MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Tidak Ada Kata Terlambat


__ADS_3

Karena aku mencintaimu Andita...


Sangat mencintaimu...


Pria tampan itu tersenyum dan membisikkan kata-kata cinta berulang kali tepat ditelinga sang istri. Ia memeluk tubuh Andita dari belakang dan mendekapnya begitu erat. Seakan dirinya tidak rela berpisah dari wanita yang dicintainya itu.


Aku juga mencintaimu Zidan. Sangat-sangat mencintaimu.


Andita membalas pelukan tangan Zidan. Mereka berdua larut dalam suasana yang begitu syahdu. Zidan meninggalkan kecupan mesra dipipi Andita.


Jaga dirimu baik-baik sayang. Jadilah wanita yang kuat, dengan atau tanpa adanya diriku.


Setelah mengatakan kalimat itu perlahan-lahan Zidan melepaskan pelukannya dari tubuh Andita.


Zidan, apa maksudmu? Apa kau akan pergi?


Andita membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Zidan lekat-lekat. Namun pria itu tak menjawab. Zidan hanya tersenyum penuh arti dan tentu hal itu membuat Andita merasa ketakutan.


Zidan..kau tidak akan meninggalkanku kan? jawablah...aku mohon!


Namun Zidan tak menggubris pertanyaan Andita. Ia berjalan mundur. Lambat laun langkahnya semakin lama semakin menjauh dan perlahan bayangannya pun seketika menghilang dari pandangan Andita.


"Zidan..."


"Zidan..."


"Zidan jangan pergi.."


Andita terus mengigau memanggil nama sang suami. Sudah tiga jam dia pingsan semenjak kedatangannya kerumah sakit.


Andita begitu histeris ketika melihat Zidan dibawa kedalam ruang instalasi gawat darurat. Apalagi saat tim medis tengah memasangkan selang ditubuh suaminya itu karena kepala Zidan terus mengeluarkan banyak darah.


Ibu dan Nazwa yang melihat kondisi Andita merasa sangat terpukul. Sedari tadi mereka berdua terus menangis. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Zidan dan Andita akan mengalami hal buruk seperti ini.

__ADS_1


"Ya Tuhan, berilah keselamatan untuk anak dan menantuku." Hanya doa itu yang bisa Ibu Andita panjatkan.


******


Ken tengah duduk dikursi ruang tunggu. Ia menangkup kedua wajahnya dengan telapak tangan. Lelaki berparas tampan dan berperawakan tegap itu terlihat rapuh.


Bagaimana tidak? Ini kali pertamanya ia gagal dalam karirnya saat bertugas menjaga Zidan yang tak lain adalah tuannya.


Ken dan Zidan tumbuh dalam lingkungan yang sama. Semenjak kematian ayahnya


Ken sudah mengabdikan diri pada keluarga Wijaya menggantikan sang ayah saat usianya menginjak delapan belas tahun. Tuan Wildan pun sudah menganggap Ken sebagai putranya sendiri.


Ayah Ken dulu juga adalah seorang pengawal pribadi Tuan Wildan yang begitu setia. Namun naas, dia harus kehilangan nyawanya saat mencoba menyelamatkan Tuan Wildan dari para musuh yang tengah mengincarnya.


Ayah Ken mengalami pendarahan yang cukup hebat ketika peluru melesat masuk kedalam otaknya. Setelah kepergian pengawal setianya itu, Tuan Wildan melatih Ken agar kelak dapat melindungi Zidan dari orang-orang yang ingin menjatuhkannya.


Bagi seorang pengusaha sukses seperti Tuan Wildan dan Zidan, memiliki banyak musuh dalam dunia bisnis sudah menjadi hal yang biasa.


Maka dari itu Tuan Wildan butuh orang yang cukup kuat dan tepat untuk berada disamping Zidan.


"Ken, tenanglah! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Ucap Stella yang datang menghampiri Ken dan duduk disebelahnya. Stella mencoba menguatkan Ken. Stella berada dirumah sakit itu karena dia memang bekerja disana.


Mendengar suara Stella, Ken mengusap wajah kasar, ia hendak pergi namun Stella menahan tangannya.


"Tetaplah disini Ken! Aku yakin kau butuh seseorang untuk menguatkanmu!"


Dengan kasar Ken menepis tangan Stella.


"Simpan saja rasa simpatimu! Aku tidak butuh!"


Setelah mengatakan itu Ken segera berlalu dari sana tanpa memperdulikan Stella sama sekali.


"Aku tidak akan menyerah Ken! Meski kau terus menolakku, aku akan tetap mengejarmu!" gumam Stella dalam hati.

__ADS_1


******


Sedari tadi Nyonya Liyana terus menangis tergugu sembari memandangi tubuh Zidan yang terbaring lemah diatas brankar. Tangannya terulur dan menggenggam tangan putranya begitu erat.


Hati ibu mana yang tidak sakit ketika mendapati anak mereka dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Tubuh Zidan dipenuhi begitu banyak luka.


Ditambah lagi dokter mengatakan jika Zidan mengalami cedera di bagian kepalanya akibat terkena pukulan benda tumpul yang cukup keras. Hingga ia harus mengalami koma.


Batin Nyonya Liyana bertambah perih. Selama ini ia tidak pernah membayangkan jika Zidan akan mengalami hal semengerikan ini.


"Zidan, bukalah matamu! Ini Ibu Nak. Apa kau tidak ingin melihat Ibumu?" Suara Nyonya Liyana begitu lirih. Bibirnya bergetar ketika menyebut nama Zidan.


Dari arah belakang Tuan Wildan menghampiri istrinya. Ia menepuk pelan pundak Nyonya Liyana. Hatinya seolah dihujam ribuan belati ketika melihat kondisi anak semata wayangnya itu.


"Maafkan aku Liyana. Aku yang membuat putra kita seperti ini. Aku tidak pantas disebut seorang Ayah oleh putra kita." Lirih Tuan Wildan.


Nyonya Liyana menggenggam telapak tangan Tuan Wildan yang berada dibahunya.


"Apa sekarang kau sudah sadar suamiku?" Tanya Nyonya Liyana tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zidan.


Tuan Wildan membekap mulut, mencoba menahan tangis agar tidak terdengar oleh Nyonya Liyana.


"Ya, sekarang aku sadar jika selama ini aku telah salah menilai seseorang. Aku selalu melihat orang lain dari status sosialnya, aku bersalah pada menantu kita. Aku juga begitu malu pada Zidan."


Nyonya Liyana tersenyum getir.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat suamiku. Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Aku harap kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini."


Tuan Wildan menyeka air matanya.


"Ya kau benar Liyana. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya."


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2