.


Saat ini mereka berdua tengah berada didalam perjalanan. Zidan menyetir mobilnya sendiri. Karena ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja.


Sementara Andita sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Sesekali ia melirik ke arah suaminya.


"Kau akan membawaku kemana Zidan?!" Tanya Andita dengan senyum yang cantik.


Zidan yang tengah mengemudikan mobil sekilas menatap kearah Andita.


"Ketempat yang akan membuatmu tertawa lepas!"


"Tempat apa itu?"


"Lihat saja nanti! Yang pasti aku akan membayar airmatamu semalam dengan tawa kebahagiaan hari ini." Zidan meraih tangan Andita lalu mengecupnya.


Wajah Andita seketika merah merona. Meskipun Zidan selalu memperlakukan dirinya dengan manis, tapi tetap saja jantungnya selalu berdegub kencang saat ia sedang berdekatan dengan suaminya itu.


"Aku jadi penasaran tempat apa itu!" Andita tersenyum senang sambil mengeratkan tangannya menggengam tangan Zidan.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2