MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Provokasi Dan Perubahan Sikap


__ADS_3

"Huekk..huekk!!"


"Andita! Kau tidak apa-apa?!" tanya Ibu ketika melihat Andita tengah memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi.


"Hah hah hah." Andita mencoba mengatur nafasnya yang tersengal dengan mengusap dada.


Ia benar-benar lelah karena sejak tadi pagi perutnya tidak bisa diajak kompromi hingga akhirnya Andita terus saja bolak balik kekamar mandi.


Makanan apapun yang dimakannya tidak akan bertahan lama dan akan kembali dikeluarkan.


"Aku baik-baik saja Bu!" jawab Andita yang mulai lemas karena ini sudah ke lima kalinya ia muntah-muntah semenjak datang kerumah sang ibu.


"Baik-baik saja bagaimana? Tubuhmu lemas seperti ini. Berbaringlah dikamar. Ibu akan buatkan teh hangat untukmu."


Ibu mengantar Andita kedalam kamar, kemudian membantunya berbaring diatas ranjang. Setelah itu ibu pergi kedapur untuk membuat teh.


"Jadi begini rasanya hamil. Setiap hari merasakan pusing dan mual. Cukup melelahkan. Tapi tidak apa sayang, ibu pasti akan kuat menjalaninya." Andita mengusap perutnya yang rata seolah tengah berbicara dengan sang calon jabang bayinya sambil tersenyum senang.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Andita langsung terkesiap. Ia mengira itu adalah panggilan dari Zidan.


Karena saat ini Andita sedang sangat merindukan sosok suami sekaligus calon ayah dari bayi yang tengah dikandungnya. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu.


Andita mengambil tasnya diatas nakas lalu membukanya dan merogoh mencari ponsel tersebut. Ketika ponselnya berhasil ditemukan, Andita terkejut. Ternyata yang menghubunginya bukan Zidan melainkan Zoya.


"Zoya?! Mau apa dia menghubungiku?!" gumam Andita.


Awalnya Andita enggan mengangkat telepon itu. Namun karena rasa penasarannya begitu menggebu, akhirnya Andita pun menggeser lencana berwarna hijau yang tertera dilayar ponsel.


"Hallo."


"Apa kau puas Andita?! Kau puas sudah menghasut Zidan dan membuatnya membenci diriku?!"


Deg


Andita terhenyak mendengar ucapan Zoya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh sahabat suaminya itu.


"Zoya."


"Apa sekarang kau sedang merasa diatas awan karena menjadi satu-satunya wanita yang memiliki Zidan, hah?! Cih, menjijikan!"


"Zoya apa maksudmu?! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" ucap Andita. Ekspresi wajahnya terlihat kesal.


"Kau sungguh tidak mengerti atau pura-pura bodoh Andita?!"


Dan disaat bersamaan sang ibu masuk kedalam kamar mengantarkan teh untuknya, membuat Andita mencoba menenangkan diri agar tak membuat ibunya curiga.


"Apa ada masalah Nak?" tanya ibu yang melihat raut wajah Andita menegang.


Andita menggeleng cepat.


"Sungguh?!" selidik Ibu.

__ADS_1


Andita mengangguk.


"Yasudah kalau begitu, Ibu akan menyiram tanaman dulu. Jika kau butuh sesuatu panggil Ibu."


"Baik Bu!" jawab Andita pelan.


Ketika ibunya sudah benar-benae keluar, Andita segera mengunci pintu kamar agar pembicaraannya tak terdengar oleh siapapun.


"Untuk apa aku berpura-pura bodoh?! Aku sungguh tidak mengerti maksudmu Zoya!"


"HAHA, ternyata selain menjadi wanita rendah yang menjual dirinya pada lelaki kaya demi uang, ternyata kau juga wanita MUNAFIK!"


"Zoya! Jaga bicaramu!"


"Kenapa? Kau marah?! Bukankah itu fakta?! Kau menjual dirimu pada Zidan demi uang kan? Aku sudah tahu semuanya!"


"Kau tidak tahu apapun Zoya!"


"Benarkah? Lalu surat perjanjian itu apa? Jelas-jelas disana tertulis bahwa kau menikah kontrak dengan Zidan selama tiga tahun hanya demi uang! Kau mau mengelak?!"


"Darimana kau tahu soal itu?"


"Haha, itu tidak penting!"


"Dengar ini baik-baik Andita, asal kau tau, alasan Zidan sebenarnya menikahimu adalah karena saat itu dia sedang patah hati padaku."


"Dia menjadikanmu pelarian untuk menyembuhkan luka hatinya! Apa kau tidak ingat bagaimana Zidan menatapku ditaman belakang rumahmu? Dia menatapku penuh cinta!"


Deg


"Dan apa kau tidak ingat bagaimana Zidan mencumbuku didapur rumah kalian? Sejujurnya saat itu kami sedang saling melepas rindu. Tapi tiba-tiba saja kau datang sebagai pengganggu, hingga dia membuat alasan tidak masuk akal dengan mengatakan bahwa kau dan aku nyaris mirip jika dilihat dari belakang. Padahal itu semua bohong! Itu semua hanya akal-akalannya saja."


"Tentu kau masih ingat bagaimana ekspresi gugup Zidan bukan? Haha sudah pasti kau masih ingat."


"Itu sebabnya tanpa sengaja aku nekat mencelakaimu. Aku melakukannya supaya tidak ada lagi penghalang diantara aku dan Zidan."


"Tapi sayang, hari ini kau berhasil membuatnya membenciku karena hasutanmu itu! Apa kau pikir aku akan tinggal diam?! Tidak akan! Aku akan kembali merebut Zidan darimu Andita!"


Andita terhenyak mendengar semua penuturan Zoya. Tiba-tiba ia teringat kejadian dimana Zidan menatap dan mencumbu Zoya begitu intens.


Namun Andita segera menepis semua itu dari pikirannya. Dia sudah berjanji untuk selalu percaya pada Zidan.


"Kau sudah terlalu banyak bicara Zoya! Apa kau tidak sadar bahwa kau sedang merendahkan harga dirimu sebagai seorang wanita hanya demi mendapatkan cinta dari seorang pria beristri?!"


Jlebb


Perkataan Andita sukses menusuk jantung Zoya yang paling dalam.


"Apa katamu?!"


"Berhentilah mengganggu rumah tanggaku dan Zidan! Percuma saja kau panjang lebar menghasutku. Aku tidak akan terprovokasi dengan ucapanmu karena aku percaya pada suamiku!"

__ADS_1


Klik


Andita langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Meninggalkan Zoya yang menahan geram disebrang sana.


"Andita! Kau meremehkanku?!"


****


Waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Andita terjaga dari tidurnya. Ia meraba kesamping tempat tidur namun kosong. Tidak ada Zidan disana.


Andita sedikit khawatir, pasalnya semenjak sore tadi Zidan menjemput Andita dirumah ibunya, wajah Zidan nampak muram.


Entah apa yang sudah terjadi pada suaminya itu. Karena sikap Zidan tiba-tiba berubah dingin padanya. Apa ini semua ada hubungannya dengan Zoya?


Ingin sekali Andita bertanya, tapi dia terlalu takut menghadapi kemarahan Zidan. Tapi jika didiamkan pun tidak akan baik. Apalagi dirinya tengah hamil muda dan butuh perhatian.


Akhirnya Andita pun memutuskan untuk turun dari ranjang dan mencari suaminya diruang kerja.


Ternyata benar Zidan ada disana. Andita melangkahkan kakinya masuk kedalam setelah sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Namun entah kenapa hati Andita berdenyut nyeri saat Zidan hanya melihatnya sekilas tanpa bertanya apapun. Biasanya Zidan akan selalu hangat menyambutnya.


Sesegera mungkin Andita menepis pikiran negatif dikepalanya itu. Ia mencoba tersenyum dan berjalan mendekat kearah Zidan.


"Sayang kenapa belum tidur?" tanya Andita sambil mengusap lembut pundak suaminya.


"Aku belum mengantuk. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas diatas meja.


"Tapi ini sudah malam. Kau harus istirahat. Apa pekerjaanmu tidak bisa dilanjutkan besok?!"


"Tidak bisa. Kau istirahatlah duluan! Nanti aku menyusul."


Andita menarik nafas. Tidak biasanya Zidan seperti ini.


"Apa kau ada masalah? Jika ada, ceritakan padaku. Meskipun aku tidak bisa membantu paling tidak sedikit bebanmu bisa berkurang."


"Tidak ada. Aku hanya sedang banyak pekerjaan saja." jawab Zidan singkat.


"Benarkah?"


"Hemm."


"Tapi aku merasa kau menyembunyikan sesuatu."


Andita memberanikan diri menangkup wajah Zidan lalu memalingkan kearahnya, hingga tatapan mereka saling bertemu.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2