
PLETAK.
Venus menjitak kepala Daffa.
"Aww...," ringis Daffa.
"Bar - bar lo ya, Ve."
"Otak lo emang harus di bersihkan pakai rinso dan bayclin biar bersih dan nggak seenaknya nyuruh gue tidur sama lo. Lo kira gue cewek apaan, Hah?!"
"Ya ampun, Ve. Lo itu salah pengertian kali. Gue itu minta tidur sekamar sama lo, biar lo bisa ngobatin luka gue, bukannya mau mengajak bercinta. Lagian setiap gue lagi sakit entah kenapa selalu bermimpi buruk kalau tidur sendirian." ucap Daffa menjelaskan.
"Tapi jangan macem - macem ya nanti!"
"Iya, iya. Lagian lo itu bukan tipe gue banget." cetus Daffa dengan nada yang meledek memperhatikan Venus dari atas sampai bawah.
"Apa lo lihat - lihat!"
"Datar semua. Jadi lo nggak perlu takut, Ve." kekeh Daffa.
***
Saat Davina masuk kedalam kamar sambil membawa air kompresan. Ia melihat David yang masih memejamkan matanya.
"Terima kasih, Kancil." bisik Davina sambil mengopres bekas luka tonjokan yang David terima.
Ya, jika tadi David dan Daffa tidak datang untuk menolong mereka, entah apa yang akan terjadi pada dirinya dan juga Venus tadi.
Dalam hati David tersenyum bahagia, setidaknya pengorbanannya tidak sia - sia. Walaupun tadi pagi Davina bilang membencinya tapi sekarang David bisa merasakan jika Davina sedang khawatir kepada dirinya.
Sepertinya ia rela untuk sakit terus asalkan Davina mau berada di sampingnya.
Saat ia tak lagi mendengar pergerakan dari Davina. David pun perlahan mulai membuka matanya dan mengelus pipi istrinya.
"Aku akan selalu ada untukmu, Na. I love you," bisik David pelan.
***
"Akhhhh...." teriak Venus saat tangan Daffa sudah melingkar di atas perutnya. Seingatnya, semalam ia tidur di sofa karena Daffa sama sekali tidak mau mengalah dengannya. Ia bahkan tidak di izinkan oleh Daffa untuk keluar dari kamar dan yang lebih parahnya lagi Daffa mengunci pintu kamar dan menyimpan kunci pintu kamar di kantong celananya.
Sepanjang malam ia merutuki kebodohannya karena sebelumnya mau saja mengikuti perkataan David. Venus pun mencoba untuk menggeser tangan Daffa yang melingkar di atas tubuhnya. Tapi tangan Daffa seperti ada lem nya karena tidak bisa tergeser dengan begitu mudahnya.
Akhirnya terlintas sebuah ide di benak Venus. Agar tangan Daffa segera menyingkir dari tubuhnya yaitu dengan cara menggigit tangannya.
__ADS_1
"Awhhhh...." pekik Daffa saat merasakan sakit di tangannya. Dengan cepat ia pun membuka matanya.
"Dasar cewek bar - bar! Sudah berani ya lo itu gigit tangan gue!" Bentak Daffa dengan mata menatap tajam ke arah Venus.
"Sorry. Tapi tadi gue sengaja. Habisnya tadi tangan lo itu melingkar di atas perut gue." ucap Venus dengan nada sedikit ketakutan. Saat melihat kilat kemarahan terlihat jelas di mata Daffa.
Karena masih merasakan kesal dengan tingkah bar - bar Venus yang sudah berani menggigit tangannya hingga memerah membuat Daffa ingin memberikan pelajaran ke Venus. Dan terbesitlah sebuah ide nakal di otaknya.
Tiba - tiba saja Daffa langsung mencodongkan wajahnya mendekat ke arah wajah Venus. Dan dari jarak dekat seperti itu mereka berdua bisa merasakan deru nafas satu sama lainnya.
Tanpa bisa di hidari lagi oleh Venus, Daffa sudah menautkan bibir mereka dan ia menekannya lebih lama dan lebih dalam. Sedangkan Venus berusaha untuk melepaskan tautan bibir Daffa pada bibirnya.
Karena ini pertama kalinya bagi Venus mendapatkan ciuman jadi dia sedikit kaku dan tidak tahu cara melepaskannya. Namun berbeda dengan Daffa yang sudah sangat mahir, baginya tidak sulit untuk melakukan hal seperti ini. Apalagi di lakukan pada pagi hari membuat tubuh bagian bawahnya ikut ON seketika.
Saat lidah Daffa mulai menyelusup masuk kedalam mulut Venus, di saat itulah Venus mengigit lidahnya sehingga tautan bibir mereka terlepas begitu saja.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah tampan Daffa.
"Dasar pria kurang ajar!" Seru Venus sambil memegang bantal dan melemparkannya di wajah Daffa, lalu ia beranjak turun dari ranjang dan beruntung pintu kamar tidurnya sudah tidak lagi di kunci, jadi Venus bisa keluar langsung.
Sedangkan Daffa yang mendapatkan tamparan dari Venus masih terbengong seketika sebelum seringai muncul di bibirnya.
"Jadi kita impas, Ve." gumam Daffa saat melihat Venus keluar dari kamar.
***
Ya, David tidak bisa tidur semalaman karena ingin memandangi wajah Davina sampai subuh hingga memutuskan untuk berenang.
Setelah selesai mandi dan memakai kembali bajunya yang semalam dia pakai. David langsung membaringkan dirinya di samping Davina. Sambil memandangi wajah cantik istrinya itu.
Saat dirinya sedang sibuk memandangi wajah Davina terdengar suara ketukan pintu di kamar tidurnya.
"Siapa sih, yang sudah ketuk pintu kamar pagi - pagi begini! Kalau yang ngetuk asisten langsung gue kasih pesangon nanti. Suruh langsung pulang kampung dan tidak usah balik lagi!" Gerutu David kesal di dalam hati.
Dan di karenakan David masih dalam mode akting, jadi tidak memungkinkan untuk David membuka pintu kamarnya sendiri.
"Ugh, aku kesiangan bangun ternyata." ucap Davina sambil mengucek matanya.
Kemudian Davina melihat ke arah samping. Ia melihat David yang masih tertidur. Kemudian Davina pun turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Saat ia membuka pintu kamarnya, sudah ada Venus yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan raut wajah yang cemberut.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, Na. Sumpek aku di sini. Ada hantu yang gangguin aku." seru Venus.
"Hantu? Mana mungkin ada hantu di rumah ini, Ve?" tanya Davina bingung.
"Ada pokonya. Sekarang aku mau pulang. Dan sekalian aku mau curhat sama kamu, Na."
"Tapi David bagaimana? Dia masih tidur? Kita pulangnya nanti ya kalau David udah bangun."
"Tinggalin aja, Na. Karena aku butuh kamu sekarang, Na " pinta Venus.
"Sialan kamu, Ve." geram David di dalam hati. Tentu saja David mendengar pembicaraan Venus dan Davina sedari tadi dengan mata dan telinga yang menajam.
David pun sudah bertekad agar tidak membiarkan istrinya itu pulang hari ini. Karena ia masih membutuhkan waktu berdua dengan Davina. Bila perlu ia tidak akan berangkat ke kantor atau melihat ponselnya selama Davina ada di sampingnya.
"Ehm, tapi bagaimana ya, Ve? Aku nggak tega ninggalin David yang lagi sakit?"
"Please..." ucap Venus dengan tatapan yang memohon.
"Oke, tunggu sebentar. Aku bangunin David dulu ya karena mau ijin pulang."
"Ya, sudah. Kalau begitu aku tunggu di ruang tamu, Na."
Dan Davina pun berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping ranjang dan mengamati muka David yang terlihat masih sakit.
"Dasar Presdir bodoh!" Ucap Davina pelan.
Kemudian Davina meraih tangan David dan berkata." Aku pulang dulu ya. Besok pagi aku janji, bakalan datang lagi buat jenguk kamu."
Di dalam hati, David memaksa otaknya untuk terus berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menahan Davina agar tidak pergi. Kemudian dia mendapatkan satu ide saat dia teringat pernah menonton drama Korea. Biasanya dengan cara mengigau, kalau ada adegan si prianya yang lagi sekarat dan si ceweknya beneran suka atau cinta pasti langsung di ungkapin. Pikirnya.
Dan David mungkin harus mempraktekkannya sekarang apa yang ia pernah liat di dalam drama Korea itu.
"Davina, jangan pergi. Aku mohon. Aku takut sekarang." ucapnya dengan lirih dan di bumbui dengan gerakan mata yang masih tertutup dan ekspresi wajah yang gelisah seperti seseorang yang sedang mengigau sungguhan.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.