MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Siapa Dia?


__ADS_3

Zoya tercengang saat membaca tulisan yang ada dibalik foto tersebut. Ia yakin tulisan itu adalah tulisan tangan Zidan.


Untuk memastikannya, Zoya mencari-cari buku, berkas atau apa saja yang terdapat tulisan tangan sahabatnya itu untuk menyamakannya.


Saat tengah sibuk mencari tiba-tiba pandangannya teralihkan pada sebuah map coklat yang tergeletak didalam laci yang sama. Karena Zoya memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi Zoya pun meraih dan membuka map coklat itu.


Dan lagi-lagi Zoya dibuat terkejut dengan apa yang baru saja ia temukan. Seketika Zoya memicingkan matanya.


Surat Perjanjian Pra Nikah?!


Tanpa menunggu lama Zoya mulai membaca surat perjanjian itu dengan seksama. Ia melebarkan mata dan menutup mulutnya sendiri saat mengetahui isi dari surat perjanjian tersebut.


Didalam surat perjanjian itu tertulis, jika Andita dan Zidan menjalani pernikahan kontrak selama tiga tahun. Dan alasan Andita menikah dengan Zidan adalah karena gadis itu membutuhkan uang.


Fakta yang cukup mengejutkan bagi Zoya.


"Oh my God! Aku benar-benar tidak mempercayai ini!"


"Jika Andita membutuhkan uang, kenapa Zidan tidak meminjamkannya saja dari pada harus menikahinya?! Lagipula untuk apa uang sebanyak itu?!"


"Atau jangan-jangan Andita menikahi Zidan karena ia memang mengincar hartanya?!"


"Jika itu benar, aku tidak akan tinggal diam."


Kemudian netra Zoya beralih pada foto lawas dirinya, Andrew dan juga Zidan yang saat ini tengah digenggamnya. Netranya kembali fokus pada kalimat yang tertulis dibelakang foto tersebut.


Zoya mencoba menerka-nerka. Apa selama ini Zidan juga memiliki perasaan terhadapnya? Jika ya, maka jalannya untuk mendapatkan Zidan akan lebih mudah.


Zoya tersenyum samar. Ia berpikir jika dewi fortuna mungkin sedang berpihak padanya. Zoya segera meraih ponsel yang ia taruh diatas meja. Lalu memfoto surat perjanjian itu.


Ia begitu yakin apa yang ia dapatkan hari ini akan berguna suatu saat nanti.


Zoya segera merapihkan surat perjanjian yang ia baca. Sementara foto kenangannya bersama Zidan, ia bawa. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan cepat-cepat keluar dari ruangan itu sebelum ada orang yang melihatnya.


******


Didalam perjalanan pulang Zidan tak henti-hentinya menerbitkan senyum diwajahnya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andita.


Empat hari semenjak keberangkatannya keluar kota Zidan begitu merindukan sosok istri tercintanya itu.


Sehari tidak bertemu pujaan hatinya. bagaikan satu abad lamanya bagi Zidan. Bagaimana jika empat hari tidak bertemu? Tentu bagaikan empat abad lelaki itu menahan rindu. Terlalu berlebihan bukan?


Ya begitulah rasanya orang yang tengah jatuh cinta. Bila keduanya berjauhan waktu berjalan begitu lambat.


Sedari tadi Zidan terus memandangi hadiah yang akan ia berikan pada Andita. Ia tidak sabar ingin melihat ekspresi bahagia diwajah wanitanya itu.


Zidan membelinya dengan penuh cinta. Ia yakin Andita pasti sangat cocok mengenakan hadiah tersebut.


Sementara dikursi kemudi sesekali ken melirik kebelakang lewat kaca spion. Ia ikut senang jika tuannya senang.


Semenjak menikah dengan Andita, Ken perhatikan tuannya itu selalu terlihat bahagia. Dan itu membuatnya cukup merasa lega. Karena Zidan sudah menemukan pendamping yang cocok untuknya.


Sekarang waktunya Ken untuk memikirkan dirinya sendiri. Apalagi Zidan sudah tahu tentang hubungannya dengan Stella.


Awalnya Ken bingung darimana tuannya bisa tahu jika ia menjalin hubungan dengan dokter cantik itu.


Namun setelah melihat keakraban antara istri tuannya juga kekasihnya, Ken bisa menebak jika kedua wanita itulah yang membuat Zidan mengetahui semuanya.


Bahkan Zidan sudah memberi peringatan pada Ken agar tidak mempermainkan Stella, kalau sampai itu terjadi, Zidan sendiri yang akan turun tangan.

__ADS_1


Karena ia sama sekali tidak suka dengan laki-laki yang gemar mempermainkan perasaan wanita.


Semua itu tidak ada dalam kamus hidupnya.


******


Kembali ke kediaman Zidan.


Andita tengah sibuk mengaduk adonan kue. Tangan lainnya memasukkan satu persatu bahan yang dibutuhkan.


Ia harus cepat membuat kue itu matang sebelum Zidan tiba dirumah.


Saking sibuknya Andita malah jadi tidak fokus, sampai-sampai saat ia akan memasukkan kuning telur kedalam wadah adonan, kuning telur itu malah mengenai bajunya dan mengeluarkan bau yang cukup amis. Ditambah lagi Andita lupa tidak memakai celemek.


"Oh ya ampun! Ada-ada saja. Bagaimana ini?!" Andita merasa risih dengan pakaiannya.


"Ada apa Andita?" tanya Zoya yang sudah kembali kedapur.


"Bajuku terkena kuning telur Zoya!"


"Astaga! Maafkan aku, Andita. Karna terlalu lama menelepon aku membuatmu jadi keteteran mengerjakan semua ini." sesal Zoya.


"Tidak apa-apa Zoya! Mungkin aku begitu terburu-buru mengerjakannya sampai-sampai aku tidak fokus."


"Hmm, kalau begitu lebih baik kau ganti dulu pakaianmu Andita! Biar aku yang menggantikanmu mengaduk adonan kue itu. Kau tidak mungkin menyambut Zidan dengan pakaian kotor seperti itu kan?!" usul Zoya.


Sejenak Andita nampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan Zoya barusan. Tidak mungkin ia menyambut Zidan dalam keadaan seperti ini.


"Ya kau benar juga Zoya! Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku dulu!" ucap Andita.


"Hemm, baiklah!"


Andita pun menyerahkan mixer yang ia pegang pada Zoya. Setelah itu ia segera meninggalkan dapur.


******


Tidak berselang lama ketika Andita naik keatas, mobil yang ditumpangi Zidan telah memasuki pekarangan rumah.


Salah satu body guard yang berjaga dipintu utama pun segera membukakan pintu belakang mobil yang ditempati oleh Zidan.


Sebelum turun, Zidan menyuruh Ken untuk langsung kembali ke apartementnya saja agar lelaki itu juga bisa beristirahat.


Tanpa menunggu perintah dua kali Ken pun menuruti perintah Zidan. Ia segera mengambil mobilnya yang disimpan digarasi lalu pamit pergi dari sana.


Setelah masuk kedalam rumah, Zidan menanyakan keberadaan Andita pada salah satu pelayannya.


Pelayan yang ditanya oleh Zidan sama sekali tidak tahu jika Andita berada dikamarnya. Ia malah memberitahu pada Zidan jika Andita tengah berada didapur.


Dengan langkah lebar, Zidan pun berjalan menuju dapur. Ia tersenyum senang ketika mendapati Andita disana yang ternyata adalah Zoya.


Postur tubuh Andita dan Zoya memang nyaris mirip jika dilihat dari belakang, apalagi mereka memiliki rambut yang sama-sama berwarna hitam pekat.


Tanpa ragu, perlahan Zidan berjalan menghampiri Zoya yang ia kira adalah istrinya.


Karena rasa rindunya yang sangat besar, Zidan langsung memeluk tubuh ramping itu dari belakang dan mendekapnya begitu erat.


"Aku merindukanmu sayang." bisik Zidan tepat ditelinga Zoya.


Deg

__ADS_1


Seketika Zoya membelalakan matanya. Ia langsung mematikan mixer yang tengah dipakainya untuk mengaduk adonan kue.


Zidan?!


Zoya memejamkan mata saat nafas hangat Zidan mulai menerpa kulit lehernya. Ia menggigit bibir bawahnya dan memalingkan wajah kesamping.


Zoya bisa merasakan bagaimana lembutnya bibir Zidan yang saat ini tengah menciumi tengkuknya. Ia begitu menikmati sentuhan yang diberikan oleh lelaki itu.


Sementara Zidan yang awalnya merasa asing dengan aroma tubuh istrinya yang berbeda mencoba tidak peduli. Ia pikir Andita sengaja mengganti parfumnya.


Hingga keduanya pun larut dalam pelukan yang begitu intim.


******


Andita sudah selesai berganti pakaian. Ia pun segera turun dan berjalan kedapur untuk membantu Zoya.


Tanpa sengaja kebetulan ia berpapasan dengan pelayan yang sebelumnya ditanya oleh Zidan.


"Nona, bukankah anda sedang berada didapur?" tanya pelayan itu bingung.


"Tidak. Aku baru saja mengganti pakaian karena barusan terkena kuning telur." jawab Andita.


"Memangnya kenapa Bik?" tanyanya


"Oh tidak apa-apa Nona! Barusan Tuan Muda sudah pulang. Tuan menanyakan keberadaan nona, dan saya menjawab jika nona sedang berada didapur."


"Zidan sudah pulang?!" netra Andita nampak berbinar.


"Sudah Non. Mungkin sekarang Tuan tengah mencari anda didapur." jawab pelayan itu.


"Ah, kalau begitu aku akan segera menyusulnya."


Dengan langkah cepat dan sedikit berlari Andita bergegas pergi menuju dapur.


Saat kakinya satu langkah melewati pintu dapur, Andita begitu terkesiap dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini. Seketika netranya pun membulat sempurna.


"Zi-dan... apa yang kau lakukan?!"


Deg


Zidan langsung menghentikan aktifitasnya saat ia mendengar suara Andita dari belakang.


Begitupun dengan Zoya. Ia membuka mata ketika mendengar suara yang dianggapnya sebagai pengganggu.


"Andita kau disana?!" tanya Zidan terbata ketika ia sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Zoya dan membalikan tubuhnya kebelakang.


Andita tidak menjawab pertanyaan Zidan. Ia hanya bisa menatap wajah kebingungan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jika kau disana lalu siapa dia?!" kini netra Zidan beralih pada wanita yang masih membelakanginya.


Zoya menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Kemudian perlahan ia membalikkan tubuhnya kearah Zidan.


"Aku Zoya, Zidan." jawabnya.


Deg..


Untuk sesaat ketiganya diam mematung.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2