
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil sport Zidan memasuki gerbang utama kediamannya.
Zidan membuka seat belt ketika mobil berhenti didepan pintu utama lalu ia menoleh kesamping, tempat dimana Andita duduk. Zidan tersenyum ketika melihat pemandangan disampingnya itu.
Andita tengah tertidur pulas sambil memeluk boneka lumba-lumba yang dibelinya tadi siang di tempat wisata bermain.
Perlahan Zidan mencoba membangunkan istrinya, namun Andita sama sekali tidak mau membuka mata. Ia malah semakin erat memeluk boneka itu dan hanya menggeliat kecil, membuat Zidan gemas dibuatnya.
Akhirnya Zidan pun memutuskan untuk turun lalu menggendong Andita masuk kedalam rumah.
Zidan mengangkat tubuh Andita dengan hati-hati. Dia menggendongnya ala bridal style. Hingga kepala Andita bersandar pada dada bidangnya.
"Turunkan semua barang-barang yang ada di dalam mobil dan taruh diruang tengah!" titah Zidan pada kedua body guard yang berjaga dipintu utama seraya menyodorkan kunci mobilnya.
"Baik Tuan!" Jawab kedua bodyguard itu bersamaan sambil menundukkan kepalanya.
Zidan segera membawa Andita masuk kedalam rumah. Ia terus memandangi wajah cantik istrinya itu sepanjang menaiki tangga.
Wajah yang mampu menggetarkan hatinya, dan mampu membuatnya berpaling dari cinta pertamanya.
Sesampainya dilantai dua, Zidan segera membuka pintu kamar, kemudian ia masuk dan merebahkan tubuh Andita diatas ranjang. Zidan membenarkan posisi tidur Andita agar istrinya merasa nyaman.
Setelah selesai Zidan pun duduk ditepiannya. Ia kembali menatap wajah Andita lamat-lamat.
"Aku berjanji padamu sayang, aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu seperti mantanmu dulu. Aku akan menjagamu seumur hidupku. Sampai nanti kita memiliki anak dan hidup bahagia bersama." Zidan mengusap lembut pipi Andita kemudian mendaratkan ciuman dikeningnya.
"I love you forever Andita."
Setelah mengatakan itu Zidan mulai beranjak dari duduknya untuk membersihkan diri.
Ketika terdengar bunyi pintu kamar mandi tertutup Andita tersenyum samar.
Rupanya dia terbangun ketika Zidan menaruh tubuhnya diatas kasur. Awalnya Andita ingin membuka mata namun karena rasa kantuk yang hebat matanya tetap terpejam.
Namun saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya barusan tiba-tiba hatinya menghangat.
Ternyata kehidupan jatuh bangun yang dialaminya dulu membawanya pada lelaki yang tepat.
Entah dia harus berterimakasih pada Dirga karena dulu sudah mengkhianatinya, atau berterimakasih pada sang ibu. Karena jika saat itu dia tidak meminjam uang pada Zidan, mungkin dia tidak akan pernah menikah dengan bosnya tersebut.
Yang pasti Andita bersyukur. Apapun yang dia peroleh hari ini, itu semua tidak luput dari campur tangan Tuhan padanya.
******
Sementara di tempat berbeda, dua pasang sejoli yang baru saja selesai memadu kasih terlihat begitu kelelahan.
Tubuh mereka dipenuhi dengan kucuran keringat setelah melakukan kegiatan panas selama beberapa jam sebelumnya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk malam ini sayang! Aku mencintaimu." Ucap Andrew dengan suara parau tepat ditelinga Zoya.
Zoya hanya menatap sayu kedua mata Andrew. Awalnya malam ini ia enggan untuk bercinta dengan kekasihnya itu.
Namun karena Andrew terus mendesak dirinya dan dirinya pun butuh pelampiasan karena terus memikirkan Zidan, akhirnya pergulatan panas diatas ranjang miliknya pun tak bisa terelakan.
Zoya yang mulai terobsesi pada Zidan, dengan gilanya berfantasi bahwa ia tengah digagahi oleh sahabatnya sendiri yang telah beristri.
Beruntung dia tidak menyebut nama Zidan saat pelepasannya. Bisa dibayangkan akan betapa marahnya Andrew terhadapnya.
"Kapan kau akan menikahiku Andrew?" tanya Zoya tiba-tiba. Pasalnya ia sudah mulai lelah dengan hubungan bebas yang dijalaninya.
"Kenapa kau selalu menanyakan tentang itu Zoya? Bukankah sejak awal menjalin hubungan, kita sudah sepakat tidak akan buru-buru menikah?" jawab Andrew seraya bangkit dari atas tubuh Zoya lalu berbaring disamping kekasihnya itu.
"Tapi kita sudah menjalani hubungan ini begitu jauh Andrew! Bagaimana jika aku hamil? Tidakkah kau ingin menikahiku?!" ketus Zoya sambil memakai piyamanya.
Ia segera berjalan menuju meja yang berada tidak jauh dari ranjangnya lalu menuangkan wine kedalam gelas dan menenggaknya hingga tandas.
"Kau tidak akan hamil jika kau terus meminum pil kontrasepsi sayang! Lagipula aku belum siap untuk menikah dan hidup berumah tangga, kau sudah tahu itu bukan?!" Ucap Andrew dengan santainya.
Mendengar ucapan Andrew seketika dada Zoya bergemuruh. Zoya menatap nyalang pada kekasihnya itu.
"Kau menyuruhku untuk terus meminum pil kontrasepsi?!"
"Hemm. Bukankah itu cara yang aman, agar kita bisa tetap bercinta dan kau tidak perlu takut lagi jika nantinya kau akan hamil."
Zoya menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Deg
Seketika Andrew terkejut dengan ucapan Zoya. Karena baru kali ini Zoya meminta berpisah darinya.
"Apa yang barusan kau katakan Zoya?! Hanya karena aku belum siap menikahimu kau mau memutuskan hubungan denganku?!"
"Ya! Karena aku lelah dengan hubungan kita yang tidak jelas!" Zoya memalingkan pandangannya keluar jendela apartement. Tangannya bersedekap didada.
"Tapi aku tidak akan mau berpisah denganmu. Karena aku mencintaimu!"
"Cinta?! Saat kau tidak berani untuk menikahi orang yang kau cintai, masih pantaskah itu disebut cinta?!" Netra Zoya kembali menatap Andrew dengan marah.
"Aku juga ingin kepastian Andrew! Aku ingin membangun rumah tangga dan memiliki keluarga kecil bersama orang yang kucintai. Jika kau tidak bisa mewujudkannya, maka sebaiknya kita berpisah!"
Andrew mengusap wajah kasar. Ia segera memungut pakaiannya yang tercecer dilantai lalu memakainya kembali.
"Aku rasa suasana hatimu sekarang sedang tidak baik sayang. Kita akan bicara lagi nanti."
Setelah rapi memakai pakaiannya Andrew segera meraih kunci mobil yang tergeletak diatas nakas lalu berjalan hendak keluar dari apartement Zoya.
__ADS_1
Zoya yang melihat hal itu semakin berang.
"Jika kau tidak menikahiku dalam waktu dekat ini, jangan salahkan aku jika aku berpaling darimu Andrew!"
Seketika Andrew menghentikan langkahnya dan berbalik badan dan menatap Zoya. Kini tatapan sepasang kekasih itu saling mengunci.
"Kau tidak akan mungkin berpaling dariku Zoya, karena aku tahu seberapa besarnya cintamu padaku! Dan aku yakin ucapanmu itu hanya gertakan semata."
Zoya tersenyum sinis. Ia mulai menyadari sesuatu jika ia telah salah mencintai seseorang.
"Kau pikir aku bercanda Andrew?! Baiklah jika kau berpikir demikian. Itu hakmu! Yang jelas aku sudah memperingatkanmu, karena saat nanti itu terjadi, penyesalanmu tidak akan berarti apapun!" Ucap Zoya penuh penekanan.
Andrew hanya bisa menatap nanar kekasihnya itu. Ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Zoya yang tiba-tiba menuntutnya untuk segera menikahi dirinya. Padahal sebelumnya Zoya tidak pernah seperti itu.
Akhirnya Andrew memutuskan untuk keluar dari apartement Zoya. Dengan kasar ia membanting pintu, hingga Zoya terlonjak kaget.
Sepeninggal Andrew, Zoya yang sedari tadi menahan tangisnya yang hendak mendesak keluar, akhirnya tumpah juga.
Air matanya mulai berderai. Tubuhnya lemas dan terduduk disofa. Ia semakin menyesali keputusannya untuk menjalin hubungan dengan Andrew.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu padaku?!" lirih Zoya saat mengingat perkataan Andrew yang menyuruhnya untuk terus meminum pil kontrasepsi.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Zoya segera mengambil ponselnya. Ia membuka layar dan mencari kontak Zidan.
Awalnya Zoya ingin menghubungi Zidan, karena biasanya ketika ia sedang sedih Zidanlah yang akan selalu menghiburnya.
Namun sepertinya kali ini dia harus menahan diri. Mengingat Zidan sudah menikah dan pasti lelaki itu tidak akan mau menemani dirinya.
Zoya semakin frustasi. Akhirnya untuk mengobati luka dan rasa rindunya ia memilih untuk membuka sosial media Zidan. Untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh Zidan hari ini.
Namun bukan obat yang didapat, melainkan kesakitan yang semakin Zoya rasakan saat melihat foto Zidan dan Andita tengah tersenyum bahagia kearah kamera.
Ya, beberapa waktu lalu Zidan memposting foto kebersamaannya dengan Andita diakun sosial media pribadinya, ketika mereka sedang berada di Seaworld.
Bagai luka yang disiram dengan air cuka rasanya begitu perih. Zoya meremas dadanya yang berdenyut nyeri. Ia semakin tidak bisa membendung airmatanya.
Dengan kasar ia melempar ponselnya kesembarang arah.
"Aaarggh!!! Kenapa hidupku jadi seperti ini?!! Hiks..hiks" teriak Zoya pilu.
Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis sesenggukan.
Tidak lama kemudian Zoya membasuh kasar wajahnya dan mengahapus sisa-sisa airmatanya itu.
"Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Aku harus bisa berpisah dari Andrew dan mendekati Zidan. Jika dulu Zidan yang mendekatiku, maka sekarang aku yang akan mendekatinya!" Ucap Zoya penuh tekad disela-sela isak tangisnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...