MY CEO MY HUSBAND

MY CEO MY HUSBAND
Usaha Rachel


__ADS_3

Selepas kepergian Andita, Zidan mulai kembali bekerja. Baru saja dirinya membuka beberapa dokumen, pintu sudah diketuk seseorang.


"Masuk!" Titah Zidan tanpa menoleh kearah pintu. Zidan pikir yang masuk adalah Ken.


"Ken apa jadwalku hari ini?" Tanya Zidan. Netranya masih fokus pada lembaran kertas dihadapannya.


"Ken, apa kau tidak dengar?!" Ulang Zidan. Namun tetap tidak ada jawaban.


"Ken!!!" Zidan membanting pulpen dengan kasar keatas mejanya bersamaan dengan netranya yang melihat kearah pintu.


Betapa kagetnya Zidan saat yang dia lihat bukan Ken, melainkan Rachel.


"Hai Zidan, apa kabar?" Sapa Rachel dengan senyum manisnya, wajahnya terlihat tanpa dosa.


"Rachel?!! Sedang apa kau disini?" Zidan menatap Rachel dengan tatapan tidak suka.


Rachel berjalan kearah sofa lalu duduk disana tanpa dipersilahkan. Rachel duduk dengan begitu anggunnya sembari menyilangkan kakinya.


"Aku kemari untuk menemui calon suamiku. Sudah seminggu ini aku selalu mengirimimu pesan dan menghubungimu, tapi kau tidak pernah membalasnya sama sekali. Jadi aku memutuskan untuk datang kemari. Sekalian aku ingin mengajakmu makan siang."


"Jika kau ingin menemuiku seharusnya kau membuat janji terlebih dahulu."


Rachel tergelak kecil mendengar ucapan Zidan.


"Tapi sebelumnya aku sudah meminta izin pada Paman Wildan. Dan Paman sama sekali tidak keberatan jika aku menemuimu. Maka dari itu aku berani untuk datang kemari."


Zidan menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Kemudian membuang nafas kasar.


Jadi Ayah belum menyerah juga. Dia masih ingin menjodohkanku dengan Rachel.


Zidan meraih ponselnya diatas meja lalu membukanya. Ada satu pesan yang mengalihkan pandangannya, yaitu pesan dari Tuan Wildan. Sang Ayah baru kembali mengiriminya pesan setelah satu minggu Zidan pergi meninggalkan rumah.


[Rachel akan datang kekantormu, Ayah yang memberinya izin. Bersikap baiklah padanya, jika kau menghargai Ayah!]


Zidan meremas ponselnya lalu menaruhnya kembali keatas meja.


"Oh ya Zidan, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Rachel.


"Katakan!"


"Apa kau kenal Andita?


"Ya."


"Apa Andita bekerja dikantormu?"


"Hemm."


"Pantas saja."


"Kenapa?"


"Ya pantas saja saat aku menamparnya direstoran kau melindunginya. Ternyata dia adalah bawahanmu. Aku pikir kau memiliki hubungan dengannya!" Rachel menghela nafas lega.


"Kalaupun aku memiliki hubungan dengannya, lalu apa urusannya denganmu?" Tanya Zidan sarkas.

__ADS_1


Sontak Rachel membeliakkan matanya.


"Tentu saja itu menjadi urusanku Zidan. Aku adalah calon istrimu! Kita sudah dijodohkan bukan?!"


Zidan mengangkat sudut bibirnya.


"Apa sampai sekarang ayahmu belum memberitahumu jika aku sudah menolak perjodohan ini?"


Wajah Rachel berubah merah padam ketika Zidan secara terang-terangan menolaknya.


"Zidan memang apa kekuranganku sehingga kau menolakku? Aku cantik, baik dan berasal dari keluarga terpandang, bukankah aku pantas menjadi bagian dari keluarga Wijaya? Aku pantas menjadi pendampingmu Zidan!"


"Ya, aku tahu kau cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, Rachel. Jadi aku harap kau mengerti!"


"Tapi aku mencintaimu Zidan! Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Dan aku ingin kau menjadi suamiku!" Rachel bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Zidan.


Zidan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan gadis dihadapannya.


"Rachel, asal kau tahu aku sudah memiliki seorang kekasih yang akan menjadi istriku nantinya. Tentu aku tidak bisa mengkhianatinya. Dan lagi seperti yang kau katakan tadi bahwa kau adalah gadis yang cantik, baik dan berasal dari keluarga terpandang sudah pasti diluar sana banyak lelaki yang menginginkanmu dan pastinya jauh lebih baik dariku!"


Rachel menelan salivanya. Dadanya terasa sesak ketika Zidan mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih. Rachel tidak bisa menerima ini.


"Siapa wanita itu? Apa dia lebih baik dariku?" Tanya Rachel dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa membandingkannya denganmu. Karena aku tahu kalian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing."


Tidak lama Ken masuk kedalam ruangan. Membuat kedua orang itu menoleh kearah pintu. Rachel segera menghapus cairan bening yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya.


"Maaf Tuan, saya pikir anda sedang tidak kedatangan tamu."


"Tidak apa-apa Ken. Ada apa?"


"Baiklah segera atur persiapannya!"


"Baik Tuan!" Ken pun segera keluar dari ruangan Zidan. Sekilas lelaki itu melihat kearah Rachel yang masih mematung didepan meja tuannya.


"Aku harus bersiap-siap pergi untuk menghadiri rapat. Apa kau masih mau tetap disini?" Tanya Zidan pada Rachel ketika Ken sudah keluar.


Rachel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Aku akan pulang! Terimakasih atas waktumu."


******


Zidan dan Ken sedang berada diperjalanan menuju restoran dimana mereka akan mengadakan rapat dengan klien. Tiba-tiba Ken terpikirkan untuk membahas sesuatu.


"Maaf Tuan jika saya lancang, tapi saya merasa heran dengan anda." Ken memecahkan kesunyian didalam mobil.


"Heran? Kenapa? Memang apa yang membuatmu merasa heran denganku?"


"Saya pikir putri Tuan Reyhan itu biasa saja, tapi ketika saya tadi melihatnya, menurut saya dia lumayan cantik. Yang membuat saya heran adalah kenapa anda menolaknya?" Ucap Ken seraya melirik Zidan dari kaca depan mobil.


Ya, Zidan memberitahu Ken bahwa gadis yang dilihatnya tadi diruangannya adalah Rachel, putri Tuan Reyhan.


"Hah?! Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau memuji seorang gadis? Ah, atau jangan-jangan kau menyukai Rachel? Jika iya, aku akan membantumu mendapatkannya!"

__ADS_1


Ken tersenyum kecut.


"Tentu saja tidak Tuan!"


"Dengar ini baik-baik Ken, bagiku yang paling cantik adalah Andita. Tidak ada yang bisa menggantikannya termasuk ..." Zidan tak melanjutkan kata-katanya.


"Termasuk siapa Tuan?" Ken merasa penasaran.


Nyaris saja Zidan menyebut nama Zoya. Ya, sejauh ini dia mengenal Andita, Zidan sudah jarang sekali memikirkan Zoya.


"Tuan?!" Ken membuyarkan lamunan Zidan.


"Ya."


"Anda tidak apa-apa?"


"Ya. Aku tidak apa-apa."


******


Setelah rapat dengan klien selesai, Zidan dan Ken berniat akan segera pulang. Namun saat sudah berada didalam mobil, pandangan Zidan tiba-tiba tertuju pada sosok yang berada diluar dan Zidan merasa tidak asing dengan orang itu.


Zidan mulai menajamkan penglihatannya pada sosok tersebut.


"Ken, kau lihat lelaki yang baru saja keluar bersama wanita dari mobil itu?" Tunjuk Zidan pada orang yang dilihatnya itu.


"Ya, saya lihat Tuan. Memangnya kenapa?"


"Bukankah itu adalah lelaki yang sudah membuat Andita menangis saat direstoran malam itu?"


Ken mengangguk ragu.


"Saya rasa iya Tuan."


Zidan menggeram, tangannya mencengkram bahu Ken dari belakang.


"Tuan anda kenapa?!" Tanya Ken panik.


"Tabrak mobilnya!"


"A-Apaa??!!!" Ken nampak terkejut dengan perintah Zidan.


"Tuan apa anda sedang bercanda?! Bagaimana mungkin saya menabrak mobilnya?"


"Ken apa aku terlihat bercanda?!"


"Tapi Tuan .."


Zidan semakin erat mencengkram bahu Ken hingga membuat lelaki itu meringis.


"Tabrak mobilnya setelah itu berikan dia ganti rugi! Aku ingin memberinya pelajaran karena sudah berani menyakiti Andita."


Ken ternganga mendengar penjelasan Zidan. Jadi semua ini karena Andita. Sebegitu cintanyakah tuannya pada gadis itu? Sampai dia harus mengorbankan mobil kesayangannya?


Akhirnya tanpa pikir panjang, Ken pun menuruti perintah Zidan. Dia menancapkan gas dan menabrakan mobilnya pada mobil Dirga, hingga membuat bagian belakang mobil Dirga sedikit penyok.

__ADS_1


Buggh


.


__ADS_2