
"Apa?! Royal Group membatalkan kontrak kerjasama dan menarik sahamnya dari perusahaan kita?!"
Dirga membelalakkan matanya ketika mendapat laporan dari salah satu orang kepercayaannya yang mengatakan bahwa perusahaan Zidan membatalkan kontrak kerjasama dan menarik seluruh sahamnya.
"Ya benar Tuan. Baru saja Tuan Ken menelepon saya. Saya juga merasa sangat terkejut sekali. Kenapa tiba-tiba beliau memutuskan kerja sama dan menarik sahamnya dari perusahaan kita?"
Dirga merasa geram, bagaimana mungkin Zidan melakukan hal ini tanpa memberitahunya lebih dulu?
Kenapa lelaki itu tiba-tiba membatalkan kontrak kerjasama dan menarik sahamnya dari perusahaanku secara tiba-tiba?! Apa dia sedang membalas dendam padaku!
Arrgghh
Dirga mengacak-acak rambut frustasi. Ia langsung memikirkan bagaimana reaksi ayahnya jika sampai dia tahu tentang hal ini?!
Tentunya sang ayah pasti akan sangat marah padanya. Apalagi perusahaan Zidan adalah investor terbesar bagi perusahaan anak cabang Tuan Reyhan.
Dirga pun segera meraih gagang telepon diatas meja kerjanya. Ia langsung menghubungi kantor Zidan. Berharap lelaki itu mau menemuinya dan menjelaskan apa yang terjadi hingga Zidan melakukan hal ini padanya.
******
Zidan tengah duduk ditepi ranjang tepat disamping kepala Andita. Tangannya mengusap lembut pipi kanan gadis itu. Sedari tadi ia terus menemani Andita sambil memandangi wajahnya yang pucat.
"Maafkan aku Andita, maafkan aku! Tolong sadarlah, aku tidak bisa melihatmu sakit seperti ini!" Lirih Zidan.
Netranya kini beralih pada pakaian yang dikenakan calon istrinya itu. Ia segera mengambil ponselnya diatas nakas dan langsung menghubungi butik langganannya. Ia menyuruh pemilik butik agar segera mengirim beberapa setel baju kekediamannya.
Setelah mematikan telepon, Zidan kembali memandangi wajah yang selalu membuatnya tidak tenang itu.
Wajah yang selalu ia rindukan setiap saat. Wajah yang membuat hidupnya bersinar kembali. Meskipun sang pemilik wajah secara terang-terangan sudah menolak dirinya namun Zidan tidak akan menyerah. Ia sangat yakin Andita pun memiliki perasaan yang sama padanya.
"Eugh.."
Lamunan Zidan buyar kala mendengar erangan kecil dari bibir mungil Andita. Netranya langsung menatap Andita lamat-lamat. Seketika sebuah senyuman terbit diwajahnya.
"Kau sudah sadar Andita?"
Perlahan Andita mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya. Tangannya memegang kepala yang masih terasa begitu berat.
__ADS_1
"Awhh!" Andita meringis kala menyadari kepalanya begitu pusing.
"Kau tidak apa-apa Andita?" Zidan memijat-mijat pelan kepala gadis itu.
"Ah iya, saya tidak apa-apa, Tuan!" Jawab Andita pelan seolah tak memiliki tenaga untuk berbicara. Ia meraba-raba keningnya yang terdapat handuk diatasnya.
"Apa yang terjadi dengan saya Tuan?"
"Tadi pagi kau demam. Tubuhmu sangat panas sekali. Aku mengompresnya. Maafkan aku, Andita! Karena diriku kau jadi sakit seperti ini!" Lirih Zidan, ia meraih telapak tangan kiri gadis itu lalu menciumnya berkali-kali.
Andita terkejut dengan tindakan Zidan. Netranya membulat sempurna. Ia langsung membuang pandangannya kesembarang arah.
Apa yang Tuan Zidan lakukan?!
Seketika ada desiran halus yang membuat hati Andita bergetar. Andita merasa seolah dirinya kembali dicintai oleh seorang pria.
Setelah pengkhianatan Dirga waktu itu, Andita memang sulit untuk membuka hati kepada lawan jenis walaupun dirinya sudah menyadari perasaannya pada Zidan.
Ia takut jika Zidan akan menyakitinya sama seperti Dirga waktu itu. Terlebih lagi Tuan Wildan tidak memberi restunya untuk mereka. Itulah yang membuat Andita bingung dengan perasaanya.
Membiarkan perasaannya tumbuh atau mengubur perasaan itu? Tapi melihat Zidan seperti ini, jujur saja dirinya merasa terenyuh.
"Kenapa semalam kau tidak makan, hemm? Bukankah aku sudah mengantarkanmu makanan?!"
"Saya tidak lapar Tuan! Saya hanya ingin pulang! Saya ingin bertemu Ibu dan Nazwa. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan saya!"
"Kau tenang saja! Aku sudah mengabari Ibumu, jika kau akan tinggal bersamaku sampai hari pernikahan kita tiba!"
Andita mendengus kesal. Kenapa sulit sekali meluluhkan hati atasannya itu.
"Sekarang kau harus mendengar perintahku, kau harus makan! Aku sudah membawakan bubur untukmu. Setelah itu kau harus minum obat agar lekas sembuh!"
Lagi-lagi hati Andita menghangat dengan sikap perhatian Zidan padanya.
Zidan membantu menegakkan tubuh Andita, dan menyandarkannya pada bahu ranjang. Kemudian ia berinisiatif untuk menyuapi calon istrinya itu.
"Saya bisa sendiri Tuan!" Hendak mengambil alih mangkuk.
__ADS_1
"Tidak! Aku yang akan menyuapimu!" Zidan memberikan tatapan tajam Andita. Andita hanya bisa menghela nafas pasrah.
Dengan telaten Zidan menyuapi gadis itu. Sesekali Andita mencuri pandang kearah Zidan.
Kenapa sikapnya manis sekali.
Seketika Andita teringat awal pertemuannya dengan Zidan. Tatapan sinis, dingin dan galak Zidan berikan padanya. Bahkan tanpa sadar Andita mengatai atasannya itu berhati dingin sewaktu mereka berada didalam satu lift yang sama.
Tiba-tiba Andita tersenyum sendiri sambil menggigit bibir bawahnya. Sementara Zidan yang menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh Andita merasa begitu senang. Namun ia tak ingin menampakkannya.
"Apa kau sudah puas memandangiku?!"
Andita terhenyak mendengar ucapan Zidan. Ia merasa malu dan merutuki kecerobohannya. Kenapa juga ia harus kepergok oleh Zidan?! Hhh.. Andita menjadi salah tingkah.
"Siapa juga yang memandangi anda, Tuan Zidan?!"
Zidan menyunggingkan sudut bibirnya.
"Tidak akan ada maling yang mau mengaku, Nona Andita!"
Andita menelan salivanya. Ia sungguh merasa malu sekali.
"Karena buburnya sudah habis, kau harus meminum obatmu! Setelah itu beristirahatlah!" Titah Zidan. Ia mengambilkan obat yang tadi diresepkan oleh Stella.
Andita pun meminumnya. Kemudian dia merebahkan kembali tubuhnya diatas ranjang.
Zidan menyelimuti tubuh Andita lalu mengusap lembut kepalanya. Tidak lupa ia meninggalkan kecupan hangat dikening pujaan hatinya itu.
Seketika sekujur tubuh Andita membeku, netranya lurus menatap Zidan.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu diruang kerja. Jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggilku, mengerti?!"
Andita hanya bisa menganggukkan kepalanya, seolah matanya tersihir oleh pesona Zidan.
"Bagus!" Zidan mengusap lembut pipi Andita kemudian membiarkannya beristirahat.
.
__ADS_1
.
Bersambung...