MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Usaha Zoya


__ADS_3

"Jangan membuatku khawatir. Katakan ada apa? Kenapa kau terlihat sedih?" tanya Andita.


Zidan menatap manik mata meneduhkan itu lekat-lekat. Kemudian perlahan menarik tangan Andita hingga membuat Andita jatuh diatas pangkuannya.


"Sayang!" Andita terkejut saat tiba-tiba Zidan memeluknya dengan erat dan menenggelamkan kepala didadanya.


"Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar saja." lirih Zidan.


Sesaat suasana hening.. Tak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya detak jarum jam dan deru nafas masing-masing.


Andita mengangkat tangannya dan membalas pelukan Zidan. Jemarinya dengan lembut mengusap punggung kokoh suaminya itu. Tangan satunya menyugar rambut Zidan dan menciuminya dengan penuh kasih sayang.


Detik demi detik berlalu. Kedua insan itu masih setia dalam diam. Namun tidak lama Andita merasakan bahu Zidan bergetar.


Andita melepas pelukannya. Menjauhkan sedikit tubuhnya dan kembali menangkup wajah Zidan.


"Kau menangis?" Perlahan Andita mengusap sudut mata suaminya yang sudah berair.


Ia semakin yakin bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja. Batinnya menebak bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan Zoya.


"Tidak. Aku hanya kelilipan." jawab Zidan sambil mengucek matanya.


"Ck! Jelas-jelas kau menangis tapi masih saja berbohong!"


"Aku tidak berbohong! Aku hanya kelilipan!" elak Zidan.


"Terserahlah!"


Andita hendak beranjak dari pangkuan Zidan. Namun dengan cepat Zidan menahan tubuh Andita hingga Andita kembali duduk dipangkuannya.


"Jangan pergi! Tetaplah disampingku!" Zidan melingkarkan tangannya pada tubuh Andita dan menyembunyikan kepalanya dibelakang punggung istrinya itu.


Eh, kenapa dia jadi mellow begini.


"Kau baik-baik saja sayang?!"


"Hemm."


"Tapi kenapa kau aneh sekali?"


"Aneh kenapa?"


"Aku merasa hari ini ada yang berbeda darimu."


"Apa yang beda?"


"Sikapmu."


"Kenapa dengan sikapku?"


"Ck, apa kau tidak sadar jika sikapmu tiba-tiba berubah dingin padaku? Bahkan kau mendiamkanku dan menatapku dengan tatapan malas!" suara Andita mengecil seiring pandangannya yang tertunduk. Seketika wajahnya menjadi sendu.


Zidan menarik sedikit tubuhnya kebelakang tanpa melepas pelukannya dari tubuh Andita. Lalu menatap wajah cantik yang menyamping dipangkuannya itu lamat-lamat.


"Apa aku mendiamkanmu?"


"Ya. Kau mendiamkanku! Dan itu sangat menyakitkan bagiku!" Andita langsung menggigit bibir bawahnya.


Tiba-tiba saja kini perasaannya yang menjadi mellow. Matanya sudah berkaca-kaca. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya suasana hati Andita mudah berubah-ubah.


Melihat raut wajah sang istri yang berubah sedih, membuat hati Zidan merasa tercubit. Ia baru sadar bahwa hari ini ia telah bersikap tak acuh pada istrinya.


Hanya karena belum bisa melupakan masalahnya dengan Zoya, Zidan sampai mengabaikan Andita.


"Maafkan aku sayang karena sudah mendiamkanmu. Jujur aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu." Zidan mengelus rambut panjang istrinya itu dan menyingkapkanya kebelakang telinga.


"Kau mau memaafkanku?!" Zidan meraih dagu Andita dan menghadapkannya kewajahnya.


Andita terdiam. Perlahan ia menaikkan pandangannya hingga netranya bertemu dengan netra Zidan. Tatapan mereka pun saling mengunci.


"Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat!"

__ADS_1


"Apa?"


"Ceritakan padaku apa yang membuatmu sedih?"


Sejenak Zidan menghela nafas. Kemudian kembali menatap wajah Andita.


"Aku akan cerita asal kau jangan marah."


"Atas dasar apa aku harus marah?!"


"Karena aku menemui Zoya tanpa sepengetahuanmu."


Deg


Jadi perubahan sikapmu karena Zoya?!


Hati Andita mencelos mendengarnya. Namun ia tetap berusaha untuk tersenyum.


"Tidak apa. Katakan, untuk apa kau menemui Zoya? Bukankah tadi pagi kau begitu marah saat aku memintamu memaafkannya?"


Zidan menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia mulai bercerita.


Zidan mengatakan pada Andita bahwa niatnya menemui Zoya hanya untuk menanyakan kenapa Zoya dengan tega melakukan hal sejahat itu pada istrinya.


Selain itu, Zidan juga menceritakan bagaimana sikap Zoya saat bertemu dengannya di apartemen. Bahkan Andrew sudah mengetahui segalanya. Dan Andita merasa miris mendengar itu semua.


"Jujur aku merasa bersalah dan tak enak hati pada Andrew. Dan itu membuat pikiranku tidak tenang. Bahkan aku merasa sedih kenapa persahabatan yang sudah kami jalin bertahun-tahun harus hancur seperti ini hanya karena diriku." ucap Zidan sendu.


Sekarang Andita baru mengerti kenapa sore tadi sikap Zidan berubah padanya. Ternyata Zidan tengah memikirkan hubungan persahabatannya yang hancur berantakan sampai ia menyalahkan dirinya sendiri.


Dengan lembut Andita mengusap rahang tegas suaminya. Ia mencoba menenangkan Zidan dengan menatap bola mata emerald itu lekat-lekat.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Ini semua hanya masalah waktu."


Zidan tersentuh mendengar ucapan Andita. Ia tersenyum samar seraya menggenggam tangan wanitanya.


"Jadi apa kau mau memaafkanku?"


"Aku janji sayang tidak akan pernah melakukan itu lagi!" Zidan menautkan jari kelingkingnya dijari Andita.


"Maaf pernah membuatmu nyaris kehilangan nyawa karena diriku dan terimakasih karena kau sudah mau menjadi bagian dari hidupku. Aku mencintaimu Andita."


Andita tersenyum manis.


"Aku juga mencintaimu Zidan."


Setelah saling mengungkapkan perasaan, perlahan Zidan menarik tengkuk Andita hingga mendekat kewajahnya.


Begitupun dengan Andita yang langsung mengalungkan tangannya keleher Zidan. Seolah ia sudah tahu apa yang diinginkan suaminya itu.


Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka sudah saling tertaut. Mencecapi rasa yang begitu memabukkan jiwa.


Ciuman yang awalnya lembut kini kian menuntut. Satu tangan Zidan menekan kepala Andita untuk memperdalam ciumannya. Bibir mereka terus menyesap dan memagut satu sama lain. Bahkan lidah mereka pun sudah saling membelit.


Tak lama terdengar suara erangan dan de sa han kecil dari bibir mungil Andita. Saat tangan Zidan dengan liarnya mempermainkan area sensitifnya.


"Ssstt ahh sayang pelan-pelan!" desis Andita. Tangannya meremat pelan rambut Zidan.


Mendengar rintihan sang istri hasrat Zidan kian terbakar. Sepertinya malam ini ia butuh pelepasan.


"Kita lanjutkan dikamar!" bisik Zidan. Andita mengangguk pasrah saat Zidan sudah menggendong tubuhnya ala bridal style.


*****


Beberapa hari berlalu.


Pasca keributan yang terjadi di apartemennya Zoya pikir dirinya bisa melupakan Zidan. Namun alih-alih melupakan, cintanya pada pengusaha muda itu malah semakin mendalam.


Hingga membuatnya kian frustasi. Apalagi ketika Zidan sama sekali tidak mau membalas pesan ataupun menjawab panggilan telepon darinya.


Dan parahnya lagi sekarang Zidan malah memblokir nomor ponsel Zoya. Tentu saja hal tersebut membuatnya geram.

__ADS_1


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku Zidan! Semakin kau menghindariku semakin aku menginginkanmu!" gumam Zoya dengan sorot mata begitu tajam.


Saat ini wanita itu tengah mematut dirinya didepan cermin. Zoya berdandan secantik mungkin untuk menemui Zidan dikantornya.


Dan sekarang disinilah Zoya berada. Berdiri didepan gedung Royal Group yang menjulang tinggi.


Ia mulai berjalan masuk dan menaiki lift menuju ruangan Zidan dengan ditemani salah satu staff diperusahaan tersebut.


Begitu tiba didepan ruangan atasannya, staff itu mengetuk pintu. Hingga terdengar sahutan dari dalam baru ia masuk.


"Maaf Tuan mengganggu! Ada yang ingin bertemu dengan anda."


Zidan yang tengah sibuk mengecek laporan keuangan hanya menoleh sekilas, kemudian pandangannya kembali kearah berkas yang tengah dipegangnya.


"Siapa? Apa dia memiliki janji denganku?"


"Sepertinya aku tidak perlu janji jika ingin bertemu dengan calon suamiku sendiri! Bukan begitu Zidan?"


Deg


Zidan yang hendak membubuhkan tanda tangan diatas berkas langsung menghentikan gerakannya saat itu juga. Pandangannya langsung beralih kedepan pintu.


Sementara staff yang berdiri disamping Zoya hanya bisa ternganga dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Zoya, mau apa kau kemari?!" tanya Zidan datar. Suaranya penuh penekanan. Bahkan sorot matanya berubah dingin menatap wanita itu.


"Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja aku kemari untuk menemui calon suamiku. Untuk apa lagi?" jawab Zoya acuh.


Zidan membuang nafas kasar sembari menutup berkas yang akan ia tanda tangani.


Kemudian ia mengangkat satu tangannya dan mengibaskannya, menyuruh staffnya untuk pergi.


Setelah staff itu keluar dan pintu telah tertutup, Zoya berjalan menghampiri Zidan. Namun dengan cepat Zidan menghentikannya.


"Tetap ditempatmu Zoya! Jangan melewati batasanmu!"


"Kalau begitu kemarilah! Aku merindukanmu!" ucap Zoya membuat Zidan berdecih.


"Kau sudah tidak waras Zoya!"


Zoya tergelak.


"Kau yang membuatku tidak waras Zidan! Kenapa kau memblokir nomorku?! Padahal setiap saat aku sangat ingin tahu kabarmu."


"Untuk apa kau harus tahu kabarku? Yang harus kau ketahui adalah kabar Andrew bukan aku!"


"Hahaha.. Untuk apa aku mengetahui kabar Andrew?! Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya!"


Zoya kembali melangkahkan kakinya mendekati Zidan. Bahkan sekarang ia tengah mengitari kursi kebesaran lelaki itu.


"Aku merindukanmu Zidan!" bisik Zoya tepat ditelinga Zidan.


"Zoya! Lepaskan aku!" bentak Zidan saat tiba-tiba Zoya memeluknya dari belakang.


Zidan menghempas kasar tangan Zoya. Dan sesegera mungkin ia menjauh dari wanita itu.


"Keluar kau dari ruanganku! Atau aku akan menyeretmu dengan paksa!" teriak Zidan.


"Kenapa kau jadi sekasar ini Zidan? Bukankah dulu kau selalu perhatian dan bersikap lembut padaku? Kenapa kau berubah?!"


"Kau yang berubah! Hanya karena tulisan difoto itu kau menganggap aku masih mencintaimu?! Kau salah besar Zoya! Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu! Perasaanku hanya untuk Andita!"


"BOHONG! Aku tahu kau bohong Zidan! Aku akan buktikan jika sebenarnya kau masih memiliki perasaan terhadapku!"


Tanpa diduga dengan cepat Zoya menghampiri Zidan, lalu menangkup wajah lelaki itu dan dengan paksa mencium bibirnya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2