MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Menangis Dalam Diam


__ADS_3

Andita membulatkan matanya ketika Zidan membicarakan sebuah hukuman.


"Hukuman?! Hukuman apa maksud anda, Tuan?!"


"Hukuman karena kau sudah berani mengkhianatiku! Asal kau tahu sejengkalpun aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku!"


Zidan menyorot Andita begitu tajam. Gemuruh didalam dadanya belum juga reda. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya berjalan kearah Andita. Lalu meraih tas gadis itu yang tergeletak diatas kasur.


"Anda mau apakan tas saya, Tuan?!" Tanya Andita panik ketika tasnya diambil oleh Zidan.


"Bukan urusanmu!"


Lama-lama Andita merasa kesal dengan tindakan Zidan yang seenaknya. Ia mencoba meraih kembali tasnya dari tangan Zidan. Namun karena tubuhnya kalah tinggi dari tubuh Zidan, Andita merasa begitu kesulitan menggapai tas itu.


"Kembalikan tas saya, Tuan!"


"Tidak akan!"


Zidan mendorong tubuh Andita agar menjauh darinya. Hingga tubuh gadis itu nyaris tersungkur kelantai. Beruntung Andita masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


Andita masih terus berusaha mengejar Zidan, namun sayangnya ia kalah cepat. Zidan sudah keluar lebih dulu. Lelaki itu segera menutup pintu kamar dengan keras lalu menguncinya dari luar.


Drokk drokk drokk


Andita menggedor-gedor pintu kamar sekuat tenaga.


"Buka pintunya Tuan! Anda tidak bisa mengurung saya seperti ini!"


"Ini hukuman untukmu, karena kau sudah berani melawanku!" Sahut Zidan yang masih berada didepan pintu.


"Anda benar-benar keterlaluan Tuan! Buka pintunyaa!!!" Teriak Andita. Ia masih terus saja menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga. Agar Zidan mau membukakan pintu untuknya.


Namun Zidan seperti tuli. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan permintaan Andita. Lelaki itu berjalan kearah ruang kerjanya dengan perasaan marah dan kecewa bercampur menjadi satu.


Zidan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kedepan jika sedetik saja tadi dia datang terlambat kerestoran itu. Andita pasti akan menandatangani surat perjanjian yang disodorkan ayahnya.


Dan sudah pasti ayahnya akan langsung menyuruh Andita untuk pergi meninggalkan dirinya.


Zidan masuk keruang kerja dengan membanting pintu. Ia segera meraih ponsel didalam saku celananya dan menyuruh beberapa body guardnya untuk mengamankan Nazwa dan ibunya agar tidak disentuh oleh para orang suruhan sang ayah.


Zidan yakin, ayahnya tidak akan menyerah begitu saja untuk memisahkannya dari Andita.


Setelah menghubungi orang suruhannya, Zidan melampiaskan kekesalanya dengan menghempaskan semua barang-barang miliknya yang berada diatas meja.

__ADS_1


"Aaaarrrgggggghhhh!!!!!"


Berkas-berkas penting dan juga laptop menjadi sasaran amukan Zidan. Belum lagi beberapa pajangan yang berada diruangan itu tak luput dari amarahnya.


Saat ini Zidan merasa dadanya begitu sesak sekali. Ingin rasanya ia menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya.


"Beraninya kau melakukan ini padaku Andita!!!" Geram Zidan.


"Jangan harap kau akan lepas dariku!"


Zidan menggebrak meja dengan keras seraya mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya menyiratkan kemarahan dan luka yang ia rasakan.


******


Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Namun belum ada tanda-tanda Zidan akan membukakan pintu untuk Andita.


Saat ini Andita tengah berada dikamar yang cukup luas. Namun sudah seperti penjara baginya.


Ia duduk ditepi ranjang dekat nakas sambil memainkan saklar lampu tidur. Tak ada yang bisa dia lakukan selain melamun. Ponselnya berada didalam tas, dan tasnya dibawa oleh Zidan.


Kenapa dia menghukumku seperti ini?! Apa kesalahanku begitu fatal, sampai-sampai dia mengurungku?! Bagaimana jika Ibu dan Nazwa khawatir padaku?! Hhh! Dia benar-benar keterlaluan!


Andita hanya bisa bergumam dalam hati. Namun ia menyadari sesuatu, bahwa Zidan melakukan ini karena lelaki itu tak ingin kehilangan dirinya. Itu terbukti saat Zidan menentang sang ayah dihadapannya tadi siang direstoran.


Tak lama terdengar suara derap langkah seseorang yang menghampiri pintu kamar tempat Andita dikurung.


Andita terkesiap ketika orang itu mulai memasukkan kunci. Ia segera merangkak naik keatas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya kesamping membelakangi pintu. Lalu memakai selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Ceklek


Pintu pun terbuka. Zidan masuk kedalam kamar dengan membawakan makanan untuk Andita. Karena siang tadi Zidan begitu larut dengan kemarahannya, ia sampai lupa jika Andita belum makan.


Kemudian Zidan berjalan menghampiri calon istrinya. Ia menaruh nampan berisi makanan diatas nakas.


"Aku tahu kau belum tidur! Bangunlah! Aku membawakan makanan untukmu!" Zidan berbicara dengan suara datar dan dingin.


Ia duduk ditepi ranjang disebelah tubuh Andita. Namun Andita tak bergeming, karena ia masih kesal dengan lelaki yang tengah duduk disampingnya itu.


"Apa kau tidak dengar?!"


Dibalik selimut Andita menelan salivanya. Sebenarnya ia takut kala mendengar suara dingin Zidan. Apalagi mengingat kemarahannya tadi siang.


Akhirnya Andita memilih mengalah dan membuka selimutnya. Gadis itu membalikkan tubuhnya hingga netranya dan dan netra Zidan saling bertubrukan.

__ADS_1


"Aku membawakan makanan untukmu! Makanlah!" Setelah mengatakan itu Zidan segera beranjak dari duduknya hendak keluar. Namun tangannya langsung dicekal oleh Andita hingga membuatnya menoleh.


"Saya tidak lapar! Saya ingin pulang Tuan!"


"Kau tidak akan kemana-mana sampai kau sah menjadi istriku!"


"Apa anda sudah gila Tuan mengurung seseorang seperti ini?!"


"Kau yang sudah membuatku gila! Jadi nikmati saja hukumanmu sampai hari pernikahan kita tiba!"


Glekk


Andita menelan salivanya. Mana mungkin dia berada disini sampai mereka menikah?! Melihat ekspresi terkejut Andita, Zidan tersenyum samar. Lalu lelaki itu menghempaskan cekalan tangan Andita dengan kasar.


Gadis itu tersentak lalu ia segera berlari mengejar Zidan. Namun sekali lagi Andita kalah cepat. Zidan sudah menutup pintu dan menguncinya kembali.


Drokk drokk drokk


"BUKA PINTUNYA TUAN! SAYA INGIN PULANG!!!" Teriak Andita sambil menggedor-gedor pintu dan mengguncang handlenya berkali-kali. Namun nihil, Zidan tak menggubrisnya.


Kini Andita hanya bisa pasrah. Ia tidak mungkin melawan Zidan. Gadis itu membalikkan tubuhnya bersandar pada pintu.


Kepalanya mengadah keatas seraya berkali-kali membenturkannya pelan pada daun pintu itu. Tanpa disadari cairan bening keluar begitu saja dari sudut ekor matanya.


"Buka pintunya Tuan! Saya ingin pulang!" Suaranya terdengar lirih bersamaan dengan tubuhnya yang merosot kebawah.


Zidan masih bisa mendengar suara Andita dari balik pintu. Karena dirinya masih berada disana dan tengah bersandar pada pintu itu. Kakinya terasa berat ketika ia akan melangkah meninggalkan Andita seorang sendiri.


Hatinya terasa perih dan sakit saat mendengar suara lirih calon istrinya.


Pasti saat ini dia sedang menangis.


Maafkan aku Andita! Aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu.


Tubuh Zidan pun merosot kebawah bersamaan dengan merosotnya tubuh Andita didalam sana.


Kini dua insan itu tengah menangis dalam diam berbataskan daun pintu. Tak ada suara yang terdengar, yang ada hanya getaran diantara keduanya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2