MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Hanya Ingin Tahu


__ADS_3

Saat ini Andita tengah berdiri didepan balkon kamarnya. Ia menatap langit-langit yang sudah menggelap dan hanya bercahayakan sinar rembulan.


Semilir dinginnya angin yang berhembus, menerpa sekujur kulit ditubuhnya. Andita mendekap tubuhnya erat dengan kedua telapak tangan.


Pandangannya jauh menerawang kedepan. Sedangkan pikirannya melanglang buana entah kemana.


Rasa sedih, kesal dan bingung secara bersamaan bercampur menjadi satu.


Sedih karena lusa Zidan akan pergi meninggalkannya.


Kesal karena Andita masih mengingat saat Zoya hendak mencium Zidan.


Dan bingung karena Andita memikirkan maksud perkataan Zoya tadi siang yang mengatakan jika sebelumnya Zidan memperhatikannya lebih seperti seorang kekasih.


Dan kalimat itu cukup mengusik hati dan pikiran Andita.


Kenapa Zoya mengatakan hal itu? Apa sebelumnya Zidan menyukai Zoya?


Tiba-tiba..


Greepp!


Sebuah tangan kokoh mendekap tubuh Andita dari belakang. Andita terkesiap meskipun dia sudah tahu siapa pemilik tangan itu.


Zidan selalu menyukai posisi intim seperti ini. Karena dia bisa menghirup aroma wangi tubuh istrinya. Dan bibirnya bisa leluasa bebas menciumi leher jenjang milik sang istri.


"Eugh..Zidan." Andita melenguh saat nafas hangat Zidan mulai menerpa kulitnya dan memainkan bibir serta lidahnya disekitar lehernya.


"Kenapa malam-malam begini masih diluar, hm? Apa kau tahu jika angin malam tidak baik untuk kesehatan tubuh?" Tanya Zidan disela aktifitasnya.


Andita tidak menjawab. Dia memejamkan mata menikmati apa yang suaminya lakukan.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"


Seketika Andita membuka matanya. Dia ingin meminta Zidan untuk tidak pergi tapi rasanya tidak mungkin. Apalagi ini menyangkut urusan perusahaan.


"Ya, aku hanya sedikit sedih karena lusa kau akan meninggalkanku sendiri." Ucapnya sendu.


Zidan tersenyum lalu membalikkan tubuh Andita hingga menghadapnya. Kemudian menangkup wajah cantik itu.


"Aku hanya pergi beberapa hari sayang, sampai urusanku selesai aku akan segera kembali. Jadi kenapa kau harus sedih?!"


"Karena sebelumnya kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi Zidan." Lirih Andita.


Zidan membawa tubuh mungil Andita kedalam pelukannya. Hingga kepala Andita menempel pada dada dibidang lelaki itu.


"Aku pun berat meninggalkanmu Andita. Tapi aku juga tidak mungkin mengajakmu untuk ikut bersamaku. Karena pasti aku akan tetap meninggalkanmu sendiri dan sibuk dengan pekerjaanku. Tapi aku berjanji, setelah aku pulang aku akan mengajakmu jalan-jalan. Bukankah kita belum pernah pergi bersama?"

__ADS_1


Andita terdiam. Yang ia butuhkan bukan jalan-jalan. Hanya selalu berada disisi suaminya saja itu sudah cukup baginya.


"Berapa hari kau akan pergi?"


"Hmm, mungkin 3-4 hari."


"Lama sekali."


Zidan terkekeh mendengar keluhan istrinya.


"Ya, selama itu kau tidak boleh nakal. Kau tidak boleh pergi kemanapun selama aku tidak ada disisimu, mengerti!"


"Hish, kenapa kau selalu seperti itu! Selalu saja mengekangku! Bukankah itu berlebihan?!"


Zidan mengernyitkan dahi lalu melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah Andita lekat-lekat.


"Aku mengekangmu?!"


"Ya! Kau selalu mengekangku! Apa kau tidak sadar?!" Andita membalas tatapan Zidan.


"Hah?! Apa kau tidak tahu jika ini adalah salah satu bentuk perhatianku padamu?!"


"Perhatian?!"


"Ya! Mungkin kau yang tidak sadar jika kau sudah dua kali nyaris membuatku gila. Apa kau lupa?"


"Jika aku tidak datang tepat waktu, mungkin kau tidak akan ada disini bersamaku! Jadi apa kau masih menganggapku berlebihan dalam memberikan perhatian padamu?!"


Seketika bibir Andita terkatup rapat. Ia tidak punya kata-kata lagi untuk menjawab suaminya.


Namun mendengar kata 'perhatian' pikiran Andita langsung mengingat ucapan yang dilontarkan oleh Zoya tadi siang.


"Maaf, jika perbuatanku nyaris membuatmu gila Zidan. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Apa perhatian berlebihanmu ini pernah kau berikan juga pada Zoya?"


Deg


Tiba-tiba jantung Zidan seolah berhenti berdetak. Lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya terasa tercekat.


Zidan mengalihkan netranya kearah lain namun wajahnya masih menghadap pada Andita.


"Kau tidak perlu menjawab. Aku sudah tahu jawabannya." Ucap Andita yang melihat ekspresi gugup diwajah suaminya itu.


"Ternyata yang dikatakan oleh Zoya itu benar. Jika dulu kau selalu memberikan perhatian lebih padanya seperti seorang kekasih. Apa dulu kau menyukai Zoya?"

__ADS_1


Lagi-lagi Zidan tidak bisa menjawab pertanyaan Andita. Karena menurutnya itu sama sekali tidak penting. Ia tidak mau membahas luka lamanya.


"Kenapa kau harus membahas Zoya disaat kita sedang berdua? Apakah itu penting bagimu?!"


"Aku hanya ingin tahu apakah kau pernah menyukai Zoya atau tidak? Apakah itu salah?"


Zidan melapaskan pelukannya dari tubuh Andita seraya membuang nafas kasar.


"Sebaiknya kita istirahat! Sepertinya kau lelah karena siang ini kau sudah menghabiskan banyak waktu diluar." Zidan menyingkap sulur anak rambut yang membingkai wajah istrinya kebelakang.


Kemudian ia berbalik badan hendak meninggalkan Andita lebih dulu.


"Apa kau tahu tadi siang aku melihatmu menatap Zoya begitu dalam. Dan aku juga melihat Zoya yang hendak menciummu. Jadi wajar bukan jika aku bertanya apakah kau pernah memiliki perasaan terhadap Zoya atau tidak?!" Kini nada Andita naik dua oktaf.


Deg


Zidan menghentikan langkahnya yang hendak masuk kedalam. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Andita.


******


Di tempat berbeda.


Zoya yang berada di apartementnya sedang menikmati segelas wine. Sedari tadi ia minum sambil ditemani boneka miniso beruang jumbo berwarna putih yang dulu pernah Zidan berikan padanya sebagai hadiah ulang tahun.


Ia menaruh boneka itu dipangkuannya. Lalu memeluknya erat dari belakang.


Seperti orang yang tengah merindukan kekasihnya, ia mengungkapkan perasaannya pada boneka itu.


"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkanmu Zidan?"


"Apa aku mulai jatuh cinta padamu, hem?"


Zoya menciumi boneka itu dengan gemas.


"Kenapa sikapmu begitu manis pada Andita? Sementara sikapmu padaku begitu berubah!"


"Kau dulu selalu memperhatikanku. Tapi kenapa sekarang disaat aku memperhatikanmu kau malah tidak mengacuhkanku?"


Netra Zoya menatap nyalang kedepan. Dia jadi teringat setiap pesannya yang dikirim tidak pernah dibalas oleh Zidan.


Juga sikap Zidan tadi siang yang tiba-tiba berubah kasar padanya. Padahal dulu sebelum ada Andita, Zidan tidak pernah bersikap seperti itu.


"Kenapa semenjak ada Andita kau berubah Zidan?" Terlihat kilatan rasa tidak suka didalam sorot mata Zoya.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2