
"Ehem! Apa kami mengganggu kalian?" tanya Zidan ketika pintu ruang ICU sudah dibuka olehnya.
Andrew dan Zoya yang sudah bisa menguasai diri dan saat ini tengah berbincang santai langsung menoleh kearah pintu.
Andrew nampak senang melihat kehadiran dua sahabatnya itu. Namun ekspresi berbeda ditunjukan oleh Zoya. Ia begitu terkejut ketika melihat kedatangan Andita dan Zidan secara tiba-tiba.
Seketika perasaan bersalah dan canggung melanda di hati wanita itu.
"Zidan, Andita?" Sapa Andrew. "Kalian disini?! Masuklah!"
Andita dan Zidan saling pandang lalu secara bersamaan mengangguk pelan dan tersenyum pada Andrew. Kemudian mereka berjalan mendekat kearah brankar.
"Kami datang untuk menjenguk Zoya, Andrew." ucap Zidan.
"Terimakasih." jawab Andrew.
"Zoya, ini bunga untukmu! Aku senang melihatmu sudah sadar! Semoga kau lekas sembuh ya!" Andita menyerahkan sebuket bunga lili pada Zoya, lalu Andrew menerima bunga itu karena tangan Zoya masih belum kuat untuk digerakkan.
"Terimakasih Andita! Kenapa harus repot-repot membawakan bunga? Kedatangan kalian saja sudah cukup membuat kami senang! Iya kan sayang?!"
Sekilas Zoya memejamkan mata seraya mengangguk pelan kemudian ia tersenyum pada Andita.
"Tidak apa Andrew! Lagipula kami tidak merasa direpotkan." jawab Andita lembut sembari menggenggam tangan kiri Zoya.
Zoya yang masih terbaring lemah diatas brangkar dengan memakai gips dibagian leher, tangan, dan kakinya, hanya bisa menatap Andita dengan mata berkaca-kaca.
"Andita." panggil Zoya terbata.
"Ya Zoya."
"Aku.."
Sejenak suasana hening. Zoya menjeda ucapannya sesaat. Kemudian menghela nafas berat.
"Aku ingin minta maaf padamu. Tolong maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku benar-benar menyesali perbuatanku Andita." lirih Zoya.
Saat itu juga airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah. Diiringi dengan isakan kecil yang keluar dari bibirnya.
Melihat hal tersebut hati Andita terenyuh kemudian ia langsung mengeratkan genggaman tangannya pada jemari tangan Zoya.
"Jangan menangis Zoya! Aku sudah memaafkanmu!"
"A-ku, aku sungguh malu sekali padamu Andita. Mungkin kecelakaan yang aku alami ini adalah karma dari keegoisan dan keserakahanku. A-ku..aku pantas menerimanya." susah payah Zoya mengucapkan kalimat itu ditengah isak tangisnya.
Dengan lembut Andita mengusap bahu Zoya dan menenangkan wanita itu.
"Aku senang kau sudah menyesali perbuatanmu Zoya. Aku hanya bisa berharap kedepannya kau akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." tutur Andita.
Zoya mengangguk pelan. Sementara Andrew perlahan menghapus air mata Zoya menggunakan tisue.
"Terimakasih Andita. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku. Dan aku.. Aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu hubunganmu dengan Zidan." saat mengatakan itu, sekilas netra Zoya melihat kearah Zidan yang berdiri tepat disamping Andrew.
"Syukurlah kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya kau menyadari kesalahanmu Zoya." jawab Zidan datar.
Zoya tersenyum getir mendengar ucapan Zidan. Ia hanya bisa menatap lelaki itu dengan tatapan nanar.
Aku memang menyadari kesalahanku Zidan. Dan menyesali semua perbuatan yang telah aku lakukan pada kalian. Tapi entah kenapa perasaanku padamu masih saja tetap ada.
Hati Zoya berdenyut nyeri, kala ia belum bisa melupakan perasaannya terhadap Zidan.
Namun Zoya sudah bertekad, bahwa dirinya akan berusaha lebih keras lagi untuk mengubur perasaan itu dan kembali menata hidupnya yang sudah hancur berantakan.
Disisi lain Andrew yang mendengar secara langsung permintaan maaf Zoya pada Andita, merasa lega.
__ADS_1
Andrew sangat senang ketika Zoya mengatakan bahwa dia tidak akan lagi mengganggu hubungan Zidan dan Andita.
Itu berarti Zoya sudah melupakan Zidan, dan kesempatannya untuk mendapatkan Zoya kembali terbuka lebar.
Namun sampai saat ini Andrew belum menanyakan lagi pada Zoya tentang perasaan wanita itu padanya. Apakah Zoya masih mencintainya atau tidak.
Untuk sekarang, Andrew ingin memberikan waktu terlebih dulu pada Zoya. Ia tidak ingin terburu-buru menanyakan kelanjutan hubungan mereka untuk kedepannya nanti.
"Ehem." deheman Andrew membuyarkan lamunan Zoya dan keheningan yang terjadi beberapa saat.
"Karena kebetulan kalian ada disini, bolehkah aku meminta tolong pada kalian untuk menjaga Zoya sebentar? Tadi pagi dokter menyuruhku untuk datang keruangannya. Aku belum sempat kesana karena tidak tega meninggalkan Zoya sendirian." ucap Andrew.
"Tentu! Pergilah! Kami akan menjaga Zoya." jawab Zidan.
"Terimakasih!" Andrew menepuk bahu Zidan kemudian beralih mendekati Zoya sembari mengelus pucuk kepala wanita itu.
"Sayang..aku tinggal sebentar ya! Aku janji tidak akan lama!" Zoya hanya menjawab dengan anggukan disertai senyuman simpul.
*****
Didalam ruang ICU kini hanya tinggal Zoya dan Zidan. Saat Andrew keluar, tidak lama kemudian Andita mendapatkan telepon dari sang ibu. Karena tidak ingin mengganggu ketenangan Zoya, Andita pun memilih keluar dari ruangan tersebut.
Awalnya Zidan ingin ikut keluar bersama Andita. Namun Andita meminta Zidan untuk tetap tinggal didalam ruang ICU.
Andita khawatir jika nanti Zoya membutuhkan sesuatu namun tidak ada orang yang bisa membantunya karena Andrew belum kembali.
Akhirnya mau tidak mau Zidan pun menyetujui saran Andita.
Saat mereka hanya tinggal berdua, kecanggungan begitu terasa diantara keduanya. Dua sahabat itu saling diam seperti orang asing.
Tatapan Zoya lurus memandang langit-langit ruangan dan seisinya. Sementara Zidan yang duduk disamping Zoya menyibukkan diri dengan gawainya.
Tak ingin larut dalam suasana seperti orang yang saling bermusuhan, Zoya pun memberanikan diri untuk berbicara.
Mendengar panggilan Zoya, Zidan langsung menghentikan aktifitasnya. Sorot mata yang awalnya fokus pada layar ponsel kini beralih pada sahabatnya itu.
"Ya? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Zidan.
"Aku.. Aku ingin minta maaf padamu Zidan, karena aku telah.."
"Sudahlah Zoya! Bukankah tadi kau sudah minta maaf?! Dan kami sudah memaafkanmu. Lupakan saja masalah kemarin, anggap tidak terjadi apapun. Aku bersyukur Tuhan masih memberimu kesempatan untuk hidup dan menyadari semuanya." potong Zidan.
Ia bisa saja mengatakan sudah memaafkan Zoya, namun kenyataannya tidak semudah itu.
Bayangan Andita yang tenggelam karena ulah Zoya, masih tersimpan jelas diingatan Zidan. Butuh waktu bagi Zidan untuk memaafkan kesalahan sahabat wanitanya itu.
Bahkan ketika Zoya mengalami koma selama hampir dua bulan, Zidan hanya datang satu kali saat Zoya pertama kalinya mengalami kecelakaan dan masuk kerumah sakit.
Hari-hari berikutnya ia tidak pernah sekalipun berkunjung dengan alasan pekerjaan.
Mendengar jawaban Zidan yang begitu dingin, hati Zoya merasa pedih. Sebelumnya, selama mereka bersahabat Zidan tidak pernah bersikap sedingin itu padanya.
Dan rasanya ini lebih menyakitkan ketimbang Zidan menyeretnya keluar dari kantor sebelum ia mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.
"Terimakasih karena kau sudah memaafkanku Zidan. Kalau kau ingin pergi dari sini dan menyusul Andita, pergilah. Aku tidak apa-apa." ucap Zoya pelan. Padahal ia sedang berusaha menahan tangis.
Zoya langsung memalingkan wajahnya kesamping kiri dan seketika airmatanya pun jatuh mengalir hingga perban diwajahnya kembali basah.
Zoya menggigit bibirnya agar isak tangisnya tak terdengar oleh Zidan.
Namun sayang, Zidan melihat bahu Zoya bergetar. Zidan mengusap wajah kasar lalu memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
Kemudian dengan perasaan ragu ia menyentuh bahu Zoya
__ADS_1
"Zoya, kau menangis? Apa ucapanku tadi ada yang menyinggungmu?"
Zoya menggelengkan pelan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya. Lalu menghela nafas berat.
"Tidak ada Zidan. Pergilah! Aku baik-baik saja."
"Tidak! Aku akan tetap disini sebelum kau mengatakan kenapa kau menangis? Aku tidak ingin Andrew melihatmu sedih seperti ini atau dia akan salah paham kepadaku!"
"Dia tidak akan salah paham kepadamu Zidan. Karena kami tidak memiliki hubungan apapun." akhirnya Zoya menoleh kearah Zidan yang masih memegang bahunya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak menerima Andrew kembali? Dia begitu baik dan tulus menjagamu. Selain itu Andrew juga sangat mencintaimu Zoya. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu."
Zoya menatap Zidan lekat-lekat dengan air mata yang masih berderai. Begitupun dengan Zidan yang menatap intens manik mata milik Zoya. Hingga tatapan keduanya saling mengunci.
Karena aku belum bisa melupakanmu Zidan! ~Ucap Zoya dalam hati.
"Setelah apa yang aku perbuat pada Andrew, aku merasa tidak pantas untuk menjadi pendampingnya. Dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Zidan." jawab Zoya.
Zidan merasa sedikit lega dengan jawaban yang Zoya berikan. Awalnya dia mengira alasan Zoya tidak menerima Andrew adalah karena Zoya masih mengharapkannya.
Jika itu terjadi, maka Zidan akan benar-benar membawa Andita pergi dari negara ini.
Perlahan Zidan mengangkat tangan kanannya dan menggenggam tangan Zoya. Netranya kembali menatap wajah Zoya lekat-lekat.
"Siapa bilang kau tidak pantas untuk Andrew? Yang tahu pantas atau tidaknya kau berdiri disamping Andrew adalah Andrew sendiri. Aku harap kau tidak melukai perasaan Andrew saat dia menyatakan kembali perasaannya padamu!" ucap Zidan.
Sejenak Zoya tertegun dengan ucapan Zidan yang terdengar tegas namun lembut.
Netranya beralih menatap tangan Zidan yang tengah menggenggam tangannya.
Tanpa mereka berdua sadari, tindakan mereka melukai hati seseorang. Andita yang sejak tadi berdiri didepan pintu ruang ICU melihat semuanya lewat kaca pintu itu.
Hatinya berdenyut nyeri saat Zidan menatap dan menggenggam tangan Zoya begitu posesif.
Tak ingin menjadi pengganggu, akhirnya Andita mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.
Dengan hati remuk redam Andita berjalan menjauhi ruangan tersebut. Entah kenapa kakinya tiba-tiba terasa lemas dan berat untuk melangkah. Bahkan pandangan matanya seketika kosong.
Apa Zoya masih mencintai Zidan? Atau, Zidan yang masih mencintai Zoya?
Saat pikirannya tengah terbang melayang, tiba-tiba...
Brukk
Andita tidak sengaja menabrak seseorang hingga membuatnya sedikit terhuyung kebelakang.
Ia langsung menundukkan kepala dan segera meminta maaf.
"Ma-maaf! Saya tidak senga.." ucapan Andita terhenti ketika ia menengadahkan kepalanya. Andita terkejut saat melihat lelaki yang tidak asing baginya.
"DIRGA?!"
.
.
Bersambung...
Hoola readersku sayang.. Maaaaf otor baru bisa update lagi sayangkuu ππ
Masih belum bisa bagi waktunya huhu π’
Btw disini Dirga bukan mau jadi pebinor yaa π konfliknya udah abis hihi ππ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komen, hadiah, dan votenya yaa ~ Trimakasih Kakak2 yang baik hatii β€ππππ