MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Isi Hati


__ADS_3

Ken sedang menemani Zidan diruang perawatan. Ia nampak melamun sambil memandangi kondisi tuannya itu.


"Maafkan atas kesalahan saya Tuan! Seandainya saat itu saya tidak datang terlambat mungkin anda akan selamat dan tidak perlu terbaring lemah seperti ini."


Dada Ken terasa begitu sesak melihat luka-luka ditubuh Zidan. Lagi-lagi perasaan bersalah menghantam dirinya.


"Kau tidak perlu selalu merasa bersalah Ken. Lagipula ini bukan keinginanmu. Aku yakin Zidan juga tidak mau seperti ini. Tapi inilah takdir. Kau harus bisa menerimanya."


Ken memejamkan mata saat ia mendengar suara itu. Suara yang selalu mengganggunya. Lebih tepatnya mengganggu hatinya.


"Apa kau datang untuk memeriksa Tuan Muda? Jika ya, lakukanlah tugasmu! Jangan menggangguku!" Ucap Ken dingin.


Ia yang tadinya duduk disebelah Zidan, segera beranjak berdiri dan mengambil jarak dari Stella.


Stella menggelengkan kepalanya pelan. Dokter cantik itu segera memeriksa kondisi tubuh Zidan bersama seorang suster.


Setelah selesai, Stella meminta suster yang menemaninya untuk keluar lebih dulu.


Stella berjalan kearah Ken. Ia menatap pria itu lekat-lekat. Ken yang diperhatikan seperti itu nampak gusar.


"Bagaimana keadaan Tuan Muda?" Akhirnya Ken bertanya tanpa melihat kearah gadis itu. Pandangannya tertuju pada Zidan.


"Kondisinya stabil. Hanya saja tubuhnya belum bisa merespon keadaan apapun disekitarnya. Tapi seiring berjalannya waktu Zidan akan kembali sadar."


"Butuh waktu berapa lama agar Tuan Muda kembali sadar?"


"Tergantung. Bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan jika kondisinya parah ia bisa mengalami koma hingga bertahun-tahun. Apa kau sangat mengkhawatirkannya?" Tanya Stella.


Ini kali pertama dia berbincang dengan Ken walau hanya membahas tentang Zidan.


"Tentu saja aku sangat mengkhawatirkannya!" Ketus Ken.


"Lalu apa kau pernah mengkhawatirkanku?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibir Stella.


Ken tidak bergeming. Lelaki itu enggan menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting.


"Jika kau sudah selesai memeriksa Tuan Muda kau bisa keluar!" Ken berjalan kearah brangkar dan kembali duduk menghadap Zidan.


Stella tersenyum kecut. Dalam hatinya ia bertanya kenapa sulit sekali mendekati Ken. Padahal dulu Ken tidak seperti itu.

__ADS_1


Ketika mereka menjalin hubungan, Ken selalu bersikap hangat. Tapi sekarang, untuk sekedar menatapnya saja lelaki itu begitu enggan.


Stella membuang nafas kasar. Rasanya begitu sakit ketika seseorang menghindari dirinya.


"Apa aku begitu menjijikan bagimu Ken? Sampai detik ini aku masih tidak mengerti apa yang membuatmu berubah. Kau selalu menghindariku tanpa memberikan alasan yang jelas. Tapi sekarang aku menyadari sesuatu, jika kau tidak lebih dari seorang pengecut! Sangat disayangkan Zidan harus dilindungi orang sepertimu!"


Mendengar ucapan Stella yang begitu menohok, Ken memejamkan mata seraya mengepalkan tangannya. Ia membalikkan tubuhnya namun Stella sudah keluar dari ruangan itu.


"Sial! Dia mengataiku pengecut?!"


*****


Saat Andita hendak masuk keruangan Zidan, Andita tidak sengaja mendengar semua percakapan dokter Stella dengan Ken.


"Ada apa dengan mereka? Apa mereka memiliki hubungan?" Andita menerka-nerka.


Karena ketika Stella keluar, dokter itu mengusap wajahnya seolah sedang menghapus airmata. Untung Andita segera bersembunyi, hingga Stella tidak melihatnya.


Setelah Stella pergi, Andita pun segera masuk keruang perawatan suaminya. Ia melihat orang kepercayaan suaminya itu tengah duduk disamping brangkar sambil memijat pelipisnya.


"Jika kau lelah kau bisa beristirahat Ken."


"Tidak Nona! Apa Tuan Besar sudah pulang?"


Andita berjalan kesamping brangkar Zidan dan duduk disana.


"Ya, Ayah sudah pulang. Kau juga boleh pulang Ken, aku yang akan menemani Zidan."


Ken mengerutkan keningnya.


Ayah? Apa hubungan mereka sudah membaik? Jika ya, syukurlah! Tuan Muda pasti akan senang mendengarnya jika dia telah siuman.


"Baiklah Nona. Saya akan kembali ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan selama tuan muda belum sadarkan diri. Kalau begitu saya permisi!"


"Tunggu dulu Ken!" Andita melupakan sesuatu. Ia belum bertanya tentang kondisi suaminya pada lelaki itu.


"Ada apa Nona?"


"Tadi aku melihat dokter Stella keluar dari ruangan ini. Apa dia baru saja memeriksa kondisi Zidan?"

__ADS_1


"Ya. Dokter Stella baru saja memeriksa kondisi Tuan Muda. Dokter mengatakan jika kondisi Tuan Muda stabil. Hanya saja Tuan belum bisa merespon keadaan apapun disekitarnya."


Andita cukup sedih mendengar penuturan Ken. Namun ia hanya bisa berharap agar Zidan segera sadar dari komanya.


"Apa kau tahu Ken hal yang paling menyakitkan didunia ini?" Tiba-tiba Andita bertanya sambil memandangi wajah Zidan yang tengah terlelap. Tangannya terulur untuk mengusap tangan Zidan.


"Apa Nona?"


"Kehilangan orang yang kita cintai disaat kita belum bisa membahagiakannya. Saat itu terjadi, itu adalah hal yang paling menyakitkan didunia ini. Karena kau tidak akan pernah lagi bisa melihatnya tertawa, tersenyum dan bersedih."


Ken tersenyum getir.


"Saya sudah pernah merasakannya." Jawab Ken yang berdiri dibelakang Andita. Iapun tengah memandangi tubuh Zidan yang terbaring diatas brangkar.


"Benarkah? Siapa orang yang kau cintai?"


"Ayah dan Ibu saya. Mereka berdua adalah orang yang saya cintai."


"Maksudmu? Mereka sudah tiada?"


"Ya. Mereka berdua telah tiada."


Andita tertegun. Ia juga pernah merasakan hal menyakitkan ketika harus kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya.


"Aku turut prihatin Ken. Aku juga pernah berada diposisimu ketika harus kehilangan Ayahku disaat aku belum bisa membahagiakannya. Dan aku tidak ingin hal yang sama terjadi lagi padaku untuk kedua kalinya. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan Zidan karena dia adalah kebahagiaanku." Lirih Andita.


"Anda tidak akan kehilangan Tuan, Nona! Tuan Muda pasti akan sembuh!"


"Aku harap begitu. Aku juga berdoa semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu bersama orang yang kau cintai Ken."


Sejenak Ken terdiam.


"Saya belum memikirkan itu Nona."


"Jika kau belum memikirkan hal itu, paling tidak jangan membuat orang lain menunggu. Karena menunggu itu rasanya juga menyakitkan."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2