MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Pemandangan Mengejutkan


__ADS_3

"Itulah sebabnya kenapa dulu aku sangat membencimu Andita. Karena aku tau, kau adalah putri dari Wulan. Sementara suamiku, Reyhan membencimu karena ia tahu jika kau adalah putri dari Hadi. Tapi sungguh.. aku, Dirga, dan Rachel sama sekali tidak terlibat dalam tindakan kriminal yang dilakukan oleh suamiku itu." Ucap Nyonya Reyhan sungguh-sungguh.


Sejenak Andita terdiam mendengarkan penjelasan Nyonya Reyhan. Ia tidak menyangka jika kisah cinta ayah dan ibunya begitu dramtis.


Aku sudah menduga dari awal, pasti ada alasan lain kenapa Ayah membawa lari Ibu dihari pernikahannya.


Sebenarnya Andita ingin sekali menanyakan hal yang diungkapkan Tuan Reyhan saat penculikannya waktu itu pada sang Ibu.


Namun ia mengurungkan niatnya, karena lebih fokus dengan kondisi Zidan. Hingga akhirnya ia melupakan semua itu.


"Benarkah kau sama sekali tidak terlibat dengan apa yang dilakukan suamimu itu, Devi?!" tiba-tiba Ibu Andita bertanya dengan sorot mata tajam. Dadanya terasa sesak ketika Devi menceritakan masa lalu mereka. Ia jadi teringat mendiang suaminya.


"Aku berkata jujur, Wulan. Meskipun aku membencimu tapi tidak pernah terpikirkan olehku untuk mencelakai suamimu atau pun dirimu. Ya, kuakui aku memang selalu menghina Andita. Tapi sekarang aku sadar kebencian yang tertanam dihatiku, membawa keluargaku pada kehancuran."


"Jadi tolong Wulan, maafkan semua kesalahanku pada putrimu. Aku benar-benar menyesal." Lirih Nyonya Reyhan. Wajahnya tertunduk. Buliran bening keluar dari sudut mata wanita paruh baya itu.


Baru kali ini Andita melihat mantan calon ibu mertuanya itu menangis. Mungkin semua kejadian yang menimpa keluarganya benar-benar membuatnya sadar.


"Ibu." Panggil Andita pelan pada ibunya.


Ibu Andita menoleh pada putrinya itu. Ia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Andita.


"Tolong maafkan Nyonya Reyhan, Bu. Aku yakin dia berkata jujur dan tulus meminta maaf pada kita."


"Andita."


"Bu, aku tahu hatimu sakit dan terluka ketika putrimu dihina. Tapi bukankah sekarang putrimu sudah bahagia? Tuan Reyhan pun sudah menerima ganjaran atas perbuatannya. Tidak baik jika kita memperpanjang masalah ini dan saling menyimpan dendam. Itu hanya akan menambah rasa sakit hati dihati kita. Jadi aku mohon maafkanlah Nyonya Reyhan."


Ibu Andita mengusap lembut kepala putrinya. Ia tidak menyangka Andita akan secepat itu memaafkan Nyonya Reyhan.


"Jika dia ingin meminta maaf, harusnya dia meminta maaf padamu Andita. Bukan padaku. Karena selama ini dia selalu menghinamu hingga kau harus menanggung malu karena hinaannya."


Mendengar ucapan Ibu Andita, Nyonya Reyhan menyeka airmatanya. Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya.


"Ya tentu. Aku akan meminta maaf pada putrimu Wulan. Meskipun harus bersujud sekalipun, itu tidak masalah bagiku. Selama ini aku sudah banyak menyakitinya. Jadi Andita, aku mohon maafkanlah semua kesalahanku dimasa lalu." Ucap Nyonya Reyhan dengan mata berkaca-kaca.


Andita merasa tidak enak hati. Dia meraih tangan Nyonya Reyhan diatas meja lalu menggenggamnya.


"Aku sudah memaafkanmu Nyonya. Jauh sebelum kau meminta maaf padaku. Jadi lebih baik kita lupakan saja masalah yang sudah terjadi diantara kita."


Nyonya Reyhan mengangguk senang. Dia begitu terharu dengan kebesaran hati mantan calon menantunya itu. Ternyata Andita dan Lusy jauh berbeda. Dia sungguh menyesal dulu meminta Dirga untuk meninggalkan Andita dan lebih memilih Lusy.


"Terimakasih Andita. Aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi padamu. Karena sekarang aku sudah merasakan bagaimana rasanya dihina dan direndahkan oleh orang lain. Rasanya benar-benar menyakitkan."


"Jangan hanya padaku Nyonya, tapi pada semua orang yang kau kenal dan kau temui. Kau tidak boleh menghina orang lain apapun alasannya. Karena kau tidak akan pernah tau, kapan Tuhan akan membalikkan posisimu dengan posisi mereka."


*****


Sedari tadi Zoya mematut dirinya didepan cermin. Ia mencoba untuk tampil cantik semaksimal mungkin. Karena siang ini dia dan Andrew akan bertemu dengan Zidan dikediamannya.


Zoya tampak senang ketika Andrew mengajaknya untuk menjenguk sahabatnya itu. Dan dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membuat Zidan terkesan padanya.


Jika dulu Zoya menyia-nyiakan perhatian Zidan, namun tidak untuk kali ini. Entah kenapa nama Zidan selalu terputar diotaknya.


Zoya akan berusaha mendapatkan perhatian lelaki itu kembali. Meskipun dihidup Zidan sudah ada Andita sekalipun Zoya tidak peduli.

__ADS_1


Dia yang lebih dulu mengenal Zidan. Dia tahu karakter Zidan seperti apa. Dan feelingnya mengatakan jika Zidan pernah menaruh hati padanya. Sayangnya Zoya baru menyadari hal itu sekarang. Meskipun ia baru menduga-duganya saja.


Seandainya dia tahu jika dugaannya benar, sudah pasti Zoya akan memanfaatkan celah itu untuk merebut Zidan dari Andita.


Sesampainya dikediaman Zidan, Zoya dan Andrew segera turun dari mobil. Mereka disambut oleh dua body guard Zidan yang berjaga dipintu utama.


Mereka mempersilahkan Zoya dan Andrew masuk karena Zidan sudah memberi pesan pada kedua body guardnya jika akan ada tamu yang datang.


Zoya dan Andrew sudah duduk diruang tamu. Tidak lama Zidan keluar dari ruang kerjanya. Ia menyambut hangat kedatangan kedua sahabatnya itu dengan senyum khasnya.


"Bagaimana kabarmu Zidan?!" Tanya Andrew seraya memeluk tubuh sahabatnya.


"Kabarku baik! Bagaimana dengan kabarmu Andrew?"


"Seperti yang kau lihat. Kabarku juga baik!"


"Syukurlah!"


Kini netra Zidan beralih pada Zoya.


"Zoya, bagaimana kabarmu?" Tanya Zidan. Dia mencoba bersikap biasa saja. Meskipun kemarin sempat risih oleh pesan-pesan yang dikirimkan gadis itu.


"Kabarku baik Zidan." Zoya memeluk tubuh kekar Zidan. Entah kenapa ia merasa ada getaran dihatinya ketika tubuh itu menyentuh tubuhnya. Padahal dulu ketika mereka bertemu Zidan sering memeluknya, tapi tidak pernah ada getaran yang ia rasakan seperti ini. Rasanya nyaman sekali.


Tanpa sadar Zoya memeluk Zidan cukup lama hingga membuat Andrew berdehem.


"Ekhem! Aku yang sudah lama tidak bertemu Zidan, tapi sepertinya kau yang paling merindukan dia Zoya!" Kelakar Andrew diselingi dengan gelak tawanya.


Seketika Zoya melepaskan pelukannya. Awalnya Zidan yang hendak melepaskan pelukan itu lebih dulu, namun Zoya menahannya sebelum Andrew berdehem.


"Kau cemburu Andrew?!" Tanya Zoya dengan santainya.


Deg


Kata-kata Andrew barusan begitu menohok bagi Zidan. Meskipun ucapannya terdengar bercanda tapi itu seperti sebuah ancaman.


Beruntung Zidan sudah lama mengubur dalam-dalam perasaannya pada Zoya. Jika tidak, persahabatan mereka akan terpecah belah hanya karena cinta segitiga.


Sementara Zoya tidak begitu menanggapi ucapan Andrew. Karena dia yakin Andrew hanya main-main dengan ucapannya.


Zidan mengajak kedua sahabatnya itu berbincang di halaman belakang. Kebetulan dihalaman itu terdapat sebuah meja dengan empat kursi. Mereka mengobrol santai disana. Dengan ditemani beberapa cemilan dan minuman.


Tidak lama ponsel Andrew berdering, ia meminta izin pada Zidan untuk mengangkat teleponnya sebentar karena itu penting.


Tinggalah Zidan dan Zoya yang duduk bersebelahan.


"Oh ya Zidan, dimana Andita? Dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Zoya.


"Kebetulan hari ini dia sedang pergi berbelanja bersama Ibunya." Jawab Zidan.


"Oh begitu. Dia pasti sangat suka sekali berbelanja ya? Kapan-kapan aku jadi ingin mengajaknya berbelanja juga."


"Ajaklah! Dia pasti akan senang karena memiliki teman baru."


"Sungguh? Apa kau tidak keberatan jika aku sering-sering datang kemari untuk menemuinya?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak Zoya! Stella pun sering datang kemari dan berbincang dengan Andita. Andita pasti akan senang berteman denganmu."


Zoya tersenyum penuh arti. Ia hendak mengambil minuman miliknya, namun tiba-tiba ada serangga yang menggigit kakinya hingga membuatnya terkejut dan tanpa sengaja minuman yang dipegangnya pun tumpah mengenai baju dan celana Zidan.


"Awwkhh!"


Byurrrr


Netra Zoya membulat sempurna ketika minumannya tumpah mengenai tubuh Zidan. Begitupun Zidan yang nampak terkejut. Ia terperangah dan membulatkan matanya.


"Ya Tuhan! Zidan maafkan aku! Aku tidak sengaja!" Ucap Zoya panik.


Zidan berusaha tetap tenang. Meskipun dia risih karena tubuhnya jadi terasa lengket akibat minuman manis itu.


"Tidak apa-apa Zoya!"


Zoya segera mengambil tisue lalu mengelap tangan Zidan yang terkena tumpahan minumannya.


"Sekali lagi maafkan aku Zidan!" Ucap Zoya dengan rasa bersalah.


"Sudah tidak apa-apa! Biar aku bersihkan sendiri!" Tangan Zidan kini menggenggam tangan Zoya. Sejenak Zoya terpaku ketika melihat tangan kokoh itu menggenggam tangannya.


Netranya kini menatap wajah Zidan. Zidan yang merasa sedang diperhatikan, melihat kearah Zoya. Sejenak netra mereka bertemu dan saling mengunci.


Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Zoya. Ia menumpuk tangan Zidan dengan tangan satunya. Lalu menggenggamnya erat. Kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Zidan.


Sementara didepan Andita baru saja turun dari mobilnya. Dengan dibantu beberapa pelayan rumah ia membawa barang belanjaannya masuk kedalam.


"Oh ya Bik, dimana Zidan?" Tanya Andita pada salah satu pelayannya yang paling senior.


"Tuan Muda ada dihalaman belakang Nona. Tuan sedang berbincang dengan tamunya."


"Tamu? Siapa? Stella?"


"Bukan Non. Saya kurang tahu. Tamunya dua orang. Satu perempuan satu laki-laki."


Andita mengerutkan keningnya. Dia mencoba berpikir siapa tamu yang dimaksud pelayannya itu.


"Yasudah, tolong bawakan belanjaan ini kebelakang ya Bik. Saya akan menemui Tuan dibelakang."


"Baik Non!"


Andita pun melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Ia mencari-cari keberadaan suaminya.


Namun seketika tiba-tiba langkah Andita terhenti saat ia menemukan sosok suaminya yang tengah nyaris berciuman dengan wanita lain.


Meskipun kenyataannya Zoyalah yang maju mendekati wajah Zidan.


Hati Andita terbakar melihat pemandangan mengejutkan didepan matanya saat ini. Ia mengepalkan tangannya menahan geram dan sesak didadanya.


"Zi..dan.."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Hayoo jangan lupa like komen hadiah dan votenya..😁


__ADS_2