
"Dingin... dingin...." ujar David berulang kali.
"Sini Bro, biar gue kasih lo selimut aja." ujar Daffa. "Udah deh, lo itu jangan manja dan lembek begini. Masa sih lo kedinginan aja sampai manja begitu. Atau, lo itu lagi modus ya" lanjutnya Daffa menembak dengan tepat alasan David.
"Sialan si Daffa! Awas aja, kalau Davina sampai tau rencana gue!" Ucap David di dalam hati.
Ya, David memang sengaja bilang kedinginan agar bisa di peluk oleh Davina. Tetapi, kenapa Mami dan sahabatnya itu tidak mengerti dengan kode yang ia minta.
"Na, mungkinkah suami kamu itu pengin kamu yang peluk." bisik Venus.
Kemudian, Davina kini sedang menatap kedua orang tuanya seolah sedang meminta pendapat.
"Na, lebih baik kamu yang coba peluk putra kesayangan Mami itu. Mungkin aja dia langsung baikkan gak merasa kedinginan lagi." ucap Mami Karina.
Davina pun mengangguk, menyetujui permintaan dari ibu mertuanya itu. Kemudian melangkah mendekat ke arah David
Sementara, David di dalam hati sudah bersorak gembira. Akhirnya, pengorbanan dirinya yang sudah terbaring selama delapan jam di ranjang rumah sakit tidaklah sia - sia.
Dan, saat Davina sudah berada di hadapan David ia mencoba mencondongkan tubuhnya dan mencoba untuk memeluk tubuh David.
"Apa kamu masih dingin?" tanya Davina sambil menatap wajah David.
"Sudah nggak." jawabnya senang.
"Kalau begitu, lepasin pelukannya David. Aku kan jadi sesak nafas sekarang." pinta Davina.
Namun, David masih memeluknya dengan begitu erat sekali seolah tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu, Bibi, Paman aku pamit pulang dulu ya." ucap Daffa yang tiba-tiba pamit untuk pulang lebih awal. Karena dia sudah sangat muak dan mual melihat drama dari David. Dan juga tubuhnya sangat lelah karena kemarin kurang tidur.
Karina dan Leon pun mengangguk.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah mau membantu Bibi, Daffa." ucap Karina sambil mengedipkan sebelah matanya.
Setelah Daffa sudah keluar dari ruangan David. Tak berselang lama, Papi Leon dan Mami Karina pun memutuskan untuk keluar begitu juga dengan Venus dan dokter gadungan itu juga ikutan keluar dari ruang rawat David. Ya, mereka tidak ingin menganggu kedua suami istri itu.
"Sayang, apa kmu ingin makan buah?" tanya Davina sambil duduk berhadapan dengan suaminya itu.
"Aku tidak mau."
"Emangnya kamu gak lapar?"
"Enggak, liat kamu aja udah cukup kok. Apalagi pas kamu tadi panggil aku dengan sebutan sayang." jawab David sambil menyelipkan rambut di telinga Davina.
__ADS_1
"Dasar gombal."
"Lagi pula aku itu gombal hanya sama kamu aja, sweetheart."
"Sweetheart?"
"Ya, itu panggilan sayang khususku untukmu, istriku yang paling aku cintai." jawab David sambil tersenyum senang.
Blush.
Pipi Davina langsung memerah setelah mendengar ucapan panggilan sayang dari David kepadanya.
"Kalau kamu mau memanggil aku dengan apa?"
"Tadi kan udah.."
"Jangan panggil sayang aja dong," protes David.
Ya, David tidak mau,jika hanya dirinya saja yang memanggil Davina dengan sebutan Sweetheart. Sedangkan Davina belum memiliki panggilan khusus untuk dirinya. Jadi, kesannya nanti hanya dirinya saja yang mencintai Davina.
"Na, kamu itu sebenarnya cinta atau nggak sih sama aku?"
"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyanya ingin tahu.
"Ihhhhh...kamu itu pasti salah dengar kali." sangkal Davina.
Mendengar ucapan dari Davina, David langsung terbengong. Ya, mana mungkin dirinya salah dengar tadi, karena saat dirinya berpura-pura menjadi koma tadi dia mendengar ucapan dari Davina dengan begitu jelas dan bahkan masih terngiang-ngiang di kepalanya itu.
Ia pun menyesal karena tidak merekam itu semua untuk di jadikan sebagai bukti kepada Davina, agar tidak bisa mengelak.
"Benar, kamu nggak pernah ngomong gitu?" tanya David sekali lagi untuk memastikannya.
"Iya," jawab Davina singkat.
"Ya udah. Kalau kamu masih nggak mau ngaku cinta ke aku. Lebih baik, aku nabrakin diriku ke tiang lagi." ujar David tiba - tiba, kemudian dia bermaksud untuk turun dari ranjang.
Bodoh amat kalau dirinya akan gegar otak atau pun langsung mati kalau dia benar - benar menabrakkan dirinya ke tiang sungguhan. Tetapi, David juga berharap agar dirinya tidak sampai mati.
"Ehhh...., jangan turun!" Seru Davina, saat melihat David akan turun dari ranjangnya.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh turun dari ranjang ini?" tanya David sambil mengerutkan alisnya.
Lidah Davina pun tiba - tiba menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan dari David. Tentunya Davina juga tidak ingin, jika David akan melakukan hal gila yang dapat membahayakan nyawanya lagi.
__ADS_1
"Sweetheart, kok kamu malah diam lagi? Ya sudah, kalau begitu aku mau minum obat sampai overdosis saja, mungkin saja kan aku bisa kembali koma lagi. Jadi, saat aku sedang koma nanti aku bisa mendengarkan lagi pengakuan cinta dari istriku, bagaimana? Kalau kamu mau mengakui pernyataan cinta kamu lagi aku gak bakalan berbuat hal yang bahaya lagi? Atau aku-"
"Stop. Iya, ya. Aku bakalan ngaku. Kalau aku itu sebenarnya udah cinta sama kamu. Apakah kamu sudah puas sekarang?" jawab Davina dengan ekspresi wajah yang memerah.
Mendengar jawaban dari sang istri, David sudah sedari tadi tidak berhenti tersenyum bahagia. Ya, di kepalanya masih terngiang dengan jelas ucapan dari sang istri, yang mengatakan jika Davina ternyata sudah mencintai dirinya. Bahkan, David sekarang sedang berpikir bagaimana caranya agar istrinya itu bisa secepatnya hamil.
"Papi, sini deh. Lihat tuh, putra kesayangan kita. Masa dia senyum - senyum sendiri sih? Udah seperti orang gila aja." ujar Mami Karina yang mengintip kemesraan Putra dan menantunya dari balik pintu.
"Di maklumi aja, Mi. Namanya juga lagi jatuh cinta. Kalau orang bule biasa menyebutnya dengan falling in love, hatinya sedang berbunga-bunga. Bukankah Mami dulu juga begitu saat jatuh cinta dengan Papi, iya kan?" Leon kini malah sedang menggoda Karina dan mulai menarik turunkan alisnya.
"Si Papi mulai Asbun lagi nih?"
"Eeh? Apa itu Asbun?" tanyanya ingin tahu.
Pasalnya, Leon selalu di buat bingung dengan singkatan kata dari sang istri.
"Ah, Papi. Gak gaul banget sih? Mendingan cari di Mbah google aja deh?"
"Sayang, memangnya kamu mau sampai kapan di rumah sakit ini?" tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
"Udah lah, Pi. Mending kita segera masuk keruangan David. Mami takut putra kita beneran gila nanti."
Mendengar ucapan dari sang istri Leon pun menghela nafas kasar. Pasalnya istrinya itu tidak menjawab pertanyaan darinya.
Kemudian Leon dan Karina pun masuk kedalam ruangan David. Dan saat itu David melihat kedua orang tuanya masuk kedalam ruangannya dan berkata, "Mami, mau sampai kapan David berada di rumah sakit ini?"
"Aduh, Mi. Telinga David jangan di jewer dong. Bisa putus nanti kalau setiap marah, Mami selalu jewer telinga ku." keluh David. Yang lagi - lagi mendapatkan jeweran dari ibunya.
********
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1