
Padahal baru beberapa jam berlalu, tapi Andita sudah merasa rindu pada suaminya itu.
Andita ingin menghubungi Zidan tapi ia takut akan mengganggu konsentrasi suaminya dalam bekerja.
"Harusnya dia sudah sampai bukan?! Tapi kenapa dia belum membalas pesanku?!" Andita memutar-mutar ponsel ditangannya.
Ia terlihat gusar karena sedari sore tadi Zidan belum juga membalas pesan yang dikirim olehnya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Andita sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju pada Zidan.
Dia sedang apa?
Sudah makan atau belum?
Hanya pertanyaan itu yang selalu berputar dikepala Andita.
Karena ia belum mengantuk, Andita pun memutuskan untuk turun dari ranjang dan menikmati udara sejuk dibalkon kamarnya.
Ia membuka pintu kaca dan berjalan kearah pagar balkon. Andita memeluk tubuhnya sendiri. Ia memejamkan mata sambil menikmati semilir angin yang menerpa kulit tubuhnya.
"Aku merindukanmu Zidan." gumam Andita.
Ia seolah sedang merasakan jika suaminya itu tengah memeluknya dari belakang.
"Sayang?!" seketika Andita tergelak kecil saat mengingat permintaan Zidan.
Andita baru menyadari jika selama ini dirinya jarang sekali memanggil Zidan dengan sebutan romantis. Bahkan dia hanya akan memanggil kata 'suamiku' disaat tertentu saja.
Ketika Andita sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara ponselnya yang begitu nyaring.
Andita segera bergegas masuk kedalam dan meraih ponselnya yang tergeletak diatas ranjang.
Kemudian ia melihat id sipenelepon dan ternyata itu adalah orang yang sedang dia rindukan.
Andita langsung menggeser lencana berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Hallo Zi.. Eum..sayang kenapa kau baru menghubungiku?!" Andita yang tadinya mau memanggil nama Zidan langsung meralatnya menjadi sayang.
Diseberang sana Zidan tersenyum dengan tingkah istrinya itu.
"Maafkan aku sayang. Hari ini aku sangat sibuk sekali. Begitu sampai disini aku langsung menghadiri beberapa rapat penting. Sekujur tubuhku sampai-sampai merasa sakit!" keluh Zidan.
Mendengar keluhan suaminya itu Andita jadi merasa iba.
"Hemm, andai saja aku ikut bersamamu pasti aku akan membantu memijat tubuhmu itu."
Andita kembali berjalan kearah balkon dan menyandarkan tubuhnya dipagar. Tangan satu memegang ponsel tangan lainnya memainkan kuku jarinya.
"Ya ampun.. Ternyata kau masih belum bisa melupakan tubuhku ini Andita?!" ucap Zidan dengan nakalnya.
"Hish kau ini! Jangan mulai lagi menggodaku!" ketus Andita.
"Hahaha.. Baiklah-baiklah!"
Untuk sesaat mereka terdiam.
"Kenapa kau berdiri diluar kamar? Bukankah aku sudah pernah mengatakan jika angin malam itu tidak baik untuk kesehatan?!" tanya Zidan.
Seketika Andita langsung terkesiap dengan ucapan suaminya itu. Andita menengok kekanan dan kekiri seolah mencari sesuatu.
__ADS_1
Kenapa dia bisa tahu jika aku diluar?!
"Kau sedang mencari apa sayang?!" tanya Zidan santai sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah sofa. Saat ini ia tengah menginap disebuah hotel berbintang.
Eh, dia benar-benar tahu apa yang aku lakukan?!
Andita semakin bingung dibuatnya.
"Kenapa kau bisa tahu sayang jika aku sedang berdiri diluar kamar? Kau bukan seorang peramal kan?!"
Zidan terkikik geli mendengar perkataan istrinya itu.
"Kau tidak akan pernah lolos dari jangkauan mataku Andita!"
Andita semakin tidak mengerti. Ia tidak menjawab ucapan Zidan dan malah sibuk mencari-cari keberadaan suaminya itu.
"Kau dimana?!" tanya Andita gusar.
"Dihatimu!"
"Ckk! Aku serius Zidan!"
"Kau memanggilku apa?!"
"Uhm maksudku sayang! Kau dimana sayang?!"
"Sudah kubilang, aku ada dihatimu!"
"Haisshh!" Andita hanya bisa mendesis. Namun tidak lama netranya menangkap sebuah benda diatas langit kamarnya paling ujung.
CCTV?!!
"Jadi kau melihatku lewat cctv sayang?!" tanya Andita yang tak habis pikir ternyata suaminya menaruh cctv dikamar mereka.
"Tepat sekali! Aku memasangnya agar aku tetap bisa melihatmu disaat kita sedang berjauhan seperti sekarang ini." jawab Zidan dengan santainya.
"Oh ya ampun!" Andita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sejak kapan kau menaruh cctv dikamar kita?!"
"Sejak kita pergi ke wisata taman bermain. Aku menyuruh Ken untuk memanggil orang agar memasang cctv dikamar kita."
"Hah?! Kau curang sayang! Kau bisa melihatku sementara aku tidak bisa melihatmu!" Andita mendengus kesal. Ia berbalik badan hendak menjauhi cctv tersebut.
"Tunggu sayang! Tetaplah melihat kekamera dan lambaikan tanganmu!" titah Zidan.
"Apa?! Lambaikan tangan?!"
"Ya! Cepat lambaikan tanganmu! Anggap kau sedang menyapaku!"
"Ckk! Kau pikir kita sedang melakukan acara uji nyali apa?? Hingga aku harus melambaikan tangan kekamera!" protes Andita.
Andita jadi teringat acar program uji nyali disebuah stasiun televisi yang ditontonnya. Dimana peserta akan melambaikan tangan jika mereka tidak kuat dengan gangguan makhlus halus.
"Uji nyali?! Apa hubungannya dengan uji nyali?!" tanya Zidan tidak mengerti.
Karena ia sama sekali tidak pernah menonton tayangan televisi seperti itu, yang selalu dilihatnya hanyalah statistik saham yang naik turun. Dan akhirnya Andita pun menjelaskan pada Zidan hingga membuat lelaki itu paham.
"O begitu. Tidak apa! Sudah kubilang anggap saja kau melambaikan tangan karena ingin menyapaku!" ucap Zidan kekeh.
__ADS_1
"Ckk!! Kau ini ada-ada saja! Aku tidak mau! Percuma saja aku melambaikan tangan jika aku tidak bisa melihatmu!" tolak Andita.
"Lagipula kenapa kita tidak video call saja supaya adil?! Kau bisa melihatku dan aku bisa melihatmu!" usulnya kemudian.
"Hmm baiklah, kita video call saja jika itu yang kau mau!" akhirnya Zidan pun mengalah daripada istrinya itu merajuk.
Sepasang pasutri itu pun berbincang hingga larut malam.
Mereka saling melepaskan rindu padahal baru beberapa jam saja mereka tidak bertemu.
*****
Tiga hari kemudian.
Andita tengah sibuk didapur bersama Stella. Kebetulan hari ini Stella libur. Mereka sepakat akan membuat kue bersama untuk memberi kejutan pada Zidan dan Ken yang akan pulang hari ini dari perjalanan bisnis mereka.
Raut wajah bahagia terpancar dari kedua wanita cantik itu.
"Aku benar-benar merindukan Ken." ucap Stella tanpa canggung sambil mengaduk adonan.
"Ck! Memangnya kau saja yang merindukan kekasihmu itu Bu dokter?! Aku juga merindukan suamiku." balas Andita yang sibuk mempersiapkan bahan lainnya.
"Berarti kita sehati Andita, karena sama-sama merindukan orang yang kita cintai!" ucap Stella sambil terkekeh.
"Oh ya Andita, bagaimana apa kau sudah merasakan tanda-tanda kehamilan?"
Sejenak Andita menghentikan kegiatannya. Netranya melirik pada Stella.
"Belum. Mungkin belum waktunya."
"Kenapa kau tidak mengikuti program hamil saja? Aku yakin Zidan pasti setuju."
"Jika kau mau aku bisa merekomendasikan salah satu kerabatku yang bekerja sebagai dokter spesialis obgyn untuk berkonsultasi." usul Stella.
Andita nampak berpikir. Menurut Andita benar juga apa yang dikatakan oleh Stella barusan. Mengingat beberapa waktu lalu Zidan pernah mengatakan perihal tentang anak.
Andita yakin pasti suaminya itu sudah sangat menginginkan status menjadi seorang ayah.
"Idemu bagus juga Stell. Aku akan mengatakannya pada Zidan saat dia pulang nanti."
"Ya lebih cepat lebih bagus!" Stella tersenyum senang.
Disaat mereka tengah asyik berbincang, seorang pelayan datang. Ia memberitahu jika didepan ada tamu.
"Tamu siapa Bik?" tanya Andita penasaran.
"Nona Zoya, non!"
"Zoya?!" Andita mendelik.
Ia dan Stella pun saling melempar pandangan.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak
Bagi yang sudah meninggalkan jejak terimakasih banyak ๐๐
__ADS_1