
Ditempat lain.
Tuan Wildan mengajak Tuan Reyhan bertemu disebuah kafe untuk meminta maaf atas perbuatan putranya dipesta semalam. Tuan Wildan sama sekali tidak menduga, jika putranya akan berani mengambil keputusan besar itu secara sepihak.
Tuan Reyhan yang merasa ini adalah kesempatannya untuk menjadi orang yang terdzolimi tidak menyia-nyiakan rasa bersalah Tuan Wildan. Lelaki paruh baya itu berpura-pura sedih dan menerima perbuatan Zidan pada keluarganya.
"Aku benar-benar minta maaf padamu Reyhan! Aku tidak menyangka Zidan akan melakukan hal itu dihadapan semua orang. Dia melamar gadis biasa tanpa sepengetahuanku! Ini sungguh diluar dugaanku. Padahal selama ini aku selalu berusaha membuat Zidan mengerti jika Rachel-lah yang pantas untuknya." Ucap Tuan Wildan. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan sekaligus kekecewaan pada putranya.
"Anda tidak perlu meminta maaf seperti ini Tuan! Saya bisa memahami kekecewaan anda. Saya tahu ini bukan kehendak anda. Lagi pula kita sebagai orangtua juga tidak bisa memaksakan keinginan kita agar selalu dituruti oleh putra-putri kita."
"Ya kau memang benar! Tapi aku masih tidak menyangka kenapa anak itu memilih gadis yang jelas-jelas sudah melakukan tindak kriminal, dengan mencekik istrimu?!"
Tuan Reyhan tersenyum kecut.
"Mungkin gadis itu telah mempengaruhi Zidan, Tuan! Dia pasti ingin membalas dendam pada keluarga saya karena dulu kami tidak pernah merestui hubungannya dengan Dirga!"
Tuan Wildan mendelik.
"Dirga? Jadi gadis itu pernah memiliki hubungan dengan putramu?!"
"Ya, Tuan! Andita pernah menjalin hubungan dengan putra saya selama empat tahun. Itupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dirga baru memberitahu saya ketika mereka sudah berpisah. Selama ini kami memang tidak pernah merestui hubungan mereka."
"Kenapa?! Apa karena dia dari kalangan biasa?!"
Tuan Reyhan mengangguk.
"Salah satu alasanya itu, Tuan! Gadis itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Utomo karena latar belakang keluarga kami yang jelas berbeda! Dan alasan lainnya adalah karena dia adalah salah satu putri dari mendiang Hadi Andriansyah. Orang yang telah merusak kepercayaan dan mengkhianati anda!"
"Apa?! Gadis itu adalah putrinya Hadi?!"
"Benar Tuan!"
Seketika wajah Tuan Wildan memerah menahan geram. Ia langsung teringat orang kepercayaannya dulu yang telah mengkhianatinya dengan cara mencuri data perusahaan. Hingga nyaris membuat perusahaannya kolaps.
Apa tujuan gadis itu mendekati Zidan? Apa dia juga ingin menghancurkan putraku?!
Tuan Reyhan yang melihat perubahan mimik wajah mantan calon besannya itu tersenyum penuh kemenangan.
Gadis rendahan itu tidak akan bisa lolos dari amarah Tuan Wildan.
******
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Setelah Zidan membereskan semua pekerjaannya, Zidan pun segera mengantar Andita untuk pulang kerumah. Ken dengan setia mengantar mereka.
Saat akan turun ke lobby, Zidan terus menggandeng tangan Andita. Tidak ada satu karyawanpun yang berani menatapnya, semua menundukkan kepala. Sementara Ferdy yang tidak sengaja berpapasan dengan Andita dan Zidan, merasakan dadanya berdenyut nyeri ketika melihat pemandangan dihadapannya itu. Jujur saja,sampai saat ini Ferdy masih belum bisa melepaskan perasaannya pada Andita.
Andita hanya bisa menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Ferdy. Sedangkan Zidan menatap tajam kearah lelaki itu dan semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Andita. Seolah menegaskan tidak akan pernah melepaskan gadis disampingnya.
"Apa yang kau lihat?!" Tanya Zidan membuyarkan lamunan Ferdy.
__ADS_1
Ferdy terkesiap, seketika ia menundukkan pandangannya.
"Ti-tidak ada Tuan! Maaf!"
Zidan, Andita dan Ken pun melanjutkan langkahnya. Setelah keluar dari gedung, Zidan segera membawa Andita masuk kedalam mobil. Sore ini Zidan sudah berniat, akan meminta restu pada ibu dari gadis yang dicintainya itu. Sepanjang perjalanan Zidan terlihat gugup. Ia mencoba mencari kata yang pas untuk melamar Andita nanti dihadapannya ibunya.
Bagaimana ini?! Ini kali pertama aku akan melamar seorang gadis dihadapan orang tuanya. Kenapa rasanya begitu menegangkan dibandingkan dengan menonton film horor?! Hishh..
Sesekali Ken memperhatikan Zidan dari kaca spion tengah sembari tersenyum samar.
Pasti saat ini Tuan Zidan sedang merasa gugup. Aku jadi tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresinya nanti dihadapan Ibunya Andita. Hehe
Karena yang Ken tahu, biasanya selama ini Zidan selalu memasang wajah dingin dan angkuh. Membuat Ken merasa tidak sabar untuk melihat ekspresi lain dari wajah tuannya itu.
Sementara Andita juga tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia melempar pandangan keluar jendela. Menatap pepohonan dan beberapa pengguna jalan yang dilewatinya.
Apa keputusanku sudah benar? Bagaimana nanti aku akan menghadapi sikap ayahnya Tuan Zidan?! Beliau pasti tidak akan semudah itu menerimaku.
Semua orang didalam mobil itu larut dengan pikiran masing-masing hingga tak terasa mobil Zidan telah sampai didekat gang rumah Andita.
"Ken, kau tunggu disini saja! Biar aku yang mengantar Andita!"
"Apa anda yakin tidak akan membutuhkan bantuan saya, Tuan?!"
"Haish,, memang apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?! Memang kau punya pengalaman melamar seorang gadis?! Kekasih saja tidak punya!" Ejek Zidan. Ken mendengus.
Sedangkan Andita tergelak kecil mendengar perdebatan keduanya.
Andita pun menuruti perintah Zidan. Mereka berdua jalan beriringan.
******
Kini Zidan sudah berada dihadapan ibu Andita. Lelaki berparas tampan itu duduk bersimpuh dengan kedua kaki dilipat kebelakang. Kedua tangannya ia taruh diatas kedua lututnya. Jantungnya berdegub kencang dua kali lebih cepat.
Jadi begini rasanya meminta restu. Sungguh menegangkan!
Disamping Zidan, Andita pun melakukan hal yang sama. Sebenarnya gadis itu sudah menyuruh Zidan untuk duduk dikursi, namun Zidan menolaknya. Lelaki itu ingin membuktikan kesungguhannya untuk meminang Andita.
"Tuan Zidan, tolong jangan seperti ini! Duduklah dikursi!" Titah Ibu.
"Tidak apa-apa Bu! Saya lebih nyaman seperti ini."
Akhirnya Ibupun tidak bisa memaksa lagi.
"Baiklah! Sekarang katakan, apa tujuan Tuan Zidan datang kemari hingga berlutut seperti ini dihadapan saya?"
Zidan menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan. Andita bisa melihat raut wajah gugup atasannya itu dari ekor matanya.
"Jadi begini Bu, maksud kedatangan saya kemari adalah saya ingin melamar putri Ibu untuk menjadi pendamping hidup saya! Jika Ibu berkenan tolong restui hubungan saya dengan Andita!"
__ADS_1
Sontak ibu terkejut. Ia mengalihkan pandangannya pada Nazwa yang duduk disampingnya. Kemudian beralih lagi melihat kearah Andita dan Zidan secara bergantian.
"Me-melamar Andita?!"
"Iya Bu! Saya ingin melamar Andita untuk menjadikan dia sebagai istri saya!"
Ibu menatap Andita lamat-lamat. Ia tidak percaya jika putrinya memiliki hubungan dengan atasannya itu. Memang selama ini Zidan sudah sangat baik pada keluarganya. Zidan memberikan pinjaman uang pada Andita, ibu sudah tahu itu. Yang tidak ibu ketahui hanyalah surat perjanjian antara Andita dan Zidan.
"Tuan Zidan, jujur saya tidak bisa melarang putri saya untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Asalkan lelaki itu baik, saya pasti akan merestuinya!"
Seketika wajah Zidan berbinar. Zidan menatap wajah Ibu Andita dengan perasaan bahagia. Begitu juga dengan Andita dan Nazwa. Mereka berdua ikut tersenyum mendengar jawaban sang ibu.
"Itu berarti Ibu merestui hubungan saya dengan Andita?" Tanya Zidan.
"Ya, saya merestui hubungan kalian. Hanya saja bagaimana dengan keluarga Tuan Zidan? Apakah mereka merestui hubungan Tuan Zidan dan Andita? Mengingat Andita bukanlah gadis yang berasal dari keluarga terpandang."
Seketika Zidan dan Andita terdiam. Ekpresi bahagia mereka perlahan memudar. Namun sejurus kemudian Zidan teringat ibunya.
"Ibu tenang saja! Ibu saya merestui hubungan kami dan Andita tahu itu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir." Jelas Zidan.
"Lalu bagaimana dengan Ayah anda Tuan? Apa beliau setuju Andita menjadi bagian dari keluarga anda?"
Wajah Zidan kembali gugup tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Kebetulan Ayah saya sedang berada diluar negri Bu, jadi Andita belum bisa bertemu dengannya. Tapi saya yakin beliau pasti akan merestui hubungan kami!" Dusta Zidan.
Ibu pun lega mendengarnya. Sementara Andita memelototkan matanya pada Zidan. Bagaimana mungkin Zidan berbohong.
Setelah selesai dengan urusannya, Zidan pun pamit undur diri. Dia diantar oleh Andita. Namun sepanjang jalan Andita terlihat kesal. Membuat Zidan bertanya-tanya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa ditekuk seperti itu?"
"Tuan, kenapa anda harus melakukan ini? Anda sudah membohongi Ibu saya! Bagaimana jika nanti Ibu tahu kalau kita belum mendapatkan restu dari Ayah anda?! Apa yang akan terjadi?!"
Zidan menghentikan langkahnya dan membuang nafas kasar.
"Lalu apa yang harus kulakukan?! Aku harus menunggu Ayahku merestui hubungan kita, begitu?! Itu tidak akan pernah terjadi! Aku tahu siapa Ayahku, Andita! Dan aku rasa kita tidak terlalu membutuhkan restu darinya!"
"Tapi Tuan, saya..."
"Cukup Andita! Aku tidak ingin mendengar protes apapun darimu! Kau sudah terikat perjanjian denganku, dan kau tidak berhak untuk mengeluarkan pendapatmu! Mengerti!"
Zidan segera berlalu dari hadapan Andita dengan perasaan kesal. Sedangkan Andita masih mematung menatap punggung Zidan yang semakin menjauh darinya.
Ya, aku memang tidak berhak mengeluarkan pendapat apapun! Karena bagimu mungkin aku hanya sebuah barang yang tidak memiliki perasaan.
.
.
__ADS_1
Bersambung...