
Brakk
Stella membanting pintu mobilnya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya di kursi kemudi begitu ia masuk kedalam mobil. Raut wajahnya terlihat marah sekali.
"Berani sekali dia menghina Ken?! Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata tutur katanya tidak selembut wajahnya!" Stella menatap nyalang kediaman Zidan yang terdapat Zoya didalamnya.
"Cih! Aku tidak habis pikir, kenapa Zidan bisa bersahabat dengan wanita seperti itu?!"
Berulang kali Stella menghembuskan nafas kasar. Berhubung dia harus segera kerumah sakit, sebisa mungkin Stella berusaha meredam emosinya akibat perkataan Zoya barusan.
"Huft! Untuk kali ini aku akan membiarkanmu Zoya! Tapi tidak untuk lain kali!"
Stella pun mulai menghidupkan mesin mobil dan memasukkan gigi, kemudian menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya keluar dari kediaman Zidan.
*****
Kembali kedalam kediaman Zidan.
Zoya dan Andita sudah kembali duduk disofa. Sepeninggal Stella mereka berdua terdiam. Kecanggungan begitu terasa setelah ketegangan yang baru saja terjadi antara Zoya dan Stella.
Tidak ingin larut dalam keheningan, Zoya mencoba mencairkan suasana. Dia menyadari pasti sikapnya yang arogan terhadap dokter itu meninggalkan kesan buruk dipikiran Andita.
Zoya harus bisa meraih hati dan simpati Andita kembali, agar tujuannya untuk mendapatkan Zidan bisa tercapai.
"Uhm, Andita, maafkan aku karena sudah membuatmu tidak nyaman dengan sikapku barusan terhadap Stella. Sungguh aku tidak memiliki maksud lain. Aku hanya ingin Stella mendapatkan seseorang yang lebih pantas untuknya, itu saja tidak lebih." ucap Zoya.
Andita memandang Zoya lekat-lekat. Ia sama sekali tidak habis pikir jika Zoya sanggup mengatakan hal seperti itu tentang status orang lain.
Perkataan Zoya mengingatkannya pada keluarga Tuan Reyhan yang selalu mencaci maki dirinya kala itu.
Andita menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia angkat bicara.
"Seharusnya kau meminta maaf pada Stella, Zoya, bukan padaku. Dan maaf, sepertinya aku kurang sependapat denganmu. Pantas atau tidaknya Ken bagi Stella hanya dia yang tahu."
"Aku tahu kau tidak memiliki maksud apapun, tapi seharusnya kau tidak berkata seperti itu padanya. Tanpa kau sadari perkataanmu barusan menyakiti hati Stella."
"Asal kau tahu Zoya, meskipun Ken hanya seorang pengawal sekaligus asisten pribadi suamiku, tapi dia bukanlah orang sembarangan. Bahkan Zidan pun sangat menghormatinya. Jadi alangkah baiknya jika kita tidak ikut campur dalam hubungan mereka."
"Dan satu lagi, aku rasa yang dikatakan Stella ada benarnya. Selagi Ken bukan pria beristri atau pun kekasih orang lain, itu tidak akan jadi masalah. Sebagai sesama wanita, aku sangat mendukungnya Zoya."
Jleb
Lagi-lagi Zoya merasa terpojokan. Dia pikir dirinya akan mendapat simpati dari Andita, tapi ternyata dugaannya salah.
Sepertinya dia harus memikirkan cara lain supaya Andita tidak berpikiran buruk tentangnya.
Zoya pun mulai berakting. Ia memasang wajah penuh penyesalan akan sikapnya pada Stella.
"Ya aku rasa kau benar Andita. Mungkin ucapanku pada Stella sudah sangat keterlaluan. Aku sangat menyesal. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu padanya." Zoya menundukan pandangannya seolah-olah dia benar-benar menyesal dengan tindakannya barusan.
Melihat raut penyesalan diwajah Zoya, Andita merasa terenyuh. Andita yang duduk di sofa bersampingan dengan Zoya mencoba meraih tangan wanita itu. Kemudian menggenggamnya.
"Aku senang kau menyesali kesalahanmu Zoya. Memang manusia adalah tempatnya salah. Jadi alangkah baiknya kita lupakan saja masalah tadi." ucap Andita tulus.
Hah?! Apa katamu?! Menyesal?! Tentu saja tidak Andita. Bahkan jika aku mau, aku bisa mengatakan kalau kau pun sebenarnya tidak pantas bersanding dengan Zidan!
Zoya berusaha tersenyum pada Andita. Lebih tepatnya tersenyum palsu.
"Andita, maukah kau membantuku untuk meminta maaf pada Stella?" tanya Zoya tentu saja itu hanyalah kepura-puraan semata.
"Tentu Zoya! Aku akan membantumu untuk meminta maaf padanya. Aku yakin Stella akan memaafkanmu. Karena menurutku Stella bukanlah gadis pendendam."
"Huft, syukurlah. Aku jadi sedikit tenang."
Saat kedua wanita itu tengah sibuk berbincang, tiba-tiba Andita mencium bau tidak sedap.
Ia mengendus-enduskan indera penciumannya. Begitu pun dengan Zoya.
__ADS_1
"Apa kau mencium sesuatu Zoya?" tanya Andita.
Zoya menganggukan kepalanya.
"Ini seperti bau hangus Andita. Apa kau sedang memasak?"
Andita mencoba mengingat-ingat. Seketika netranya membulat sempurna.
"Ya Tuhan! Jangan-jangan kue untuk Zidan ...!" Andita tak melanjutkan kata-katanya. Ia segera bangkit dari duduk untuk melihat apa yang terjadi.
"Aku akan kedapur untuk mengeceknya dulu Zoya!"
"Aku ikut Andita!"
Mereka berdua pun bergegas menuju dapur.
******
Ketika Andita tiba didapur, ia melihat salah seorang pelayannya sedang mengeluarkan kue dari dalam oven. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada kuenya itu.
Memang sebelum ia memulai membuat kue bersama Stella ia menyuruh semua pelayannya keluar dari sana, agar dia dan Stella bisa fokus membuat kue.
Mungkin karena itu, tidak ada satupun dari pelayannya yang tahu jika Stella tengah memanggang dan meninggalkan oven dalam keadaan menyala.
Andita pun dibuat terkejut saat dia mendapati kuenya hangus tak bersisa. Ia sampai menutup mulutnya sendiri saking syocknya.
"Ya ampun! Kuekuuu..!!! Pekik Andita. Ingin rasanya Andita menangis sejadi-jadinya. Tapi rasanya itu sangat memalukan. Apalagi saat ini dirumahnya sedang ada Zoya.
"Apa kau lupa jika kau sedang memanggang kue Andita?!" tanya Zoya.
Zoya pun tak kalah kaget melihat warna kue yang hitam pekat itu.
Tapi disisi lain hatinya juga merasa puas karena itu artinya Andita gagal untuk membuat kejutan pada Zidan.
Andita menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan aku yang memanggangnya Zoya, tapi Stella! Mungkin karena dia terburu-buru, hingga dia lupa memberitahuku jika masih memanggang, makanya jadi seperti ini, kuenya jadi hangus." jawab Andita lemas.
Sementara Andita hanya bisa menghela nafas. Sebenarnya dia merasa kecewa tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi.
"Huft.. Yasudahlah mau bagaimana lagi." ucapnya pasrah.
"Apa kau tidak ingin membuatnya lagi Andita?!" tanya Zoya.
Andita yang sudah tidak berminat pun menolak.
"Sepertinya tidak. Lagipula waktunya tidak akan cukup. Aku yakin sebentar lagi Zidan akan tiba dirumah."
"Bagaimana jika aku yang membuatnya? Kau tenang saja, aku ahli dalam membuat kue. Aku akan membuatnya dengan sangat cepat dan enak! Supaya kau tetap bisa memberikan kejutan untuk Zidan. Bagaimana?!" usul Zoya.
Tentu saja itu hanya akal-akalannya saja supaya Zoya bisa menarik perhatian Zidan.
Andita nampak ragu menerima tawaran Zoya. Itu berarti bukan dirinya yang membuat kue untuk Zidan melainkan Zoya.
"Ehm, aku rasa tidak perlu Zoya. Aku tidak ingin merepotkanmu." tolak Andita halus.
Seperti tahu apa yang Andita pikirkan Zoya pun sedikit memaksa.
"Aku tidak merasa direpotkan Andita. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau tenang saja. Kau bisa mengatakan pada Zidan jika kau yang membuat kue itu. Bagaimana? Ideku cemerlang bukan?!"
"Tapi Zoya ..."
"Dimana bahan-bahannya? Aku akan membuatnya sekarang juga!" potong Zoya.
Ia tidak ingin mendengar penolakan Andita. Karena bagi Zoya ini adalah kesempatannya.
******
__ADS_1
Zoya begitu sigap dalam menyiapkan bahan-bahan kue yang dibutuhkan.
Sementara Andita yang awalnya merasa malas karena kue pertamanya gagal, akhirnya semangatnya kembali lagi saat melihat Zoya yang begitu antusias.
"Kau sangat cekatan sekali Zoya! Kau itu seorang designer atau seorang chef?!" puji Andita.
Zoya tergelak mendengarnya.
"Bisa jadi keduanya. Seorang designer yang merangkap jadi seorang chef! Haha.." sahut Zoya.
Tidak lama ponsel Zoya berdering. Salah satu kliennya menelepon. Zoya pun meminta izin pada Andita untuk mengangkatnya sebentar.
Ia berjalan keruang tengah agar lebih fokus dalam berbincang.
Sementara Andita melanjutkan pekerjaan Zoya menimbang dan menyiapkan beberapa bahan kue lainnya.
Setelah menerima telepon, Zoya yang hendak kembali kedapur melihat salah seorang pelayan yang baru saja selesai membersihkan ruangan kerja Zidan keluar dari sana.
Tiba-tiba Zoya merasa penasaran. Ia pun mencoba mendatangi ruangan itu.
Zoya membuka pintunya perlahan-lahan. Netranya mengitari setiap sudut ruangan.
Karena rasa penasarannya yang menggebu-gebu, Zoya melangkahkan kakinya masuk kedalam. Lalu menutup pintunya kembali agar tidak ada yang melihatnya masuk tanpa izin.
Zoya begitu terpana saat melihat ruangan kerja Zidan yang tampak sangat rapi.
Banyak sekali buku-buku berjajar diatas rak dan beberapa barang antik termahal didunia yang tersimpan didalam lemari kaca.
"Ternyata dia tidak berubah. Sejak dulu dia selalu saja gemar mengoleksi barang-barang langka." gumam Zoya seraya tersenyum samar.
Setelah puas melihat-lihat seluruh isi ruangan, netra Zoya teralihkan pada meja kerja Zidan. Dimana terdapat bingkai foto pernikahan Zidan bersama Andita.
Zoya meraih bingkai foto itu lalu menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kau bisa menikahi gadis biasa seperti Andita, Zidan? Padahal begitu banyak gadis berkelas yang mengincarmu. Kenapa kau malah memilihnya?!"
Tidak ingin berlama-lama menatap foto yang menyakitkan itu, Zoya pun menghentak bingkai foto tersebut diatas meja. Kemudian ia meraba kursi kebesaran Zidan dan mendudukinya.
Entah kenapa tangan Zoya ingin sekali membuka laci meja kerja Zidan. Dan akhirnya Zoya pun membukanya dengan perlahan.
Seketika wajahnya berbinar saat ia mendapati foto dirinya, Zidan dan Andrew berada didalam laci tersebut. Zoya meraih foto itu lalu mengusapnya dengan lembut.
"Ck! Aku tidak menyangka ternyata kau masih menyimpan foto ini Zidan."
Kemudian Zoya membalik foto yang ia pegang. Dan..
Alangkah terkejutnya Zoya saat ia melihat tulisan yang tertera dibelakang foto itu.
I Love You So Much Zoya!
Deg
Deg
Deg
Seketika jantung Zoya berdegub kencang. Ia merasakan desiran halus dihatinya. Berkali-kali pula Zoya mengerjapkan matanya.
"Be-benarkah yang kulihat ini?!"
.
.
Bersambung...
Satu bab dulu yaa otornya ngantuk 😪
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like , komen, hadiah dan votenya yaa kakak2 yang baik hati..
Biar otor tambah semangat updatenya hehe..