
Sudah setengah jam berlalu, tapi dokter yang sedang memeriksa keadaan David belum juga keluar dari ruangannya. Davina pun mulai khawatir.
"Na, lo lagi kenapa si? Dari tadi gue perhatiin lo jalan mondar mandir terus? Gak pusing apa?" tanya Daffa yang sedikit terganggu dengan tingkah Davina.
"Suka - suka gue lah." jawab Davina.
"Tapi kan, tingkah lo itu merusak pemandangan mata gue."
"Heh, pria buaya. Jangan sembarangan lo kalau ngomong!" Seru Venus yang tak terima saat Davina di katakan merusak pemandangan.
"Dasar perempuan bar - bar. Gak usah repot-repot ikut jawab deh. Gue itu lagi ngomong ke Davina bukannya ke lo."
Plak.
BUGH.
Mendengar ucapan dari Daffa, Venus pun langsung memukul dan menendang lengan dan kaki Daffa dengan keras. Ya, dia sangat marah saat Daffa selalu menyebutnya perempuan bar - bar.
"Aduh, emang bener - bener ya lo itu perempuan bar - bar. Kenapa lo itu mukul gue, hah?"
"Berisik lo buaya! Kalau lo berani ngatain Davina lagi. Gue janji bakal ngaduin ke Presdir biar lo itu dapat hukuman nanti." seru Venus
"Daffa! Venus! Sudah, jangan ribut lagi." Seru Davina mencoba perdebatan di antara mereka.
"Tapi manusia buaya ini yang mulai duluan, Na." ujar Venus sambil menunjuk ke arah Daffa.
"Lo kali yang mulai duluan." sahut Daffa tak mau kalah.
"Hentikan. Apa kalian berdua tidak malu perdebatan kalian berdua di liat oleh orang-orang sekarang, Hah?!" Ucap Davina dengan kesal.
Sedangkan di ruangan rawat David. David kini sedang merasa cemas karena Maminya itu belum juga datang ke ruangannya. David pun akhirnya langsung mengambil ponselnya yang ada di samping ranjang kemudian menghubungi nomor ibunya.
Dan saat panggilannya terhubung ekspresi wajah David pun langsung berubah.
"Halo, Mi. Mami lagi ada dimana?" ucap David saat panggilannya terhubung
"Ada apa, sayang? Mami lagi sama Papi di parkiran mobil." jawab Mami Karina dari sebrang telepon.
"Oh. Mami kapan mau ke ruangan aku lagi?"
"Sebentar lagi, sayang. Sekarang Mami lagi ngajarin Papi kamu buat mengikuti scenario dari Mami."
"Apa? Mami lagi ngajarin Scene ke Papi? Emangnya Papi udah mau ikut gabung sama kita?"
"Kamu tenang aja. Papi udah setuju kok. Dia juga sudah bisa di ajak untuk akting."
__ADS_1
"Ya sudah, Mi. David tunggu Mami datang kesini. Tapi jangan lama-lama, Mi. Karena David takut jika nantinya Davina akan langsung masuk ke dalam ruangan ini."
"Aduh, anak tampanku ini kenapa jadi bawel dan cerewet sekali sih? Udah kaya anak gadis aja" jawab Karina dengan terkekeh geli
"Mami, kok tega banget sih bilang ke anaknya sendiri cerewet!"
"Ya sudah, nanti Mami sama Papi sebentar lagi mau balik kesitu. Kamu harus jadi anak yang nurut ya. Ingat, jangan pernah membantah ucapan Mami kalau kamu pengin Davina bersatu lagi sama kamu."
"Iya, Mi."
Setelah panggilan telepon terputus, David pun kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.
***
Setelah Karina sudah mengajari beberapa scenario yang harus di lakukan oleh sang suami. Ia dan suaminya itu langsung melangkah masuk kedalam rumah sakit.
"Pokoknya Papi harus ingat ya, nanti jangan sampai salah untuk mengucapkan dialog yang tadi udah Mami ajarin ke Papi?" ucap Karina sambil mengingatkan kembali dialog yang sudah mereka latih.
"Iya, Mi." jawab Leon pasrah.
Ya, tadinya Leon ingin sekali menolak permintaan dari istrinya itu. Tetapi, setelah dia mendengarkan ancaman dari sang istri , nyalinya pun langsung menciut. Karena istrinya tadi mengatakan, jika ia tidak mau membantu tentang rencananya maka ada kemungkinan jika putra satu - satunya itu bisa saja bunuh diri atau menjadi gila. Mendengar hal itu, tentu saja Leon tidak mau jika sesuatu yang buruk menimpa putranya, makanya ia setuju untuk bergabung bersama dengan istrinya demi membantu memajukan hubungan antara putra mereka dengan menantu mereka.
Kini, saat Leon dan Karina sudah sampai di ruangan David. Dengan cepat Leon langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sepanik mungkin.
"Iya, Pi." jawab Davina.
"Na, Mami mau masuk sebentar dulu ya." ucap Mami Karina.
"Mami, aku juga mau ikut masuk. Boleh ya?" ucap Davina dengan memasang wajah memelas. Dia juga sudah tidak sabar ingin melihat kondisi suaminya itu.
"Ya sudah, sayang. Kita masuk bersamaan saja."
Saat David mendengar suara pintu terbuka, ia pun langsung menutup matanya. Sedangkan dokter gadungan yang masih berada di ruangan David hanya memasang senyuman tipis saat melihat kedatangan Davina, Karina dan juga Leon masuk kedalam ruangan itu.
"Dok, gimana keadaan putra saya?" tanya Papi Leon yang terlihat cemas.
"Putra bapak sudah sadar dan kondisinya juga sudah mulai membaik. Mungkin, sebentar lagi putra bapak akan segera membuka matanya." jawab sang dokter gadungan itu.
"Tapi, dia gak bakalan geger otak kan, Dok?"
"Tidak, Pak." jawab sang dokter.
Sedangkan David yang merasa sudah tidak tahan lagi dengan sandiwara yang di lakukannya perlahan-lahan mulai membuka matanya.
"Papi... Papi liat deh kesini. David sudah sadar, Pi." teriak Mami Karina, sambil menggelengkan kepalanya, pasalnya putranya itu tidak bisa sabar sedikit lebih lama lagi untuk bersandiwara.
__ADS_1
Mendengar suara teriakan dari Karina, semua mata pun langsung tertuju padanya. Begitu juga Daffa dan Venus yang juga langsung ikutan masuk kedalam ruangan David.
'Ah, akhirnya si budak cinta itu udah mulai sadar juga. Itu artinya, gue bisa nagih duit ke dia.' ucap Daffa di dalam hati saat melihat David sudah mengakhiri sandiwaranya.
Sedangkan dokter gadungan itu langsung melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.Ia pun mulai memeriksa kondisi David secara keseluruhan.
"Bagaimana keadaan anda, Pak David? Apakah anda merasakan sakit di bagian kepala? Atau dibagian tubuh lainnya mungkin?" tanya dokter gadungan secara profesional.
"Kepala saya gak sakit, dok. Cuma, saya merasa kedinginan saja." jawab David dengan nada yang terdengar lemah.
Sedangkan Karina, Leon dan Daffa yang sudah mengetahui tentang sandiwara ini hanya bisa mengernyitkan dahinya dan mulai bertanya - tanya di dalam hati mereka masing-masing.
'Perasaan di dalam dialog yang udah di susun tadi, tidak ada jawaban dengan kedinginan deh?' tanya Karina di dalam hati. Jujur, dia pun mulai bingung apa yang sebenarnya di rencanakan oleh putranya itu.
'Wah, gue yakin banget nih. Si budak cinta ini pasti mau modus ke istrinya." ucap Daffa di dalam hati sambil tersenyum tipis.
'Aku tau. Putraku ini pasti sedang memberikan kode." ucap Leon di dalam hati juga.
Bahkan, dokter gadungan itu pun sampai di buat kebingungan dengan jawaban dari David.
"Kamu kedinginan ya, sayang. Ya ampun, kalau begitu sini biar Mami yang peluk." ucap Karina sambil berjalan ke arah David dan memeluknya.
"Mami. Tapi aku gak mau di peluk sama Mami." rengek David.
"Apa kamu bilang? Kenapa kamu gak mau di peluk sama Mami?" tanya Karina bingung.
"Iya,"
"David! Kamu jangan jadi anak yang durhaka ya. Sudah bagus tadi Mami mau peluk kamu yang sedang kedinginan." gerutu Karina sambil menatap kesal ke arah putranya kesayangannya itu. Pasalnya ia juga tidak mengerti, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh putranya itu.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1