
"Tapi David bagaimana, Mi?" tanya Davina, yang khawatir jika David di tinggal pergi ke kantin sebentar.
"Biar Mami yang jaga saja. Kamu jangan khawatir lagi ya, yang penting doain aja dia." balas Mami Karina dengan nada lembut.
Davina menganggukkan kepalanya lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat David, setelah ia berpamitan lebih dulu pada David yang masih terbaring di atas ranjang pasien.
Setelah memastikan Davina benar - benar pergi dan tidak ada di sekitaran ruang rawat David, Karina dengan cepat mengunci pintu kamar agar ia bisa leluasa untuk berbicara dengan putranya itu.
"Mami sungguh gak nyangka akting kamu ternyata lumayan juga." puji Karina sambil bertepuk tangan.
"Mami baru tahu, kalau aku ini sebenarnya hebat dalam berakting?" sahut David sambil tersenyum.
Saat ia mendengar suara pintu di kunci. Ia sudah membuka pelan matanya. Ia bisa sejenak bernafas dengan lega sambil melepaskan selang oksigen yang ada di hidungnya.
"Benar - benar merepotkan!" Gumam David.
"Merepotkan? Harusnya kamu bilang itu ini membawa berkah." cetus Mami Karina.
"Iya, Mami."
"Hanya bilang itu?"
"Thank you, Mami. I love you too moon and back." ujar David.
"Dasar kamu itu! Makanya, lain kali kalau kamu ada masalah cerita sama Mami!" Tukas Karina.
__ADS_1
"Bukannya aku gak mau cerita. Tapi aku takut kalau nanti Mami marah dan akan jewer telinga aku."
"Habis kamu itu nakal, jadi Mami itu suka jewer telinga kamu."
Suasana pun berubah menjadi hening sejenak.
"Mi...."
"Apalagi, David? Apa pengorbanan Mami hari ini belum cukup untuk kamu? Mami sampe gak ikutan arisan brilliant limited edition demi kamu loh,"
"Bukan itu Mi, David mau tanya? Sampai kapan David akting begini. Aku udah capek, Mi.Semua peralatan medis yang menempel di tubuhku membuat aku nggak nyaman, Mi. Dan bau ruangan ini juga membuat kepalaku sedikit pusing." keluh David panjang lebar
"Kamu nanya mau sampai kapan terus begini?"
"Hm, iya juga ya? Sebentar. Mami akan telepon kru filmnya dulu. Untuk membuat adegan selanjutnya harus bagaimana?" ujar Karina.
"Iya, lebih baik Mami telepon kru filmnya dulu untuk memikirkan skenario selanjutnya dan kasih tahu juga, durasi untuk aku terbaring ranjang ini jangan terlalu lama. Bisa sakit beneran nanti."
"Haizz, kenapa kamu jadi banyak mau dan banyak komentar sih?!" Tanya Mami Karina sambil menepuk jidatnya
"Ya, gara - gara bergaul sama Mami lah sekarang." jawab David dengan muka tanpa dosanya itu.
"Jadi? Kamu nyalahin Mami, gitu? Ya udah, kalau begitu nanti Mami nggak mau bantuin kamu lagi. Biarin aja kamu berbaring terus di sini."
"Jangan Mami. Aku kan, sangat sayang sama Mami." rayu David.
__ADS_1
"Hm, dasar gombal. Oh ya, Mami kok tadi lupa yah, naruh kamera tersembunyinya dimana ya?" ujar Karina menepuk jidatnya karena sudah lupa menaruh kamera tersembunyinya.
Padahal, saat Davina menyatakan tentang perasaannya pada David itu sangat dramatis dan mengharukan.
"Jadi bagaimana dong, Mi? Nanti aku nggak punya bukti dong kalau mau nagih jatah sama Davina nanti. Soalnya, kalau nggak ada bukti itu, Davina pasti akan langsung nolak jika aku ngajak ngadon cucu buat Mami dan Papi."
"Hmmm... Ya sudah. Kalau begitu, besok pagi kamu buat diri kamu kecelakaan lagi saja. Terus kita reka ulang deh," sahut Karina cepat.
"Ya ampun Mami, aku nggak setuju kalau seperti itu!" Tolak David mentah-mentahan.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1