MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Hanya Mimpi


__ADS_3

Sore ini Andita tengah berjalan-jalan seorang diri disebuah taman. Ia merasa bosan karena selalu berada didalam rumah yang selalu mengurungnya itu.


Ia berjalan dengan perasaan senang. Saat sedang asyik menikmati pemandangan, netra Andita tak sengaja tertuju pada seorang laki-laki yang tengah duduk berdua bersama seorang gadis.


Andita seperti mengenali perawakan tubuh pria itu. Perlahan Andita pun berjalan mendekat.


Kemudian samar-samar Andita mendengar lelaki itu mengatakan kata I Love You pada gadis yang sedang duduk bersamanya.


Andita sangat hafal dengan suara bariton yang ia dengar. Ia mulai melangkahkan kakinya mendekat kearah samping agar bisa melihat wajah sang pria untuk memastikan kecurigaannya.


Saat sudah berada disamping sang pria dengan jarak yang tidak begitu jauh, tiba-tiba Andita membelalakan matanya. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui lelaki itu adalah Zidan.


Seketika dadanya berdenyut nyeri kala melihat Zidan memperlakukan gadis disampingnya itu dengan begitu lembut. Sama seperti perlakuan Zidan padanya selama ini.


Zidan menatap mata gadis itu dengan penuh cinta. Satu tangannya melingkar pada bahu sang gadis, sedangkan tangan lainnya menggenggam erat tangan si gadis dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Jiwa Andita seakan tercabik-cabik kala melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.


Bukankah tadi dia mengatakan akan menyelesaikan pekerjaannya?! Lalu kenapa dia ada disini?!


Ya Tuhan, benarkah yang kulihat ini?! Kenapa dia melakukan ini padaku?! Kenapa dia mengkhianatiku? Bukankah kami akan menikah?!


Andita mencoba mengontrol gejolak dihatinya. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya mulai berkaca-kaca.


Tiba-tiba Zidan menoleh kearah Andita. Pria itu tersenyum sinis kala melihat raut wajah Andita yang akan menangis. Tidak ada lagi tatapan hangat yang biasa ia berikan pada calon istrinya itu. .


Zidan melepaskan pegangan tangannya pada sang gadis, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Andita yang tengah berdiri menatapnya.


"Apa yang kau lakukan disini?! Apa kau sedang memata-mataiku?!" Tanya Zidan dengan suara dinginnya.


Andita terkejut mendengar pertanyaan lelaki itu.


"Tuan, apa yang anda lakukan disini?! Bukankah tadi anda mengatakan akan menyelesaikan pekerjaan anda?!" Andita balik bertanya dengan bibir bergetar.


"Apa urusanmu?! Apa kau tidak lihat saat ini aku sedang berkencan?!"


Andita menelan saliva sembari menetralkan rasa terkejut dan rasa tidak percayanya. Tidak mungkin kan jika Zidan mengkhianatinya?


"Tuan, bukankah kita akan menikah? Kenapa anda harus mengencani gadis lain?!"


Zidan tergelak mendengar penuturan calon istrinya itu.


"Memangnya kenapa?! Meskipun kita akan menikah, aku bebas mengencani gadis manapun yang aku mau! Bukankah kita tidak memiliki hubungan apapun?! Jadi apa masalahmu?!"


Andita begitu syock mendengar jawaban dari Zidan. Jantungnya seolah ditusuk ribuan jarum. Nafasnya tersendat.


"Anda keterlaluan Tuan! Bukankah waktu itu anda pernah mengatakan bahwa anda mencintai saya?!"

__ADS_1


Zidan tertawa nyaring.


"Benarkah?! Apa kau lupa?! Kau sendiri yang menolakku?! Kau bilang kau tidak mencintaiku bukan? Lalu untuk apa aku masih menunggumu? Tidak ada dalam kamusku menunggu seorang gadis!"


Jlebb


Lagi-lagi Andita merasakan nyeri dihatinya. Ada apa dengan laki-laki dihadapannya ini?!


"Tidak Tuan! Anda salah! Saya mencintai anda! Tolong jangan seperti ini! Saya mohon!" Andita meraih tangan Zidan lalu menggenggamnya.


Namun dengan tangkas Zidan menepis tangan Andita.


"Jangan pernah menyentuhku! Percuma saja kau menyesal, karena sekarang aku sudah menemukan pengganti dirimu!"


Zidan menoleh kearah gadis yang tadi duduk bersamanya. Ia mengulurkan tangan dan tersenyum pada gadis itu. Gadis itupun menyambut uluran tangan Zidan dan tersenyum bahagia.


"Ayo sayang kita pergi dari sini!" Ucap Zidan seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Andita.


Sementara Andita tidak bisa menerima semua ini. Ini begitu menyakitkan. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Andita pun segera mengejar Zidan.


"Tuan tolong jangan pergi! Saya mohon Tuan jangan pergi!"


"Tuaann... Maafkan saya! Tolong beri saya kesempatan! Tolong jangan pergi Tuan! Saya mohon."


"Tuaan..!!"


Andita terus berusaha mengejar dan meraih tangan Zidan. Namun sayang lelaki itu tak menggubrisnya. Langkahnya semakin lama semakin menjauh.


"Kenapa anda melakukan ini Tuan?! Tolong jangan pergi!" Andita tergugu.


Tolong jangan pergi Tuan...


Tolong jangan pergiii...


Maafkan saya... Saya mencintai anda..


Andita menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari. Matanya masih terpejam. Wajahnya terlihat ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Tidak lama ia berteriak.


Tuaaan jangan pergiii!!!


Andita terbangun dari mimpinya. Nafasnya memburu. Netranya mengelilingi keadaan sekitar.


Hah?! Apa aku bermimpi?! Tapi kenapa semuanya seolah terlihat nyata?!


Andita mencoba mengatur nafasnya. Ia membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


Kemudian ia meraih gelas yang berada diatas nakas dan menenggak isinya hingga tandas. Lalu Andita mengelap mulutnya dengan punggung telapak tangan.


Syukurlah itu semua hanya mimpi!


******


Saat ini Zidan tengah menyorot seseorang yang ada dihadapannya dengan tatapan tajam.


Wajah dingin dan angkuh ia perlihatkan pada Dirga. Sebelumnya Zidan sudah yakin bahwa mantan kekasih dari calon istrinya itu pasti akan datang menemuinya.


Apalagi jika bukan membahas soal kerja sama dan penarikan saham yang diputuskan secara sepihak oleh Royal Group.


Ya, siang ini Dirga berusaha menemui Zidan dikantornya. Namun sayang lelaki itu tidak ada disana. Dirga malah bertemu dengan Ken. Tadinya dia enggan meminta bantuan lelaki itu.


Mengingat dirinya pernah memaki Ken saat insiden mobilnya tertabrak.


Namun akhirnya ia meredam gengsinya demi mendapatkan kembali investasi dari perusahaan Zidan. Ia memohon pada Ken agar mempertemukannya dengan atasannya tersebut.


Ken pun menghubungi Zidan, dan Zidan menyuruh Ken membawa Dirga kehadapannya. Dan disinilah saat ini Dirga berada, dikediaman Zidan.


Semenjak masuk kedalam rumah itu, Dirga beberapa kali dibuat kagum. Ia begitu terpukau.


Ternyata Zidan memang bukanlah orang sembarangan. Rumahnya begitu megah bak istana tak kalah dari istana Tuan Wildan.


Mungkin dimata Zidan saat ini dirinya bukanlah apa-apa.


Ia harus berusaha mengambil hati Zidan kembali. Sungguh Dirga menyesal pernah berhadapan dengannya dan menjelek-jelekan Andita.


Padahal tadinya Dirga pikir Zidan akan terhasut dan meninggalkan Andita.


Namun dugaannya ternyata salah. Dirinyalah yang kini harus menerima ganjaran dari perbuatannya itu.


"Katakan! Ada perlu apa kau datang menemuiku?!" Tanya Zidan datar. Ia enggan berbicara dengan formal pada lelaki dihadapannya itu.


Dirga menelan saliva sambil berusaha menetralkan rasa gugupnya.


"Maafkan saya Tuan sudah mengganggu waktu istirahat anda! Kedatangan saya kemari ingin menanyakan perihal keputusan anda yang memutuskan kerja sama serta menarik saham dari perusahaan saya secara sepihak. Saya sungguh tidak mengerti kenapa anda melakukan itu secara tiba-tiba?"


Zidan tersenyum smirk. Ia menyandarkan punggungnya disofa seraya menyilangkan kakinya.


"Kau sungguh tidak mengerti?!"


Tubuh Dirga seketika membeku. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Apa kau sama sekali tidak sadar dengan kesalahanmu?!"


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2