MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Apa Yang Mereka Lakukan?


__ADS_3

Tubuh Andita membeku ditempat. Wajahnya memerah. Tangannya mengepal.


Matanya menyorot tajam menatap dua orang yang saling duduk berhadap-hadapan tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Sedari tadi Andita berusaha menahan gemuruh dan rasa sesak didadanya, namun tetap tidak bisa.


Rasanya begitu sakit ketika menyaksikan pasangan kita menatap wanita lain dengan begitu intens. Apalagi kini posisi keduanya sangat intim. Siapa saja yang melihat mereka pasti akan menganggap jika mereka sepasang kekasih.


Andita mencoba menghirup oksigen disekitarnya, tapi sepertinya ruangan terbuka itu tidak memiliki udara yang cukup untuknya.


Hatinya berdenyut nyeri, sehingga membuat nafasnya tersendat.


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Andita.


Apa yang dilihatnya ini?!


Apa yang sedang dilakukan Zidan dan Zoya?


Apakah mereka berselingkuh?


Kenapa mereka begitu dekat?


Andita mengatur nafas seraya mengerjap-ngerjapkan matanya. Bola matanya yang terasa panas akhirnya mengeluarkan cairan bening juga. Andita segera menghapus air matanya dengan kasar. Sekarang apa yang harus dia lakukan?


Haruskah dia menghampiri mereka dan menyerangnya dengan membabi buta?


Menarik dan menjambak rambut Zoya agar menjauh dari suaminya?


Atau haruskah ia menampar wajah Zidan karena sudah lancang menatap wanita lain dibelakangnya?


Ah tidak! Itu terlalu berlebihan. Bagaimana jika mereka mengelak dan mencari alasan? Sementara saat ini mereka belum melakukan apapun.


Akhirnya Andita memutuskan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun rasanya sesak, ia ingin tahu sejauh mana cinta yang selalu diagung-agungkan Zidan selama ini padanya.


Jika Zidan berani mengkhianatinya seperti apa yang dilakukan Dirga padanya dulu, ia berjanji akan pergi dari kehidupan lelaki itu.


Namun belum selesai Andita berdebat dengan pikirannya, ia melihat Zidan menepis kasar tangan Zoya yang menumpuk menjadi satu dengan tangannya. Hingga membuat Andita tercengang.


"Jaga sikapmu Zoya! Bagaimana jika Andrew atau Andita melihat hal ini?! Aku tidak mau mereka berpikiran macam-macam dan akhirnya memicu salah paham diantara kita!" Ucap Zidan dengan nada menggeram. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zoya.


Zoya nampak terkejut dengan sikap Zidan. Apalagi sekarang tatapan Zidan berubah menjadi tajam padanya.


Seolah dirinya adalah seorang musuh. Padahal baru beberapa waktu lalu Zoya dapat melihat tatapan lembut dari lelaki itu.


"Zidan aku hanya ..."


"Aku bisa membersihkan diriku sendiri! Kau tidak perlu repot-repot membantuku!" Zidan beranjak dari duduknya.


Disaat bersamaan Andrew yang baru saja selesai menelepon datang dari arah belakang Andita. Ia memperhatikan tubuh gadis dihadapannya itu.


"Andita kau disini?!"


Andita terperanjat kaget saat mendengar suara Andrew. Refleks dia membalikkan tubuhnya kebelakang.


"A-Andrew?!"


Ternyata suara Andrew yang menyapa Andita lumayan kencang hingga terdengar oleh Zidan dan Zoya. Mereka berdua langsung menoleh keasal suara.

__ADS_1


Andita?! Sejak kapan dia berdiri disitu?! Apa dia melihat...


Detak jantung Zidan tiba-tiba berdegub kencang. Ia takut Andita salah paham ketika melihatnya berdua dengan Zoya.


"Andita! Kau sudah pulang?!" Tanya Zidan.


Mendengar pertanyaan suaminya, kini netra Andita beralih pada Zidan. Ia menatap Zidan dan Zoya secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ya, aku baru saja pulang." Jawab Andita datar.


Sekilas netra Andita menangkap ekspresi Zoya yang sama sekali tidak merasa bersalah. Wanita itu nampak biasa saja dan malah tersenyum ramah padanya. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Zidan segera berjalan menghampiri Andita. Netra Andita memperhatikan pakaian suaminya yang basah karena tumpahan minuman.


"Kenapa dengan pakaianmu Zidan?!" Tanya Andita.


Zidan menghentikan langkahnya tepat dihadapan Andita dan Andrew.


"Zoya tidak sengaja menumpahkan minuman ke pakaianku. Aku akan menggantinya dulu. Kau temanilah mereka." Ucap Zidan seraya mengusap lembut pipi Andita.


Andita hanya mengangguk patuh. Padahal dalam hati dia masih kesal pada suaminya yang sudah berani menatap wanita lain.


Akhirnya Andita dan Andrew menghampiri Zoya. Mereka bertiga duduk bersama. Zoya menyapa Andita seperti biasa. Begitu ramah dengan gayanya anggun.


"Bagaimana kabarmu Andita?" Tanya Zoya.


"Baik. Bagaimana dengan kabar kalian berdua?" Tanya Andita pada Andrew dan Zoya.


"Seperti yang kau lihat. Kabar kami juga baik." Jawab Andrew.


*****


Zidan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia memutar kran shower hingga air itu jatuh mengenai tubuhnya.


Dibawah deras dan dinginnya kucuran air, Zidan memejamkan mata, kedua tangannya menempel pada dinding. Ia sedang merutuki kebodohannya sendiri.


Bagaimana bisa dia tadi menatap Zoya begitu dalam.


Apalagi ketika Zoya hendak menciumnya, dirinya hanya diam saja dan itu disaksikan langsung oleh Andita.


Zidan yakin pasti Andita merasa kecewa dan merasa dikhianati, karena saat ia mengusap pipi Andita, terdapat jejak airmatanya disana.


"HAHH!!! Dasar bodoh!" Zidan membuang nafas kasar ketika mengingat kebodohannya.


Setelah selesai membersihkan diri Zidan segera kembali turun kebawah. Ia sudah rapi dengan pakaian casualnya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.


Ken memberitahu jika dua hari lagi mereka berdua akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota, untuk mengikuti sebuah tender proyek dengan perusahaan lain.


Zidan menghela nafas panjang saat mendengarnya. Itu berarti dirinya akan meninggalkan Andita selama beberapa hari kedepan.


"Baiklah atur jadwal keberangkatanku!" Titahnya pada Ken.


******


Dihalaman belakang, Andita, Andrew, dan Zoya nampak tengah berbincang-bincang. Tidak lama Zidan datang dan kembali bergabung bersama mereka.


Sebelum duduk Zidan mengusap lembut dan mengecup pucuk kepala Andita. Tentu hal itu menarik perhatian Andrew dan Zoya.

__ADS_1


Sementara Andita hanya menerima saja perlakuan manis suaminya itu meskipun sedikit malu.


Tanpa disadari tindakan Zidan membuat hati seseorang dibakar rasa cemburu. Zoya memalingkan wajahnya kearah lain.


Namun berbeda dengan Andrew yang nampak ingin menggoda pasangan suami istri tersebut.


"Kau beruntung Andita, aku belum pernah melihat Zidan bersikap semanis itu pada seorang wanita. Kau wanita pertama yang mendapatkannya." Ucap Andrew sambil terkekeh.


Zidan hanya tersenyum samar. Sedangkan Andita merasa tidak percaya dengan ucapan Andrew.


"Benarkah?!"


"Tentu! Aku tidak bohong. Aku bahkan sempat tidak percaya ketika mendengar kabar bahwa Zidan akan menikah. Karena selama kami bersahabat, aku belum pernah mendengar desas desus dia dekat dengan wanita manapun. Mungkin wanita yang dekat dengannya hanya Zoya. Benarkan Zidan??" Tanya Andrew.


Glek


Zidan menelan ludah kasar. Netranya menyorot tajam kearah sahabatnya itu.


Sementara Zoya yang mendengar ucapan Andrew seperti mendapat angin segar. Ia mulai memanas-manasi Andita.


"Yang dikatakan Andrew itu benar Andita. Selama kami bersahabat, Zidan tidak pernah dekat dengan wanita lain selain diriku. Bahkan Zidan selalu memberi perhatian lebih padaku, seolah-olah aku ini kekasihnya. Haha..!"


Andita tersenyum kecut. Sekilas ia melirik kearah Zidan yang wajahnya tiba-tiba berubah merah padam.


"Berarti kau yang lebih beruntung Zoya, karena kau adalah wanita pertama yang mendapat perhatian lebih dari Zidan. Bukan aku. Benarkan suamiku?"


Zoya yang menangkap nada kesal dari nada Andita, tersenyum puas didalam hatinya. Dia menduga pasti saat ini Andita tengah dilanda rasa cemburu yang amat sangat.


"Ekhem, kenapa kita jadi membahas hal tidak penting seperti ini? Kenapa kita tidak membahas hal lain yang lebih menarik?! Misalnya jalan-jalan." Bukan menjawab pertanyaan Andita, Zidan justru malah ingin mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Dan itu membuat Andita bertambah kesal.


"Jalan-jalan?!" Andrew mendeliki Zidan yang langsung dibalas anggukan oleh lelaki itu.


"Ah ya kau benar juga Zidan. Sepertinya itu menarik! Bagaimana jika akhir pekan ini kita adakan double date?! Pasti akan sangat menyenangkan. Mengingat kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama." Jawab Andrew antusias.


"Double date?! Idemu boleh juga Andrew!" Timpal Zoya bersemangat. Karena pastinya dia akan lebih sering melihat Zidan.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa jalan-jalan diakhir pekan ini. Karena lusa aku harus keluar kota selama beberapa hari untuk mengikuti tender proyek perusahaan. Jadi bagaimana jika kita pergi setelah aku kembali dari luar kota?!" Ucap Zidan.


Andita nampak terkejut mendengar penuturan suaminya itu. Ia menatap Zidan lamat-lamat.


"Kau akan keluar kota Zidan?! Kenapa dadakan sekali?! Kau belum lama sembuh dari koma. Bagaimana jika kau kelelahan disana?!" Tanya Andita bertubi-tubi. Rasa kesalnya kini bercampur rasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa Andita. Kesehatanku sudah kembali normal. Kau tidak perlu khawatir." Jawab Zidan seraya tersenyum dan menggenggam tangan istrinya.


Namun tetap saja Andita merasa tidak tenang.


Disisi lain Zoya yang melihat pemandangan didepan matanya itu tiba-tiba merasakan perasaan tidak suka.


.


.


Mungkin lagu yang pas buat Zoya adalah lirik lagu dari band Armada.


Harusnyaa aku yang disana..


Dampingimu dan bukan dia..

__ADS_1


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.. 😁


__ADS_2