
Setelah mendengar kabar dari Stella jika Zoya sudah siuman, Zidan, Andita dan Ken segera bergegas kekamar Zoya. Mereka berempat ingin kembali melihat keadaan designer itu.
Ketika sudah berada didalam kamar, Zoya dan Andrew nampak terkejut saat melihat Andita bersama dengan yang lainnya.
Pasalnya yang mereka mendengar dari Stella, bahwa Andita tengah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Perlahan Andita pun berjalan dengan didampingi Zidan dan duduk ditepi ranjang.
Sementara Stella duduk dikursi didekat nakas disamping Zoya. Sedangkan ketiga pasangan mereka memilih berdiri tidak jauh dari ranjang tempat Zoya berbaring.
"Aku senang akhirnya kau sadar Zoya! Kau tahu? Kami sangat mengkhawatirkanmu!" ucap Andita seraya tersenyum. Ia meraih tangan Zoya lalu menggenggamnya erat.
"Aku baik-baik saja Andita. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku!" balas Zoya.
"Oh ya Andita, barusan aku dengar dari Stella jika kau pingsan? Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Zoya wajahnya terlihat khawatir, namun tentu saja itu hanya sandiwara.
Andita melirik Zidan dan yang lainnya secara bergantian kemudian pandangannya kembali beralih pada Zoya. Andita tersenyum penuh arti.
"Aku tidak sakit Zoya, aku hanya mengalami gejala.." Andita menahan kalimatnya.
"Gejala? Gejala apa Andita?!" tanya Zoya penasaran.
"Aku mengalami gejala kehamilan Zoya! Aku hamil!"
Duarr
Bagai tersambar petir disiang bolong seketika tubuh Zoya menegang. Dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Bahkan tenggorokannya pun terasa tercekat.
"Ha-hamil?!" ulang Zoya dengan bibir bergetar.
Dengan bersemangat Andita mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya Zoya, aku hamil! Aku dan Zidan akan segera memiliki momongan! Akhirnya kami akan memiliki keluarga yang sempurna!"
Deg
Kata-kata Andita sukses membuat Zoya terperosok kedalam jurang yang paling dalam. Ia menatap Andita dengan tatapan yang sulit diartikan.
Keluarga sempurna?! Kau dan Zidan?! Tidak! Zidan hanya milikku, Andita!
Disisi lain Andrew begitu bahagia mendengar kabar yang disampaikan oleh Andita.
Ia menepuk pelan bahu Zidan kemudian sekilas memberi pelukan dan ucapan selamat pada sahabatnya itu.
"Aku tidak menyangka, kau akan secepat ini menjadi seorang ayah Zidan! Selamat untukmu dan Andita!" ucap Andrew.
"Thanks Andrew! Aku berharap kau dan Zoya segera menyusul kami kejenjang pernikahan agar kelak anak-anak kita bisa tumbuh bersama!"
Jleb
Mendengar ucapan Zidan tanpa sadar perlahan Zoya menarik tangannya dari genggaman tangan Andita.
Wajahnya memerah seolah menahan amarah. Bagaimana mungkin Zidan mengatakan hal itu sementara Zidan tahu bahwa Zoya mencintainya.
Begitupun dengan Zidan yang mencintai Zoya. Dan pernyataan itu sama sekali tidak bisa diterima sepihak oleh Zoya.
Kenapa kau mengatakan itu Zidan?! Bukankah kau sudah tahu bahwa aku mencintaimu? Dan kau pun mencintaiku bukan?!
Sesak. Perasaan itu yang Zoya rasakan saat ini. Tanpa ia sadari perubahan raut wajahnya membuat Andita merasa heran.
"Ada apa Zoya? Kenapa wajahmu tiba-tiba terlihat kesal?" tanya Andita yang bingung melihat ekspresi sahabat suaminya itu. Hingga semua orang pun beralih menatap pada Zoya.
__ADS_1
Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, Zoya segera mengontrol emosinya dan berusaha bersikap normal.
"Uhm, tidak! Tidak apa-apa Andita! Aku hanya merasa sedikit pusing. Oh ya, ngomong-ngomong selamat atas kehamilanmu! Kau harus menjaganya dengan baik!" ucap Zoya ditengah menahan rasa amarahnya.
"Tentu Zoya! Aku pasti akan menjaga anak pertama kami dengan baik!" Andita mengusap perutnya yang masih rata sembari menatap Zidan dengan penuh cinta.
Zidan membalas tatapan Andita tak kalah mesra dan hal itu tak luput dari penglihatan Zoya. Hingga membuat dadanya semakin bedenyut nyeri.
Aku tidak bisa terus diam begini! Aku harus secepatnya mendapatkanmu Zidan! Kau hanya boleh menjadi milikku! Hanya milikku!
******
Seminggu kemudian.
Setelah mengetahui kehamilan sang istri, keesokan harinya Zidan segera membawa Andita dan yang lainnya pulang ke ibukota.
Zidan juga sudah memberitahukan kabar bahagia tersebut pada ayah dan ibunya, juga ibu dan adik Andita. Mereka semua sangat senang sekali mendengarnya.
Bahkan Nyonya Liyana langsung menyuruh Zidan membawa Andita kerumah sakit untuk mengetahui kondisi Andita apakah tubuhnya cukup kuat atau tidak untuk mengandung buah hati mereka.
Dan dokter mengatakan jika kondisi tubuh Andita dalam keadaan baik dan sehat sehingga tidak ada masalah jika ia meneruskan kehamilannya.
Selama seminggu ini semenjak Andita hamil, Zidan benar-benar menjaga dan memperhatikan pola makan istrinya itu dengan sangat hati-hati..
Ia tidak mau sampai Andita ceroboh memakan sesuatu yang bisa membahayakan kondisi janin didalam kandungannya.
Bahkan sikap Zidan pada Andita terbilang lebih posesif dari sebelumnya. Andita tidak boleh mengerjakan apapun atau pergi kemanapun kecuali bersamanya.
Hingga membuat Andita merasa jenuh dan bosan karena setiap hari berada dirumah.
Tapi ia tahu bagaimana sifat Zidan. Andita tidak bisa membantah apapun peraturan yang sudah ditetapkan suaminya itu.
Mengingat kehamilannya sangat dinantikan oleh sang suami juga keluarga besarnya.
Seperti saat ini, Andita hanya bisa diam dibalkon kamar sambil menikmati udara pagi yang begitu segar seorang diri.
Karena pagi-pagi sekali Zidan sudah berangkat kekantor untuk menghadiri rapat penting dengan kliennya.
Biasanya Nyonya Liyana atau Ibu Andita akan bergantian datang kerumah untuk menemani Andita.
Namun entah kenapa sampai saat ini belum ada satupun dari mereka yang datang kekediamannya.
Andita menghembuskan nafas kasar. Dirinya sungguh merasa bosan sekali.
Andai saja ia tidak takut dengan kemarahan Zidan sudah pasti ia akan nekad meminta Nazwa untuk menemaninya jalan-jalan sebentar. Tapi sayangnya Andita tidak punya nyali melakukan hal itu.
Disaat pikirannya sedang melayang entah kemana, tiba-tiba Andita dikejutkan oleh suara ketukan pintu diluar kamarnya.
Ternyata seorang pelayan memberitahukan jika Zoya tengah berada dibawah.
Andita sedikit terkesiap pasalnya Zoya harus banyak beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya pasca terjatuh dari kuda seminggu yang lalu.
Tapi kenapa sahabat suaminya itu mendadak datang kemari? Apa dia sudah benar-benar pulih?
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Andita pun turun kebawah dan bertemu dengan Zoya. Mereka berbincang dihalaman belakang dan duduk dikursi yang menghadap kolam renang.
"Maaf Andita jika kedatanganku kemari mengganggumu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu juga keadaan calon keponakanku itu?" tanya Zoya. Netranya melirik kearah perut Andita yang masih rata.
"Kabarku dan calon keponakanmu cukup baik Zoya. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri? Bukankah seharusnya kau beristirahat untuk memulihkan kondisimu?" tanya Andita sembari mengusap lembut perutnya.
"Sejauh ini keadaanku sudah cukup membaik Andita. Aku bosan setiap hari harus berdiam diri di apartment. Maka dari itu aku memutuskan untuk datang kemari dan mengobrol denganmu disini." jawab Zoya.
__ADS_1
"Syukurlah jika keadaanmu sudah membaik, aku ikut senang mendengarnya. Jika kau bosan kau bisa datang kemari kapanpun yang kau mau Zoya! Anggap saja ini rumahmu sendiri."
Mendengar ucapan Andita, Zoya tersenyum penuh arti.
Tentu saja aku harus menganggap ini rumahku Andita. Karena Zidan adalah milikku!
"Terimakasih Andita! Kau sangat baik sekali."
Andita tersenyum simpul.
Kini pandangan Zoya beralih pada kalung berlian yang Andita kenakan. Zoya terpesona pada kalung tersebut karena kalung itu sangat cantik dan indah.
"Andita."
"Ya Zoya?!"
"Kalungmu sangat indah sekali!" Zoya menatap kalung itu penuh minat.
"Oh kalung ini. Ini hadiah pemberian dari Zidan. Dia memberikannya seminggu yang lalu sewaktu kita masih berada di villa."
Deg
Seketika hati Zoya terbakar mendengarnya.
Apa Zidan tidak salah memberikan kalung mahal dan indah itu hanya untuk gadis biasa seperti Andita?! Sungguh wanita itu tidak pantas memakainya!
"Boleh aku melihatnya sebentar Andita?! Aku sangat menyukai berlian. Aku ingin melihatnya lebih dekat." ucap Zoya. Tentu saja dibalik kata-katanya itu ia memiliki rencana lain.
"Tentu saja!" tanpa ragu Andita melepaskan kalung tersebut dan memberikannya pada Zoya.
"Sangat indah!" gumam Zoya dengan wajah berbinar.
Tiba-tiba Andita merasa ingin sekali buang air kecil. Andita pun pamit sebentar pada Zoya untuk pergi ke toilet.
Ketika punggung Andita semakin menjauh dan lenyap dari pandangan mata, raut wajah Zoya berubah menjadi dingin dan merah padam.
Ia menatap tajam pada kalung Andita yang berada ditangannya.
"Wanita dari kalangan biasa sepertimu tidak pantas memakai kalung semahal dan seindah ini Andita! Akan aku tunjukan dimana tempatmu sebenarnya!"
Perlahan Zoya berjalan ketepi kolam renang. Saat tinggal beberapa langkah, sekuat tenaga Zoya mengayunkan tangannya lalu melempar kalung Andita tanpa ragu. Dan..
Plung.
Kalung berlian itu pun jatuh mendarat kedasar kolam. Zoya tersenyum sinis menatapnya.
"Kau sudah tahu bukan? Dibawah sanalah tempatmu yang sesungguhnya Andita!"
"ZOYA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Deg
Zoya segera membalikan tubuhnya kebelakang hingga tatapannya kini bertemu dengan tatapan Andita.
"A-Andita?!"
.
.
Bersambung...
__ADS_1