MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Terkulai Lemas


__ADS_3

Zidan terhenyak ketika Zoya menyebut namanya dalam keadaan tidak sadar.


Sesaat Zidan memejamkan mata dan menarik nafas dalam sebelum akhirnya Andrew menoleh kearahnya dengan tatapan yang begitu tajam.


Begitupun dengan Stella dan Andita. Mereka yang juga terkejut saat Zoya memanggil nama Zidan, dan langsung mengalihkan pandangan mereka pada sosok pria tampan yang memiliki nama tersebut.


Zidan memperhatikan sahabat dan istrinya satu persatu. Tatapan mereka seolah menuntut sebuah jawaban.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Seolah aku baru saja membuat sebuah kesalahan besar?!" tanya Zidan dingin. Netranya tak kalah tajam menatap kearah Andrew, Andita dan Zoya secara bergantian.


"Kau tidak dengar barusan Zoya menyebut namamu Zidan?!" Andrew menekan setiap kata-katanya.


"Lalu? Apa masalahnya jika dia menyebut namaku Andrew?! Apa kalian lupa bahwa aku yang menyelamatkannya?! Sudah pasti dia hanya mengingat kejadian terakhir yang menimpanya sebelum dia tidak sadarkan diri. Karena itu dia menyebut namaku tanpa sadar!" jelas Zidan mencoba mengontrol keadaan disekitarnya.


Stella yang mendengar penjelasan Zidan pun mengangguk setuju.


"Yang dikatakan Zidan ada benarnya Andrew. Aku pernah menemui kejadian seperti ini pada pasien dirumah sakit yang tengah tidak sadarkan diri. Tanpa sadar mereka mengigau, seperti orang tidur yang tengah bermimpi. Mereka akan menyebut apa saja yang mereka alami didunia alam bawah sadarnya dan mengucapkannya secara tiba-tiba." ucap Stella berusaha memberi pengertian.


Andrew mencoba mencerna perkataan Stella. Kemudian ia mengusap wajah kasar dan membuang pandangannya kesembarang arah. Lalu kembali menatap kearah Zidan.


"Maafkan aku, Zidan! Karena rasa cemburu dan khawatirku pada Zoya, aku sudah berpikiran negatif padamu. Sampai aku lupa bahwa kau yang menyelamatkannya. Sekali lagi maaf dan terimakasih!" ucap Andrew.


Zidan melepaskan rangkulannya pada bahu Andita dan berjalan selangkah maju mendekati Andrew, kemudian menepuk pundak sahabatnya itu.


"Tidak apa! Aku mengerti perasaanmu!"


Setelah itu pandangan Zidan beralih pada Zoya yang masih terpejam. Ia menatap wanita itu lekat-lekat.


Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan Zoya! Kenapa kau mengatakan itu disaat aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu?!


Jika semua orang tahu apa yang kau ucapkan padaku sebelum kau pingsan, kau akan membuat keadaan menjadi rumit.


*****


"Huekk..huekk!!" lagi-lagi Andita tidak bisa menahan gejolak pada perutnya. Ia memuntahkan semua makanan yang ditelannya tadi pagi saat sarapan.


Apa dia benar-benar keracunan sup kepiting yang dimakannya kemarin malam?! Ah rasanya tidak mungkin. Mengingat dia sudah memasak sup kepiting itu dengan matang.


Lalu kenapa dia masih saja mual dan pusing? Padahal tadi pagi Andita juga sudah meminum obat pereda mual agar tidak kembali muntah. Sepertinya obat itu tidak bekerja secara efektif, pikirnya.


Saat Zidan melihat Andita meninggalkan kamar Zoya dengan terburu-buru Zidan segera mengejarnya.


Zidan nampak panik dan khawatir. Ia takut jika Andita akan marah karena sang istri baru saja mendengar namanya disebut oleh Zoya. Wanita yang dulu pernah dicintainya.


Zidan mencari-cari keberadaan Andita disetiap sudut kamar, namun ia tak menemukan istrinya diruangan itu.


Kemudian netra Zidan beralih pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dengan cepat Zidan melangkahkan kakinya kesana.


Dan alangkah terkejutnya Zidan saat mendapati pemandangan didepan matanya.


Dimana Andita tengah terduduk lemas dilantai kamar mandi dengan posisi miring sambil menyandarkan kepala dan tubuhnya pada dinding keramik itu. Tangannya memeluk perut dengan tubuh sedikit bergetar.


"ANDITA!!!" teriak Zidan.

__ADS_1


Pandangan Andita mengabur bersamaan dengan Zidan yang menerobos masuk kedalam kamar mandi.


Secepat kilat Zidan meraih kepala Andita yang nyaris merosot mengenai lantai. Kemudian Zidan segera menggendong dan membawa tubuh Andita keatas ranjangnya.


"KEN!! STELLA!!" panggil Zidan.


Ia memanggil kedua nama itu dengan suara cukup keras. Hingga Ken dan Stella yang baru saja selesai membahas tentang kondisi Zoya langsung terlonjak kaget dari duduknya saat mendengar suara Zidan yang menggelegar.


Bahkan Andrew yang tengah larut dalam kesedihannya pun terkejut dan menoleh kearah pintu ketika mendengar teriakan Zidan.


"Ada apa dengan Zidan? Kenapa dia berteriak seperti itu?!" Stella memandang Ken dengan penuh tanda tanya.


"Sepertinya terjadi sesuatu pada Nona! Aku akan melihatnya!"


"Aku ikut!"


Ken dan Stella segera berlari kelantai dua dimana letak kamar Zidan dan Andita berada.


Didalam kamar, Zidan terus menggosok-gosok tangan Andita yang terasa dingin.


"Sayang! Bangunlah! Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?!" sesekali Zidan mengusap pipi Andita lembut agar Andita membuka matanya.


Lalu kembali menggosokkan tangan Andita dengan kedua telapak tangannya.


Tiba-tiba Ken dan Stella menerobos masuk kedalam kamar pribadi Zidan yang sudah terbuka.


"Tuan! Apa yang terjadi?!" tanya Ken panik.


"Ada apa dengan Andita, Zidan?! Kenapa wajahnya terlihat pucat?!" Stella mendekat kearah ranjang lalu duduk ditepiannya. Sementara Ken berdiri tidak jauh dari samping Zidan.


Zidan segera menghapus sudut matanya yang berair karena tak kuasa melihat kondisi sang istri yang tiba-tiba melemah dan tak sadarkan diri.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya! Aku menemukannya sudah terkulai lemas dikamar mandi dan saat itu juga dia pingsan." lirih Zidan.


Stella dan Ken nampak iba melihat kesedihan Zidan. Stella langsung bangkit dari duduknya.


"Aku akan mengambil alat kedokteranku dikamar Zoya, setelah itu akan memeriksa Andita!" ucap Stella.


Ia segera bergegas keluar menuju kamar Zoya yang berada disebelah kamar Zidan. Sepeninggal Stella, Zidan terus menatap wajah istrinya itu dengan sendu.


"Andita kumohon sadarlah!"


*****


Dengan langkah terburu-buru Stella masuk kedalam kamar Zoya tanpa mengetuk pintu. Begitu berada didalam kamar tersebut, Stella terkejut saat melihat Zoya yang sudah membuka matanya.


"Zoya! Kau sudah sadar?!" tanya Stella.


Zoya dan Andrew yang awalnya tengah terlibat perang dingin menghentikan aktifitas mereka ketika mendengar suara pintu yang tiba-tiba dibuka seseorang.


Netra keduanya beralih dan melihat siapa yang datang. Tidak lama mereka tersadar saat Stella bertanya.


"Sudah Stell." jawab Zoya dengan suara super pelan.

__ADS_1


Stella tersenyum senang lalu menghampiri Zoya.


"Syukurlah jika kau sudah sadar! Kami sangat mengkhawatirkanmu. Terutama Andrew!" sekilas netra Stella melirik kearah Andrew.


Zoya hanya tersenyum simpul mendengarnya. Yang Zoya inginkan bukan Andrew yang mengkhawatirkan dirinya tapi Zidan.


Kemana lelaki itu? Lelaki yang baru saja menyelamatkannya dari maut. Apa Zidan tidak mengkhawatirkannya? Padahal Zoya ingat sebelum dia pingsan, dia mengungkapkan perasaannya pada Zidan.


Namun Zoya hanya bisa bertanya dalam hati. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya dihadapan semua orang.


"Oh ya Stell, beberapa waktu lalu aku mendengar Zidan berteriak kencang memanggilmu dan juga Ken. Apa terjadi sesuatu dengannya?!" tanya Andrew penasaran.


Awalnya Andew akan menghampiri Zidan ketika sahabatnya itu berteriak. Namun tidak lama Zoya melenguh dan perlahan membuka matanya hingga membuat Andrew mengurungkan niatnya dan lebih memilih menemani Zoya.


"Andita pingsan Andrew!" jawab Stella.


Seketika Andrew dan Zoya membulatkan matanya.


"Pingsan?" lirih Zoya.


"Tapi kenapa Andita tiba-tiba pingsan?! Bukankah barusan dia baik-baik saja?!" sambung Andrew yang tak kalah terkejut.


"Entahlah! Itu juga yang menjadi pertanyaanku. Yang aku lihat wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya begitu lemas. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Andita." sejenak Stella terdiam. Kemudian ia teringat sesuatu.


"Ah iya, aku harus segera memeriksanya! Maaf barusan aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, aku ingin mengambil alat kedokteranku yang tertinggal disini."


Stella segera merapikan alat kedokterannya yang tergeletak diatas nakas. Setelah selesai kemudian Stella menatap Zoya sambil mengulurkan tangannya yang terdapat obat pereda nyeri.


"Minumlah ini! Obat ini akan membantu meredakan rasa sakit didalam tubuhmu! Sebelumnya aku sudah memeriksa keadaanmu. Lukamu tidak terlalu serius, hanya terdapat banyak memar dan aku sudah mengoleskan salep dibagian tubuh yang memar itu."


Tangan Zoya ingin meraih obat yang disodorkan Stella, namun Andrew lebih dulu mengambilnya.


"Aku pastikan Zoya akan meminumnya!"


"Umhh..Kau memang calon suami yang sangat sigap Andrew! Aku harap kau dan Zoya berjodoh dan kalian cepat menikah!"


Ucapan Stella langsung diamini oleh Andrew. Sementara Zoya hanya tersenyum kecut mendengarnya.


Setelah mengatakan itu Stella pun segera pamit dan bergegas kembali kekamar Zidan untuk memeriksa Andita.


Sementara Zoya menatap nanar pintu kamarnya yang sudah tertutup.


Jadi itu alasannya Zidan tidak berada disampingku? Semua karena Andita. Aku harap wanita itu mengidap penyakit yang mematikan agar dia segera menyingkir dari hidup Zidan untuk selama-lamanya.


.


.


Bersambung...


Haii readersku sayang.. Sebentar lagi hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin dari author πŸ™


Dan buat kalian yang pada mudik hati-hati dijalan yaa, semoga selamat sampai tujuan! Love you all β€πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2