
Mendengar ucapan Andita, Zidan yang hendak masuk kedalam kamar menghentikan langkahnya.
Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.
Sejenak keduanya sama-sama terdiam. Zidan bisa melihat wajah Andita yang sudah memerah dan matanya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Satu kali kedipan saja air matanya akan tumpah. Dan hal itu membuat hatinya merasa gusar.
Zidan menghela nafas, lalu mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia berjalan menghampiri Andita.
Sementara Andita yang tidak bisa lagi membendung air matanya segera memalingkan wajahnya kesamping. Dan..
Tes...
Saat Andita memejamkan mata seketika buliran bening itu pun jatuh membasahi pipinya
Dadanya terasa begitu sesak. Ia merasa seperti orang bodoh yang sedang bertanya pada seorang pencuri yang sama sekali tidak mau mengakui perbuatannya.
Sebelum tangan Zidan menyentuh wajah Andita, Andita lebih dulu menghapus cairan bening itu. Dengan susah payah Andita menelan saliva lalu berusaha mengatur nafasnya yang tersendat.
Bagi Andita diamnya Zidan sudah merupakan sebuah jawaban. Sedari siang tadi Zidan selalu berusaha menghindari pertanyaannya. Dan itu membuat Andita semakin menaruh curiga pada suaminya sendiri.
"Maaf jika perbuatanku tadi siang melukai perasaanmu Andita. Tapi aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin menghentikan Zoya yang ingin membantu membersihkan pakaianku dari tumpahan minuman. Itu saja tidak lebih."
Tangan Zidan terulur untuk menyentuh wajah Andita, namun Andita segera menepisnya dengan kasar. Hingga Zidan menatap tangannya sendiri.
"Aku tidak bertanya soal itu Zidan. Yang aku tanyakan disini adalah apakah sebelumnya kau memiliki perasaan pada Zoya atau tidak?! Tapi sepertinya kau sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaanku! Apa pertanyaanku terlalu berat bagimu, hah?" Ucap Andita dengan menekankan pertanyaannya.
Netranya menatap tajam kearah suaminya. Begitupun dengan Zidan. Ia tak kalah tajam menatap istrinya itu. Zidan merasa harga dirinya terluka saat Andita tidak mau disentuh olehnya.
"Bukan aku tidak mau menjawab pertanyaanmu Andita. Tapi pertanyaanmu itu sungguh tidak penting bagiku. Kalaupun sebelumnya aku pernah memiliki perasaan pada Zoya, itu hanya masalalu. Aku hanya tidak suka orang lain mengusik masalaluku, itu sebabnya aku tidak mau menjawab pertanyaan darimu!" Geram Zidan.
"Orang lain? Kau menganggapku orang lain Zidan?" Andita tersenyum miris.
"Jadi benar kecurigaanku jika sebelumnya kau memiliki perasaan pada Zoya?! Pantas saja siang tadi kau menatapnya begitu instens. Apa perasaanmu padanya kembali tumbuh? Ah, sepertinya iya. Mengingat perkataan Zoya bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang dekat denganmu. Kau juga memperlakukannya seperti seorang kekasih bukan? Atau jangan-jangan selama ini dibelakangku kau sudah bermain gila dengannya?!"
"ANDITA!! JAGA BICARAMU!" Bentak Zidan. Tiba-tiba tangannya mengudara dihadapan wajah istrinya itu, hingga membuat Andita terperanjat kaget dan membelalakan matanya.
"Kau ingin memukulku Zidan?!" Tanya Andita dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya suaminya akan mengangkat tangan padanya.
Kini suasana malam yang beberapa saat lalu sempat menghangat menjadi mencekam. Saat kedua pasangan suami istri itu tengah bersitegang dan saling meluapkan emosi.
Zidan menatap marah pada istrinya. Ia tidak habis pikir Andita bisa menuduhnya seperti itu.
Zidan mengepalkan tangannya yang mengudara lalu menurunkannya perlahan. Ia berusaha meredam emosi yang sudah berada diubun-ubun.
"Sedari tadi aku sudah menahan diri untuk tidak terpancing dengan ucapanmu Andita! Tapi kau benar-benar menguji kesabaranku! Tidak semua tentangku harus kau tahu, mengerti?!"
"Aku memiliki masalalu, begitupun denganmu. Aku hanya tidak suka jika ada orang yang mengusik masalaluku. Meskipun itu istriku sekalipun. Apa kau pikir aku sebrengsek itu hingga harus bermain gila dengan sahabatku sendiri dibelakangmu, hah?!"
"Jika kau tanya apa sebelumnya aku memiliki perasaan pada Zoya atau tidak? Jawabannya Ya! Aku pernah memiliki perasaan padanya jauh sebelum aku mengenalmu! Aku tidak mau mengatakan hal itu padamu karena aku ingin menjaga perasaanmu. Sekarang kau sudah tahu jawabannya. Apa kau sudah puas?!" Ucap Zidan. Suaranya menggema. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang amat sangat.
__ADS_1
Sementara Andita hanya tersenyum getir mendengar penuturan suaminya itu. Air matanya sudah berderai sejak tadi.
"Benarkah kau menjaga perasaanku? Apa dengan cara menatapnya begitu intens hingga dia nyaris menciummu begitu?"
Zidan menghembuskan nafas kasar seraya memijat pelipisnya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Andita saat ini yang begitu sensitif.
Apa istrinya sedang cemburu? Jika ya, menurut Zidan rasa cemburu Andita itu berlebihan.
"Bukankah sebelumnya sudah ku katakan padamu Andita, bahwa aku hanya ingin menghentikan Zoya untuk membantu membersihkan pakaianku?! Jika tadi siang kau melihat Zoya hendak menciumku, apa aku harus disalahkan juga atas sikapnya? Sementara aku sendiri tidak tahu sama sekali apa alasannya melakukan itu!" Ucap Zidan yang mulai merasa frustasi dengan sikap sang istri.
Andita menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ia berjalan satu langkah kehadapan suaminya.
Netranya tetap berfokus pada netra Zidan. Saat jarak mereka sudah dekat, ia menatap suaminya lekat-lekat. Hingga kini pandangan keduanya beradu.
"Sungguh kau tidak tahu apa alasannya Zidan? Tapi sepertinya aku tahu kenapa Zoya melakukan itu. Alasannya karena dia juga menyukaimu!"
Deg
Untuk sesaat keduanya terdiam. Mereka saling menatap sepersekian detik.
Syuuu~
Semilir angin berhembus seolah menjadi saksi perdebatan mereka malam ini.
Setelah mengatakan itu Andita langsung membawa kakinya melewati tubuh Zidan. Ia merasa sudah cukup untuk mengetahui semuanya.
"Berhenti Andita! Kita belum selesai bicara!" Ucap Zidan ketika Andita hendak meninggalkannya. Andita yang sudah berjalan beberapa langkah pun berhenti. Posisi mereka masih saling membelakangi.
Andita berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Bayangan Zidan yang nyaris menamparnya masih terekam jelas dikepala Andita. Dan itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Karena baru kali ini ia melihat kemarahan suaminya yang begitu menakutkan.
Mendengar ucapan Andita, emosi Zidan kembali tersulut. Ia mengepalkan tangannya menahan geram. Kemudian Zidan segera berbalik menatap punggung istrinya.
"Selangkah saja kau berani keluar dari kamar ini, maka aku akan mencabut semua kebebasanmu Andita! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bertemu Ibu atau adikmu lagi! Kau tahu bukan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku?!" Ancam Zidan.
Deg
Seketika tubuh Andita membeku ditempat saat tangannya nyaris menyentuh handle pintu. Ia tahu suaminya tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Jika sebelum menikah saja Zidan berani mengurungnya, apalagi ketika ia sudah sah menjadi istrinya. Pastinya akan lebih parah.
Andita tidak mau kehilangan kebebasan itu. Ia tidak mau sampai tidak bertemu dengan keluarganya lagi.
Andita memejamkan mata, kemudian berbalik menatap suaminya dengan kesal.
"Kau mengancamku?!"
"Aku memperingatkanmu. Karena semakin hari kau semakin berani membantahku." Ucap Zidan dengan menyorot tajam kearah Andita.
Zidan mulai melangkahkan kakinya kearah tempat tidur. Ia melepas alas kaki lalu naik keatas ranjang.
Dengan perasaan marah Zidan merebahkan tubuhnya dan menaruh tangan diatas kening. Matanya terpejam.
__ADS_1
Ia yakin kali ini Andita tidak akan berani melawannya.
Andita mendengus kesal. Mau tidak mau ia melepaskan tangannya dari handle pintu dan berjalan kearah ranjang tempatnya berbaring.
Zidan yang mengintip pergerakan Andita dari sudut ekor matanya dalam hati tersenyum puas.
Namun rasa senangnya hanya bertahan sebentar, karena ternyata istrinya itu tidak naik keatas ranjang. Melainkan hanya mengambil sebuah bantal.
"Kau mau tidur dimana?!" Tanya Zidan saat melihat Andita berjalan menjauh dari tempat tidur.
"Aku akan tidur disofa!" Ketus Andita.
Mendengar ucapan istrinya, amarah Zidan yang belum sepenuhnya reda kembali berkobar. Mengingat dia bukanlah tipe lelaki penyabar. Dan tiba-tiba..
Praanggg...
Zidan melemparkan gelas yang berada diatas nakas kedinding dekat sofa. Hingga membuat Andita terlonjak kaget dan menatap nanar pecahan gelas yang sudah bertebaran dilantai.
"KAU benar-benar menguji kesabaranku ANDITA!" Teriak Zidan.
"Siapa yang menyuruhmu tidur disofa, Hah?! Cepat naik keatas ranjang, jika tidak akan kuseret kau kemari!" Titahnya.
Tubuh Andita bergetar hebat saat mendengar teriakan suaminya. Sepertinya tindakannya melawan Zidan kali ini benar-benar salah.
Awalnya Andita hanya ingin menenangkan diri tanpa tahu jika perbuatannya itu malah membuat suaminya bertambah murka.
Zidan yang melihat Andita tidak juga bergerak dari tempatnya berdiri, kembali bicara.
"Apa kau tuli?! Akan aku hitung sampai tiga. Jika kau masih mematung disitu, aku akan benar-benar menyeretmu Andita!" Ancam Zidan. Dan dia pun mulai menghitung.
"SATU!"
Dalam hitungan pertama Andita belum juga bereaksi. Kakinya tiba-tiba memberat. Ia seolah tak memiliki tenaga untuk berjalan.
"DUA!"
Andita hanya bisa memejamkan matanya.
"TI.."
Akhirnya sebelum Zidan menyelesaikan hitungan ketiga, Andita mengumpulkan tenaga dan secepat kilat segera naik keatas ranjang.
Ia segera berbaring membelakangi Zidan lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Melihat tingkah istrinya, Zidan menggelengkan kepala pelan lalu mengusap wajah kasar.
.
.
Update 3 bab, tapi 1nya lagi masih ngetik.
__ADS_1
Sabar yaa hahaha
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya biar author tambah semangat. Okee!