MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Zoya Dan Andrew


__ADS_3

Pagi tadi dokter mengatakan pada Andrew, bahwa hari ini Zoya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena kondisinya sudah mulai membaik. Hanya saja ia masih perlu melakukan check up rutin setiap bulannya.


Ada rasa senang dan sedih dalam hati Zoya saat mendengar kabar itu. Senang karena ia tidak harus mencium aroma obat-obatan lagi setiap harinya di rumah sakit.


Sedih karena saat dia diapartemen nanti dia pasti akan menjalani kesehariannya seorang diri tanpa bisa melakukan apapun karena keterbatasan fisiknya saat ini.


Andrew yang tengah fokus menyetir sesekali melihat kearah Zoya yang sedang termenung sambil membuang pandangannya ke luar jendela.


Dengan lembut tangan kiri Andrew menggenggam tangan kanan Zoya yang berada diatas pahanya.


"Kenapa kau terlihat sedih? Apa ada yang mengganggu pikiranmu sayang?" tanya Andrew hingga membuat Zoya tersadar dari lamunannya.


Zoya mengalihkan pandangannya pada Andrew dan menatap wajah tampan calon suaminya itu dengan sendu.


"Aku hanya sedang bingung. Apa yang bisa aku lakukan diapartemen dengan keadaanku yang seperti ini?" jawab Zoya lirih.


"Jadi itu yang membuatmu sedih, hm?" Andrew menepikan mobilnya dipinggir jalan kemudian melepaskan seat beltnya.


Ia meraup wajah Zoya dengan kedua tangannya dan menatap mata coklat itu lekat-lekat.


"Dengarkan aku sayang, bagaimana jika kau tinggal diistanaku? Disana kau tidak akan kesepian dan kekurangan apapun."


"Jika kau butuh sesuatu atau teman mengobrol, ada aku disana. Aku bisa memantaumu setiap hari selama 24 jam berturut-turut! Apa kau setuju?!" tanya Andrew.


"Tidak Andrew! Kita belum menikah. Apa yang akan orang rumahmu pikirkan jika aku sudah tinggal serumah denganmu?!" jawab Zoya sembari menurunkan tangan Andrew dari wajahnya.


"Kalau begitu, aku akan mempercepat pernikahan kita! Supaya kita bisa tinggal bersama! Bagaimana jika dua hari lagi? Aku akan mempersiapkan semuanya!" ucap Andrew mantap.


"What?! Two more days?!"


"Yes!"


******


Setelah Andrew memarkirkan mobilnya di basement apartemen Zoya, dengan sigap ia membantu calon istrinya itu turun dari mobil lalu mendudukannya dikursi roda.


Kemudian Andrew mendorong kursi roda tersebut kedalam lobby menuju lift.


Setibanya didepan unit apartemen Zoya, Andrew langsung membuka pintu itu tanpa memasukan sandi terlebih dahulu. Tentu hal tersebut membuat Zoya terkejut.


"Andrew! Kenapa pintunya tidak terkunci? Apa selama aku koma kau pernah datang kemari dan lupa menguncinya?" tanya Zoya curiga. Pasalnya hanya dia dan Andrew yang tahu sandi apartemennya itu.


Andrew yang mendapat pertanyaan dari Zoya terhenyak namun ia segera menormalkan ekspresinya.


"Ah iya, waktu kau koma aku memang datang kemari untuk mengambil pakaianmu. Mungkin karena terburu-buru aku sampai lupa menguncinya!"


"Hah?? Bagaimana jika ada orang yang masuk Andrew?!" wajah Zoya terlihat khawatir.


"Tenang saja! Bukankah ini apartemen elit?! Keamanannya sudah pasti terjamin. Lagipula siapa yang akan masuk ke unitmu?" jawab Andrew meyakinkan.


Andrew membuka pintu apartemen lebar-lebar. Dengan hati-hati ia mendorong kursi roda Zoya masuk kedalam ruangan yang nampak gelap, karena seluruh gorden ditutup rapat dan lampu dimatikan.


Andrew membiarkan Zoya berada ditengah ruangan dibawah lampu gantung.


Saat Zoya sedang menunggu Andrew yang menutup pintu, tiba-tiba...


Dorrr..


Wushhhh..

__ADS_1


"WELCOME BACK ZOYA!!!" teriak Andita dan Stella bersamaan seraya menembakkan party popper kearah Zoya.


Mereka keluar dari tempat persembunyiannya dibelakang pintu. Begitupun dengan Zidan dan Ken.


"Kalian?!" pekik Zoya.


Ia nampak sangat terkejut sekaligus terharu sampai tidak bisa berkata-kata.


Andrew pun segera menyalakan lampu.


Dengan senyum mengembang, Andita dan Stella menghampiri Zoya. Mereka berdua secara bergantian memeluk tubuh wanita itu.


"Selamat datang kembali Zoya! Kami merindukanmu!" ucap Andita seraya memeluk Zoya.


"Terimakasih Andita! Aku juga merindukan kalian!" jawab Zoya dan membalas pelukan Andita.


Kini giliran Stella yang maju mengucapkan selamat sembari merentangkan kedua tangannya.


"Selamat datang kembali Zoya! Maaf saat kau dirumah sakit aku tidak bisa menjengukmu. Aku turut prihatin dengan kecelakaan yang kau alami. Tapi aku bersyukur kau selamat! Semoga kau lekas sembuh!" ucap Stella tulus.


"Tidak apa. Aku mengerti kau pasti sangat sibuk menjadi relawan di negara lain. Terimakasih juga karena sudah mendoakanku Stell!" Zoya membalas pelukan Stella dan tersenyum hangat.


Setelah kedua wanita itu selesai mengucapkan selamat datang pada Zoya, sekarang giliran Zidan dan Ken yang menyambut kedatangan Zoya. Tapi tanpa adegan peluk-peluk. Hehe.


Lalu mereka semua duduk disofa. Kecuali Andrew. Ia berdiri dibelakang kursi roda calon istrinya itu. Dan mulai memberikan pengumuman.


"Kebetulan kalian semua ada disini. Kami berdua ingin memberikan kabar bahagia pada kalian!" ucap Andrew dengan wajah berseri-seri.


"Kabar bahagia apa? Cepat katakan!" titah Zidan.


"Dua hari lagi kami akan menikah!"


"APA?!!!" keempat orang itu terkejut bersamaan.


******


Zoya meminta Andrew untuk memakaikannya cincin sebagai tanda bahwa mereka kembali serius menjalin hubungan, dan Andrew dengan senang hati mengabulkannya.


"Ya, aku sangat bahagia dan bahagiaku karenamu!" jawab Zoya.


Selepas kepulangan keempat sahabat mereka, Andrew masih setia menemani Zoya diapartemennya. Ia tidak bisa meninggalkan wanitanya sendirian disana.


Dan saat ini mereka berdua tengah menikmati pemandangan malam didepan balkon kamar.


"Apa kau yakin pernikahan kita akan diselenggarakan dua hari lagi? Menurutku itu terlalu cepat Andrew!" ucap Zoya sambil menatap lekat-lekat bola mata hitam itu. Posisi Andrew kini berlutut dihadapan Zoya dengan satu kaki ditekuk.


"Ya aku sangat yakin! Karena lebih cepat lebih baik!"


"Tapi apa kata teman-teman kita nanti? Mereka pasti mengira aku hamil duluan!" risau Zoya.


"Memangnya kenapa, hm?! Meskipun kau hamil diluar nikah asal itu darah dagingku, aku akan tetap bertanggung jawab!"


"Tapi.."


"Tidak ada tapi-tapi! Keputusanku sudah final! Setelah kita menikah, aku akan membawamu berobat keluar negri!"


"Aku sudah mencatat negara dengan perawatan kesehatan terbaik didunia! Kau tinggal pilih, mau ke Korea Selatan, Jepang, Austria, Perancis atau Spanyol?"


Zoya tertawa mendengar penawaran Andrew. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck! Banyak sekali pilihan yang kau tawarkan! Aku pilih Korsel saja." jawab Zoya.


"Korsel? Why?!"


"Karena teknologi disana sudah terkenal maju, jadi aku yakin bisa mendapatkan perawatan terbaik untuk kesembuhanku. Selain itu juga disana banyak makanan lezat, tempat wisata menarik dan ..." Zoya menjeda ucapannya sesaat.


Kemudian netranya menerawang keatas. Bahkan sekarang wajahnya semakin berseri-seri. Membuat Andrew menjadi penasaran.


"Dan apa?!"


"Dan banyak aktor tampan yang menjadi idolaku. Seperti, Kim Seon Ho, Ji Chang Wook, Kim So Hyun, Lee Min Ho, Lee..."


"Stop!! I don't want to hear it anymore!" ucap Andrew sembari menutup mulut Zoya dengan tangannya.


"Lebih baik aku black list negara itu dari catatanku!"


"Hahaha!" Zoya tertawa terbahak melihat ekspresi Andrew yang kesal.


"Aku hanya mengidolakan mereka sayang! Apa itu salah?" ucap Zoya seraya menangkup wajah Andrew yang berpaling darinya.


"Jelas saja itu sangat salah! Kau tidak boleh mengidolakan siapapun selain diriku, mengerti?!"


"Uuhmm.. Are you jealous?"


"Yes!"


"Okay. Mulai detik ini aku tidak akan mengidolakan siapapun selain dirimu, Andrew Alexanders!" Zoya menatap dan tersenyum kearah Andrew. Andrew pun membalas tatapan Zoya.


"Good!" Ia menangkap tangan Zoya yang berada dipipinya, kemudian menciumnya dengan lembut.


"Sudah larut malam. Lebih baik kita istirahat!" ucap Andrew.


Zoya mengangguk dan Andrew pun segera membawa Zoya masuk kedalam.


Perlahan Andrew mengangkat tubuh Zoya dari kursi roda kemudian membaringkannya diatas ranjang.


"Tidurlah! Semoga mimpi indah!" dengan penuh cinta Andrew mengecup kening Zoya.


"Kau mau tidur dimana?" tanya Zoya saat melihat Andrew mengambil bantal dari kasur.


"Sofa! Kenapa?"


"Uhm.. Tidak apa-apa!"


"Jangan bilang kau ingin tidur denganku!" goda Andrew dengan kerlingan mata nakalnya.


"Hah! Dasar mesum!"


Andrew terkekeh geli mendengar umpatan calon istrinya itu.


"Bagaimana aku bisa menemanimu tidur sayang, jika boneka beruang jumbo itu ada disampingmu?!" goda Andrew lagi sembari menunjuk boneka beruang besar dengan lirikan matanya, yang tanpa ia tahu bahwa boneka itu adalah boneka pemberian dari Zidan untuk Zoya.


Zoya refleks melihat kesamping kanannya, tiba-tiba ia teringat, bahwa dulu hampir setiap hari dia tidur dengan memeluk boneka beruang itu saat dirinya masih terobsesi pada Zidan.


Kemudian Zoya menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya sudah saatnya dia melupakan kenangannya bersama Zidan dan memulai hidup baru. Zoya pun tersenyum pada Andrew.


"Taruh saja bonekanya di sofa dan tidurlah disampingku!"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2