
"Sayang, apa nanti kau tidak akan terlambat jika harus mengantarku kerumah ibu dulu?" tanya Andita.
"Disini aku bosnya, mau terlambat atau tidak masuk kerja sekalipun tidak akan ada yang berani memarahiku." jawab Zidan. Netranya fokus menyetir.
Andita mengerucutkan bibirnya.
"Ya ya aku percaya!"
"Aku hanya tidak ingin kau merasa bosan dirumah. Kalau kau kerumah Ibu disana ada Nazwa, kau tidak akan merasa kesepian. Lagipula aku percaya Ibu akan menjagamu dengan baik."
"Hm, apa kau masih merasa khawatir karena kejadian kemarin yang menimpaku?"
Zidan berdecak. Sekilas menoleh kearah Andita dengan tatapan kesal.
"Pertanyaan macam apa itu?! Tentu saja aku masih khawatir bahkan sampai sekarang aku belum bisa melupakannya!" tiba-tiba Zidan teringat sosok Zoya yang nyaris membuatnya kehilangan Andita juga calon anak mereka.
Dadanya kembali sesak. Amarah kembali menyelimuti jiwanya. Tanpa sadar Zidan mencengkram erat kemudi dan menatap jalanan dengan sorot mata yang begitu tajam.
Rasanya Zidan tidak sabar ingin menemui wanita itu untuk memperingatkannya.
Melihat perubahan raut wajah sang suami, tiba-tiba perasaan Andita menjadi tidak enak. Ia tahu betul bagaimana sifat Zidan.
Andita takut jika Zidan tidak akan melepaskan Zoya begitu saja.
"Sayang!"
"Hemm."
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Katakan!"
"Uhm, bisakah kau memaafkan Zoya!"
Ckittt
Tiba-tiba Zidan menepikan mobilnya dan mengeremnya secara mendadak. Hingga membuat Andita terkejut bukan kepalang karena tindakannya itu.
"Zidan! Apa yang kau lakukan?! Kau membuatku takut!"
"Kau bilang apa tadi? Memaafkan Zoya?! Setelah apa yang dia lakukan padamu, kau memintaku untuk memaafkannya?! Jangan harap!"
"Tapi Zidan, aku yakin Zoya pasti khilaf melakukan hal itu. Dia melakukannya karena dia didorong rasa cemburu! Karena dia mencintaimu!"
"Khilaf?! Cinta?! Omong kosong! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Andita! Kau nyaris mati karena ulahnya. Sekarang kau ingin mentolerir perbuatannya? Kau sungguh naif!"
"Zidan, aku hanya memintamu memaafkannya!"
"Stop Andita! Apapun alasannya aku tidak akan pernah memaafkan Zoya!"
Mendengar ucapan Zidan, Andita hanya bisa menggeleng pelan seraya menarik nafas dalam-dalam. Ia memilih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Karena percuma saja toh saat ini Zidan sedang dikuasai amarah.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Zidan kembali melajukan mobilnya dan mengantar Andita kerumah ibunya.
*****
Tiga puluh menit berselang, Zidan sudah tiba didepan gedung apartemen yang ditinggali oleh Zoya.
Ia memakirkan mobilnya dibasement kemudian keluar dari mobil dan langsung menaiki lift menuju lantai dimana Zoya berada.
Setibanya didepan pintu, dengan rasa tidak sabar Zidan segera menekan bel berkali-kali agar Zoya cepat keluar.
Hanya butuh waktu dua menit, pintu itu terbuka. Zoya tampil sangat cantik untuk menyambut pujaan hatinya.
"Zidan..kau datang?!" Zoya tersenyum manis saat tatapan keduanya bertemu.
Setelah sekian lama menghindari Zoya, ini pertama kalinya Zidan kembali menatap wanita yang dulu pernah merajai hatinya itu.
Namun tatapan yang Zidan berikan pada Zoya saat ini bukanlah tatapan penuh cinta seperti dulu, melainkan tatapan marah, benci, dan kecewa karena wanita dihadapannya sudah berani mencelakai istri dan calon anaknya.
"Kita harus bicara!" ucap Zidan pada akhirnya.
"Tentu! Masuklah!"
Zidan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut. Ia memandang kesetiap sudut ruangan, tidak ada yang berubah saat terakhir kali Zidan menginjakkan kakinya kemari.
Zoya yang tengah berdiri dibelakang Zidan, dengan intens memperhatikan setiap inci postur tubuh pria dihadapannya itu.
Ingin sekali Zoya memeluknya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.
"Aku kemari bukan untuk bertamu!"
"Lalu?!" Zoya membalikkan tubuhnya hingga mereka kembali berhadapan. Bahkan netra keduanya saling mengunci.
"Kenapa kau lakukan hal sejahat itu pada Andita, Zoya?!" tanya Zidan.
Suaranya terdengar dingin. Zidan berusaha keras untuk menahan amarah didalam dadanya.
"Melakukan apa?!" Zoya pura-pura tidak tahu.
"Cukup Zoya! Kau tidak perlu bersandiwara dihadapanku!"
Zoya tersenyum kecut.
"Bersandiwara apa maksudmu Zidan? Aku sama sekali tidak mengerti?!"
"AKU BILANG CUKUP ZOYA! AKU SUDAH TAHU SEMUANYA! AKU SUDAH TAHU APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANDITA!"
"KENAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU ZOYA?! KENAPA?!" bentak Zidan. Ia benar-benar tidak bisa membendung lagi emosinya.
Zoya terlonjak kaget. Ada rasa takut yang menyusup kedalam hatinya namun Zoya menyembunyikan itu dengan membalas tatapan Zidan tak kalah tajam.
"Bukankah kau sudah tahu apa alasannya Zidan?! Itu semua karena aku mencintaimu! Aku menginginkanmu Zidan! Sangat menginginkanmu!"
__ADS_1
Duarr
Tanpa mereka berdua sadari didepan pintu ada sepasang telinga yang tengah mendengar semua percakapan mereka.
Tangannya mengepal kuat. Matanya memerah mencoba menahan amarah didalam dada.
"Zidan."
*****
"Omong kosong! Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan Zoya?!"
"Tentu aku sadar Zidan! Aku sadar bahwa aku mencintaimu dan kau pun mencintaiku! Aku tahu itu!"
"Aku tidak mencintaimu Zoya!"
"BOHONG! Aku tahu kau bohong Zidan! Aku memiliki bukti jika kau mencintaiku!"
Dengan tergesa-gesa Zoya melangkahkan kakinya kedekat lemari lalu membuka laci dan mengeluarkan selembar foto yang ia ambil dari ruang kerja Zidan.
"Kau lihat foto ini Zidan? Dibelakangnya ada kata-kata cinta yang kau tujukan untukku! Ini adalah tulisan tanganmu bukan?! LIHATLAH!"
Zoya menyerahkan foto tersebut tepat didada Zidan. Hingga Zidan mengambil foto itu dan menatap tulisannya lekat-lekat.
"Kau sudah salah paham Zoya!"
"Salah paham?!" Zoya tersenyum sinis.
Zoya mendekat dan mencengkram jas yang dipakai Zidan kuat-kuat.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan perasaanmu, Zidan?! Bahkan sekarang aku pun memiliki perasaan yang sama terhadapmu! Aku tersiksa melihatmu bahagia dengan Andita! Karena apa? Karena aku mencintaimu! Benar-benar mencintamu!"
"Katakan bahwa kau juga mencintaiku Zidan! Katakan Zidan! Katakan!" teriak Zoya.
Ekspresi Zoya tampak kacau. Bahkan airmatanya sudah berderai membasahi kedua pipinya.
"YA! Aku memang mencintaimu Zoya!" jawab Zidan.
Seketika seulas senyuman terbit disudut bibir Zoya. Ia merasakan bahagia yang luar biasa saat Zidan mengatakannya secara langsung.
"Tapi itu dulu! Sebelum kau menjalin hubungan dengan Andrew!"
Dan akhirnya senyum itu pun sirna dari wajah Zoya.
Zidan melepaskan tangan Zoya yang mencengkram jasnya. Ia menatap wanita itu lekat-lekat.
"Ya, dulu aku sangat mencintaimu bahkan menginginkanmu! Tapi sayang, kau sama sekali tidak pernah melihatku, karena dimatamu hanya ada Andrew!"
.
.
__ADS_1
Bersambung...