MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Berbincang Di Kedai


__ADS_3

Nyonya Wildan baru melepaskan pergelangan tangan Andita begitu mereka sudah berada cukup jauh dari butik yang mereka kunjungi.


Sekilas Nyonya Wildan kembali berbalik menatap kearah butik itu dengan perasaan kesal.


"Huh?! Bagaimana mereka bisa menghina orang lain didepan umum?!" Ekor matanya kini beralih pada Andita. "Apa kau tidak apa-apa Andita?!"


"Eh iya, saya tidak apa-apa Nyonya! Lebih baik kita lupakan saja kejadian tadi." Jawab Andita berusaha menenangkan emosi Nyonya Wildan.


Wanita paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Ya, kau benar Andita. Tidak ada gunanya juga kita mengingat kelakuan mereka barusan! Oh ya, kebetulan kita bertemu disini. Aku ingin mengajakmu minum kopi sambil berbincang sebentar. Apa kau punya waktu?"


Andita terhenyak, ia sedikit ragu menjawab ajakan Nyonya Wildan. Masih ada perasaan terkejut dihatinya ketika dia tahu jika wanita yang pernah ditolongnya adalah Ibu dari Zidan, calon suaminya.


"Ehm, ya tentu Nyonya. Kebetulan saya punya banyak waktu."


Nyonya Wildan segera menelepon supirnya yang menunggu diparkiran. Tidak lama mobil mewah Nyonya Wildan berhenti dihadapan Andita.


"Ayo masuk Andita! Aku akan mengajakmu minum kopi dikedai langgananku!"


Andita tersenyum mengiyakan. "Baik Nyonya, terimakasih!"


Mereka pun meluncur kesebuah kedai kopi langganan Nyonya Wildan. Sementara didalam butik, Nyonya Reyhan dan Rachel masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Bu, bagaimana ini? Sepertinya Nyonya Wildan sangat marah pada kita! Aku saja belum mendapatkan Zidan, sekarang Ibunya malah marah padaku!" Rachel begitu panik.


"Ibu juga tidak tahu Rachel. Bagaimana bisa wanita itu berada disini! Dan kau lihat, bagaimana tadi Nyonya Wildan menarik Andita? Seolah mereka sudah saling mengenal."


"Atau jangan-jangan sebelumnya mereka memang sudah saling mengenal Bu?"


"Entahlah! Sekarang yang harus kita pikirkan adalah nasibmu! Bagaimana jika Nyonya Wildan mengadukan ini pada suaminya? Nama baik kita akan rusak gara-gara gadis rendahan itu!" Nyonya Reyhan menggertakan giginya saat mengingat nama Andita.


"Aaaa, Bu! Lalu aku harus bagaimana?! Aku benar-benar merasa frustasi sekarang! Harusnya tadi Ibu tidak menghina gadis itu!" Oceh Rachel.


"Sekarang kau menyalahkan Ibumu?! Aku sedang membelamu tadi, lalu kenapa kau harus ikut menimpali dan menghina gadis rendahan itu!" Nyonya Reyhan tak terima disalahkan oleh putrinya.


"Maaf Nyonya, apa gaunnya mau dibungkus sekarang?" Tanya karyawan butik, menghentikan perdebatan mereka. Pasalnya karyawan butik itu sudah merasa risih dengan kelakuan keduanya.


"Ya! Bungkus sekarang! Awas hati-hati, jangan sampai ada yang lecet!" Titah Nyonya Reyhan.


******

__ADS_1


Nyonya Wildan dan Andita sudah berada disebuah kedai kopi bernuansa seni. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Nyonya Wildan memesan dua cangkir kopi Espresso panas dan camilan ringan untuk menemani mereka berbincang.


"Apa kau ingin memesan makanan yang lainnya Andita?"


"Tidak Nyonya terimakasih!"


Nyonya Wildan pun memberikan kembali buku menu pada pelayan kedai. Setelah tidak ada tambahan pelayan itu segera bergegas menyiapkan pesanan customernya.


"Bagaimana kabar Ibumu Andita? Apa beliau sudah sembuh atau masih dirawat dirumah sakit?" Nyonya Wildan memulai perbincangan mereka.


"Ibu sudah sembuh setelah melakukan tranpalantasi ginjal Nyonya. Dan sekarang beliau bisa melakukan aktifitas seperti sedia kala."


"Syukurlah kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya." Sejenak kecanggungan terjadi diantara keduanya.


"Andita, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja Nyonya, silahkan." Perasaan Andita mulai berdebar-debar.


Kira-kira apa yang akan ditanyakan Nyonya Liyana ya? Apa dia akan menanyakan tentang Tuan Zidan?


"Apa kau mengenal putraku, Zidan?"


Deg


"Maksud Nyonya, putra Nyonya adalah Tuan Zidan Pratama Wijaya?" Tanya Andita memastikan.


"Ya, nama yang kau sebut adalah nama putraku!" Jawab Nyonya Wildan senang.


"Ehm, ya Nyonya saya mengenalnya!" Jawab Andita ragu.


"Benarkah kau sudah mengenalnya Andita?" Tanyanya lagi.


Eh, kenapa Nyonya Liyana terlihat senang begitu?


Andita mengangguk.


"Iya Nyonya saya mengenalnya. Tuan Zidan adalah atasan saya dikantor."


Tiba-tiba Nyonya Wildan menepukan kedua tangannya. Terlihat sekali wajahnya begitu senang.


Selama ini aku berharap bertemu dengannya lagi, tidak tahunya dia malah bekerja pada Zidan! Haha , ini kesempatanku mendekatkannya dengan anak keras kepala itu.

__ADS_1


"Ada apa Nyonya? Kenapa anda terlihat senang sekali?"


"Ah tidak apa-apa Andita. Aku hanya terkejut, ternyata kau bekerja pada putraku. Kau tahu selama ini aku berharap bisa bertemu lagi denganmu setelah kejadian perampokan waktu itu. Dan akhirnya kita dipertemukan dirumah sakit. Hanya saja saat itu kita tidak bisa berbincang seperti ini, karena kau harus mengurus Ibumu." Jawab Nyonya Wildan.


Andita tersenyum simpul.


Bagaimana jika Nyonya Liyana tahu aku memiliki hubungan dengan putranya? Apa Nyonya Liyana akan marah padaku nantinya? Atau aku harus memberitahunya sekarang? Ah tidak, tidak, kau tidak boleh ceroboh Andita!


Tidak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Nyonya Wildan dan Andita pun menyesap kopi mereka masing-masing.


"Oh ya Andita, minggu depan adalah ulang tahun putraku. Apa kau akan datang?"


"Tentu, Nyonya, saya akan datang karena semua karyawan Royal Group diundang."


"Baguslah kalau begitu! Apa kau akan memberi kado untuknya?"


Andita terhenyak mendengar pertanyaan Nyonya Wildan. Ya, dia belum mencari kado untuk Zidan. Bahkan dirinya juga belum membeli gaun untuk dipakainya nanti kepesta.


"Iya Nyonya tentu saya akan memberikan kado untuk Tuan Zidan! Hanya saja, saya bingung akan memberi kado apa untuknya. Saya tidak tahu selera Tuan Zidan."


Nyonya Liyana mengulum senyum.


"Kita akan mencarinya sama-sama nanti, setelah itu kita akan pergi membeli gaun!"


"Apa Nyonya? gaun?!"


"Ya, gaun. Gaun pesta. Kau pasti datang kebutik tadi untuk mencari gaun bukan?!"


Hah?! Bagaimana Nyonya Liyana bisa tahu?!


"I-iya Nyonya. Tadinya saya memang berniat membeli gaun disana tapi.."


"Tapi karena kedatangan mereka berdua, kau tidak jadi membelinya kan?!" Sela Nyonya Wildan. Andita pun mengangguk pelan.


"Hemm.. Sudah kuduga! Jika aku boleh tahu, memangnya kau ada masalah apa dengan Nyonya Reyhan dan Rachel?"


Andita tadinya ragu untuk menceritakan masalah pribadinya.Namun pada akhirnya dia bercerita juga setelah Nyonya Wildan mendesaknya.


Keluarga itu benar-benar keterlaluan! Batin Nyonya Wildan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2