
"Will you marry me, honey?!"
Deg.
Zoya tercengang saat mendengar tawaran tiba-tiba dari Andrew hingga membuatnya menganga tidak percaya.
Ia benar-benar tidak menyangka jika Andrew akan melamarnya. Zoya pikir ancamannya pada malam itu akan membuat Andrew mundur. Tapi nyatanya tidak. Padahal Zoya paham betul bagaimana karakter Andrew sebenarnya.
Meskipun terlihat santai dan bebas, Andrew adalah tipe lelaki yang teguh dengan pendiriannya.
Ia tidak mungkin begitu saja menyetujui permintaan orang lain. Apalagi itu menyangkut hidup dan masa depannya sendiri.
Lagipula di lain sisi, perasaan Zoya pada Andrew sudah sedikit memudar karena ucapan lelaki itu yang sempat membuatnya down.
Wanita mana yang tidak sakit hati saat ia diminta meminum pil kontrasepsi hanya untuk mencegah kehamilan.
Padahal mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Seharusnya saat Andrew berani berbuat, ia juga harus berani bertanggung jawab.
Melihat Zoya yang tak kunjung menjawab tawaran darinya, membuat Andrew berspekulasi bahwa diamnya Zoya adalah sebuah jawaban dari kata 'ya'.
Andrew mengambil cincin permata itu dari kotaknya, lalu hendak menyematkannya pada jari manis Zoya.
Namun alangkah terkejutnya Andrew saat Zoya menarik tangannya kebelakang.
"Why Baby?!" tanya Andrew sambil mengerutkan keningnya.
"I'm sorry Andrew! Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh waktu untuk memikirkannya."
"Memikirkannya?! Bukankah ini yang kau mau sayang?"
Zoya segera bangkit dari duduknya disusul dengan Andrew yang langsung berdiri.
"Kau benar. Sebelumnya ini memang yang aku mau. Tapi kata-katamu malam itu sudah menyakiti hatiku Andrew. Dan aku masih belum bisa memaafkanmu!"
Setelah mengatakan itu Zoya hendak pergi dari hadapan Andrew, namun lelaki itu mencekal tangannya.
"Lepaskan aku Andrew!" pinta Zoya.
"Aku minta maaf padamu sayang, jika aku sudah menyakitimu! Saat itu aku benar-benar belum mau memikirkan soal pernikahan hingga tanpa sengaja aku mengatakan hal seperti itu! Tapi jauh dilubuk hatiku, aku sangat mencintaimu!"
"Aku sadar selama ini aku jarang ada untukmu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku. Tapi bukan berarti aku tidak pernah memikirkanmu! Jadi tolong Zoya, maafkan semua kesalahanku kemarin! Aku sungguh menyesalinya." ucap Andrew tulus.
__ADS_1
Zoya segera menepis cekalan tangan Andrew dari tangannya. Kemudian ia menatap tajam kearah kekasihnya itu.
"Mungkin bagimu sangat mudah mengatakan kata maaf Andrew, tapi tidak bagiku yang sudah kau sakiti!"
"Sepertinya aku akan memberikan jawabannya sekarang. Aku tetap pada pendirianku! Aku ingin kita pisah!"
Deg
Permintaan Zoya bagaikan anak panah yang melesat tepat dijantung Andrew. Ia tidak menyangka jika ucapannya malam itu membuat sikap wanitanya berubah 180 derajat.
Apa sesakit itu hati Zoya akan ucapannya? Namun tiba-tiba Andrew teringat ancaman Zoya yang mengatakan akan menyukai lelaki lain jika dia tidak segera menikahinya.
Apa itu hanya sebuah ancaman atau memang Zoya telah memiliki tambatan hati lain?
Seketika dada Andrew bergemuruh saat memikirkan kemungkinan itu terjadi.
Apalagi ketika Andrew mendengar Zoya yang selalu menggaungkan kata pisah darinya. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang laki-laki tercabik.
Dengan kasar Andrew mencengkram siku tangan Zoya. Hingga keduanya saling menatap begitu tajam.
"Sebenarnya apa yang membuatmu berubah Zoya?! Kau ingin aku menikahimu secepatnya? aku akan penuhi keinginanmu itu! Hari ini aku melamarmu dan kau malah bersikeras ingin berpisah?!"
"Jika menurutmu aku membuat kesalahan dan sudah menyakiti hatimu, aku benar-benar minta maaf untuk itu! Lalu kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk memperbaikinya?!" ucap Andrew dengan nada sedikit keras.
Deg
Tatapan sepasang kekasih yang tengah berseteru itu saling mengunci. Mereka menatap dengan kilatan amarah dan kekecewaan dimata masing-masing.
Seketika Zoya menarik tangannya dengan kasar dari cengkraman tangan Andrew, sambil menatap mata hitam itu lekat-lekat.
"Itu bukan urusanmu! Yang jelas aku ingin kita pisah! Terserah kau setuju ataupun tidak, karena aku sudah muak dengan hubungan kita!"
Setelah puas meluapkan uneg-unegnya Zoya pun segera meninggalkan Andrew sendiri dan kembali ke villa.
Sementara Andrew hanya bisa memandangi punggung kekasihnya yang semakin menjauh dengan tatapan marah sambil meremas cincin yang ia genggam.
"Aku tidak akan melepaskanmu Zoya! Aku akan mencari tahu siapa lelaki yang sudah membuatmu berpaling dariku!"
******
Kembali kedalam villa.
__ADS_1
Sedari tadi Zidan tak henti-hentinya memandangi wajah cantik istrinya yang nampak kelelahan itu.
Beberapa saat lalu mereka baru saja melakukan kegiatan panas yang begitu menggairahkan.
Awalnya Zidan hanya ingin mencium bibir Andita yang menjadi candu baginya. Namun hasratnya sebagai laki-laki menginginkan lebih, hingga ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Dan tanpa bisa dihindari terjadilah pergulatan panas dengan berbagai gaya diatas ranjang yang mereka tempati.
Zidan mengusap lembut wajah Andita yang bersandar didada bidangnya. Untuk sesaat ia teringat ucapan istrinya beberapa saat lalu ketika mereka membahas perihal anak.
Jauh didalam lubuk hatinya, sejujurnya Zidan mendambakan makhluk kecil ditengah-tengah mereka.
Ternyata ketakutan yang dirasakan oleh Andita juga dirasakan olehnya. Namun ia tak ingin memperlihatkannya pada istrinya itu.
Disisi lain, Zidan juga memikirkan segala kemungkinan jika Andita tidak bisa memberinya keturunan. Pasti keluarga besarnya akan kecewa. Mengingat tidak ada lagi penerus dari keluarga Wijaya.
Dan jika itu sampai terjadi, hal yang paling ditakutkan Zidan adalah jika sewaktu-waktu sikap ayahnya pada Andita akan kembali berubah seperti dulu.
Memikirkan hal tersebut membuat kepala Zidan jadi pusing. Namun bagaimanapun keadaannya nanti, ia berjanji akan selalu ada disamping Andita.
Setelah cukup puas memandangi wajah sang istri, Zidan bangkit dari ranjang hendak membersihkan diri.
Tubuhnya terasa lengket karena sisa-sisa keringat yang menempel ditubuhnya akibat percintaan mereka tadi.
Selesai mandi, Zidan yang sudah kembali rapi memakai pakaiannya melihat kearah ranjang dimana sang istri masih tertidur pulas. Padahal mereka berniat akan berkeliling villa.
Tapi karena ulahnya yang membuat Andita kelelahan, Zidan pun membiarkannya beristirahat.
Sementara ia berjalan kearah balkon kamar untuk menikmati pemandangan diluar sana sambil membawa minuman kaleng bersoda yang akan menemaninya bersantai.
Saat berdiri tepat dipagar balkon, netra Zidan tidak sengaja menangkap dua sosok manusia yang tidak asing baginya berdiri cukup jauh dibawah sana.
Zidan memfokuskan pandangannya kebawah. Ia mengamati apa yang tengah dilihatnya saat ini.
"Bukankah itu Andrew dan Zoya?"
"Kenapa mereka terlihat seperti sedang bertengkar?" gumam Zidan saat melihat Zoya yang tengah menarik siku tangannya dari cengkraman tangan Andrew.
.
.
__ADS_1
Bersambung...