
Berkali-kali Zidan menghubungi Andita namun gadis itu tak menjawab panggilannya. Rasa marah, khawatir, takut menjadi satu.
Ia segera melacak keberadaan Andita melalui GPS yang terpasang dimobil istrinya itu, berharap bisa mengetahui keberadaannya sekarang.
Sementara Ken ditugaskan untuk menghubungi supir yang membawa Andita pergi, namun hasilnya juga nihil. Supir itu tak menjawab panggilannya.
"Bagaimana Ken? Apa dia menjawab panggilannya?!"
Ken menggeleng.
"Belum Tuan! Saya akan terus mencobanya!"
"Oh shiiitttt!!!!" Zidan memejamkan mata menahan kesal sambil memukul kaca mobil disampingnya.
"Ini yang aku khawatirkan jika dia tidak menuruti kata-kataku! Aku yakin pasti Ayahku sudah melakukan sesuatu padanya!"
"Tuan, anda harus mengendalikan diri anda! Anda tidak bisa mencurigai Tuan Besar. Belum tentu jika Tuan Besar yang melakukan hal ini pada Nona!"
"Bagaimana aku tidak mencurigainya Ken?!! Hanya dia yang ingin aku dan Andita berpisah! Bahkan dia rela mengeluarkan sebagian hartanya agar Andita pergi jauh dariku!" Bentak Zidan.
Ken hanya bisa menghela nafas. Sepertinya percuma berdebat dengan laki-laki dibelakangnya. Saat ini tuannya sedang benar-benar merasa frustasi.
Tidak lama kemudian, Zidan dan Ken berhasil menemukan mobil Andita. Mereka segera turun dari mobil lalu berlari mendekat.
Netra Zidan dan Ken membulat sempurna saat melihat mobil yang ditumpangi Andita dalam keadaan rusak parah. Beberapa bagian body mobil pun terlihat penyok.
"Anditaaa!!"
"Nona!!"
Kedua lelaki itu segera membuka pintu mobil. Namun yang mereka temukan hanya supir Andita yang saat ini tengah mengalami luka cukup parah dibagian perutnya. Supir itu duduk dikursi depan dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Ya, supir Andita tadi sempat pingsan saat menerima serangan demi serangan dari penjahat itu. Namun tidak lama setelah Andita diculik, kesadaran supir itu kembali, ia segera masuk kedalam mobil untuk menghubungi tuannya. Namun karena kondisinya begitu lemah supir Andita tidak bisa meraih ponsel yang berada dibawah kemudi.
Ken pun segera bertanya padanya apa yang sudah terjadi. Dengan nafas tersendat-sendat sang supir mengatakan jika Nona mudanya telah diculik oleh dua orang penjahat tak dikenal.
Mendengar hal itu tentu saja membuat amarah Zidan semakin berkobar. Ia tidak menyangka akan mendapat kabar jika istrinya akan mengalami penculikan.
"Bagaimana bisa istriku diculik, hah?! Siapa yang berani menculik Andita?!"
Dengan emosi menggebu-gebu Zidan menarik kerah baju sang supir yang dalam kondisi memprihatinkan itu. Namun Ken segera menghentikan tindakan Zidan.
"Tenangkan diri anda Tuan! Anda akan membuat lukanya semakin parah?!"
"Apa katamu Ken?! Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang sementara istriku diculik?!!" Teriak Zidan. Lelaki itu mengusap wajah kasar mencoba mengontrol emosinya.
__ADS_1
Ken tahu sangat sulit menenangkan amarah tuannya itu. Namun ia juga memikirkan kondisi supir yang membawa Andita. Ken segera menghubungi ambulance.
Sambil menunggu ambulance tiba, Ken memeriksa sekitar mobil, ia berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk baginya dan Zidan untuk menemukan Andita.
Sementara Zidan yang berdiri tidak jauh dari mobil Andita segera melapor pada polisi dan menghubungi beberapa bodyguardnya agar menyusul mereka di lokasi kejadian tempat hilangnya Andita.
Setelah selesai memberi perintah pada para bodyguardnya, tiba-tiba terlintas dalam pikiran Zidan untuk menghubungi sang Ayah.
Telepon pun tersambung.
"Ada perlu apa kau menghubungiku?!" Terdengar suara dingin dan tak bersahabat diseberang sana.
"Apa yang sudah Ayah lakukan pada Andita?! Kenapa Ayah menculiknya?! Apa Ayah masih belum puas jika belum memisahkan kami?!" Geram Zidan dengan emosi tertahan.
"Apa maksudmu Zidan?! Menculik apa?!"
"Aku sudah tahu Ayah pasti akan mengelak! Sebegitu bencinyakah Ayah pada Andita hingga Ayah harus dua kali melakukan hal rendah seperti ini?! Aku sudah lapor polisi dan aku yakin polisi akan segera menemukan Andita! Bersiaplah!"
Klik
Zidan segera mematikan sambungan telepon secara sepihak. Diujung sana Tuan Wildan nampak geram dan bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh putranya.
"Anak tidak tahu sopan santun! Apa yang dia katakan?! Menculik gadis itu? Cih, bahkan memikirkannya saja sekarang aku tidak sudi!"
"Putramu baru saja menghubungiku. Dia mengatakan jika istrinya diculik, dan dia menuduhku sebagai dalang penculikannya! Sungguh anak kurang ajar!"
"Apa?! Andita diculik?!"
******
Disebuah rumah kosong yang terletak jauh dari pemukiman warga, dua orang berlawanan jenis dengan usia yang terpaut jauh tengah terduduk tidak sadarkan diri dalam keadaan seluruh tubuh terikat.
Dua orang itu adalah Andita dan Paman Bima. Mereka berdua berhasil ditangkap oleh orang suruhan Tuan Reyhan yang sudah mengincarnya saat berada disebuah cafe.
Paman Bima ditangkap lebih dulu sebelum Andita. Ia langsung dibawa kemarkas dalam keadaan babak belur dan pingsan. Tidak lama disusul oleh Andita, yang juga tiba dalam keadaan memprihatinkan.
"Bagaimana? Apa mereka sudah sadarkan diri?!" Tanya bos penjahat pada anak buahnya.
"Belum bos! Sepertinya mereka berdua sangat menikmati tidur siangnya!"
Terdengar suara gelak tawa dari penjahat lainnya yang saling bersahutan.
"Hahaha, ya biarkan saja mereka tidur lebih lama! Kita tidak akan melakukan apapun sebelum mendapat perintah dari bos besar! Aku akan segera menghubunginya agar dia cepat datang kemari! Sementara kalian boleh beristirahat!"
"Baik bos!"
__ADS_1
Setelah anak buahnya keluar, bos preman itu mendekati Andita. Dia menyentuh wajah Andita dengan jemari kasarnya dan mencengkram kedua pipinya.
"Gadis yang cantik dan berani. Jika urusanku dengan bos besar selesai, aku akan membalas perbuatanmu karena sudah berani menendang milikku!"
Dengan kasar bos penjahat itu menghempaskan wajah Andita yang masih belum sadarkan diri lalu berjalan meninggalkannya bersama Paman Bima.
******
Ambulance telah tiba dan segera membawa supir Andita kerumah sakit.
Sementara Ken masih sibuk mencari sesuatu didalam mobil. Dan tidak lama ia menemukan sesuatu itu.
"Tuan! Bukankah ini ponsel Nona?!"
Ken menyodorkan sebuah ponsel dan tas Andita yang tertinggal didalam mobil pada Zidan. Zidan meraih ponsel dan tas itu.
"Ya! Ini ponsel Andita! Dimana kau menemukannya?!" Tanya Zidan.
"Saya menemukannya dibawah jok belakang mobil Tuan!"
"Pantas saja Andita tidak mengangkat teleponku!"
"Mungkin karena tabrakan itu ponselnya terjatuh. Lebih baik anda memeriksa ponselnya Tuan! Siapa tahu Nona meninggalkan jejak di ponsel itu sebelum ia diculik!"
Zidan mengikuti saran Ken. Ia memeriksa ponsel tersebut. Dan ia mendapatkan satu nomor tak dikenal yang menyuruh Andita menemuinya di cafe. Nomor Paman Bima.
Zidan mencoba menghubungi nomor itu langsung lewat ponsel Andita. Dan ia terkejut saat mendengar suara dering ponsel lainnya didalam tas milik istrinya.
Dengan tergesa-gesa Zidan mengecek tas Andita. Ternyata didalam tas itu terdapat dua ponsel berbeda.
"Ponsel siapa ini?!" Sekilas Zidan melirik kearah Ken lalu pandangannya beralih pada kedua ponsel itu lagi.
Zidan segera menghidupkan ponsel berwarna hitam. Ia mencoba mencari petunjuk disana. Alangkah terkejutnya Zidan ketika tangannya bergulir dan menekan perangkat video paling atas lalu mem-play nya.
Kau lihat saja Hadi, setelah ini hidupmu akan hancur! Namamu akan rusak dan kau akan dipenjara untuk hal yang tidak kau lakukan! Hahaha!!
Seketika netra Zidan dan Ken membulat sempurna. Mereka berdua saling pandang. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat dan dengar.
"TUAN REYHAN?!!" ucap mereka secara bersamaan.
.
.
Bersambung...
__ADS_1