MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Mulai Terungkap


__ADS_3

"Ya, aku tidak bisa berenang Andrew! Dan aku tenggelam karena..." sorot mata Andita menghunus tajam kearah Zoya.


Zoya tak kalah tajam membalas tatapan Andita. Ia seolah memperingatkan agar Andita tutup mulut.


"Karena apa?!" tanya Zidan.


"Karena aku ingin mengambil kalungku yang jatuh kedasar kolam." dusta Andita.


Andita tidak bisa mengatakan yang sebenarnya bukan karena ia takut pada Zoya. Namun ia lebih memikirkan perasaan Andrew.


Bagaimana jika lelaki itu tahu bahwa semua yang terjadi padanya karena Zoya. Karena Zoya mencintai Zidan.


Andita juga tidak tahu apa yang akan Zidan lakukan pada Zoya jika ia memberitahu yang sebenarnya pada suaminya itu.


Apakah Zidan akan kembali mencintai Zoya atau bertahan bersama dengannya dan juga calon buah hati mereka?


Disisi lain Zoya tersenyum puas. Ia merasa bahwa dirinya berhasil menakuti Andita.


"Kalung?!" Zidan mengerutkan dahinya kemudian netranya beralih pada leher Andita yang tak mengenakan kalung pemberian darinya.


"Kenapa kalungmu bisa jatuh kedasar kolam?!"


Andita terdiam. Ia menundukkan pandangannya tak berani menatap Zidan.


"Tunggu! Kalung apa?!" tanya Andrew.


"Sewaktu di villa aku memberikannya kalung berlian. Hadiah khusus untuknya saat aku pulang dari luar kota." jelas Zidan.


Andrew mengangguk mengerti.


"Tapi kenapa kalungmu bisa jatuh ke dalam kolam Andita?!" Andrew tak kalah bingung.


"Itulah yang sedang aku tanyakan Andrew." Zidan menatap tajam kearah Andita yang masih bungkam.


"Baiklah, kau tidak perlu khawatir! Aku akan coba mencarinya!" Andrew kembali menceburkan dirinya kedalam kolam untuk mencari kalung yang dimaksud Zidan.


Sementara Zidan masih menunggu jawaban dari mulut Andita.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Andita. Kenapa kalungmu bisa jatuh kedasar kolam?! Kau sengaja melepasnya?! Bukankah aku memintamu untuk menjaganya dengan baik?!" suara Zidan begitu dingin. Bahkan rahangnya mengeras saat melontarkan pertanyaan tersebut.


Tiba-tiba tubuh Zoya bergetar. Ini pertama kalinya Zoya melihat ekspresi Zidan seperti itu. Terlihat jelas sorot kemarahan dalam dirinya hanya saja Zidan menahannya.


"Ma-maaf!" lirih Andita. Ia semakin menundukan kepala karena merasa bersalah. Zidan menghembuskan nafas kasar.


Kemudian pandangannya teralihkan pada Zoya, membuat Zoya terhenyak.


"Zoya!"


"Zi-Zidan."


"Kenapa kau datang kemari? Bukankah seharusnya kau beristirahat untuk memulihkan kondisimu?!"


"Ko-kondisiku sudah membaik. A-aku hanya ingin menjenguk Andita saja."


"Benarkah?!"


"Tentu! Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Seolah-olah kau tidak percaya padaku?!" kesal Zoya.


Mendengar alasan Zoya, sungguh Andita merasa muak dengan sandiwara yang Zoya mainkan. Namun ia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Zidan.


Tak lama kemudian Andrew keluar dari dalam kolam. Ia membawa sebuah kalung berlian yang Andita cari.


"Apakah ini kalungnya?!" tanya Andrew.


"Ya! Ini kalung Andita." Zidan mengambil kalung itu dari tangan Andrew. Kemudian langsung memasangkannya kembali dileher Andita.


"Apapun alasannya jangan pernah melepasnya lagi! Atau aku akan benar-benar marah padamu!" ucap Zidan. Andita mengangguk pasrah.


Setelah Zidan selesai memasangkan kalung dilehernya, tiba-tiba Andita merasakan kram pada perutnya.

__ADS_1


"Akh!"


"Andita?! Ada apa?!"


"Perutku! Akh, sakit sekali Zidan! Awhh.. hish!" Andita meringis memegangi perutnya yang berdenyut nyeri.


"Jangan-jangan?!" pikiran Zidan sudah melayang kearah negatif, ia takut terjadi sesuatu pada calon anak mereka.


Andrew yang melihat Andita kesakitan pun menjadi ikut khawatir.


"Lebih baik kau membawa Andita masuk Zidan dan ganti pakaiannya! Dia pasti kedinginan. Aku akan segera menghubungi dokter!"


Zidan mengikuti saran Andrew. Ia langsung mengangkat tubuh Andita dan membawanya masuk kedalam rumah.


Sementara Zoya hanya bisa menatap benci pada Andita yang berada dalam gendongan Zidan.


Aku berharap anak kalian tidak selamat!


*****


Zidan menghela nafas lega ketika dokter yang memeriksa Andita mengatakan jika Andita hanya mengalami kram perut biasa.


Dan yang lebih melegakan lagi, kondisi janin didalam perut Andita juga dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Bahkan dokter tersebut memberi beberapa vitamin untuk Andita agar janin dalam kandungannya tetap sehat dan kuat.


Siang berganti malam. Andita tidak bisa tidur dengan pulas. Berkali-kali ia memejamkan mata namun pengakuan Zoya tadi siang membuatnya merasa gusar.


Aku menyukai Zidan! Ah, bukan. Lebih tepatnya aku mencintai Zidan!


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinga Andita. Saat itu juga Andita membuka mata. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Apa yang harus aku lakukan? Mengatakan semuanya pada Zidan? Apa dia akan percaya? Mengingat kami pernah bertengkar hebat karena wanita itu.


Andita menghela nafas berat. Kemudian ia turun dari ranjang dan berjalan kearah balkon kamar untuk menenangkan pikirannya.


Dahinya mengernyit ketika melihat punggung sang istri yang tengah berdiri dibalkon. Pasalnya saat Zidan tinggalkan, Andita dalam keadaan tertidur. Dan kini ia terkejut ketika mendapati Andita tengah terbangun.


Perlahan Zidan pun melangkahkan kakinya mendekat kearah Andita.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Bukankah tadi kau sudah tidur?" Zidan memeluk tubuh Andita dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang begitu memabukan.


"Sayang kau mengagetkanku!" Andita berbalik dan menatap lekat mata suaminya itu.


"Katakan kenapa kau terbangun?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan?" Zidan merapikan sulur anak rambut yang membingkai wajah istrinya. Satu tangannya meraih pinggang Andita.


Sejenak Andita terdiam lalu menundukkan pandangannya.


"Ada." jawab Andita.


"Apa?"


Andita sedikit menengadahkan kepalanya hingga tatapannya beradu dengan tatapan Zidan.


"Jika aku menanyakannya apa kau akan marah?"


"Memang hal apa yang ingin kau tanyakan hingga aku harus marah pada ibu dari calon anakku ini?" Zidan membelai lembut perut rata Andita.


"Tentang Zoya."


Deg


Gerakan tangan Zidan terhenti saat Andita menyebut nama Zoya. Sorot matanya berubah tajam menatap Andita.


Andita bergidik melihat perubahan raut wajah Zidan. Ia tahu bahwa Zidan paling tidak suka jika masa lalunya dengan Zoya dipertanyakan.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi? Andita tetap harus menanyakannya untuk memastikan perasaan suaminya itu pada Zoya.


Andita hanya takut jika Zidan masih memiliki perasaan pada wanita itu dan pergi meninggalkannya saat tahu bahwa Zoya juga mencintainya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"A-aku."


"Tidak perlu takut. Aku tidak akan marah." seperti tahu apa yang dikhawatirkan istrinya, Zidan membelai wajah Andita.


"Aku hanya ingin bertanya, apa kau masih memiliki perasaan terhadap Zoya?" Andita langsung melipat bibirnya.


Zidan membuang nafas kasar dan itu membuat jantung Andita berdetak tak karuan. Ia benar-benar takut Zidan akan marah.


"Tidak! Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya!" jawab Zidan. Netranya menatap wajah Andita lekat-lekat.


Harusnya jawaban itu bisa membuat Andita tenang tapi sepertinya Andita belum puas.


"Bagaimana jika dia memiliki perasaan terhadapmu? Apa yang akan kau lakukan?" bibir Andita bergetar saat menanyakan hal itu. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


Sementara Zidan yang sudah tahu kemana arah pembicaraan Andita memilih bersikap tenang.


"Aku bersumpah aku tidak akan pernah membalas perasaan itu! Sampai mati aku hanya akan mencintaimu juga calon anak kita!"


Nyess, hati Andita sedikit menghangat mendengarnya.


"Benarkah?"


"Tentu! Aku berkata dengan sejujur-jujurnya. Kau segala-galanya untukku Andita. Tidak akan ada wanita yang mampu menggantikan posisimu dihatiku!"


Andita tersenyum bahagia lalu memeluk erat tubuh tagap suaminya itu.


"Aku mencintamu Zidan!"


"Aku lebih mencintaimu Andita. Sangat mencintaimu!"


Zidan tak kalah erat membalas pelukan Andita. Kemudian ia teringat sesuatu dan melonggarkan pelukannya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi siang Andita. Kenapa kalungmu bisa jatuh kedalam kolam?"


Wajah Andita seketika menegang.


"I-itu."


"Jangan coba berbohong padaku! Katakan yang sebenarnya. Apa Zoya melakukan sesuatu padamu?" selidik Zidan.


Eh, kenapa tiba-tiba Zidan langsung menuduh Zoya?! ~Andita


Katakan Andita! Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulutmu! ~Zidan


Ya, sebenarnya Zidan sudah tahu bahwa siang tadi Zoya melakukan sesuatu pada Andita.


Karena kondisi Andita yang masih lemas, Zidan tidak ingin bertanya apapun yang membuat istrinya tertekan.


Zidan membiarkan Andita untuk beristirahat, sementara dirinya pergi keruang kerja.


Pada akhirnya Zidan mengecek sendiri cctv yang terpasang dihalaman belakang dan melihat apa yang terjadi lewat layar monitor.


Zidan sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Zoya pada Andita. Ia benar-benar geram dan murka karena tidak menyangka orang terdekatnya berani mencelakai istri dan calon anaknya.


"Zoya!"


Netra Zidan menyala seiring dengan tangannya yang mengepal kuat dan rahang yang mengeras.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2