
"Benarkah?! Jadi kalian lebih merelakan nyawa kalian daripada menyerahkan bukti itu padaku?!"
"Ya! Lagipula kami serahkan atau tidak kau tetap akan membunuh kami bukan?!" Ucap Paman Bima.
Tuan Reyhan mengepalkan tangannya. Namun ia mencoba untuk tetap tenang.
"Baiklah jika itu yang kalian mau! Aku akan mengabulkannya dengan senang hati!"
"Rocky! Perintahkan anak buahmu untuk memberi pelajaran pada lelaki itu!"
"Dengan senang hati Tuan!"
Rocky memberi intruksi pada salah satu anak buahnya untuk menghajar Paman Bima. Dan...
Bugh,
Bugh,
Bugh
"Hentikaaann!!!" Andita berteriak histeris saat lelaki paruh baya disampingnya terus saja mendapatkan pukulan.
"Hahaha...Bagaimana Bima? Apa kau masih ingin bermain-main denganku?!"
"Sekarang cepat katakan dimana kau sembunyikan video itu? Atau nyawamu benar-benar akan kubuat melayang!" Ancam Tuan Reyhan seraya menjambak rambut Paman Bima.
Paman Bima meringis ketika tangan besar itu menjambak rambutnya. Namun ia tetap pada pendiriannya untuk tetap tidak mengatakan apapun.
Lagipula bukti itu juga sudah berada ditangan Andita, dia sama sekali tidak tahu dimana ponselnya disimpan.
"Bukti itu ada padaku! Aku akan memberitahukan pada anda dimana bukti itu disimpan, asal anda melepaskan kami sekarang juga!"
Tuan Reyhan melepaskan tangannya lalu beralih pada Andita.
"Ah, apakah kau sedang mengajakku bernegosiasi?! Tapi sayangnya aku tidak ingin bernegosiasi dengan siapapun termasuk dirimu gadis rendahan!"
"Kalau begitu anggaplah aku tidak mengetahui dimana bukti itu berada!"
Tuan Reyhan terkekeh mendengar ucapan Andita yang begitu lantang menantangnya.
"Tidak kuduga, ternyata kau sungguh berani Andita! Persis seperti ayahmu! Tapi sayangnya kalian sama-sama bodoh!"
"Akhirnya anda mengakui jika anda mengenal Ayahku, Tuan. Orang yang telah anda fitnah dan kematiannya telah anda sabotase! Sebenarnya apa tujuan anda melakukan itu? Apa hanya karena sebuah jabatan yang sebenarnya bisa anda dapatkan jika anda bekerja lebih keras, atau ada alasan lain sehingga anda menjadi gelap mata?!"
Tuan Reyhan tersenyum kecut.
"Ya, memang ada alasan lain. Tapi kurasa alasan itu sangat memalukan untuk kuceritakan."
Kini Andita yang tertawa nyaring.
__ADS_1
"Bukankah kelakuan anda yang seperti ini sudah cukup memalukan Tuan?! Menculik dan menyekap seseorang, setelah semua kejahatan yang telah anda lakukan pada Ayahku?! Anda benar-benar lelaki yang tidak memiliki hati nurani!"
"Apa katamu?! Hati nurani?!" Tuan Reyhan mendeliki Andita sambil tersenyum sinis.
"Ayahmulah yang tidak memiliki hati nurani! Dia telah merebut Ibumu dariku! Wanita yang telah lama kucintai. Dengan beraninya dia membawa lari Wulan dan menikahinya disaat kami akan menikah!" Hardik Tuan Reyhan. Sorot matanya menyiratkan rasa benci dan luka yang mendalam.
Sontak pernyataan lelaki paruh baya itu membuat Andita terkejut bukan kepalang. Andita menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Begitupun dengan Paman Bima. Ia tercengang dengan pernyataan Tuan Reyhan barusan.
"A-apa yang anda katakan Tuan?! Tidak! Itu tidak mungkin! Anda pasti berbohong! Ayahku tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Anda pasti mengarang! Itu tidak benar!" Sanggah Andita.
Namun disisi lain netranya mulai memanas. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia berpikir Tuan Reyhan hanya mencari alasan lain saja untuk menyudutkan ayahnya.
"Kenapa?! Kau tidak percaya?! Apa selama ini Ayah dan Ibumu tidak pernah bercerita tentang kisah cinta mereka?! Haha ...sudah kuduga! Mereka pasti malu mengatakannya padamu, karena mereka telah melakukan kesalahan dimasa lalu!" Ucap Tuan Reyhan sinis.
"Hal itulah yang membuatku menjadi dendam terhadap Hadi selama bertahun-tahun dan berniat menyingkirkannya!"
"Dan ternyata Tuhan mengabulkan doaku! Tiga tahun lalu kami dipertemukan kembali diperusahaan yang sama! Sehingga aku memiliki kesempatan untuk menjatuhkan dirinya! Kebencianku semakin bertambah saat Tuan Wildan menaikkan jabatan yang seharusnya menjadi milikku namun Ayahmu malah merebutnya!"
Dunia Andita seolah berhenti berputar. Nafasnya tersendat. Kepalanya mencoba mencerna setiap perkataan demi perkataan yang terlontar dari mulut Tuan Reyhan.
"I-itu tidak benar!" lirih Andita.
Tuan Reyhan yang berdiri dihadapan dua orang itu tersenyum sinis.
"Terserah kau mau percaya atau tidak! Tapi itulah faktanya! Aku dendam terhadap Ayahmu, karena dia selalu saja mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku! Jika kau masih juga tidak percaya, kau bisa menanyakan itu pada Ibumu! Tapi jika kau bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup!"
Namun bukan Tuan Reyhan jika mudah gentar dengan ancaman, karena dia sendiri adalah orang yang ahli mengancam.
"Ganjaran?! Kalianlah yang akan menerima ganjaran dari perbuatan yang telah dilakukan Hadi padaku! Jadi bersiaplah karena tidak akan ada yang menyelamatkan kalian hari ini! Sekarang lebih baik cepat kalian katakan, dimana kalian menyimpan barang bukti itu?!" Bentak Tuan Reyhan.
Sementara diluar, Zidan yang sedang merekam perkataan Tuan Reyhan dan Andita juga tidak kalah syock.
Jadi itu alasan sebenarnya kenapa Tuan Reyhan memfitnah Ayah Andita?
Disaat Zidan tengah memasukan ponselnya dan mulai kembali berjalan untuk menyelamatkan Andita, ia tidak sengaja menginjak ranting pohon yang menarik perhatian salah satu penjaga dibelakang.
"SIAPA KAU?!" Teriak orang itu.
Zidan menelan kasar salivanya. Ia memejamkan mata dan mengangkat kedua tangannya kemudian berbalik.
"Penyusup!"
******
Salah satu anak buah Rocky segera menghampiri bosnya yang tengah berada didalam ruangan tertutup bersama Tuan Reyhan. Dengan nafas terengah-engah ia melapor pada bosnya itu.
"Bos! Diluar ada penyusup yang berhasil masuk kemari!" Ujarnya.
__ADS_1
"APA?!"
Tuan Reyhan dan Rocky terkejut secara bersamaan. Mereka saling melempar pandangan.
"Siapa yang sudah berani menginjakkan kaki ketempat rahasiaku ini?!" Geram Tuan Reyhan.
"Sepertinya ada yang mengikuti anda Bos! Saya akan mengeceknya!" Ucap Rocky.
Andita dan Paman Bima pun saling bersitatap.
"Aku yakin itu suamiku, Zidan!" Gumam Andita yang masih bisa didengar oleh Tuan Reyhan.
"Zidan?! Apa kau memberitahunya?!" Tanya Tuan Reyhan seraya mengetatkan rahangnya.
Andita tersenyum smirk.
"Bukan urusanmu Tuan! Sekarang lebih baik kau lepaskan kami! Jika kau masih sayang nyawamu! Aku akan memaafkan semua kesalahanmu pada Ayahku dengan begitu kita impas!"
Mendengar ucapan Andita Tuan Reyhan tertawa terbahak-bahak.
"Apa?! Apa telingaku tidak salah dengar?! Kau memerintahku untuk melepaskanmu, dan menganggap semuanya impas?! Hahaha... Kau pikir aku orang bodoh Andita?! Cih,, sampai matipun aku tidak akan pernah melepaskan kalian berdua!"
"Kalau begitu tunggulah ajalmu Tuan Reyhan!" Balas Andita.
"Beraninya kau!" Tuan Reyhan menyerang Andita dengan cara mencekiknya. Pria paruh baya itu mencekik Andita dengan sekuat tenaga hingga Andita kesulitan bernafas.
"Bajingan Reyhaan!! Lepaskan tangan kotormu dari Andita!" Teriak Paman Bima.
Seandainya tangan dan kakinya tidak terikat mungkin saat ini Paman Bima akan langsung melayangkan tinju pada pria yang tengah kesetanan itu.
"Le-pas-kan a-ku be-de-bah!"
Namun sayang Tuan Reyhan yang sedang dalam pengaruh emosional tinggi tidak mendengarkan permintaan keduanya.
"Matilah kau gadis rendahan! Aku akan segara membuatmu bertemu dengan Hadi dialam baka!" Ucap lelaki paruh baya itu dengan sorot mata berapi-api dan seringai sadis diwajahnya.
"Aku bersumpah Reyhan, jika sampai kau membunuh Andita, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Teriak Paman Bima.
Tuan Reyhan yang mendengar ancaman dari Paman Bima langsung tertawa terbahak-bahak. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari leher Andita hingga membuat gadis itu terbatuk-batuk dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Uhuk...uhukk!!"
"Hahaha, apa Bima? Membunuhku?! Menolong dirimu saja kau tidak bisa, lalu bagaimana caranya kau bisa membunuhku?! Hah?!" Kini tangan Tuan Reyhan beralih pada rambut Paman Bima dengan cara menjambaknya kuat-kuat.
Paman Bima meringis kesakitan namun ia berusaha menahannya. Tidak lama kemudian.
Brakkk
.
__ADS_1
.
Manaaa hadiah kopi, bunga dan votenyaaa????😩