
Begitu tiba dikediamannya, Zidan disambut hangat oleh semua anggota keluarganya. Ada ayah, ibu, mertua dan adik iparnya.
Beberapa rekan bisnisnya pun turut hadir disana untuk sekedar mengucapkan selamat atas kesembuhan dan kepulangan pengusaha muda itu dari rumah sakit.
Zidan begitu terharu mendapat kejutan kecil tersebut. Semua rekan bisnis Zidan mendoakan agar kondisi lelaki itu segera pulih total dan bisa kembali lagi beraktifitas seperti biasa. Zidan dan Andita mengamini doa-doa mereka.
Tuan Wildan menjamu para tamu yang datang. Sementara Nyonya Liyana dan Wulan, (Ibu Andita) mempersiapkan kamar untuk Zidan.
Setelah jamuan makan siang usai, Zidan berbincang-bincang sebentar dengan rekanan bisnisnya. Tidak lama kemudian para tamu itu pun pamit pulang. Disusul dengan semua anggota keluarga.
Mereka mengerti jika Zidan harus banyak beristirahat. Karena kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Hari sudah mulai malam. Saat ini Zidan dan Andita sudah berada dikamarnya. Zidan berada diatas kasur sambil membuka laptop.
Ia ingin melihat perkembangan perusahannya yang dikendalikan oleh Ken selama ia koma. Sementara Andita tengah sibuk membenahi pakaian Zidan di walk in closet.
Setelah selesai merapihkan pakaian suaminya, Andita menghampiri Zidan. Andita merangkak naik keatas ranjang lalu duduk disampingnya.
Cupp
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi lelaki berparas tampan itu. Sekilas Zidan menoleh dan tersenyum pada Andita, kemudian netranya kembali beralih pada layar laptop dihadapannya.
Dengan manja Andita mengalungkan kedua tangannya pada leher Zidan dan menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
"Siang tadi kau memarahiku karena aku memainkan ponsel saat sedang bersamamu! Tapi lihatlah sekarang! Kau melakukan hal yang sama denganku! Bedanya kau menatap laptop bukan ponsel. Haruskah aku memarahimu juga karena kau mengabaikanku?!" Tanya Andita.
Zidan tertawa. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada kepala Andita sambil mengusel-uselnya.
"Sebentar lagi sayang! Aku sedang mengecek laporan perusahaan."
"Kau kan belum sepenuhnya pulih Zidan! Kepalamu bisa sakit jika kau sudah memikirkan pekerjaan!" Gerutu Andita.
"Hmm, baiklah-baiklah! Demi dirimu aku akan mematikan laptopku!"
Andita tersenyum senang saat Zidan mendengarkannya. Kemudian ia berbaring diatas paha lelaki itu.
"Sudah puas?!" tanya Zidan seraya mengecup kening Andita.
Andita mengangguk dan tersenyum puas.
"Zidan, bagaimana rasanya koma?" Tanya Andita penasaran.
"Kau sungguh ingin tahu?!"
"Hemm."
"Rasanya sungguh menyiksa! Aku tidak bisa merasakan apapun. Aku tidak bisa melihat wajahmu, tidak bisa menyentuhmu dan tidak bisa mendengar suaramu." Zidan memainkan jemarinya pada wajah Andita.
"Perasaanmu sendiri bagaimana selama aku tinggal koma? Apa kau kesepian?" Tanya Zidan.
"Hemm, tentu. Aku merasa kesepian dan tersiksa Zidan. Aku sungguh takut jika kau tiba-tiba meninggalkanku. Hampir setiap hari aku menangis disampingmu, berharap kau akan sadar. Aku seperti orang bodoh yang kehilangan arah. Sungguh menyedihkan!" Jawab Andita jujur. Ia mengingat hari-hari menyedihkan yang dilaluinya tanpa Zidan.
Zidan mengusap lembut kepala Andita.
"Mulai sekarang aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi Andita!" Sekilas Zidan mencium bibir Andita.
__ADS_1
"Janji?!" Andita mengangkat jari kelingkingnya kehadapan wajah Zidan.
"Janji!" Zidan menautkan jari kelingking Andita dengan jarinya.
"Oh ya, kemarin Paman Bima menghubungiku. Dia mengucapkan terimakasih karena kau sudah memberinya tempat tinggal dan kesempatan untuk bekerja diperusahaanmu. Paman Bima sangat senang menerimanya."
"Benarkah?"
"Hemm."
"Syukurlah jika dia senang. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk semua jasanya karena sudah berusaha melindungi mendiang Ayahmu."
Andita cukup terharu mendengar ucapan Zidan. Ia masih tidak percaya bisa dipertemukan dengan laki-laki sebaik dan sesempurna suaminya ini.
"Zidan, terimakasih untuk segalanya. Kau begitu baik padaku! Sementara aku belum bisa memberikan apapun padamu." Andita mengusap lembut rahang tegas Zidan dengan wajah sendu.
"Kenapa kau bicara seperti itu Andita? Kau saja sudah sangat berarti dihidupku! Aku tidak butuh apapun lagi."
"Sungguh?!"
"Hemm, Sungguh!"
"Aku jadi penasaran dengan kehidupanmu. Apa sebelum diriku, pernah ada seseorang yang lebih berarti dihidupmu Zidan?"
Zidan terkesiap mendengar pertanyaan Andita. Ia memalingkan netranya kearah lain. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya pernah memiliki perasaan pada Zoya.
"Zidan?"
"Hemm."
Zidan menarik nafas dalam, lalu menatap netra Andita lekat-lekat.
"Ya tentu saja ada. Tapi itu masalalu. Sekarang dihidupku hanya ada dirimu!"
Andita tersenyum. Namun tiba-tiba ia teringat Zoya yang memeluk dan mencium Zidan saat lelaki itu tengah koma. Andita jadi penasaran hubungan persahabatan seperti apa antara suaminya dan sahabat perempuannya itu.
"Zidan bagaimana hubunganmu dengan Zoya? Maksudku, apa kalian sudah lama saling mengenal?"
Kenapa Andita jadi membahas Zoya?!
"Ya, kami sudah lama saling mengenal. Aku, Zoya dan Andrew tumbuh bersama. Kami bersahabat sejak kecil."
"Oh begitu rupanya."
"Memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Zoya?"
"Umm..tidak! Tidak apa-apa!"
*****
Stella telah sampai dikediaman Zidan. Seperti biasa dokter cantik itu akan memeriksa keadaan sahabatnya.
Sebenarnya Stella agak kesal, semenjak menerima tawaran Tuan Wildan untuk mengurus kondisi putranya itu jadwal kerjanya jadi bertambah. Hingga dia tidak memiliki waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Awalnya Stella ingin menolak, tapi ia merasa tidak enak dengan Tuan Wildan yang sudah banyak membantu keluarganya.
__ADS_1
Ya, meskipun Zidan membayar jasanya mahal tapi tetap saja dia tidak memiliki kebebasan.
"Jadi ini kediaman putra Tuan Wildan?!" Tanya seorang pria yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Stella.
Pagi ini Stella diantar oleh pria itu karena mobilnya mogok dan harus masuk bengkel.
"Yups! Apa kau ingin mampir?!" Stella melepaskan seat beltnya dan bersiap akan turun dari mobil.
"Tidak. Lain kali saja!"
Stella sudah turun dari mobil disusul dengan pria itu.
"Terimakasih ya! Kau sudah mau mengantarku! Aku jadi merepotkanmu!" Ucap Stella sambil merapihkan rambutnya.
"Tidak apa-apa sudah tugasku untuk menjaga gadis manis yang menyebalkan ini!" Sahut pria itu seraya mengacak-acak rambut Stella yang baru saja dirapihkan.
"Hish kau ini usil sekali!" Gerutu Stella. Tangannya memukul bahu pria itu.
Sementara pria itu tertawa melihat wajah Stella yang kesal karena ulahnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu Stell! Hari ini aku ada operasi, jadi aku harus sesegera mungkin sampai di rumah sakit!"
"Hmm baiklah, hati-hati dijalan! Semoga operasimu sukses ya!"
Stella memeluk pria itu. Dan pria itu pun membalas pelukan Stella.
Setelah mobil pria itu pergi, Stella segera masuk kedalam kediaman Zidan. Ia berjalan dengan santainya. Wajahnya pun terlihat senang.
Namun sepertinya perasaan berbeda tengah dirasakan oleh sesosok pria yang memperhatikan Stella sejak tadi.
Rahang Ken seketika mengeras saat melihat Stella memeluk pria yang dilihatnya waktu itu di rumah sakit. Dadanya bergemuruh seolah ia tidak rela jika wanitanya disentuh pria lain.
Tunggu! Wanitanya?!
Sejak kapan Ken menganggap Stella wanitanya? Padahal selama bertahun-tahun ini dia mati-matian untuk menghindari Stella. Meskipun gadis itu terus mengejarnya.
Selama ini Ken selalu mengatakan jika hubungan dan perasaannya pada Stella telah usai. Padahal nyatanya tidak seperti itu.
Jauh dilubuk hatinya Ken masih menyimpan rasa pada Stella. Hanya saja ia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan dokter cantik itu.
Apalagi dulu Ken tidak sengaja mendengar perbincangan Ayah Stella dan Tuan Wildan yang ingin menjodohkan putra putri mereka.
Dan hal itulah yang membuat Ken sadar diri. Ia tahu siapa dirinya dan siapa Stella. Maka dari itu Ken mengakhiri hubungannya tanpa alasan yang jelas.
Semenjak penolakan Ken pada Stella saat dirumah sakit, sikap Stella berubah drastis padanya. Stella sudah tidak lagi mendekati Ken. Bahkan saat mereka bertemu pun Stella nampak tidak acuh. Dan itu membuat Ken merasa kehilangan.
Lalu bagaimana sekarang? Apa dia harus mengubur egonya atau menumbuhkan kembali perasaannya pada Stella setelah apa yang dilihatnya barusan?
Stella yang melihat Ken tengah berdiri menatapnya dengan tatapan sulit diartikan mencoba untuk mengabaikannya. Ia berjalan melewati lelaki itu. Namun tiba-tiba Ken mencekal tangannya.
"Aku ingin bicara denganmu!"
.
.
__ADS_1