
Saat Karina keluar dari ruangan David. Davina sudah menatapnya dengan tatapan yang khawatir.
"Bagaimana keadaan David, Mi?" tanya Davina dengan nada yang khawatir.
"David sudah sadar, dan sebentar lagi akan di periksa oleh dokter." jawab Mami Karina. "Dan kamu gak usah terlalu khawatir, Na. David pasti akan baik - baik saja."
"Tapi David, dia nggak geger otak kan, Mi?" tanya Davina.
"Sepertinya enggak kok, sayang. Nanti setelah dokter selesai memeriksa David. Kamu boleh menemuinya." jawab Mami Karina dengan nada yang suara yang lembut. "Kamu tetap tunggu di sini ya, Na.Mami mau ke parkiran mobil karena Papi Leon sedang datang kesini untuk melihat kondisi David."
"Mau Daffa temenin, Bi?" tanya Daffa menawarkan diri.
"Ehm, gak usah deh Daff. Biar Bibi kesana sendiri aja. Lebih baik, kamu panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan David."
***
Saat tiba di parkiran, Karina mencoba lagi untuk menghubungi suaminya. Tetapi kali ini panggilan telepon Karina malah di alihkan, karena nomor yang di tuju sedang sibuk.
'Apa suami aku lagi balas dendam ya? Karena panggilanku tadi gak di jawab.' ucap Karina di dalam hati sambil berdecak kesal.
Awas saja, kalau suaminya itu sudah sampai di sini akan ia balas juga, karena sudah mengabaikan panggilan telepon darinya.
Dan beberapa saat kemudian, Karina melihat sebuah mobil Alphard berwarna putih yang lewat dan menuju ke arahnya. Karina pun tentu saja tahu, pemilik mobil Alphard berwarna putih itu adalah suaminya.
Saat suaminya itu turun dari mobil dan memandang ke arah Karina dengan tatapan rindu. Karina malah membuang wajahnya lalu berdecak kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hah?!" Leon menghela nafasnya.
Kalau istrinya itu sudah dalam mode mengambek, ia harus bersiap untuk memasangkan alarm tanda bahaya, agar ia pun bisa mengontrol sikap dan ucapannya.
"Mami, sayang. Kenapa Mami dan menantu kita bisa berada di rumah sakit?" tanya Leon dengan nada suara yang lembut.
"Emangnya, penting bgt apa? Pakai tanya Mami ada di sini?" Karina bertanya balik dengan nada ketus.
__ADS_1
"Penting banget dong, sayang. Kan, kamu adalah satu - satunya ratu yang ada di hatiku." ucap Leon dengan nada gombalannya.
Ya, sebenarnya Leon juga terpaksa harus bersikap seperti itu agar macan cantik yang ada di hadapannya ini tidak bisa mengamuk. Lebih baik, ia pun merayu istrinya agar tidak terlihat begitu kesal.
"Coba katakan, sayang?" desak Leon lagi.
"Gak mau! Pokoknya, Mami itu masih kesel banget sama Papi!" Seru Karina dengan kekesalannya.
"Loh? Mami Kenapa kesal sama Papi? Kan, Papi udah pulang cepat dari perjalanan bisnis, dan sekarang Papi langsung kesini juga demi ketemu sama Mami."
"Habisnya, Papi dari tadi kenapa gak angkat telepon dari Mami?" jawab Karina dengan nada ketus dan kembali mengerucutkan bibirnya.
"Ah, tadi handphone Papi dalam mode silent. Terus, pas mau Papi ganti ke mode dering. Naura telepon Papi, Mi." jelas Leon.
"Beneran? Papi gak bakalan bohongin Mami, kan?" tanya Karina sambil menatap serius ke arah suaminya itu.
"Sumpah demi apapun deh, Mi. Kalau Papi berani bohongin Mami. Papi bakalan lebih cinta terus sama Mami."
Mendengar ucapan yang sedikit bercanda dari suaminya, Karina pun tersipu malu.
"Aww..." ringis Leon saat Karina mencubit pinggangnya. "Iiihhh... Si Mami kenapa sih dari saat kita pacaran sampai sudah tua begini Mami itu suka sekali cubit pinggang Papi. Kalau nanti Mami salah cubit di bagian tubuh Papi yang lainnnya bagaimana? Apa Mami mau tanggung jawab? Bisa - bisa kita bisa bikin adik lagi untuk Naura, Mi?" lanjut Leon kembali menggoda istrinya dan terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Mendengar kembali ucapan gombalan dari sang suaminya itu, Karena langsung menggelengkan kepalanya dan langsung menatap tajam ke arah suaminya. Dan Karina pun berpikir, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan suaminya itu saat pulang dari perjalanan bisnisnya? Kenapa suaminya itu jago sekali membuat gombalan sekarang.
"Ya ampun, Pih. Kenapa otaknya Papi itu suka sekali mengarah ke hal situ sih?" keluh Karina. "Papi itu harus ingat umur dong. Kita itu sudah pantasnya jadi Opa dan Oma bukannya jadi Mami dan Papi lagi."
"Maafin Papi ya, Mi. Tadi Papi juga hanya bercanda aja kok. Tapi kalau km mau ayo. Papi udah siap ngadon anak lagi."
"Papi!" Seru Karina.
"Iya, sayang?"
Saat, Karina ingin memarahi suaminya lagi yang selalu menggodanya. Karina pun mulai teringat kembali tentang tujuan awal dia menunggu suaminya di parkiran mobil tersebut. Dan berhubung, kemampuan akting dari suaminya itu mulai meningkat. Karina pun memilki keyakinan jika suaminya itu bisa di ajak kerjasama untuk melakukan misi sandiwara cinta demi kebahagiaan anak laki-lakinya yaitu David.
__ADS_1
"Papi...." ucap Karina dengan nada yang sedikit lebih lembut sambil menggandeng tangan suaminya.
"Ada apa kesayanganku? Cintaku? Dan belahan jiwaku? Kamu sekarang ingin di belikan apa?" jawab Leon sambil tersenyum senang menatap ke arah istri yang terlihat sudah tidak tampak kesal. "Papi tau? Mami itu pasti pengin beli tas branded terbaru kan?" lanjut Leon mencoba menebak keinginan sang istri tercintanya.
"Begini, Pi-"
Belum selesai Karina menyelesaikan ucapannya. Leon langsung memotong ucapan sang istri dan berkata. "Ah, apa Mami ingin beli Berlian? Mobil baru mungkin? Atau kita perlu pergi untuk Honeymoon lagi? Mami itu tinggal katakan saja sama Papi ingin hadiah apa? Dan Papi pastikan bakalan kasih hadiah itu ke Mami."
"Kalau begitu, Mami hanya ingin sekarang itu Papi harus bisa akting dengan baik saat berada di hadapan menantu kita." jawab Karina.
"Kenapa harus akting, Mih? Memangnya Mami lagi bikin drama apalagi?" tanya Leon sambil menatap wajah istrinya dengan heran.
"Mami gak mau dengar banyak pertanyaan dari Papi. Intinya, Papi itu harus bisa bersandiwara dengan baik di depan menantu kita."
"Maksudnya apa, Mi? Serius, Papi gak ngerti loh. Memangnya kenapa Papi harus berakting saat berada di hadapan menantu kita?"
"Sini, Mami bisikkin semua rencana Mami untuk menantu kita."
Leon pun semakin mendekat ke arah istrinya kemudian, Karina pun langsung membisikkan keseluruhan skenario yang telah ia buat dengan putra tampannya. Dan tak lupa juga Karina meminta pada suaminya, agar bisa menjaga rahasia ini sampai kapanpun.
"Gimana, Pi? Papi mau kan ikut skenario Mami? Ini demi David loh, Pi? Putra tampan kita? Papi gak mau juga kan, kalau kehilangan mantu secantik dan sebaik Davina?" tanya Karina dengan tatapan yang memohon agar suaminya itu mau bergabung dengan rencana nya.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.