MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Perdebatan Kaum Bucin Dan Kaum Buaya


__ADS_3

"Makanya kamu jangan asal Asbun seperti Papi kamu tadi." omel Mami Karina.


"Aku gak asal bunyi kok, Mi. Bukankah tadi aku sedang bertanya kepada Mami ku yang kece dan membahana ini, kapan aku boleh pulang. Gak salah lo, Mi."


"Terserah kamu saja, Mami mau pulang saja. Mami itu udah capek. Bisa ikutan gila kalau Mami kelamaan ada di sini." ucap Mami Karina kesal. "Ayo Papi, kita pulang." lanjut Mami Karina sambil menggandeng suaminya.


"Memangnya Mami gak mau tungguin David. David kan masih sakit, Mi?" tanya Papi Leon.


"Gak usah, Pi. Lagi pula kita udah banyak bantuin dia tadi. Lebih baik Mami pulang kerumah dan bermanja-manja sama Papi aja." ucap Mami Karina sambil tersenyum manis.


"David, Papi dan Mami pulang duluan yah." ucap Papi Leon.


"Ya, Pi."


Setelah kepergian kedua orang tuanya, akhirnya tinggallah David sendirian di dalam ruangan kamar VVIP itu. Karena sebelumnya Davina tadi sempat merengek untuk pulang.Katanya dia hanya ingin meminta izin sebentar kepada Ibunya.Dan akhirnya David pun memberikan izin karena takut Davina akan kembali marah padanya kalau dia tidak mengizinkannya untuk pulang.


Tetapi sebelum itu, sebenarnya David sudah meminta istrinya untuk membuka blokiran nomor teleponnya. Ya, tentu saja agar David bisa mengirimkan pesan atau menghubungi istrinya lewat video call.


Karena David merasa bosan tiduran di atas ranjang. David kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang. Ia melihat ke jam yang ada di ponselnya dan mengecek akun WhatsAppnya. Ternyata tidak ada satupun pesan dari sang istri tercintanya.


Ya setidaknya, David ingin mengetahui jika istrinya itu sudah sampai kerumah dengan aman. Tapi istrinya itu tidak memberikan pesan apapun kepadanya.


David kemudian mulai mengirim pesan duluan kepada istrinya.


To. My Sweetheart.


Apa kamu sudah sampai di rumah, Sweetheart?


Beberapa menit kemudian baru ada balasan pesan dari Davina.


Sudah, maaf aku baru sempat mengabari kamu, David. Saat aku mau mengirimkan pesan, ponsel bateraiku habis dan waktu aku mau kirim pesan. Eh, kamu udah kirim pesan duluan


Aku maafin. Asal kamu, mau memanggilku dengan sebutan 'Hubby'. Bagaimana?


Aku gak mau. Panggilan Hubby menurutku terlalu menggelikan


Kok aku jadi sedih ya. Kalau begitu, apakah istriku sudah menyiapkan panggilan sayang khusus untukku. Tapi ingat, aku tidak mau kalau harus di panggil dengan nama saja. Aku kan lebih tua dari kamu


Cieee... sekarang udah mau ngaku lebih tua?

__ADS_1


Kamu jangan ledekin aku Sweetheart. Nanti kalau kita ketemu, aku mau langsung minta cium sama kamu.


Sudah dulu ya chatting nya. Aku mau masak makan malam buat ibu


Oke. See you tomorrow. I love you.


Love you too


Setelah mendapatkan pesan balasan terakhir dari Davina. David pun langsung tersenyum lebar. Bahkan saat ia naik ke atas ranjang dia langsung berjingkrak dengan ria.


"Yo..Yo... Ale...Ale. Ah, gue jadi pengen secepatnya adon anak lagi sama Davina." seru David dengan suara yang riang gembira.


Tepat di saat Daffa masuk kedalam kamar David. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah aneh dari sahabatnya itu.


"Sepertinya lo itu sudah gila. Dasar kaum Bucin!" Seru Daffa dan kini langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kamar David.


Mendengar suara Daffa, David pun terkejut. Pasalnya, ia tidak menyadari jika Daffa sudah masuk kedalam ruangannya.


"Hei, kaum buaya. Kapan lo masuk kesini? Kenapa lo gak ketuk pintu dulu? Kalau tadi gue lagi sama Davina ngadon anak bagaimana? Untungnya Davina lagi pulang kerumahnya?" Ucap David dengan kesal dan memberikan berbagai rentetan pertanyaan kepada Daffa.


Sedangkan Daffa yang mendengar rentetan pertanyaan dari David dia hanya menghela nafas kasar. " Gue itu masuk pas lo lagi senyum - senyum sendiri. Dan asal lo tau, aku sangat yakin bini lo juga gak akan mau ngadon anak di rumah sakit."


"CK. Terus kenapa lo itu gak ketuk pintu dulu?" tanyanya kesal.


"Ya,ya terserah lo aja, memangnya lo itu mau ngomong apa. Lo itu kan sejenis makhluk yang tak kasat mata, bisa datang dan pergi kapan aja."


"Kampret lo! Lo pikir gue apaan, hah?!" Seru Daffa tak terima di katakan oleh David Makhluk yang tak kasat mata.


"Kenapa lo datang kesini lagi? Lo kan udah tau kalau gue itu gak sakit beneran? Jadi, lo itu gak usah repot-repot jengukin gue. Karena besok pagi gue juga udah mau pulang."


"Cih! Siapa juga yang mau jengukin lo?" cibir Daffa.


"Lalu? Kenapa lo datang kesini?"


"Mau tahu aja apa mau tahu banget?"


"Mending lo itu bilang sekarang? Kalau gak, gue bakalan nyuruh satpam rumah sakit buat nyeret lo keluar dari ruangan gue dan gue akan minta satpam di rumah sakit ini buat masukin lo kedalam lift."


"Kampret lo! Dari kemarin ngomongin lift melulu!" Ucap Daffa kesal.

__ADS_1


"Habisnya lo itu kan hanya takut dengan ancaman itu saja." ucap David sambil tertawa mengejek.


"Kedatangan gue kesini, gue itu mau nagih janji lo. Secepatnya gue pengin lo itu transfer uang ke gue. Dan ingat, gak pakai lama."


"Tunggu. Janji mana ya, yang lo maksud itu?" tanya David yang pura - pura lupa.


"Gak usah pura - pura lupa deh lo. Lagi pula lo itu gak lagi amnesia karena yang nabrakin mobil ke tiang juga bukan lo."


"Lagian, lo itu kalau minta kebanyakan. Gue juga gak bisa transfer uang segitu banyaknya. Saldo rekening bank gue gak cukup."


"Hei, kaum bucin. Gue juga tahu, kalau rekening bank itu lebih dari satu. Jadi, kalau di rekening lo yang satunya gak bisa lo kan bisa transfer ke rekening lo yang lain."


"CK. Tumben sekarang lo itu pinter." desis David. Ya, memang harus David akui, jika menyangkut uang Daffa selalu menjadi yang terbaik.


"Jelaslah. Kan demi uang. Lagian pula uang yang lo berikan ke gue, gue juga mau sumbangin buat karyawan lo juga.


"Karyawan gue yang mana?" tanyanya


"Teman bini lo itu?"


"Ah, maksud kamu Venus?" tanya David memastikan.


"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?"


"Kok bisa uang itu mau lo sumbangin ke si Venus? Ah, jangan bilang kalau lo itu udah jadian sama Venus. Ingat ya Daff, gue itu gak mau kalau temen bini gue lo embat juga. Nantinya kalau lo berdua ada masalah, pasti Davina bakalan marahin gue juga."


"Perlu beberapa kali sih gue ngomong sama lo biar lo itu paham. Kalau gue itu sama sekali gak minat sama si Venus, dia itu bukan tipe gue. Lo kan tahu, tipe gue itu kaya gitar spanyol bukan kaya papan cuci baju gue. Biar lebih hot kalau naik ke atas ranjang. Lagi pula, gue baru nyentuh bibirnya aja udah ngamuk - ngamuk aja dia."


Mendengar ucapan dari Daffa, kini gantian David yang di buat terkejut lagi.


"Eh, kaum buaya. Emangnya lo itu udah ngapain si Venus? Belum halal juga? Ingat, anak orang jangan lo rusak?"


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁

__ADS_1


Makasih...


Bersambung....


__ADS_2