
Sebuah mobil mewah telah sampai di depan sebuah butik milik seorang perancang terkenal yang menjadi vendor baju pengantin untuk Zidan dan Andita. Zidan dan Andita segera turun dari mobil dan mulai memasuki butik itu. Sementara Ken menunggu dimobil.
Ketika memasuki butik tersebut, mereka langsung disambut hangat oleh pemilik butik. Karena pemilik butik sudah tahu dari karyawannya siapa orang yang akan datang sore ini dan memakai jasa rancangan gaun pengantinnya itu.
"Perkenalkan Tuan, saya Fennyta! Panggil saja saya Nyta. Saya pemilik dari butik ini, yang akan menjadi vendor baju pengantin untuk anda!" Sapanya ramah seraya mengulurkan tangannya pada Zidan.
Suaranya terdengar sedikit manja. Mata cantik Nyta tak berkedip ketika menatap Zidan, ia begitu terpesona dengan ketampanan pria dihadapannya.
Maklum wanita karir itu masih lajang. Melihat pria tampan dan mapan, darahnya langsung berdesir. Sementara Andita yang melihat itu, malah sebaliknya dadanya tiba-tiba terasa panas.
Zidan pun membalas uluran tangan Nyta dan tersenyum pada gadis itu. Andita langsung memalingkan wajah kesembarang arah yang masih bisa ditangkap oleh ekor mata Zidan.
"Saya Zidan, perkenalkan ini calon istri saya Andita!" Tangan kiri Zidan merangkul bahu Andita, sontak membuat Andita terperanjat.
Begitupun dengan Fennyta. Dia sama sekali tidak percaya jika gadis yang berdiri disamping kiri kliennya itu adalah calon istrinya.
Nyta melihat penampilan Andita dari atas sampai bawah. Dirinya yakin jika gadis dihadapannya itu bukanlah gadis yang berasal dari kalangan atas. Sementara Nyta tahu dari kalangan mana Zidan berasal.
Apa Tuan Zidan tidak salah memilih calon istri?! Dilihat dari segi manapun tidak ada yang istimewa dari gadis ini. Dia tampak biasa saja!
"Are you sure, Mister?"
Zidan dan Andita tampak terkejut mendengar pertanyaan designer itu. Mereka saling melempar pandangan dan kini beralih menatap Fennyta.
Fennyta yang mendapat tatapan tanda tanya seperti itu dari kedua kliennya langsung salah tingkah.
"Emph, I'm sorry! I didn't mean to ..."
"It's okey, Miss! No problem!" Jawab Andita dengan senyum yang dipaksakan karena ia tahu apa yang ada dipikiran Fennyta.
Ya, aku cukup tahu diri! Aku memang tidak pantas bersanding dengan Tuan Zidan! Ah, menyesakkan sekali rasanya dipandang seperti itu!
"Ah jangan salah paham Nona, saya hanya merasa takjub saja pada anda! Saya tidak menyangka jika Tuan Zidan sangat pintar sekali dalam memilih calon istri. Anda sangat cantik sekali! Perkenalkan saya Fennyta!"
Fennyta berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang karena ucapannya barusan. Kini tangan Nyta beralih menjabat Andita.
"Senang berkenalan dengan anda!"
Andita tersenyum simpul.
__ADS_1
"Oh ya, mari silahkan, Tuan, Nona! Saya akan memperlihatkan semua baju pengantin hasil rancangan saya pada kalian! Kalian bisa memilih baju pengantin dengan berbagai model yang kalian sukai disini!"
Andita dan Zidan pun mengikuti langkah Fennyta untuk memilih baju pengantin.
******
Sudah hampir dua jam Andita dan Zidan berada dibutik itu, dan akhirnya Andita melabuhkan pilihannya pada dua buah gaun yang sederhana namun terlihat elegan. Satu gaun berwarna putih gading untuk akad nikah dan satu gaun lagi berwarna hitam untuk resepsi.
Warna baju pengantin yang akan dikenakan Zidan pun selaras dengan warna gaun yang nantinya akan dipakai Andita.
Selama memilih baju pengantin, Zidan tak pernah luput memberi penilaian. Pria itu sangat menginginkan kesempurnaan dalam pernikahannya nanti. Sehingga selama didalam butik, Zidan begitu cerewet sampai-sampai membuat Andita kesal karena sikapnya.
Belum lagi dengan Fennyta yang selalu menatap genit kearah Zidan, hingga membuat Andita sedikit muak berlama-lama dibutik itu.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Ken melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang, untuk mengantar kedua sejoli itu pulang.
Namun Zidan yang merasa ini belum terlalu malam, ingin sekali mengajak Andita untuk makan malam bersamanya.
"Ken, bawa aku ke restoran XX! Tiba-tiba perutku rasanya lapar sekali!" Ucap Zidan.
Ken melirik Zidan sekilas dari kaca tengah.
"Kalau begitu saya akan turun disini saja, Tuan! Anda bisa makan bersama dengan Tuan Ken. Saya bisa pulang naik taksi, karena ini sudah malam!" Andita berusaha menghindar.
"Apa katamu? Pulang naik taksi?! Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang sendiri?! Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu dijalan? Dan bagaimana jika Ibumu menganggapku tidak bertanggung jawab, karena membiarkan putrinya pulang sendirian?!"
"Anda tenang saja Tuan! Saya akan mengatakan pada Ibu, jika anda tiba-tiba ada keperluan mendadak yang sangat penting hingga tidak bisa mengantar saya. Ibu pasti akan mengerti!"
Zidan mendeliki Andita.
"Kau akan berbohong pada Ibumu?! Hebat sekali!"
Andita tersenyum kecut.
"Bukankah anda juga sebelumnya pernah berbohong pada Ibu saya?! Lalu kenapa saya tidak boleh?"
Zidan menghentak udara dihadapannya saat mendengar jawaban Andita.
"Jadi kau ingin membalasku?!"
__ADS_1
"Bukan begitu, Tuan! Hanya saja hari ini saya merasa sangat lelah! Saya ingin segera sampai dirumah dan beristirahat!" Dusta Andita.
Tentu saja Zidan tidak semudah itu percaya dengan ucapan gadis disampingnya. Lama-lama dirinya tidak tahan dengan sikap Andita yang tidak acuh padanya.
"Andita! Kenapa kau selalu menghindariku?!" Tangan Zidan mulai mencengkram pergelangan tangan Andita. Sorot mata tajam ia berikan pada gadis itu.
Andita mendesis karena cekalan tangan Zidan begitu kuat. Ia berusaha melepaskannya namun usahanya nihil. Sementara Ken sekilas melihat kearah belakang lewat kaca. Ia yakin saat ini tuannya tengah menahan amarah pada Andita.
"Tuan, tolong lepaskan tangan saya! Anda menyakiti saya!"
Zidan menekan tombol pembatas didalam mobilnya, agar Ken tidak mendengar pertengkarannya dengan Andita.
"Selama seminggu ini aku sudah bersabar menghadapi sikapmu! Kau tidak ingin dekat denganku dikantor maupun diluar, aku menurutimu! Tapi bisakah kau bersikap sedikit baik padaku?! Kau tidak perlu menghindariku seperti ini!" Zidan mengetatkan rahangnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa mau gadis disampingnya itu.
"Anda salah paham Tuan! Saya sedang tidak menghindari anda!"
"Benarkah?! Sikapmu yang seperti ini kau bilang tidak menghindariku? Apa kau jijik padaku?!"
"Awh,, Tuan lepaskan tangan saya!"
Andita meringis kala Zidan semakin kuat mencengkram tangannya.
"Katakan! Apa kau merasa jijik jika berdekatan denganku?!"
"Ti-tidak Tuan! Awh..!" Andita memukul-mukul tangan Zidan. Ia merasa pergelangan tangannya akan patah jika lelaki itu terus mencengkramnya.
Zidan yang melihat Andita meringis kesakitan, berusaha mengontrol emosinya. Jujur dia paling benci tidak diacuhkan seperti ini, apalagi oleh gadis yang ia cintai.
Akhirnya Zidan menghempas kasar tangan Andita. Ia langsung membuang pandangannya keluar jendela. Rahangnya masih mengeras. Tangannya mengepal. Batinnya bertanya-tanya, kenapa dia harus merasakan sakit seperti ini lagi?!
Sementara Andita yang tidak tahu menahu tentang perasaan Zidan, hanya menatap atasannya itu dengan tatapan nanar. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Zidan harus mempermasalahkan sikapnya? Bukankah mereka seharusnya memang tidak terlalu dekat?
Akhirnya mereka berdua memilih untuk saling diam selama perjalanan pulang.
.
.
Scroll lagii
__ADS_1