
"Jadi, terakhir lo itu chattingan sama Venus dua jam yang lalu?" tanya David sambil menyunggingkan senyumannya setelah membaca pesan yang Venus kirimkan.
Di pesan terakhir Venus bilang kalau Davina sedang kesal dan menggerutu tentang dirinya.
"Itu artinya dia sedang cemburu denganku, kan? Dan cemburu itu tandanya cinta." ucap David di dalam hati.
"Daff, gue mau chat Venus tapi pakai ponsel lo ya."
"Ya, terserah lo aja."
Setelah mengirimkan pesan ke Venus, David pun meletakkan ponsel milik Daffa di atas dashboard. Tapi sudah selang 10 menitan Venus sama sekali belum membalas pesan darinya.
Hati dan pikiran David pun semakin gusar di tambah tidak ada pesan balasan dari Venus. Jadi, David pun memutuskan untuk menghubungi Venus. Panggilannya masuk tapi masih juga tidak di jawab oleh Venus.
David mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya semakin bertambah kalut sekarang.
"Kenapa dari tadi lo menghela nafas terus?"
"Venus nggak balas pesan dari gue dan saat gue telepon tadi Venus juga nggak angkat teleponnya."
"Apa dia nggak mau balas pesan dan angkat teleponnya karena tahu itu nomor ponsel gue."
"Ya nggak mungkinlah. Gue kan udah kasih peringatan kedia kalau dia itu harus balas pesan dari gue selama Davina itu masih marah sama gue."
"Coba telepon pakai nomor ponsel lo siapa tahu dia langsung angkat."
Dan David pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Venus. Tapi hasilnya sama saja, nihil. Venus pun tidak mengangkat telepon darinya.
"Pakai nomor gue juga nggak di angkat, Daff. Aduh, kalau kayak gini gue semakin khawatir.Mana tadi mereka bilang lagi di tempat karoke lagi. Bahaya buat cewek di tengah malam begini."
"Jadi? Lo itu maunya gimana sekarang?"
"Ke tempat karoke sekarang?"
"Tapi kita kan nggak tahu mereka lagi karaokean dimana, Pak David?"
"Iya juga, ya?"
"So?"
"Sekarang lo langsung lacak keberadaan mereka."
Sesuai dengan perintah dari David. Daffa langsung melacak keberadaan Davina dan Venus dengan meretas ponsel Venus.
"Cepat dong, Daff."
__ADS_1
"Iya sabar, ini juga udah maksimal."
"Sudah?"
"Bentar. Mereka lagi tempat karoke yang lumayan jauh dari sini."
"Ya udah buruan kita kesana. Kalau perlu lo bawa mobilnya langsung ngebut, Daffa!"
Sementara di tempat karoke Davina dan Venus baru saja keluar dari tempat karoke. Dan selama mereka berkaraoke tadi, yang di nyanyikan Davina semuanya itu lagu galau dan yang paling membuat Venus semakin heran ketika Davina menyanyikan lagu 'Lelaki Buaya Darat'.
"Na, ini udah tengah malam lo. Mungkin tadi kita karaokean terlalu lama." ucap Venus saat mereka berdua sedang menunggu Taksi.
"Aku juga tahu, Ve."
Dan saat mereka sedang menunggu Taksi, tiba - tiba ada segerombolan preman yang datang menghampiri mereka berdua.
"Hai cewek cantik dan manis. Abang boleh kenalan dong." goda salah satu preman tersebut.
Tapi Venus dan Davina memilih untuk tidak menanggapi sapaan mereka sama sekali.
"Wah, ternyata kedua cewek cantik ini sepertinya bisu teman - teman. Kesempatan kan, buat kita bersenang-senang untuk malam ini." ucap salah satu preman lagi dengan seringainya.
Sedangkan Venus dan Davina yang sudah mulai ketakutan saling memandang dan memberikan kode lewat tatapan mereka untuk segera kabur dari tempat tersebut.
"Hei wanita cantik! Sudah jangan main kejar-kejaran lagi. Nantinya kalau gue sampai nangkap kalian berdua, gue itu bakalan ajakin kalian berdua bersenang-senang loh," teriak salah satu preman yang begitu semangat mengejar Venus dan Davina.
Dan saat Venus dan Davina sedang berlari pegangan tangan mereka terlepas karena kaki Davina tersandung batu.
Venus pun mulai membantu Davina untuk bangkit tapi para preman tersebut keburu menghampiri mereka berdua.
"Kalian udah nggak bisa lari lagi gadis cantik. Sini puaskan kami."
***
Di samping itu Daffa yang sedang mengendarai mobil, dia melihat seorang wanita yang sedang terjatuh dan satu wanitanya lagi sedang berdiri di belakangnya dan Daffa pun sudah bisa menebak kalau itu Venus dan Davina.
"David, itu bukannya si Davina ya, istri lo itu. Sekarang lo buruan turun karena ada beberapa preman yang mau gangguin mereka."
Saat para preman itu sudah mendekat ke arah Davina. Sebisa mungkin Davina mencoba untuk mengangkat badannya. Tapi karena takut, tubuhnya semakin enggan untuk bergerak. Dan Davina pun berharap ada orang yang mau menolong mereka siapapun mereka.
Tetapi karena rasa takut yang membuncah membuat Davina berteriak spontan menyebutkan nama David. "David... tolong aku!"
Entah kenapa dalam situasi seperti itu hanya ada nama David yang ada dipikirannya.
Sedangkan Venus yang sudah berhasil menemukan kayu untuk memukul para preman itu nyalinya menjadi ciut ketika ke empat preman itu mulai mengitarinya dan kedua preman yang lainnya mendekat ke arah Davina.
__ADS_1
Dan Daffa yang sudah memarkirkan mobilnya langsung turun dan berlari untuk membantu David.
"Davina, kamu jangan takut. Aku ada di sini!" Ujar David setelah berhasil menghajar kedua preman yang akan mencoba mendekati Davina hingga tak berdaya.
Davina pun sangat mengenali suara yang mengucapkan kata itu. Ia pun langsung menolehkan wajahnya dan langsung berhambur memeluk David yang sedang berjongkok agar sejajar dengan dirinya.
"Aku takut sekali," lirih Davina
"It's okay. Sekarang jangan takut. Karena sudah ada aku di sini, sayang." ujar David sambil mengusap punggung Davina agar lebih tenang.
Sedangkan empat preman yang lainnya sedang berhadapan dengan Daffa. Daffa memang tidak takut dengan beberapa preman yang ada di hadapannya ini karena dia menguasai beberapa macam jenis ilmu bela diri.
Di awal - awal Daffa sudah berhasil menjatuhkan semua preman itu. Tapi karena tubuh preman itu kuat dan mereka mulai menyerang Daffa secara bersamaan. Daffa pun terkena pukulan dan akhirnya tumbang.
Bugh! Bugh!
Daffa yang nggak sempat menangkis serangan jatuh terhuyung kebelakang sehingga membuat mukanya lebam. Dan David yang melihat Daffa sedang di pukuli langsung mendekat ke arah Daffa. Dan satu persatu preman yang memukuli Daffa pun berhasil di jatuhkan. Dan tersisa dua preman lagi yang harus di kalahkan.
Tiba - tiba terlintas sebuah ide yang muncul di otaknya dan mungkin saja itu bisa membuat Davina tak marah lagi padanya.
Ya, rencana David adalah membiarkan kedua preman yang tersisa itu untuk memukuli dirinya hingga David mengalami luka diwajahnya dan di bagian perutnya. Tapi pukulan dari kedua preman itu belum bisa membuat David oleng. Justru, saat kedua preman itu lengah David langsung memukuli kedua preman itu dengan sisa tenaganya sampai kedua preman itu tidak sadarkan diri.
"Aduh sakit," keluh Daffa sambil memegangi luka yang ada di wajahnya.
"Ya elah, Brad Pitt kok kalah hanya untuk melawan preman pasar itu." ledek Venus.
"Wah, nggak tau terima kasih ya lo. Sudah gue bantuin sampai babak-belur begini lo malah asyik ledekin gue."
Kemudian Daffa melihat ke arah David. Dan Daffa merasa heran, kenapa David mau di pukuli kedua preman itu sampai berkali-kali hingga membuat dirinya terluka. Dan kalau di lihat dengan cermat sepertinya David bisa melumpuhkan kedua preman itu, mungkinkah David melakukan hal itu untuk mencari perhatian ke Davina? pikir Daffa.
"Dasar Kancil. Memang nggak salah kalau istrinya sendiri memberikan julukan itu padamu." gumam Daffa sambil tersenyum. Karena sudah mengetahui rencana David.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1