MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Chapter 15. Hal yang tidak terduga


__ADS_3

...****************...


Mama Lulu dan Dara yang mendengarnya sempat terdiam karena mendengar perkataan Arsen.


"Pak Arsen jangan bercanda ah Haha" ucap mama Lulu dengan tawa canggung nya


"iya nih" timbal Dara dengan senyum canggung nya


"Saya ga bercanda" ucap Arsen dengan wajah serius


Dara tidak bisa membedakan mana Arsen serius dan mana yang bercanda. Wajah Arsen itu datar macem teriplek.


"Yaudah gini aja, kalau emang pak Arsen mau nikah sama Dara boleh kok. Silahkan bawa orang tuanya buat ketemu saya sama papanya Dara" ucap mama Lulu dengan santai


Dara ingin sekali memarahi mamanya yang dengan santai membolehkan Arsen begitu aja.


Tapi hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Setelah pembicaraan itu Arsen belum membahas lagi kapan dan dimana tentang lamaran itu. Urusan kantor berubah menjadi padat, bahkan Dara jarang bertemu dengan Arsen karena Arsen lebih sering ditemani Robi.


Hari ini Dara menggantikan Robi untuk menemani Arsen meeting dengan klien. Selesai meeting mereka berdua menyempatkan diri untuk makan siang.


Arsen berada di depannya, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Arsen dari tadi.



Dara sesekali melirik Arsen yang ternyata dia juga sadar dari tadi Dara selalu memerhatikannya.


merasa jengah karena selalu di perhatiin, Arsen menoleh ke arah Dara. Dara yang merasa terciduk pun segera mengalihkan pandangannya.


"Kalau ada yang mau di tanya silahkan" ucap Arsen


"Engga kok" jawab Dara


"Saya tau kalau saya tampan tapi jangan di liatin terus" ucap Arsen dengan santai dan kepedean


"Kepedean dasar!" gerutu Dara


"Saya mendengarnya Adara!" tegur Arsen


Dara terdiam jika di tegur Arsen, tapi percayalah di hatinya Dara sudah memaki maki Arsen.


"Adara" panggil Arsen


Dara menoleh ke arah Arsen. Arsen memandangnya serius.


"Lusa saya ada urusan ke luar negri mungkin setelah saya kembali, baru saya akan bawa orang tua saya ke rumah kamu untuk bertemu dengan orang tua kamu" jelas Arsen panjang


"Ternyata Bapak serius tentang lamaran itu?" tanya Dara


Arsen menghembuskan nafas kesalnya.


"Kamu pikir saya bercanda!" Sarkas Arsen ke Dara


"Bukan.. "


"Saya ga pernah bercanda soal pernikahan sekali pun Adara" kesal Arsen dengan penekanan


"iya tau, tapi.. " ucapan Dara terhenti karena Arsen berlalu begitu saja

__ADS_1


"Ngambeknya kaya bocah! " gerutu Dara


Dara mau ga mau mengejar Arsen. Dara mengikutinya di belakang sedangan Arsen berjalan di depan tanpa memperdulikan Dara.


"pak arsen" panggil Dara tapi Arsen masih saja berjalan


"Pak Arsen! " panggil Dara dengan nada yang lebih tinggi tapi percuma aja tetap tidak di gubris


"AW!! " teriak Dara sambil men jongkok memegang kakinya dan menundukkan kepala


Arsen yang mendengar teriakan Dara pun menoleh ke arah Dara. Dengan cepat Arsen menghampiri Dara dan berjongkok juga menyamai Dara.


"Ada yang sakit? mana yang sakit" tanya Arsen sambil mencoba untuk mendongakkan kepala Dara


Dara terus menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Arsen.


"Dara" panggil Arsen


"Hahahaha" tawa Dara pecah, Dara mendongakkan kepala dan tersenyum. tanpa rasa bersalah ke arah Arsen


"Kamu bohongi saya?" tanya Arsen tidak percaya


"Abisnya pak Arsen di panggil tapi ga berhenti, kan saya capek ngejarnya" keluh Dara


Arsen nge bengis tidak suka "ini tidak lucu adara! " sentak Arsen yang cukup Dara berdiam


Arsen kembali berlalu begitu aja meninggalkan Dara yang masih menjongkokan badannya.


"ngambek lagi" keluh Dara ke diri sendiri


...****************...


"Ra, Arsen kenapa sih? perasaan semenjak pulang dari makan siang dia badmood mulu" ucap Robi yang akhirnya cape juga melihat Drama ini


"Ga tau pak, ngambeknya bener bener kaya bocah" ucap Dara bodo amat


Dan Benar aja ngambeknya kaya bocah. Sampai Arsen berangkat ke luar negri Dara dan Arsen tidak baikan alias musuhan. Dara pun ga mau ambil pusing, cukup pekerjaannya aja yang bikin pusing jangan sampai percintaannya pun rumit.


"Akhirnya beres juga" ucap Vivi salah satu rekan kerja Dara


"iya nih, capek banget plus kok gua pusing yah"keluh Dara sambil memijat batang idungnya.


" Muka mba Dara pucet loh mba" ucap Vivi memandang Dara


"Masa vi?" ucap Dara sambil mencoba memegang wajahnya sendiri


"Oh ternyata gua demam" ucap Dara santai


" Bisa yah lu mba lagi demam meeting juga" ucap Vivi takjub


"Namanya juga kerjaan Vi" jawab Dara singkat


Ketika Dara mau jalan tiba tiba ngegeleong kepala Dara seperti putar, untung aja Vivi cepat cepat menahan Dara biar tidak jatoh.


"Mendingan mba istirahat aja, pak Arsen juga lagi ga ada kan" saran Vivi


"Tapi gua harus serahin file ini lewat fax" ucap Dara

__ADS_1


"Biar gua aja mba" tawar Vivi


"Serius vi? " tanya Dara ga enak


"Selow mba, nge fax mah gampang gua bisa haha" ucap Vivi santai


Akhirnya gua pulang naik ojek online. Setelah sampai kontrakan Dara langsung membaringkan tubuhnya di kasur tanpa berminat untuk berganti pakaian.


Dara mengerjabkan matanya, Arah pandangannya terarah ke luar jendela sana yang di luar terlihatnya seperti sudah gelap.



Dara merasakan kepalanya begitu berat, dia mencari ponselnya sesudah mendapatkan ponselnya Dara melihat banyak panggilan dari Arsen yang tidak terjawab. Tidak mau ambil pusing Dara kembali memejamkan matanya.


**dug!


dug**!


Suara gedoran pintu terdengar di telinga Dara, hanya saja mata Dara tidak bisa terbuka. Hingga kesadaran Dara hilang dan yang Dara terakhir dengar suara dobrakan pintu dan teriakan yang memanggil namanya.


"DARA!!"


...****************...


Pemandangan yang Dara lihat pertama kali ketika membuka mata adalah langit langit dari ruangan sebagai putih. Dan pandangan Dara melihat inpusan yang menggantung dan mengalir ke selang yang tertancap di tangannya.



Dan Dara melihat ke sisi kasur. Muka Arsen yang serius sedang memandang ponselnya. sepertinya dia sedang mengerjakan pekerjaannya.



"Hmmmm" lenguh Dara ketika berusaha untuk mengganti posisinya untuk jadi duduk


Arsen menoleh ke arahnya dengan sigap Arsen menahan Dara agar tetap berbaring di kasurnya.


"Masih ada yang sakit? Saya panggil Dokter dulu" ucap Arsen sebelum Arsen pergi tangan Arsen di tahan oleh Dara. Dara menggelengkan kepalanya tanda dia baik baik saja, Arsen mengerti maksud Dara. Dia kembali mengelus kepala Dara dengan tangan yang menggenggam tangan Dara.



"Kenapa ga kasih kabar kalau kamu sakit?" tanya Arsen


"Aku aja ga ngerasa sakit pak" lirih Dara


"Gimana ga ngerasa? kamu demamnya tinggi Adara" keluh Arsen


"jangan marahin saya pak" kesal Dara


"Kalau kaya gini, kita percepat saja. Setelah kamu pulang dari rumah sakit, saya akan bawa orang tua saya ketemu sama orang tua kamu" tegas Arsen


Dara merengut tidak suka, Dia tidak suka yang dadakan seperti ini. Dia juga butuh persiapan.


"Jangan dadakan kaya gini" keluh Dara


"Ini ga dadakan Dara, pokoknya harus! " ucap Arsen tegas


Kalau udah kaya gini Dara ga bisa lagi ngelak, bisa bisa Arsen ngambek lagi. Dara lagi ga mood buat ngadepin Arsen, soalnya Arsen kalau ngambek resek.

__ADS_1


tbc


©nukeya, 2022


__ADS_2