
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Setelah makan malam usai, semua orang langsung kembali kekamar masing-masing.
Rasanya mereka sudah tidak sabar ingin segera merebahkan tubuh mereka diatas kasur yang empuk, untuk menghilangkan rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke villa pribadi milik Zidan.
Disaat semua orang menyelami waktu istirahat mereka didalam kamar, namun tidak dengan Andrew yang menikmati waktunya diluar villa.
Dengan ditemani satu botol vodka yang ia bawa sebelum berangkat ke villa Zidan, Andrew mencoba menenangkan pikirannya.
Pandangannya menerawang jauh keatas langit nan gelap. Kilasan permintaan Zoya yang ingin berpisah darinya seperti kaset rusak yang terus berputar diotaknya.
Dan itu cukup membuat Andrew merasa frustasi. Sehingga ia melampiaskannya dengan menenggak minuman keras. Berharap dengan meminumnya bisa menghilangkan sedikit rasa sakit dihatinya.
Saat Andrew tengah larut dalam lukanya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Andrew menolehkan pandangannya kesamping kemudian mendongakan kepalanya hingga ia bisa melihat siapa yang menepuknya.
"Zidan."
"Apa yang kau lakukan disini Andrew?" tanya Zidan.
Sejak siang tadi saat Zidan melihat Andrew berbicara dengan Zoya dan sikap Zoya yang berubah dingin dimeja makan pada sahabatnya itu, Zidan sudah bisa menebak bahwa keduanya sedang ada masalah.
Awalnya Zidan enggan untuk ikut campur dengan masalah pribadi mereka.
Namun saat ia tidak sengaja melihat Andrew yang tengah mabuk seperti ini, Zidan merasa sepertinya Andrew membutuhkan teman untuk sekedar bercerita.
Ia mendudukan diri disamping sahabatnya itu, dikursi berbeda yang hanya terhalang sebuah meja.
Andrew tersenyum tipis, bahkan wajahnya sudah memerah nyaris mabuk.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menikmati udara malam hari saja." Andrew kembali menenggak minumannya.
"Menikmati udara malam hari sampai harus mabuk seperti ini?!"
"Aku tidak mabuk."
"Kau mabuk!"
"Sudah ku bilang, aku tidak mabuk!"
"Hentikan Andrew! Bisa-bisa kau tidak sadarkan diri!" Zidan mencekal tangan Andrew saat ia akan menuangkan kembali vodka kedalam gelasnya.
"Memang itu yang ku mau Zidan! Aku berharap tidak sadarkan diri sejenak supaya aku bisa melupakan rasa sakit yang saat ini aku rasakan!" Andrew menarik tangannya dari tangan Zidan lalu melanjutkan niatnya menuang vodka.
"Ck! Sebenarnya ada apa denganmu?! Apa kau sedang ada masalah dengan Zoya sehingga kau harus mabuk seperti ini?!"
Sekilas Andrew melihat kearah Zidan, lalu meminum alkohol yang dituangnya itu hingga tandas tak bersisa.
"Dia ingin berpisah dariku!"
Deg
"Apa?!" Zidan nampak terkejut mendengar ucapan Andrew.
"Tapi kenapa?! Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?!"
"Dia memiliki pria idaman lain!"
Lagi-lagi Zidan dibuat tercengang dengan pernyataan Andrew barusan. Setahu Zidan, Zoya sangat mencintai Andrew. Mana mungkin dia akan mengkhianati sahabatnya itu?!
"Kau pasti bercanda Andrew! Tidak mungkin Zoya memiliki pria idaman lain!"
"Jika itu sebuah candaan, untuk apa aku harus merasa frustasi seperti ini Zidan?!" Andrew mendengus kesal.
"Sorry Andrew, bukannya aku tidak percaya padamu. Tapi apa kau yakin dengan tuduhanmu itu?!"
__ADS_1
"Itu bukan tuduhan Zidan! Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Zoya mengancam bahwa dia akan menyukai lelaki lain jika aku tidak segera melamarnya!" geram Andrew.
"Lalu kenapa kau tidak segera melamarnya sebelum dia benar-benar direbut oleh pria lain?!"
"Sudah! Siang tadi aku menuruti permintaannya. Aku melamarnya, tapi dia menolak dan malah ingin berpisah dariku! Bukankah itu sudah jelas bahwa Zoya memiliki pria idaman lain dan telah berselingkuh dibelakangku?!"
Dengan perasaan kesal Andrew menghempaskan punggungnya pada kursi yang ia duduki seraya mengusap kasar wajahnya. Sungguh saat ini Andrew tampak sangat kacau sekali.
Melihat hal itu Zidan merasa kasian pada sahabatnya. Karena dulu Zidan juga pernah merasakan apa yang Andrew rasakan, ketika wanita yang mereka cintai menyukai lelaki lain.
Bedanya saat itu Zidan bukan dikhianati, melainkan cintanya bertepuk sebelah tangan.
Akhirnya Zidan terpikirkan sesuatu.
"Apa kau tau siapa pria itu Andrew?" tanya Zidan penasaran.
"Tidak. Aku tidak tahu! Seandainya aku tahu, aku akan langsung membuat perhitungan dengannya!" jawab Andrew dengan sorot mata yang begitu tajam sambil mengepalkan tangannya.
"Jika kau butuh bantuanku dengan senang hati aku akan membantumu Andrew! Aku akan mencari tahu siapa pria itu tanpa sepengetahuan Zoya." tawar Zidan.
Andrew langsung mengalihkan pandangannya pada Zidan. Ia menatap sahabatnya itu lamat-lamat.
"Sungguh kau akan membantuku Zidan?"
"Of course! Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku. Anggap saja ini salah satu bentuk kebaikan hatiku karena kita sudah lama bersahabat!" ucap Zidan seraya menarik sudut bibirnya.
"Ck! Sejak dulu kau memang selalu bisa diandalkan! Baiklah aku terima tawaranmu!"
Andrew menuangkan vodka terakhir digelasnya lalu memberikannya kepada Zidan.
"Minumlah! Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku!"
Tanpa ragu Zidan mengambil gelas itu dari tangan Andrew kemudian meminumnya hingga tandas.
******
Bahkan Zoya sampai menggunting foto Andrew dan hanya menyisakan foto dirinya dan juga Zidan dengan tulisan cinta yang tertera dibelakangnya.
"Zidan apa kau tahu? saat pertama kali aku menemukan foto ini dan mengetahui isi hatimu, aku begitu terkejut. Aku sama sekali tidak menyangka kau memiliki perasaan terhadapku!"
"Seandainya kau mengatakannya lebih awal, aku pasti akan memikirkan perasaanmu itu."
"Sekarang bolehkan aku egois dengan mencintaimu juga? Aku mencoba mengubur perasaan ini tapi aku tidak bisa Zidan."
"Setiap hari aku merindukanmu. Batinku tersiksa saat melihat kemesraanmu dengan Andita."
"Lihatlah aku Zidan! Bukankah kau mencintaiku? Jika kau tidak bisa memperjuangkan cintamu padaku karena Andita, maka aku yang akan maju untuk memperjuangkanmu! Setelah itu kita akan hidup bahagia bersama tanpa seorangpun yang mengganggu."
"Akan kupastikan itu!"
Zoya memejamkan mata dan mencium foto yang hanya bersisakan dirinya dan juga Zidan dengan penuh penghayatan. Kemudian mendekap foto itu didadanya.
******
"Huekk..huekk..."
"Astaga! Ada apa denganku! Kenapa perutku mual sekali?! Apa karena semalam aku terlalu banyak makan sup kepiting?!" gumam Andita sambil memijat tengkuknya sendiri di depan wastafel kamar mandi.
Pagi ini Andita merasakan mual yang begitu hebat pada perutnya. Kepalanya pun terasa berkunang-kunang.
Bahkan tubuhnya juga melemas. Ia takut jika dirinya keracunan akibat terlalu banyak makan sup kepiting yang ia buat.
"Huek..huekk.." lagi-lagi Andita memuntahkan isi perutnya.
"Kau kenapa sayang?!" tanya Zidan yang tiba-tiba masuk kedalam kamar mandi dan membantu Andita memijat tengkuk lehernya.
__ADS_1
"Entahlah! Dari semalam perutku rasanya mual sekali sayang. Mungkin karena semalam aku terlalu banyak makan sup kepiting!" jawab Andita dengan suara terengah-engah karena lelah sedari tadi ia terus saja muntah-muntah.
"Sudah kubilang bukan agar kau berhenti memakan sup itu! Semalam kau makan seperti orang kalap. Bagaimana tidak mual jika kau menghabiskan empat mangkuk besar sup kepiting dalam sekejap!" cicit Zidan sambil terus memijat tengkuk Andita.
"Kenapa kau jadi memarahiku, hah?! Apa aku salah jika sampai memakan empat mangkuk sup kepiting?!" Andita melepaskan tangan Zidan dari lehernya. Kemudian menatap suaminya itu dengan kesal.
"Memang tidak salah! Tapi lihat akibatnya! Kau sampai muntah-muntah begini kan?!" jawab Zidan yang juga tak kalah kesal.
"Aku akan panggilkan Stella untuk memeriksamu!"
"Tidak perlu! Lagipula aku tidak apa-apa!"
Andita berlalu dari hadapan suaminya dan keluar dari kamar mandi.
"Jangan keras kepala Andita! Bagaimana jika kau sakit, hah?!"
"Aku sudah bilang aku tidak apa-apa!"
"Tidak apa-apa bagaimana?! Kau tidak lihat wajahmu sudah memucat?!"
"Mungkin karena aku terus muntah-muntah itu sebabnya wajahku pucat. Aku akan minum obat pereda mual pasti nanti langsung sembuh."
"Aku akan tetap memanggil Stella!"
"Kenapa kau selalu memaksaku Zidan?! Aku bilang aku tidak apa-apa!" kali ini nada Andita naik dua oktaf. Dia sangat kesal sekali karena Zidan terus memaksanya.
Jika sampai Stella memeriksanya dan menyuruhnya beristirahat, maka niat Zidan yang akan mengajaknya berkeliling villa pasti tertunda lagi.
Untuk apa jauh-jauh berlibur ke villa pribadi milik suaminya, jika ia hanya akan berdiam diri didalam rumah saja. Pikir Andita.
Melihat respon Andita yang cukup mengejutkan, Zidan membuang nafas kasar. Padahal dia sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.
Tapi apa boleh buat, sepertinya kali ini dia harus mengalah supaya liburan mereka tidak rusak hanya karena pertengkaran yang tidak diinginkan.
"Baiklah jika kau bilang tidak apa-apa! Aku coba untuk mempercayaimu!"
"Tapi awas saja kalau sampai terjadi sesuatu padamu karena sikap keras kepalamu itu! Lihat apa yang akan kulakukan padamu nanti!" ancam Zidan sambil memberikan sorot mata tajam pada Andita.
Sementara Andita hanya diam mematung sembari memperhatikan raut wajah kesal suaminya.
Lagi-lagi mengancam!
Zidan berjalan kearah nakas lalu membuka laci dan mengeluarkan kotak P3K yang memang telah disediakan dikamarnya. Lalu mencari obat pereda mual dan memberikannya pada Andita.
"Minum ini! Lalu bersiap-siaplah! Setelah selesai sarapan kita akan berkuda!"
Seketika wajah Andita berbinar saat mendengar ajakan Zidan.
"Berkuda?!"
"Ya!"
Dengan senyum merekah dan semangat menggebu-gebu Andita langsung menghampiri dan memeluk tubuh suaminya.
"Yeay! Akhirnya kita benar-benar liburan! Terimakasih sayang!" seru Andita.
Untuk sesaat Zidan diam terpaku sebelum akhirnya ia membalas pelukan istrinya itu. Wajahnya pun sudah tidak terlihat kesal seperti sebelumnya.
"Sama-sama sayang."
Mata Zidan terpejam merasakan hangatnya pelukan Andita. Senyum bahagia pun terbit diwajah tampannya.
Rencananya ia akan memberikan hadiah untuk sang istri yang ia beli dari luar kota beberapa waktu lalu saat mereka berkuda nanti.
.
__ADS_1
.
Bersambung...