MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Meminta Bukti


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mobil Tuan Reyhan akhirnya sampai juga disebuah rumah kosong yang dijadikannya markas bagi orang-orang suruhannya itu. Tempat itu begitu kumuh dan jauh dari pemukiman warga.


Bangunannya pun sudah terlihat tua dan rapuh mungkin tidak lama lagi akan roboh.


Beberapa anak buahnya yang mengetahui kedatangan bos besar mereka, segera membuka pintu gerbang utama yang cukup tinggi dan rapat dan terlihat sudah nampak berkarat.


Sementara Ken dan Zidan yang mengikuti mobil Tuan Reyhan memarkirkan mobilnya ditempat yang cukup aman. Mereka mengambil jarak agar tidak diketahui oleh anak buah Tuan Reyhan.


"Aku rasa itu adalah tempat Andita disekap Ken!"


"Saya rasa juga begitu Tuan! Sebaiknya kita tunggu orang-orang kita. Setelah itu baru kita masuk kedalam sana!"


"Apa?! Menunggu?!" Zidan mendelik.


"Tidak Ken! Aku tidak bisa menunggu! Andita pasti sangat ketakutan didalam sana. Apalagi dia sendiri bersama orang-orang yang tidak dikenalnya! Aku akan masuk sekarang juga!"


"Tuan! Anda jangan gegabah! Anda bisa membahayakan diri anda sendiri! Didalam sana pasti banyak sekali anak buah Tuan Reyhan yang berjaga! Bagaimana jika para anak buah Tuan Reyhan menggunakan senjata dan nekat melukai anda?! Itu akan lebih mengancam nyawa anda dan juga nyawa Nona!"


"Kau tenang saja! Aku akan berhati-hati! Tugasmu adalah menunggu orang-orangku datang setelah itu kau masuk dan serang mereka!" Titah Zidan.


"Tapi Tuan?!"


Zidan menepuk bahu Ken untuk menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak punya waktu untuk menunggu! Aku akan segera masuk untuk menolong istriku!"


Ken mengusap wajah kasar, karena ia tidak bisa mencegah tuannya.


"Kalau begitu saya akan ikut dengan anda Tuan! Saya tidak akan membiarkan anda masuk sendirian kedalam sarang buaya!"


Zidan terdiam sejenak seraya memperhatikan Ken. Ia paham apa yang dikhawatirkan oleh orang kepercayaannya itu. Dalam keadaan apapun pria itu memang selalu ada bersamanya. Pada akhirnya Zidan pun mengizinkan Ken untuk ikut.


"Baiklah! Ayo!"


******


Dengan angkuh Tuan Reyhan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut. Beberapa orang suruhannya menunduk hormat padanya.


Tidak lama bos dari para penjahat itu menyambut kedatangan Tuan Reyhan dengan senyum mengembang sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat datang bos! Pasti perjalanan anda kemari sangat melelahkan. Apa anda ingin minum sesuatu?!"


Tuan Reyhan tersenyum smirk seraya melepaskan kaca mata hitam yang masih bertengger diatas hidungnya lalu menjabat tangan orang suruhannya itu.


"Bawakan aku wine!"


"Baik bos!"


"Dimana kedua tawanan kita, Rocky?"


"Mereka ada diruangan itu bos dan sejak dibawa kemari mereka belum juga sadarkan diri!"


Jawab bos penjahat yang bernama Rocky itu sambil menunjuk kesebuah ruangan tertutup yang terletak disebelah kanan dari arah pintu masuk.


"Ternyata mereka sangat menikmati waktu tidur siangnya. Bawakan satu ember air keruangan itu! Aku akan membangunkan mereka! Sudah waktunya kita bersenang-senang!"


"Baik bos! Dengan senang hati! Silahkan anda tunggu disana!"


Tuan Reyhan kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan yang barusan ditunjuk oleh Rocky. Sementara Rocky menyiapkan apa yang diminta oleh Tuan Reyhan.


Sesampainya di ruangan tersebut, Tuan Reyhan tersenyum sinis saat melihat mantan rekan kerjanya dan putri dari musuh bebuyutannya dalam kondisi terikat dan tak berdaya.

__ADS_1


Perlahan ia menghampiri keduanya. Kedua tangannya dimasukan kedalam saku celana.


"Dua manusia bodoh! Harusnya kalian tidak berurusan denganku. Inilah akibatnya jika kalian main-main denganku!"


Tidak lama Rocky bersama satu anak buahnya membawa satu botol wine dan satu ember air yang diminta oleh Tuan Reyhan keruangan itu.


"Ini yang anda minta bos!" Rocky menyodorkan botol wine yang sudah dibuka kehadapan Tuan Reyhan. Tuan Reyhan langsung menenggaknya seperti orang yang kehausan.


"Siramkan air itu pada mereka!" Titahnya ketika melihat anak buah Rocky menenteng ember yang berisikan air.


Dengan semangat orang suruhan itu mengikuti perintah Tuan Reyhan. Ia menyiramkan air pada tubuh Paman Bima dan Andita yang masih belum sadarkan diri.


Byuurrrr


Tentu saja hal itu membuat Paman Bima dan Andita bangun karena kaget. Mereka berdua gelagapan.


"HAHAHHAHA!!! RASAKAN KALIAN!!"


Terdengar suara gelak tawa yang saling bersahutan menggema diseluruh ruangan yang kurang cahaya itu. Ruangan itu hanya diberi lampu kecil sebagai penerang.


"Reyhan?!!" Teriak Paman Bima begitu kesadarannya kembali. Ia terkejut karena lelaki yang selama ini dihindarinya kini tengah berada dihadapannya.


"Ya! Ini aku! Ada apa?! Apa kau merindukanku teman? Sayangnya aku tidak merindukanmu sama sekali Bima! Hahaha!" ejek Tuan Reyhan.


Andita terkejut saat melihat Paman Bima berada disampingnya. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi, kini tubuh mereka berdua sama-sama terikat dikursi.


"Paman Bima?! Kenapa kau bisa ada disini?!" Tanya Andita.


Paman Bima yang juga baru sadar jika disebelahnya ada Andita ikut terkejut.


"Andita?! Kau disini?!"


Kini pandangan mereka berdua beralih pada Tuan Reyhan.


"Bedebah! Apa maumu Reyhan?! Lepaskan kami!!!"


Tuan Reyhan tertawa terbahak-bahak mendengar makian dari Paman Bima.


"Apa kau bilang?! Lepaskan?! Hahaha.. Tiga tahun aku mencarimu dan sekarang kau meminta dilepaskan?! Jangan harap Bima! Karena itu hanya ada dalam mimpimu! Hahaha.."


"Kau benar-benar iblis Reyhan?! Apa sebenarnya maumu?!"


"Kau mau tahu apa mauku, hah?!" Tuan Reyhan berjalan mendekati Paman Bima denga sorot mata penuh kebencian lalu mencekik lehernya denga kuat.


"Mauku adalah menghabisi kalian berdua!" Kini ekor matanya menyorot pada Andita. "Tapi sebelum itu serahkan bukti yang kalian punya padaku!"


"Sebenarnya apa salah kami Tuan? Sehingga kau ingin menghabisi kami, hah?!" Teriak Andita.


Tuan Reyhan melepaskan cengkramannya dari leher Paman Bima. Lalu menatap Andita dalam-dalam.


"Karena kalian adalah pengganggu!"


"Sekarang cepat katakan dimana kalian menyimpan barang bukti itu, hah?!" netranya menatap bengis pada Andita dan Paman Bima secara bergantian.


"JAWAB!!!"


Paman Bima dan Andita saling berpandangan. Andita mengangguk pelan seolah memberi isyarat bahwa bukti yang mereka punya aman.


Andita ingat saat para penjahat itu membawanya, tasnya tertinggal didalam mobil. Dan ia berharap semoga anak buah Tuan Reyhan tidak menemukannya.


Paman Bima yang mengerti maksud Andita pun tersenyum mengejek pada lelaki dihadapannya itu.

__ADS_1


"Kau tidak akan pernah mendapatkan barang bukti itu Reyhan! Sekalipun kau menghabisi kami!"


Perkataan Paman Bima tentu saja membuat Tuan Reyhan semakin geram.


"Benarkah?! Jadi kalian lebih merelakan nyawa kalian daripada menyerahkan barang bukti itu padaku?!"


"Ya! Lagipula kami serahkan atau tidak kau tetap akan membunuh kami bukan?!"


Tuan Reyhan mengepalkan tangannya.


******


Sementara diluar, Zidan dan Ken berhasil menerobos masuk dengan cara memanjat dinding pembatas dari arah samping bangunan.


Mereka berjalan perlahan agar tidak diketahui oleh anak buah Tuan Reyhan.


Benar kata Ken, disini banyak sekali anak buah Tuan Reyhan yang berjaga. Mereka semua memegang senjata. Mereka berdua benar-benar harus berhati-hati.


"Ken, kita tidak boleh lengah sedikitpun! Kita harus segera menemukan Andita dan membawanya keluar dari sini!"


"Baik Tuan!"


"Lebih baik sekarang kita berpencar! Kau kearah kiri, aku kearah kanan! Ingat berhati-hatilah!"


Ken sedikit ragu. Ia sungguh mengkhawatirkan Zidan.


"Maaf Tuan saya tidak bisa meninggalkan anda sendiri! Bagaimana jika sesuatu terjadi pada anda?"


"Kau tidak harus selalu mengkhawatirkanku Ken. Yang aku khawatirkan sekarang adalah Andita, bukan diriku!"


"Ayo kita berpencar sebelum orang-orang itu melihat kita!"


Zidan mulai melangkah kearah kanan sementara Ken kearah kiri. Ia berjalan mengendap-endap.


Zidan berhasil melumpuhkan beberapa anak buah Tuan Reyhan dari belakang dengan cara menjepit dan memelintir kepalanya. Kemudian dia menyimpan pistol yang dibawa orang itu dibalik punggung kemejanya.


Begitu juga dengan Ken yang berada disisi kiri bangunan. Ia berhasil melumpuhkan anak buah Tuan Reyhan dan menyimpan senjata dibelakang tubuhnya.


Saat Zidan akan meneruskan langkahnya, ia tidak sengaja mendengar suara gadis yang ia cari dari luar dinding kayu yang ia lewati.


"Andita."


Zidan memperhatikan dinding kayu dihadapannya dengan seksama. Ia sedang mencari cara agar perbincangan istrinya dengan orang yang berada didalam ruangan tersebut dapat terdengar jelas. Beruntung ia menemukan sebuah lubang kecil.


Zidan langsung merekam perbincangan mereka dengan ponselnya. Tiba-tiba..


"SIAPA KAU?!"


.


.


Bersambung...


Otor mau pantun dikit ahh..


Jalan-jalan ke Tanah Abang


Jangan lupa beli baju kebaya (asekkk)


Haii para readersku sayang

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komen, Hadiah dan Votenya yaaa ๐Ÿ˜๐Ÿ™


Terimakasih..


__ADS_2